bc

Pernikahan Kontrak: Rahasia di Balik Kamar CEO

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
family
arrogant
badboy
boss
heir/heiress
drama
bxg
office/work place
poor to rich
friends with benefits
assistant
civilian
like
intro-logo
Blurb

"Tanda tangani kontrak ini, jadilah istriku selama satu tahun, dan aku akan melunasi semua utangmu. Tapi ingat satu hal, Maya... Jangan pernah jatuh cinta padaku."

Maya Adhisti terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Arlan Dirgantara, CEO dingin yang tidak memiliki hati. Maya mencoba menjaga batasan, tapi Arlan terus melanggarnya dengan ciuman-ciuman menuntut dan perlakuan posesif yang membingungkan.

Semua terasa sempurna sampai Maya menemukan kunci kamar rahasia yang selalu disembunyikan Arlan. Di sana, dia menemukan alasan sebenarnya mengapa dia dinikahi. Apakah Maya hanya pelarian dari masa lalu Arlan yang kelam? Ataukah dia memang sejak awal telah masuk ke dalam sarang serigala yang lapar?

chap-preview
Free preview
Hujan dan Harga Diri
Gerimis yang tadi hanya berupa tirai halus kini berubah menjadi cambuk, menghantam atap seng kontrakan dengan ritme yang kejam. Maya Adhisti meringkuk, lututnya memeluk d**a, di bawah teras reyot yang kini terasa seperti satu-satunya tempat berlindung dari penghakiman dunia. Aroma tanah basah, karat, dan kekalahan melekat di udara. Di hadapannya, barang-barang miliknya—kehidupan sederhananya selama tiga tahun terakhir—telah berubah menjadi tumpukan ampas basah. Kardus-kardus yang berisi sketsa desain, buku-buku lama, dan beberapa pakaian kini terkulai lepek, seolah-olah mereka ikut menyerah pada takdir yang menimpanya. Baru tiga jam yang lalu, pintu kayu itu digedor dengan kasar oleh pemilik kontrakan, wajahnya masam dan penuh ancaman. Uang sewa tiga bulan tertunggak. Tidak ada negosiasi. Tidak ada belas kasihan. *Keluar, sekarang juga!* Maya tidak bisa menyalahkan wanita paruh baya itu. Setiap rupiah yang seharusnya dialokasikan untuk sewa, kini telah berpindah tangan ke laci penerimaan Rumah Sakit Mutiara Bunda—sebuah lubang hitam finansial tempat adiknya, Riko, berjuang melawan penyakit langka yang menggerogoti paru-parunya. Kepalanya terasa memberat, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena beban mental yang menumpuk. Pagi tadi, dia telah kehilangan pekerjaan sebagai desainer interior junior. “Maya,” suara manajer HRD terdengar datar, tanpa emosi, “kami menghargai dedikasimu, tapi ketidakhadiranmu yang terlalu sering memengaruhi produktivitas tim. Kami butuh profesionalisme yang stabil.” Dia tidak punya energi untuk berdebat. Bagaimana bisa stabilitas dipertahankan ketika setiap dering telepon dari rumah sakit terasa seperti lonceng kematian yang semakin mendekat? Tangan Maya terangkat, menyeka air yang bercampur lumpur dari pipinya. Hujan lebat ini terasa seperti tangisan alam yang menyamarkan air matanya sendiri. Ia memejamkan mata. Gambaran Riko muncul. Adiknya yang rapuh, terbaring kaku, dikelilingi oleh kabel dan mesin yang berdengung pelan. Riko pernah menatapnya, tatapan itu tidak meminta ampunan, melainkan janji: janji untuk tetap hidup. *Aku tidak boleh menyerah. Riko membutuhkanku.* Namun, apa yang tersisa dari dirinya untuk dipersembahkan? Dompetnya kosong, ponselnya mati, dan kini dia tunawisma di bawah guyuran hujan Jakarta yang seolah tak akan pernah reda. Harga diri yang selama ini ia jaga dengan ketat—prinsipnya untuk tidak pernah meminta-minta—kini terasa seperti kepingan kaca pecah di bawah kakinya. Tiba-tiba, suara deru mesin yang dalam dan asing memecah kebisingan hujan. Suara itu begitu mewah, begitu asing, di gang sempit yang biasanya hanya dilalui sepeda motor reot. Maya mengangkat pandangannya yang keruh. Sebuah siluet hitam besar merayap masuk ke gang, perlahan, seolah mobil itu jijik menyentuh genangan air kotor. Itu adalah Bentley hitam mengkilap, bodi mobilnya memantulkan cahaya lampu jalan yang buram. Pintu belakang mobil itu terbuka. Bukan Arlan Dirgantara yang keluar, melainkan seorang pria berjas gelap yang serba rapi—Bima, tangan kanan yang selalu mengekor CEO Dirgantara Group. Bima memegang payung besar berwarna hitam, menciptakan kubah kering yang kontras dengan kekacauan di sekitar mereka. Bima berjalan mendekat, langkahnya terukur, tidak terpengaruh oleh genangan air. Aroma parfum mahal tercium samar, mengatasi bau apek kontrakan. "Nona Maya Adhisti?" tanya Bima, suaranya sopan tapi tanpa kehangatan. Maya merasakan gelombang rasa malu yang menusuk. Ditemukan dalam keadaan ini—basah kuyup, dikelilingi sampah hidupnya—oleh seseorang yang merupakan perpanjangan tangan dari kekuasaan tertinggi. “Ya,” jawab Maya, suaranya serak. Bima mengangguk. "Tuan Arlan Dirgantara ingin bertemu dengan Anda. Ia menunggu di dalam mobil." Maya menegang. Arlan Dirgantara. Nama itu adalah sinonim dengan kekuasaan absolut dan dingin yang tak terjangkau. Dia mengenalnya dari majalah bisnis, dari berita-berita heboh tentang akuisisi raksasa. Tapi mengapa pria setingkat dewa itu, yang mengendalikan seperempat pasar modal negara, mau repot-repot datang ke lorong becek ini? "Saya tidak punya urusan dengan Tuan Dirgantara," tolak Maya cepat, meski perutnya melilit cemas. "Mungkin Anda salah orang." Bima tidak tersenyum, hanya memiringkan kepalanya sedikit. "Kami memastikan identitas dengan sangat teliti, Nona. Mengenai Riko Adhisti, kondisi paru-parunya kritis sore ini. Pihak rumah sakit menunda prosedur darurat karena masalah administrasi. Administrasi yang angkanya, jujur saja, tidak signifikan bagi Tuan Arlan." Dunia Maya runtuh. Nafasnya tersengal. Mereka tidak hanya tahu masalah utangnya; mereka tahu detail paling menyakitkan—bahwa Riko sedang sekarat. Dan mereka sengaja menggunakannya sebagai senjata. "Apa yang dia inginkan?" bisik Maya, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh hujan. "Silakan," Bima memberi isyarat ke mobil. Dengan sisa harga diri yang masih melekat di ujung jarinya, Maya berdiri. Ia menggigit bibir bawahnya, memaksa kakinya melangkah menuju mobil Bentley yang terlihat seperti peti mati hitam yang sangat mahal. *** Interior Bentley adalah dunia lain. Kedap suara. Kering. Hangat. Aroma kulit asli dan penyejuk udara yang sempurna. Di kursi belakang, Arlan Dirgantara duduk. Posturnya tegak, seperti patung marmer yang dipahat dengan presisi sempurna. Dia mengenakan setelan bisnis abu-abu gelap, dasi sutra, dan jam tangan yang berkilauan samar di bawah cahaya kabin. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kehancuran yang ditinggalkan hujan di luar. Ia memegang sebuah tablet digital, matanya fokus pada layar seolah-olah Maya—yang kini duduk di sampingnya, meneteskan air dan lumpur ke bantalan kursi kulit mahal—adalah interupsi yang sangat mengganggu. Keheningan yang mencekik berlangsung lama. Maya merasa tubuhnya kaku, setiap tetesan air yang jatuh dari rambutnya ke jaket Arlan yang mahal terasa seperti sebuah hinaan. Akhirnya, Arlan menurunkan tabletnya. Mata kelabunya yang tajam beralih menatap Maya. Tatapan itu dingin, mengukur, tanpa sedikitpun kehangatan atau simpati yang mungkin diharapkan seorang wanita di ambang kehancuran. "Anda terlambat dua menit, Nona Adhisti," ucapnya, suaranya dalam dan berwibawa, seperti bunyi kristal yang saling beradu. "Waktu saya terlalu berharga untuk dibuang." Maya mengepalkan tangan yang dingin dan basah di atas pahanya. "Saya tidak tahu mengapa Anda repot-repot mendatangi saya, Tuan Dirgantara. Jika ini tentang hutang Riko, saya akan membayarnya. Beri saya waktu—" "Waktu?" Arlan memotongnya dengan nada ejekan yang sangat halus. "Waktu adalah komoditas yang tidak dimiliki adik Anda saat ini. Kami memiliki laporan medis lengkapnya. Bahkan jika Anda bekerja tiga shift sehari, butuh lima tahun untuk melunasi total biaya yang dibutuhkan hanya untuk menahan napasnya tetap berjalan hingga akhir bulan depan." Dia mengucapkan fakta-fakta kejam itu dengan intonasi yang sama saat ia mungkin membahas harga saham. Maya merasa wajahnya memerah, antara malu dan amarah yang meletup-letup. "Anda tidak berhak menilai saya!" "Saya berhak, ketika Anda meminta saya untuk membeli waktu," Arlan membalas, bersandar sedikit. Gerakan kecil itu memancarkan kekuasaan yang tak terbantahkan. "Dengarkan baik-baik, Nona Adhisti. Saya di sini bukan untuk menjadi dermawan. Saya di sini untuk sebuah transaksi." Dia memberi jeda, membiarkan makna kata 'transaksi' menggantung di udara. "Anda akan memberikan saya sesuatu yang saya butuhkan. Sebagai imbalannya, saya akan menyelesaikan semua masalah finansial Anda, dan menjamin Riko mendapatkan perawatan medis terbaik di mana pun di dunia." Maya menelan ludah. "Apa yang Anda butuhkan dari saya? Uang? Saya sudah bilang, saya tidak punya. Tenaga kerja? Saya bisa bekerja untuk Anda—" Arlan tertawa pelan, tawa yang kering dan tanpa humor. "Tenaga kerja? Anda pikir saya membutuhkan desainer interior yang baru saja dipecat untuk bekerja di perusahaan saya? Jangan konyol, Maya. Apa yang saya butuhkan adalah citra. Sebuah peran." Ia meraih saku dalam jasnya dan mengeluarkan amplop tebal. "Kakek saya, yang sangat kolot, baru-baru ini membuat syarat aneh terkait warisan keluarga dan kepemimpinan Dirgantara Group. Dia menuntut stabilitas. Dia menuntut saya menikah dalam waktu satu bulan ke depan, atau saya kehilangan kendali atas perusahaan." Maya memproses informasi itu perlahan. Sebuah pernikahan. CEO sepertinya kesulitan mencari istri? "Pasti banyak wanita di luar sana yang jauh lebih memenuhi syarat," kata Maya, kebingungan. "Tentu saja. Tapi masalahnya, wanita-wanita itu menginginkan hati saya. Mereka menginginkan nama Dirgantara, dan mereka akan mencoba mencampuri urusan saya. Saya tidak butuh cinta, saya butuh seorang aktris yang dapat saya kontrol, yang memiliki motivasi kuat untuk menuruti setiap aturan saya, dan yang paling penting, tidak akan pernah berani jatuh cinta pada saya." Arlan memajukan tubuhnya, mata kelabunya menembus Maya. "Anda, Maya Adhisti, adalah kandidat yang sempurna. Anda berhutang pada saya bukan hanya uang, tetapi nyawa adik Anda. Hutang semacam itu membuat Anda sangat patuh." Kata-kata itu menghantam Maya lebih keras daripada hujan di luar. Dia diperlakukan seperti barang dagangan, sepotong aset yang dapat digunakan dan dibuang. Insting pertamanya adalah menampar wajahnya yang arogan itu, berteriak bahwa harga dirinya tidak bisa dibeli. "Saya tidak akan menjual diri saya!" seru Maya, suaranya bergetar karena emosi. "Menjual diri?" Arlan mengangkat alisnya. "Bukankah itu yang Anda lakukan di luar sana, memohon pada nasib buruk, menjual waktu terbaik hidup Anda untuk gaji yang nyaris tidak cukup membeli oksigen? Bedanya, saya menawarkan harga yang jauh lebih baik." Arlan meletakkan amplop tebal itu di sandaran tangan di antara mereka. Amplop itu terasa tebal dan penting. "Tugas Anda sederhana: Jadilah istri saya di depan publik. Tanda tangani dokumen pranikah yang sangat ketat, tinggal di penthouse saya, dan jangan pernah melanggar satu pun aturan saya. Kontrak ini akan berlaku selama dua tahun, atau sampai Kakek saya puas." Arlan kemudian mengeluarkan sesuatu dari amplop. Sebuah kertas berwarna hijau pucat, sebuah cek. Cek itu diletakkan di atas amplop. Angka-angka di sana, ditulis dengan tinta hitam yang tegas, seolah memancarkan gravitasi tersendiri. **Rp 1.000.000.000,-** Satu miliar. Uang yang bisa menyelamatkan Riko, melunasi seluruh utang, bahkan memberi mereka awal baru. Uang yang nilainya sangat fantastis hingga membuat rasa malu Maya terasa kecil dan tidak relevan. Jantung Maya berdebar kencang, menuntutnya untuk meraih cek itu. "Ini adalah deposit," kata Arlan pelan, suaranya kembali menjadi bisikan maut. "Cukup untuk membayar tunggakan rumah sakit hari ini dan memastikan Riko segera mendapatkan ventilator terbaik. Sisa dari total biaya hidup Anda akan ditransfer setelah Anda menandatangani kontrak dan surat nikah." "Surat nikah?" Maya terkejut. "Malam ini?" Arlan mengangguk. "Ya. Bima sudah menyiapkan semuanya, termasuk wali nikah. Sebuah upacara pribadi yang sangat singkat, hanya untuk memenuhi persyaratan kakek saya besok pagi. Atau Anda bisa memilih jalan lain." Arlan menatap matanya, tatapannya tidak meninggalkan ruang untuk keraguan. Ini adalah ultimatum. "Anda bisa mengambil cek ini, membakar semua dokumen pernikahan, dan kembali ke lumpur di luar sana untuk terus mengemis belas kasihan takdir. Tapi saya peringatkan Anda, rumah sakit akan mencabut semua alat pendukung Riko pada pukul sembilan pagi besok. Dan saat itu terjadi, semua uang di dunia tidak akan bisa membelikannya satu napas pun." Arlan menjeda, membiarkan dinginnya logika mengalahkan panasnya emosi Maya. "Keputusan ada di tangan Anda, Nona Adhisti. Menikahlah denganku malam ini, atau biarkan adikmu mati besok pagi." Maya menatap cek itu, yang kini terasa seperti jembatan tipis di atas jurang neraka. Di satu sisi, harga dirinya berteriak menolak diperalat. Di sisi lain, wajah pucat Riko memohon untuk hidup. Hujan di luar tiba-tiba terasa begitu dingin, menembus sampai ke tulang sumsum. Ia menyentuh cek itu, merasakan berat kertas dan janji yang terkandung di dalamnya. Dia telah kehilangan pekerjaan. Dia telah kehilangan tempat tinggalnya. Tapi dia tidak bisa kehilangan Riko. Dengan tangan gemetar yang mengkhianati penolakannya, Maya meraih pulpen yang Arlan sodorkan. Pulpen itu dingin dan berat. Dia menatap Arlan, matanya dipenuhi badai yang tidak bisa disembunyikan. "Saya setuju," kata Maya, suaranya pecah namun tegas, merangkai nasibnya sendiri dalam satu kalimat. "Tapi jangan pernah berpikir Anda bisa mengontrol saya setelah kontrak ini berakhir, Tuan Dirgantara. Harga diri saya memang bisa dipertukarkan dengan nyawa adik saya, tapi hati saya tidak pernah." Bibir Arlan melengkung sedikit, senyum tipis yang berbahaya. Senyum predator yang baru saja berhasil menjebak mangsanya. "Menarik," bisik Arlan. "Kalau begitu, selamat datang, istriku. Bima, kirimkan surat persetujuan transfer ke Rumah Sakit Mutiara Bunda. Sekarang." Arlan tidak menanyakan namanya. Arlan tidak menawarkan penghiburan. Ia hanya menawarkan penyelamatan dengan harga sebuah jiwa. Maya menarik napas dalam, memejamkan mata. Ketika ia membukanya lagi, ia bukan lagi Maya Adhisti yang sama. Ia adalah istri kontrak, dan harga diri telah dipertaruhkan, mungkin hilang selamanya, di balik kemewahan mobil Bentley yang membawanya pergi dari gang sempit menuju kehidupan yang ia tahu akan penuh dengan rahasia dan kesendirian. Malam ini, ia telah menjual dirinya. Dan itu baru permulaan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
4.9K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.8K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.9K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.8K
bc

After We Met

read
187.6K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook