9. memori yang terlupa

1244 Words
•• "Zabidin!" "Ya Alloh, Nyak! Kaget kan? Ada apa? Pulang-pulang tumben sewot. Biasanya assalamu'alaikum dulu," sergah Abeen. "Itu, itu yang namanya neng Maria, lo kudu jauh-jauhin deh. Jangan deket-deket lagi sama lo," kata Nyak Romlah kayak kebakaran jenggot. Abeen mengernyit, heran dengan kalimat yang terlontar dari Nyaknya itu. Sungguh nggak biasa. Nyaknya nggak pernah asal main labrak anak orang. "Ini Nyak kenapa sih? Kok pulang marah-marah nggak juntrung..." "Udah tahu Nyak kagak suka lo mangkal lagi di halte, apalagi lo sok masuk ke pertokoan sana. Kuliah aja yang bener, kenapa sih Jalu?!" cecar Nyak Romlah. Abeen diem sebentar, berpikir. Mangkal? Dari siapa Nyak tahu gue mangkal? "Trus, apa hubungannya sama Maria?" Masih mikir tapi bibirnya nyerocos bertanya. "Dia ngapain ngebiarin elo ngamen pake banci-bancian lagi? Eh, jangan bilang dia manfaatin lo ya Been." "Nyak tahu dari mana aku sama Maria pergi busking? Lagian Maria bakal manfaatin aku kayak gimana? Maksud Nyak apa? Aku yang ngamen, duitnya buat Maria, gitu? Ya nggaklah Nyak," bela Abeen dan memang kenyataannya kayak gitu. "Lagak lo, Beeennn...! Ngucap! Nyak kagak ridlo lo nyentuh baju-baju cewek, dandan kayak cewek. Ngarti kagak lo?" sembur Nyak Romlah sambil tolak pinggang. "Nyak, dengerin dulu. Aku sama Maria cuma sekali itu doang. Cuma ngingetin masa lalu, di mana Maria pernah liat aku ngamen. Maria, cewek yang paling pengertian. Dia ngerti kondisi aku, dia tahu posisinya di mana dan sebagai apa. Maria cewek yang berharga buatku, Nyak. Dia juga sholeha, walau belum berkerudung kayak harapan Nyak," papar Abeen, coba bicara lembut. Abeen ingat, beberapa hari lalu, Maria katanya pengen napak tilas waktu dirinya liat Abeen busking-an. Dia memakai baju yang biasa dipakai kalau ngamen. Abeen salut sama kesabaran Maria yang menemaninya ngamen. Dan menahan malunya itu! Fatimeh jande mude, Fatimeh jande kaye, Bikin pusing anak tetangge... Sambil memainkan tamborin, Abeen bernyanyi. Maria cuma nemenin cowok itu nge-busking di dekat halte. Ada beberapa anak sekolah baru pulang sekolah siang itu, jadi halte cukup rame. Dan mereka maraup penghasilan yang lumayan hari itu. Maria terkekeh senang,"Banyak juga hasil ngamen kita hari ini." Abeen mengangguk,"Nah, sekarang kamu tahu kan sesusah apa nyari duit? Ya belum lagi job side yang lain, kayak ketikin makalah, bikin proposal sampe-sampe ada yang pengen dibikinin skripsi. Gila! Aku tolak lah kalo bikin itu. Nggak berkah, makanya aku milih ngamen aja." Maria makin melebarkan senyumnya sambil mengangkat dua jempol tangannya. "Pacarku jempolan!" cetusnya bangga. Abeen tersenyum, seneng dapet support berarti dari pacar sendiri. Maria emang beda. Dia nggak salah pilih. Abeen mengerjap, menarik dirinya dari lamunan saat busking bersama Maria. "Maria sabar nemenin waktu aku ngamen. Banyak yang liatin kita aneh. Apalagi tatapan ngehakimin kayak biasa aku terima, juga di layangin ke Maria. Bisa Nyak bayangin kalo Nyak jadi Maria? Kita jalan, ngamen, diliatin, dijadiin tontonan, bahan lucu-lucuan, bahkan diusir, kayak kita tuh penyakit menular!" lanjutnya. "Sari bisa nggak nerima aku apa adanya? Bisa nggak kayak Maria? Yang tahan dihakimi, di pelototin orang, diusir-usir, dipandang remeh, dikira penyakitan? Aku yakin, Sari nggak bisa. Dan aku cuma cinta sama Maria, Nyak." Abeen sengaja membandingkan Maria dengan Sari. Karena ia tahu Nyaknya lebih suka kalau Sarilah pilihan hati anaknya. Nyak Romlah diam. "Nyak jangan langsung telen bulet-bulet omongan orang. Kalo itu fitnah, gimana? Nyak yang dosa. Aku ngerti Nyak khawatir, tapi kalo asal tuduh, asal marah-marah, ya nggak baik juga Nyak. Aku kan bukan banci beneran, Nyak. Buktinya aku suka sama Maria," Abeen meraih tangan Nyak Romlah. Dikecupnya punggung tangan yang mulai keriput itu. "Perempuan yang berarti dalam hidup aku sekarang bertambah satu. Aku harap Nyak mau berbagi dengannya," imbuh Abeen menggenggam tangan Nyak Romlah. "Dia anak gedong, Been. Anak gedongan nggak berjodoh sama yang statusnya kayak kita. Nyak mah kapok, emang lo nggak? Nyak takut lo sakit lagi," tutur Nyak Romlah lirih, belai rambut lurus anak sulungnya itu. Abeen mendongak, menatap mata lelah dan tua milik nyaknya. Paham kok Abeen kekhawatiran perempuan tengah baya itu. "Nyak, itu masa lalu. Lagian waktu itu kita masih pada bocah. Iya kali tahu arti cinta-cintaan," kilahnya. "Ya tahulah. Kalo nggak tahu ngapain juga lo sampe meriang?" Nyak Romlah terkekeh, yang kata-katanya bikin dia tertegun. Abeen tersenyum,"Berarti Nyak ngerestui kita kan?" "Lo yakin Been sama neng Maria?" mata tuanya menatap. Abeen mengangguk,"Aku nggak pernah seyakin ini, Nyak." "Apapun yang bikin lo seneng, bikin bahagia, Nyak bakal dukung dan doain," putus Nyak Romlah. "Bener Nyak?" matanya berbinar. "Iya," "Makasih, Nyak! Alhamdulillah..." Abeen berhambur memeluk Nyak Romlah. • Maria tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Iya, tadi Abeen menelponnya. Berencana setelah dia selesai di Cafe, mau mampir. Kangen katanya. Seharian ini mereka nggak bertemu. Masing-masing sibuk menuhin tugas kuliah. Tapi Marvel berbaik hati mengijinkan adiknya itu bertemu Abeen, sepulang manggung di Cafe Gadis. Lalu nggak lama ponselnya berdering lagi. "Mama?" "Papa belum bisa pulang. Mama tadi telpon Abangmu, nggak aktif mulu. Masih di cafe?" "Iya, cafe lagi rame. Tadinya mau bantuin juga tapi lagi banyak tugas. Nanti aku bilang sama Abang," "Ya udah. Hati-hati di rumah ya? Ada bibi kan?" "Iya, tenang aja Ma." Pip! Maria masih anteng nonton drakor favoritnya setelah beres menyelesaikan tugasnya yang dikumpulkan besok. Lega rasanya. Sambil bersandar ke bahu sofa, ngemil popcorn yang dibuat Bibi, Maria kayak pemalesan, kayak kaum rebahan. Tapi sedari tadi punggung dan pinggangnya pegal. Mungkin karena salah posisi duduk. Scene dalam drakor yang ditonton Maria tengah menunjukkan bocah yang tertabrak mobil. Seketika Maria terbangun. Tersedak. Secepat kilat ia meminum air putih di meja. Dadanya naik-turun. Lalu ia diam seraya memejamkan mata. Mencoba mengingat dan menggali memorinya yang mulai sedikit teruar. Di bayangan ingatannya yang mulai terkumpul itu, dilihatnya bocah yang tertabrak. Bocah itu dibawa ke rumah sakit. Ia hanya bisa menangis, mengingat bocah itu berlumuran darah. Lalu seseorang memanggil bocah itu. Dido. Dido. Nyawanya seperti tertarik begitu saja, meninggalkan raganya, menyisakan dirinya yang mematung. "Dido..." gumamnya. "J-jadi...a-aku--" dia menutup mulutnya. Dia bergerak gelisah. Random, mondar-mandir sambil menggigiti ujung kukunya. "Gimana kalo Abeen tahu?" monolognya. Pikirannya meracau, tapi kenapa Abeen bilang kalau adiknya itu meninggal karena step dan demam yang nggak kunjung turun? Maria tampak ketakutan. Tubuhnya sampai menggigil. Airmata sudah berlinang, rambutnya acak-acakan. Ketukan ringan di pintu kamarnya menyadarkannya. "Maria, turun. Ada Abeen tuh," itu suara abangnya. Buru-buru dia membuka pintu dan mendapati abangnya masih di situ. "Bang," "Hei, kenapa lo?" aura panik terpancar dari raut Marvel. "Bang!" Maria memeluk tubuh abangnya. Mencurahkan tangisnya di d**a bidang itu. Marvel masih belum paham. Tapi yang bisa ia lakukan berusaha menenangkan Maria. Dibawanya Maria masuk ke kamarnya kembali. Di elusnya sayang kepala adik semata wayangnya itu. Mereka duduk masih dalam posisi berpelukan. Marvel membiarkan Maria tenang dulu. Isaknya mulai mereda. Napasnya pun mulai teratur. "Ada apa? Kenapa, hm? Gue kaget loh. Abeen nyakitin lo?" Maria menggeleng,"Bang, mimpi buruk gue datang lagi." Marvel mengernyit, mencoba mengingat mimpi buruk apa yang dimaksud Maria. "Anak itu, yang aku tabrak...--" "Itu udah lalu, Ya. Forget it!" Maria menggeleng,"Gue nggak sengaja mengingatnya bang. Tiba-tiba aja aku ingat Dido," "Siapa Dido?" Marvel melepas pelukannya. "Anak itu namanya Dido. Dan dia ... d-dia adik A-abeen bang." Pecahlah lagi tangis Maria. Marvel berkerut, mencoba mengingat. Seingatnya Abeen nggak pernah bercerita tentang adik-adiknya. Siapa tahu saja ada ceritanya yang nempel di ingatan Marvel. "Jadi, mau lo gimana sekarang?" tanya Marvel. "Nggak tahu. Gue takut Abeen marah, gue takut dia ninggalin gue Bang..." Kembali Maria menyeruk di d**a Marvel. Cowok itu menghembus napas gusar. Gimana ini? "Kenapa aku harus marah dan ninggalin kamu, Ya?" Abeen udah berdiri di ambang pintu kamar yang emang dari tadi terbuka itu dengan tatapan yang sulit diartikan. •• tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD