BAB 4: EDO, HANNAH - AKHIR YANG MENJADI AWAL

1666 Words
Bandung di masa lalu. "Bunda..." "Iya, nak." "Aa' mau ngobrol sebentar sama Bunda dan Ayah boleh?" Maya yang sedang menikmati waktunya merajut cover bantal sofa langsung menghentikan kegiatannya. Begitu pun Hanif sang Ayah yang langsung mematikan televisi tabung di hadapan mereka. "Ayas musti ngungsi, A?" tanya adik pertama Edo, sementara kedua adiknya yang lain ikut menatap si sulung menunggu jawaban. "Ga usah. Kalian di sini aja." Dan ketiga adiknya pun sibuk kembali dengan kegiatannya masing-masing. "Ada apa, nak?" tanya Hanif. Edo menyodorkan tiga buah map manila berwarna biru, kuning muda, dan oranye di hadapan kedua orang tuanya. "Ini Yah, Bund... Aa' boleh masukin berkas PMDK ke tiga Universitas." "PMDK itu apa A?" tanya Maya. "Penelusuran Minat dan Kemampuan, Bunda. Gampangnya, Aa' bisa masukin permohonan untuk kuliah di salah satu Universitas ini tanpa tes. Lulus tidaknya nanti hanya dilihat dari nilai Aa' aja." "Mashaa Allah... Pinter dong kamu, A..." "Ya ga gitu juga Bunda..." "Ah anak Bunda ga usah merendah. Lalu, kenapa map-nya ada tiga?" "Aa' diminta pilih salah satu." "Ga bisa ketiganya?" "Ga bisa, Ayah. Kalau Aa' masukin permohonan ke ketiganya, tau-tau diterima semua dan baru milih mau yang mana, yang ada nanti kedua Universitas yang ga Aa' pilih bisa blacklist sekolah dari PMDK tahun depan." "Ooo." "Lalu, Aa' mau pilih yang mana?" "Bunda, Ayah... Apa Aa' ga bisa kuliah seni rupa?" "Itu lagi sih A!" ketus Hanif. Edo menunduk. "Punya otak encer kok malah mau jadi tukang gambar! Ujung-ujungnya kamu cuma bakalan jadi guru honorer!" sulut Hanif lagi. "Ayah ini cuma lulusan SMP. Bunda juga sama! Ayah dan Bunda cuma kepingin hidup kamu lebih baik, A!" Edo benar-benar terdiam. Ya, ia bukan seorang anak yang berani menjawab kala orang tuanya berkeluh kesah apalagi sedang menasihatinya. "Pilih salah satu. Kalau tidak lulus nanti, kamu ikut ujian yang ramai-ramai itu. Ayah dan Bunda akan menguliahkanmu, dengan catatan harus Universitas Negeri dan bukan gambar-menggambar!" tandas Hanif lagi seraya berdiri dan melangkah meninggalkan mereka semua yang terdiam mendengar kekesalannya. "A..." lirih Maya seraya mengusap-usap lembut kedua tangan sang putera yang terkepal di atas pahanya. "Maafin Ayah ya, nak..." "Ga apa-apa, Bunda." lirih Edo. "Jadi, bagaimana?" "Tiga map itu ada yang untuk ke ITB, UI dan ITS, Bunda... Kalau ke ITB, karena ga boleh milih seni rupa, Aa' ga mau masukin ke sana. Khawatir nantinya Aa' malah ga fokus kuliah." Maya mengangguk lemah. "Kalau UI, Aa' belum tau sih mau ambil apa. Nanti Aa' coba lihat-lihat lagi jurusan-jurusan di sana." Maya mengangguk lagi. "Dan kalau ITS, ngga ya Bunda. Jauh banget. Aa' ga mau ninggalin Bunda jauh-jauh." "Ga apa-apa kalau untuk menimba ilmu, A." "Ngga Bunda. Kalau nanti Aa' ga lolos di UI, seperti yang Ayah bilang, Aa' akan ikut UMPTN. InshaaAllah Aa' pasti kuliah di Negeri, Bunda. Bunda ga usah khawatir ya." "Maafin Bunda dan Ayah ya, nak... Kemampuan kami hanya begini." Edo mengikis jarak dengan Maya, membawa sang Ibu ke dalam rengkuhan eratnya. "Aa' sayang Bunda. Aa' pengen berhasil, supaya Bunda ga perlu capek-capek setiap hari seperti sekarang ini. Aa' mau Bunda sehat. Tunggu sampai Aa' bisa bahagiain Bunda ya." "Iya sayang... Bunda selalu doakan Allah mendengar cita-citamu. Bunda ridho, nak. Bunda ridho sama anak-anak Bunda. Bunda ridho dengan semua langkah yang Aa' tempuh." lirih Maya, haru. "Iya Bunda... Makasih udah jadi Bunda yang luar biasa untuk kami." --- "Edo!" "Hey, Ge!" "Edo mau kemana?" "Makan somay." "Geya mau ngobrol sama Edo sebentar boleh?" "Mmm... Oke. Dimana?" "Di kelas aja kali ya. Kelas Geya." "Depan pintu ya?" "Iya, takut ya digosipin?" "Iyalah. Udah mau lulus, tinggal nunggu ijasah kok malah digosipin. Yuk." Edo mendaratkan bokongnya tepat di atas meja di samping pintu kelas III-IPS-II, sementara Geya duduk di kursinya. "Kenapa Ge?" "Edo abis ini mau kemana?" "Ke rumah Kenzo. Mau fotocopi soal-soal dari bimbelnya dia." "Dengar-dengar Edo ga masukin PMDK sama sekali ya?" Edo terkekeh. "Kenapa?" "Telat mau masukin UI. Kelamaan mikir." "Sayang atuh, Edo." "Iya. Makanya belajar lagi kan buat UMPTN." "Edo..." "Ya?" "Jawaban Edo gimana?" "Geya..." "Kumaha atuh... Geya bingung..." "Bukannya Edo udah bilang ya kalau Edo ga bisa pacaran, Ge..." "Kenapa?" "Ga ada alasan. Ga bisa aja. Situasi Edo terlalu rumit untuk dijelasin." "Edo suka sama cewek lain?" "Ngga, Ge..." "Edo punya perasaan ga ke Geya?" "Ge... Kayanya kita ga perlu deh bahas lebih jauh." Geya menunduk. Memainkan jemarinya karena gelisah. "Jadi, Geya benar-benar ga punya harapan sama Edo?" Edo mengulurkan tangannya, mengusap lembut surai Geya seraya tersenyum. "Iya. Maaf, Edo ga bisa." Air mata akhirnya menetes dari kedua sudut mata Geya. "Geya... Jangan nangis." "Geya sayang Edo." "Iya, Edo juga sayang Geya. Tapi sayang sebagai sahabat aja, Ge... Maaf ya, maaf karena Edo udah bikin Geya sayang sama Edo." "Edo bakalan nyesel nolak Geya!" Edo tersenyum pada Geya, menguatkan hatinya jika ini yang memang seharusnya ia lakukan. "Iya. Pasti, Geya." *** Jakarta, 2002 "Jadi?" "Apa dong Bang?" "Halah, udah setahun lho Han, masa belum ada keputusan juga? Udahlah ke sini aja!" "Ga mau!" tolak Hana. Malam itu Hana sedang menerima panggilan video via Skype dari Dirga - abangnya yang kini tinggal di kota London. "Kenapa sih? Aman kok di sini! Nanti kita sewa flat aja. Gue sanggup kok biayain lo." "Ga mau..." lirih Hana. "Iya, kenapa?" "Ya ga mau aja. Kasian Mama dan Papa." Dirga mendengus. Ia paham dengan apa yang dirasakan Hana. Mereka berempat bersaudara. Irgi sang sulung masih menjalani program spesialisnya di negeri yang sama dengan Dirga. Sementara Nisa sang puteri kedua keluarga Pranata memilih mengambil program khusus tersertifikasi di bidang kecantikan di kota Seoul - Korea Selatan. Lalu, Dirga sendiri, merantau dan kuliah ke London, bahkan menjalankan usahanya di kota itu. Tinggallah sang bungsu seorang diri dengan kedua orang tuanya di Jakarta. Dirga sebenarnya merasa bersalah, membuat adik bungsunya membatasi impiannya karena kealpaan kakak-kakaknya. "Nanti aja, Bang. Kalau Bang Irgi dan Kak Nisa udah di sini baru Hana pikirin lagi. Beneran deh, Hana yang ga mau ninggalin Mama dan Papa. Lagian juga di sini banyak kampus bagus kok." "Ya kalau banyak kan artinya lo tinggal milih dong, Dek?" "Ada dua pilihan sih." "Apa?" "Desain Komunikasi Visual - IKJ, atau International Fashion Business - ESMOD." "Oke." "Menurut Abang yang mana?" "Ya lo maunya yang mana? Prefer yang mana?" "Nah itu belum tau, Abang." "Ya udah, istikhoroh sana." "Ih, Abang. Bagus banget sarannya!" "Lah, gimana sih?" "Kalau Abang jadi Hana pilih apa?" "DKV." "Kenapa?" "Karena itu salah satu dunia gue." "Iya sih. Baju lo aja gue yang milihin!" "Nah itu lo tau! Pikirin ke depannya gimana, Han. Emang fashion itu passion lo? Itu dunia yang menurut gue kalau lo ga ada passion di sana, bakalan cepet bosan bahkan putus asa. Jangan cuma karena lo fashionable lalu lo mutusin nyemplung tanpa mikirin kemungkinan yang akan lo hadapi ke depannya. Contohnya, apa lo sanggup ngikutin perubahan dunia fashion yang cepet banget berubahnya itu? Cukup yakin dengan daya kreatifitas lo di bidang ini seandainya lo harus mempromosikan karya lo baik di dalam ataupun luar negeri? Kalau lo ga bisa bersaing, lo ga akan ada bedanya dengan tukang jahit rumahan lho. Itu sih menurut gue ya. Ya ga ada sih salahnya dengan itu, tapi gue yakin lo pengen masuk Esmod dengan impian yang jauh lebih besar dari buka jasa jahit di rumah kan, Dek?" "Iya, Bang." "Udah ngobrol sama Mama dan Papa?" "Udah. Sama nasihatnya kaya lo." "Ya udah. Gue ga mau nantinya lo nyesel dengan pilihan lo. Gue paham lo masih muda, sah-sah aja coba jurusan lain kalau nantinya lo ngerasa ternyata itu bukan tempat lo. Tapi, kalau bisa sukses sekali jalan, kenapa musti repot-repot nyiapin plan A plan B? Biar gimana pun, merubah haluan di tengah jalan, ada harga yang harus dibayar termasuk waktu. So, pikirin baik-baik dulu aja. Apapun pilihan lo, kami dukung." "Oke, Bang." "Ya udah ya..." "Oke. Bye, Abang." "Bye. Assalammu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." --- "Farel..." sapa Hana hangat seraya menepuk lembut pundak kanan pria yang menjadi kekasihnya sepanjang masa putih abu-abu. "Hey. Sini, Han," ujar Farel seraya berdiri, lalu menarik kursi di hadapannya, mempersilahkan Hana duduk. "Makasih." "Gimana? Kamu udah mutusin mau kuliah dimana, Han?" tanya Farel begitu mereka mengusaikan acara makan siang bersama di sebuah restoran steak di Selatan Jakarta. "Iya, sudah." "Kemana?" "IKJ." "DKV?" "Iya." "Jadi kamu sama sekali ga mempertimbangkan saranku?" "Rel..." "Aku lolos di NUS. Minggu depan aku udah harus berangkat." "Wow. Congratz, Rel!" "Han... Ayo, ikut aku. Kita kuliah di sana. Kamu bisa pilih NUS atau di Lasalle College of the Arts." Hana mendengus, lelah berulang kali membicarakan hal yang sama dengan Farel. "Rel... Maaf, aku ga bisa." "Ayolah Han. Abang kamu lulusan London, Kakak kamu lulusan Seoul, dan kamu cuma lulusan Jakarta?" "Maksud kamu apa?" ketus Hana, tak menyukai nada remeh di suara Farel. "Lulusan luar negeri masa depannya pasti lebih cerah, Han!" Hana tertawa sinis. "Lalu?" tanya Hana dingin. "Ya aku kan maunya kita selevel, Han. Wajar kan?" "Oh, jadi itu maksud kamu?" "Hana..." "Apa kamu tau gimana beratnya kehidupan Abang-abangku dan Kakakku di negara orang? Apa kamu tau siapa yang menopang keluarga kami selama ini? Mereka! Bang Dirga satu-satunya yang memberi kami kehidupan layak di sini. Bang Irgi dan kak Nisa fokus menyelesaikan pendidikan mereka agar bisa segera berkarir dan ikut membangun kembali keluarga kami, plus nyekolahin aku di sekolah borjuis kita ini. Semua saudaraku kehidupannya ga ada yang gampang, Rel. Kamu tau banget gimana Papa bersusah payah menghadapi kebangkrutannya. Dan sekarang kamu menganggap aku ga selevel sama kamu hanya karena aku ga mau ngikut kamu ke NUS? Gila! Picik banget cara berfikir kamu, Rel!" Farel mendengus frustasi. Ia benar-benar tak menyukai kekeraskepalaan Hana. "Oke. Kamu ga mau kan aku kuliah di sini?" "Hana... Kan Bang Dirga sendiri yang nawarin kamu untuk kuliah dimana aja." "Kalau aku mau kuliah ke luar, aku hanya akan milih London! Ngapain aku kuliah ke NUS cuma ngikutin kamu. Emang bisa apa kamu kalau aku kenapa-kenapa?" "Hana!" geram Farel, nyaris memekik. "Kita putus!" tegas Hana. "Han..." lirih Farel. Hana berdiri dari kursinya, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, meletakkannya di hadapan Farel. "Aku yang traktir!" ujar Hana seraya melangkah meninggalkan Farel yang terdiam seorang diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD