7. rumah makan padang

1392 Words
•• "EH Been, mampir kesitu yuk? Siapa tahu ada otak atau kikil gitu," ajak Maria. Abeen membulatkan matanya. Padahal sejak tadi dia sebisa mungkin menghindari Sari, eeh... malah diajak Maria ke rumah makan padang. Kalau Maria tahu itu rumah makan milik orangtua Sari, yakin dia bakal dicuekin seminggu lagi. Sorot gadis manis yang tengah menjaga kasir itu langsung berbinar demi melihat Abeen ternyata mau mampir ke rumah makannya. "Eh, Bang Abeen akhirnya mau mampir juga. Silahkan duduk Bang," sambut Sari semringah. Sambutan Sari tentu saja cuma dibalas seperlunya. "I-ini nganter mau beli otak sama kikil. Masih ada kan?" sahutnya canggung. Sari baru sadar bahwa di samping Abeen ada seorang cewek lain yang masih melihat-lihat makanan yang tersaji dibalik kaca itu. "Siapa dia?" tanya Sari sinis. "Eu--" "Been, sekalian daging cincangnya tiga porsi ya? Emh...Nyak sukanya app-a?" Maria mengerling begitu melihat cewek yang sama dilihatnya tempo hari memeluk Abeen. Lidahnya mendadak kelu. Oh, cewek ini yang dibilang Abeen ada hati? "Iya Sar, daging cincangnya tiga porsi. Otak sama kikilnya dua porsi," kata Abeen sambil menoleh ke arah Sari. "I-iya," Sari lalu menyuruh asistennya membungkus pesanan mereka. "Been, lo utang es jeruk loh. Eh, Nyak mau dipesenin apa? Biar sekalian," Maria mengeluarkan dompet. Maria mencoba biasa. Toh, Abeen pun nggak menampakkan kedekatan yang berarti sama cewek itu atau pun gimana. Maria pikir kalo mereka emang pacaran, pasti Abeen bilang kan? Dan sikap mereka pasti layaknya kayak orang pacaran, ini nggak. Abeen malah terlihat cenderung menghindar. "Emh Sar, es jeruknya juga ya satu. Dibungkus aja," Maria memperhatikan gerak-gerik gadis itu yang tampak salah tingkah. Dia merasa nggak enak juga. Coba kalau Maria yang berada di posisi gadis itu pasti sudah mencak-mencak. Abeen sesekali melirik Maria. Dia khawatir gadis itu marah, cemburu. Eh? Mereka jadian saja belum. Abeen mengulum bibirnya. Apa lagi yang ditunggunya? Toh, sinyal-sinyal saling tertarik sudah jelas. Sejak jaman di bangku SMA pun Abeen sudah naksir sama Maria. Tapi semua tersendat karena dia merasa nggak pantes, beda kasta. Hampir Abeen melupakan gadis komplek itu, tapi pertemuan kembali dengannya membuat memori masa SMA tergali lagi. Sayangnya, mereka bertemu dalam keadaan yang mengenaskan. Dirinya tengah mengamen dan menjadi waria! Saat itu Abeen sangat-sangat malu! Tapi rasa yang teruar malah amarah. "Been! Dipanggilin dari tadi. Melamun ya? Ayo, udah nih." Maria menyikutnya. "Oh, iya? Sori. Lagi nggak fokus," kekehnya canggung. Tanggapan Abeen seperti itu malah disalah artikan Maria kalau cowok itu tengah melamunkan Sari. Maria kembali ke rumah Abeen, karena tasnya masih di sana, sekalian memberikan daging cincang yang dibelinya tadi. "Do, ini nanti angetin ya? Lumayan buat lauk kalo Nyak pulang," kata Maria. "Iya, Kak. Makasih," sahutnya sambil menyalami Maria. Maria masih menyeruput es jeruknya. Abeen memandangi gadis itu yang sejak tadi malah mendiamkannya. Marah lagi kan? Sekarang kenapa? "Ya, kenapa?" Maria menggeleng,"Gue pulang ya? Salam buat Nyak," "Hei, kok--" "Mau sekalian ambil jaket nggak? Atau ntar gue titip Marvel?" Maria menatapnya ogah-ogahan. Khawatir Abeen menangkap kegelisahannya. Abeen senyum,"Mau." Minta anter aja pake alasan jaket, Ya! "Do, jagain rumah. Abang anter Kak Maria pulang." Mereka lalu berjalan beriringan. Menyusuri gang demi gang. Selokan di sekitar gang menuju rumah Abeen cukup bikin Maria illfeel. Bau dan kotornya itu loh. Maria memilih bungkam. Dan mereka masih saling diam hingga sampai benteng. Hanya Abeen sesekali tersenyum dan membalas sapa orang-orang yang dikenalnya di jalan. Maria melirik,"Lo udah nggak mangkal lagi?" Alhamdulillah... Mau ngomong juga. Abeen tersenyum lega sambil menggeleng. "Gue kan udah teken kontrak sama Abang lo, Ya. Kenapa? Kangen liat gue pake rok?" cetusnya. Maria tergelak,"Iya! Kangen. Berasa punya kakak cewek gue." Abeen mencebik sebel. "Eh tapi, waktu itu kaki lo nggak kenapa-napa kan?" "Nggak. Udah jamak." "Lagian, pake sepatu semi higheels gitu buat cowok ya keitung ribet. Lecet pasti. Cewek juga nggak semua bisa. Belajar dimana bisa jalan pake sepatu higheels? Otodidak?" Maria mencondongkan kepalanya mendekat buat mengejek cowok itu. "Diajarin Sari." Maria mendadak diam kembali. Tuh kan? Lo salah ngomong Zabidinnn! "Ya, emang lo nggak malu jalan sama gue?" tanya Abeen kemudian. "Malu? Kenapa malu? Waktu lo pura-pura nggak kenal gue, gue lempeng aja tuh. Apa lagi sekarang, makin lempeng. Alias, gue nggak peduli. Gue malah khawatir lo down kalo temen-temen kampus tahu," jawab Maria. "Han sama Marvel tahu kok," "Oya? Kok Abang nggak pernah cerita ya? Ya, syukur deh. Btw, ini jalannya bisa nembus ke komplek gue?" Abeen mengangguk lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Maria. "Iya, tapi mesti naik-naik ginian dulu. Ayo!" Abeen naik ke undakan tembok berjumlah dua undakan. Walau dua undakan tapi lumayan tinggi, bukan seperti undakan tangga biasanya yang pendek-pendek. "Jalan pintas," katanya. Maria mengangguk. Benteng itu ternyata terhalang beberapa pohon. Sepertinya pohon yang sengaja ditanam warga komplek. Di sebuah pohon mangga, terbelit tali tambang yang menyerupai tangga. "Gue sengaja bikin kayak ginian. Buat keadaan darurat sih. Kalo misal gue nggak bawa motor, atau lagi ngehindar dari kejaran satpol PP," kekehnya. "Pernah ketangkep?" tanya Maria antusias. Abeen menggeleng,"Alhamdulillah nggak. Gila, ditebusnya berapa? Emang yang kena razia satpol nggak ditebus gitu? Gerobak Bang Didin aja waktu itu, ditebus sampe 700 ribu!" Maria manggut-manggut. "Itu minimal. Paling gede sampe 2,5juta! Nebus apa meres tuh?" imbuhnya. Maria terkikik, lucu saja liat Abeen nyerocos seperti itu. "Kenapa?" dia balik tanya, heran dengan gadis di sebelahnya yang terkikik. "Nggak. Lucu aja. Lo emang secerewet ini ya?" Abeen memberengut. Dia memang harus cerewet, apalagi sebagai seorang kakak. Untung adiknya cowok, jadi nggak akan terlalu rame kalau mereka ribut. • Maria mengulurkan secangkir kopi pada cowok yang nampaknya masih betah duduk di ruang keluarga sambil nonton tv. "Padahal jaketnya nggak usah dicuci, Ya. Kan sayang jadi hilang wangi kemaskulinan gue," cetusnya ringan. Saat itu juga Maria terbahak. Dia pikir Abeen bakal bilang : 'padahal jaketnya nggak usah dicuci Ya. Takut ngerepotin.' Eh, tahunya di luar dugaannya. Maria terbahak sampai memegangi perutnya. Bibir Abeen yang kecil itu mengerucut. Makin-makin saja Maria terpesona. Kok bisa cowok semaskulin dia punya bibir kuncup kayak punya cewek? "Sesekali boleh dong ntar gue ikut lo mangkal," kata Maria memungkas sesi ketawanya. "Beneran mau ikut? Dikejar satpol PP, mau? Capek Ya jadi orang susah itu. Udah, lo kan udah hidup enak, ngapain ikut nge-busking bareng gue? Nggak elit lagi nemenin waria," tandasnya. "Kalo warianya itu lo, gue nggak masalah." Maria berkilah keras kepala. "Ya--" "Jangan bilang, cewek itu malah yang suka lo ajak busking." Kan, kan... Sari maksudnya? Cemburu nih. Fix. Sudut bibir kuncup itu terangkat. Dia suka Maria cemburu. Pengennya Maria itu dikantonginya, digenggamnya biar bisa dibawa kemana pun. "Kenapa lo mau gue ajak busking?" selidik Abeen. "Pengen tahu lo lebih banyak, lebih dalem, biar gue bisa ngertiin lo. Nggak boleh?" Maria mengangkat kedua alisnya. Abeen senyum,"Gila! Lo gombalin gue ceritanya?!" "Eoh? Lo berasa gue gombalin?" balas Maria. Keduanya tersenyum. Apalagi posisi mereka yang menguntungkan. Begitu dekat. Netra keduanya seolah terkunci di masing-masing. Keduanya pun tak ingin melepas tautan tatapan mereka. "Boleh nggak?" ulang Maria. "Boleh, lo mau tahu soal gue di part yang mana?" "Semua. Gue pengen tahu semua bagian hidup lo, cerita lo, dan cinta lo." "Loh, kok soal cinta gue?" "Soalnya cinta lo berbelit. Lengah dikit, udah gagal semua. Gue juga pengen tau soal si pemilik rumah makan Padang itu." Abeen tertegun. Cerita jangan? "Kisah cinta gue B aja. Lagian nggak ada yang serius. Numpang lewat doang kayak iklan. Eh, bukan berarti gue nggak ngehargain mereka, tapi gue emang belum fokus ke sana. Gue belum mau pacaran. Masih banyak yang harus gue pikirin. Ada Nyak sama Fido," ujarnya. "Kayak gue bilang tadi di kantin, gue nggak ada hubungan apa-apa sama Sari. Terserah dia mau suka atau apa sama gue. Yang penting gue nggak ladenin dia," lanjutnya. Maniknya bergulir menatap wajah cantik di depannya. Jantung Maria sudah kayak kembang api ditatapi serupa itu. Tangan Abeen perlahan terulur menggapai wajah Maria. Mengelus dengan lembut di pipi Maria, hingga pipi cewek itu merona. "Kisah kita baru aja mulai. Lo mau berbagi kisah sama gue sampe akhir? Berjuang bareng-bareng, nemenin gue?" Terbitlah senyum di bibirnya begitu anggukan kepala Maria menuntaskan semua tanya. "Ah, leganya." Abeen menarik kepala Maria dan mendekapnya. "Kita ngapain? Jadian?" Maria mendongak. Abeen mengangguk,"Emang apaan dong? Nggak banget ya?" Maria menyembunyikan malunya dipelukan Abeen. Toh, Maria nggak peduli Abeen menembaknya seperti apa. "Malu ya habis ditembak?" bisiknya. Maria meninju d**a bidang Abeen. Cowok itu terkekeh mendapat tinjuan manja Maria. "Gue nunggu waktu yang tepat, Ya. Sori ya, udah nunggu lama. Nunggu gue tembak," gumamnya. Abeen membelai kepalanya sayang. •• tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD