8. tamu tak diundang

1266 Words
BELUM ada yang tahu kalau Abeen dan Maria jadian. Bahkan Marvel. Walau mereka terlihat lebih sering bersama. Dan gimana begitu protec-nya seorang Zabidin pada Maria. Itu kentara sekali. Abeen berusaha selalu memprioritaskan cewek itu setelah Nyak dan bandnya. Karena tiga hal ini adalah satu kesatuan yang nggak bisa dipisahkan. "Been, kenapa aku nggak boleh ke rumah?" Kini, mereka sudah ber-aku-kamu. Kan sudah official walau belum go publik. "Nyak tuh kolot, Ya. Aku nggak mau aja kamu jadi alasan Nyak menentang hubungan kita," jawab Abeen sambil menggenggam jemari Maria. "Kok gitu? Kenapa? Siapa yang Nyak maksud waktu itu? Pasti cewek kan? Dan dia lebih berada dari kamu? Iya?" Maria menatap cowok yang ber-outfit serba hitam itu. "Trus, keluarga cewek itu nggak setuju. Lalu kalian putus," lanjut Maria mencoba nebak alur kisah masa lalu Abeen. Abeen tersenyum pahit. Memang tebakan Maria nggak sepenuhnya salah. "Tukang ramal ya? Nih, coba ramal garis tanganku." Abeen mengulurkan telapak tangannya. Maria terkekeh, pura-pura membaca garis tangan cowok itu. Dahinya dibuat berkerut seolah sedang berpikir. "Emh, rejekinya lancar. Nggak madesu kalo mau berusaha. Kehidupan asmara masih dipertanyakan, terlalu banyak rahasia. Bukan termasuk don yuan. Apa lagi ya? Um..." Maria mengetuk-ngetuk dagunya. Abeen tersenyum lagi. "Emang apa yang pengen kamu tahu?" "Kan aku pernah bilang, aku pengen lebih deket, lebih tahu dan lebih ngerti tentang kamu," sahut Maria. Abeen mengangguk,"Pelan-pelan oke? Kalo disekaliguskan ntar kamu gumoh." "Gumoh? Emang bayi? Dasar," Abeen nyengir,"Bikin bayi yuk!" "Abeen!" Abeen malah tertawa kesenangan melihat Maria cemberut. "Sayang aku, ihh!" tangannya terulur mengusak rambut Maria. "Maria," Maria dan Abeen menoleh. Virgo. "Tadi habis dari cafe bang Marvel," kata Virgo langsung duduk di depan mereka tanpa permisi. "Trus?" "Ya kesini mau jemput yayangku," "Inget ya Go, kita udah mantan! Kita udah putus dari setahun lalu," sahut Maria sewot. "Aku nggak pernah merasa kita putus." Maria mendengkus, lalu bangkit dan menarik tangan Abeen untuk pergi dari sana. "Mantan?" Abeen menghentikan langkahnya. "Iya, aku kan pernah cerita waktu itu." "Kalian putus bukan karena aku kan?" Maria merotasi bola matanya. Lalu menggeleng. "Karena aku nggak mau mertahanin, Been. Dasar aja Marvel main jodoh-jodohin segala. Lagian nggak lama kok, cuma enam bulan." tuturnya. "Pacaran kok kayak semesteran?" kikiknya. Maria memukul bahu yang katanya siempu mirip banci, tapi ternyata bahunya itu begitu lebar dan sandarable! Maria sudah kuatir saja kalau Abeen bakal marah atau bertanya banyak soal hubungannya dengan Virgo. "Maria!" kejar Virgo. Maria menghentikan langkahnya. Tangannya masih bertautan dengan milik Abeen. "Apa? Apa lagi Go?" "Kenapa? Karena dia kamu minta putus? Iya?" "Alasannya udah jelas kok waktu itu aku udah bilang. Dia bukan alasan kita putus. Emang udah waktunya kita putus aja. Aku capek. Lagian aku udah ngomong sama Marvel. Awas aja kalo kamu berani macem-macem sama Marvel!" ketus Maria. "Maria tapi--" "Hei, bro. Calm down ok? Jangan paksa Maria. Next, kalo dia udah tenang, baru kalian bicara. Seleseiin semua baik-baik," Abeen menghalangi Virgo yang mau lebih mendekati Maria. Maria sembunyi di belakang punggungnya. "Jangan ikut campur!" Virgo mendorong Abeen. "C'mon jangan kekanakan gini dong. Apa-apa kan bisa diomongin. Cuma sekarang bukan saat yang tepat, oke? Kasih Maria waktu. Bisa?" Abeen masih sabar menghadapi satu makhluk yang tengah patah hati ini. "Bacot!" Virgo melayangkan tinjunya tapi Abeen berhasil menghindar. Dia pun nggak sangka Virgo akan memukulnya. Maria teriak. Tapi Virgo seperti harimau yang tengah terluka, nggak mikir sejurus logika dan nggak jernih. Abeen bukan nggak mau melawan. Tapi dia memandang adanya Maria di sana. Dia terus berusaha berkelit dan menghindari pukulan telak lawan yang dipenuhi emosi. "Dasar banci lo! Cemen! Ngehindar terus! Ayo lawan gue!" Abeen menatap Virgo sebelum dia menonjok rahang Virgo yang sedang nggak fokus. Sekali. Cukup sekali. "Ngatain gue banci sekali lagi, abis lo! Maria cewek gue sekarang. Jauh-jauh lo dari Maria. Udah gue beri kesempatan lo buang sia-sia. No chance!" Virgo mengusap sudut bibirnya yang lebam dan berdarah. Cowok itu meringis sinis. Dia nggak ngomong apa-apa hanya menunjuk-nunjuk Abeen. "Been," Maria menyentuh tangan Abeen yang tadi memukul Virgo. "Untung kamu nggak luka. Suka deh ngomongnya cool gitu," katanya sambil menggelayutkan tangannya di lengan Abeen. Abeen senyum,"Nanti hati-hati ya kalo ketemu dia lagi." "Hm," Maria ngangguk. "Emang kenapa sih kalian putus?" ternyata Abeen mulai penasaran. "Kenapa ya... Sebenarnya aku merasa kepaksa aja. Aku pada dasarnya nggak suka sama dia. Nggak tahu kenapa. Cuma selama enam bulan pacaran sama dia, aku tuh capek. Monoton. Kayak terlalu dibuat-buat. Jaim. Ya dari pada aku muna, mending udahan aja. Eh dia nggak terima," bibir Maria mempout. Abeen mencubit gemas pipi Maria. "Emang kalo sama aku menjamin aku nggak bakal bosenin, nggak jaim, nggak bikin capek?" "Kayaknya nggak deh. Tapi bikin kesel sih iya, " pecahlah tawa Maria di kalimat terakhirnya. "Bikin kesel ya? Iya?" Abeen menggelitik Maria tanpa ampun. "Iya, abis mantannya bejibun!" elak Maria menghindari gelitikan Abeen. Orang yang berlalu-lalang di depan kantin memperhatikan kedua sejoli itu. Ada yang geleng-geleng kepala. Ada yang senyum-senyum iri. Ada juga yang cuma bisik-bisik. Iya, dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak! • Marvel menatap kedua orang di hadapannya. Maria menunduk. Sedang tangan kedua sejoli itu masih bertautan di bawah meja. "Ada apa ini? Auranya serius banget?" tiba-tiba Han muncul di balik pintu dengan mimik yang terheran-heran. "Nih bocah dua. Mereka pacaran," jawab Marvel sambil bersidekap. "Oh," "Oh?! Cuma Oh?" Marvel membelalakkan matanya nggak percaya. "Lah, emang mau gimana? Mencak-mencak gitu? Mereka udah gede kali Bang," sahut Han sambil muter kursi lalu duduk di atasnya. "Iya, tapi mereka nyembunyiin semua dari kita. Atau, jangan-jangan lo udah tahu duluan, heh?" sorot Marvel menyipit. "Emang kenapa sih? Salah? Lagian Maria adek lo, Abeen temen kita juga. Lo nggak suka? Nggak setuju?" berondong Han. Abeen dan Maria saling pandang. Kok malah mereka yang adu mulut? "Bukan gitu. Harusnya mereka ijin gue dulu dong, minta restu gitu. Ini main tembak aja. Terus gue baru tahu sekarang seudah mereka jadian mau dua bulan? k*****t kan?" sungut Marvel ngembusin napasnya. "Untuk yang satu itu gue minta maaf, Bang. Niat kita bukan mau backstreet gitu, cuma gue yang lebih nggak enak sama lo. Gue pengen liatin dulu keberhasilan gue, biar bisa bikin lo bangga, Maria bangga. Dan yaaa, nggak malu-maluin banget kalo gue ntar ke depannya minta doa restu dari lo sama Om dan Tante," ujar Abeen. Maria senyum, sekarang wajahnya mendongak. Maria senang bukan kepalang akan kata-kata yang terluncur dari bibir kuncup itu. Terdengar tulus, nggak muluk-muluk dan nggak jaim. Apalagi dengar kalimat terakhir Abeen. Rasanya Maria ingin loncat-loncat. Di masa depan nanti Abeen-nya akan meminta restu pada orangtuanya. So sweet! Han ikut tersenyum sambil menepuk bahu lebar itu. "Udah gede sobat gue,--"cengirnya. "Ototnya.... Nih, ototnya gede-gede kan?" Han memijit-mijit bahu dan lengan Abeen yang memang lebih terlihat berotot. Marvel mengembuskan napas sekali lagi. Melirik tiga orang di hadapannya. "Apa yang lo pikirin soal gue, Bang?" tanya Abeen. "Maria. Maria yang gue pikirin. Jangan bikin adek gue sakit atau nangis sekalipun. Atau, gue bakalan buat perhitungan sama lo," tukasnya seraya tersenyum lalu nepuk bahu calon iparnya itu. "Jadi?" "Terserah deh. Jadian mah jadian aja. Gue butuh denger ijin kalian bukan buat apa-apa tapi buat mastiin perasaan kalian. Yang satu adek gue, satunya lagi sohib gue dan gue nggak mau gue bingung berpihak saat kalian ada masalah. It's complicated you know," kepalanya manggut-manggut. Keduanya ngangguk, cukup terharu juga ternyata abangnya Maria bisa nerima keputusan mereka. "Thank's Bang..." Maria berhambur ke peluk Marvel. Tinggal misi minta restu dari kedua orangtuanya dan Nyak Romlah tentu saja. Bahkan Abeen percaya diri banget kalo nyaknya akan setuju dan merestui. Harapan hidup bahagia terbentang di depan mata... "Bang, gue ijin bahagiain Maria, boleh?" ••• Hi, readers! Yeaayy Kapalku berlayar... Go public! Go public! So Gomaweo & Saranghae tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD