Janji di Atas Kertas

1946 Words
**Kantor Catatan Sipil Privat, Gedung Dirgantara Tower, Lantai 50** Udara di lantai lima puluh Dirgantara Tower terasa lebih tipis, dingin, dan berbau steril, jauh berbeda dengan kehangatan gerimis di luar sana. Maya melangkah masuk ke sebuah ruangan yang bukan seperti aula pernikahan, melainkan lebih menyerupai ruang notaris kelas atas—d******i marmer putih, dinding kayu gelap, dan sebuah meja mahoni besar yang kini menjadi altar kebohongan. Di balik meja itu, duduk dua orang paruh baya yang tampak terlalu formal untuk prosesi sakral, salah satunya adalah petugas catatan sipil resmi, yang lain adalah seorang notaris yang memegang tumpukan berkas yang dicetak tebal. Mereka menatap Maya dengan tatapan yang datar, seolah Maya hanyalah salah satu dari ribuan transaksi bisnis yang terjadi di gedung pencakar langit itu setiap harinya. Maya mengenakan blus krem yang paling rapi dan rok pensil hitam yang sudah kusam, pakaian yang terasa janggal di tengah aura kekuasaan yang dipancarkan ruangan ini. Di sebelahnya, Arlan berdiri. Tubuhnya yang tinggi, dibalut setelan jas tiga potong berwarna arang, memancarkan aura es yang nyaris kasat mata. Ia tidak melihat Maya. Matanya tertuju lurus ke depan, ke arah petugas, seolah Maya hanyalah barang bawaan yang harus diselesaikan formalitasnya. Jantung Maya berdentam cepat, iramanya menampar rusuknya seperti lonceng yang rusak. Ini bukanlah pernikahan. Ini adalah pelelangan harga diri, dan ia telah memenangkan penawar tertinggi. “Silakan duduk, Nona Adhisti. Kita bisa segera memulai,” ucap sang notaris dengan nada yang sama sekali tidak mengundang. Maya menarik kursi yang terbuat dari kulit tebal itu, gerakannya kaku. Ia merasakan tekanan fisik yang ditimbulkan oleh kehadiran Arlan di sampingnya, tekanan yang lebih berat daripada beban semua utang yang kini akan dihapuskan. “Kontrak telah diperiksa oleh tim hukum Anda, Tuan Dirgantara. Namun, demi formalitas, Nona Maya harus meninjau ulang dan menandatangani di hadapan kami,” ujar notaris sambil mendorong dua bundel dokumen tebal—Kontrak Pernikahan dan Perjanjian Pra-Nikah—ke tengah meja. Dua bundel itu seolah seberat batu nisan. Maya mencondongkan tubuh, matanya berusaha menangkap detail tulisan di halaman depan. Ia tahu ia harus membacanya. Logika menjerit agar ia memeriksa setiap pasal, setiap klausul yang mungkin mengikat jiwanya. "Pasal 3, Durasi: Dua tahun. Pasal 5, Prohibisi: Dilarang jatuh cinta, dilarang melanggar batas privasi. Pasal 7, Kompensasi..." Namun, baru dua baris matanya bergerak, suara Arlan yang rendah dan tajam memotongnya, menciptakan ketegangan yang membuat semua bulu kuduk Maya meremang. “Kita tidak punya waktu untuk membaca novel, Maya. Riko membutuhkan penanganan secepatnya,” desis Arlan, tanpa mengalihkan pandangan dari notaris. Kata-kata itu menghantam Maya lebih keras daripada tamparan. Riko. Adiknya yang terbaring lemah di ruang ICU. Detik-detik yang terbuang di sini adalah detik-detik yang krusial bagi nyawa Riko. Kepanikan yang selama ini tertahan kini meledak menjadi air mata yang nyaris tumpah. *Riko. Riko harus hidup.* Napas Maya tercekat. Kehilangan nyawa Riko adalah harga yang jauh lebih mahal daripada apa pun yang tertulis dalam kertas-kertas laknat ini. Arlan tahu persis bagaimana cara memanipulasi kelemahannya. “Saya sudah membaca ringkasannya, Notaris,” ujar Arlan, nada suaranya memerintah. “Pastikan Nona Adhisti memahami bahwa begitu tinta ini kering, ia sepenuhnya terikat pada kesepakatan.” Mata Maya kembali ke dokumen, namun pandangannya kabur. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Pikiran Maya dipenuhi visual monitor detak jantung adiknya yang terus berkedip-kedip lemah. Arlan mengulurkan tangan, gerakan yang cepat dan pasti. Ia mengambil pulpen perak tebal dari saku jasnya, meletakkannya di atas lembar tanda tangan. “Tanda tangani. Sekarang,” perintahnya, suaranya mengandung ancaman yang tak terucapkan. Maya merasakan tangannya gemetar hebat. Ia mengambil pulpen itu. Logam dingin itu terasa asing di antara jari-jarinya. Ia tahu, dengan meletakkan pena ini di atas kertas, ia sedang menjual kebebasannya, dan mungkin, jiwanya. Namun, ia tidak punya pilihan. Pilihan sudah mati saat Riko jatuh sakit. Dengan mata terpejam, dan satu helaan napas yang menyakitkan, ia membubuhkan tanda tangannya di tiga tempat berbeda: Perjanjian Pra-nikah, Kontrak Nikah, dan Dokumen Pendaftaran Sipil. Bunyi goresan pulpen di atas kertas tebal itu terasa memekakkan telinga Maya, sebuah janji yang dibuat di atas keputusasaan. Setelah Maya selesai, Arlan mengambil pulpen itu kembali dan menandatanganinya dengan gerakan yang sangat rapi dan tenang, seolah ia hanya menyetujui pesanan *catering* makan malam. Kontras yang menyesakkan. *** Prosesi pencatatan berlangsung cepat, bahkan terasa terburu-buru. Petugas catatan sipil memimpin upacara singkat yang formalitasnya terasa hampa. Arlan menjawab semua pertanyaan dengan suara bass yang mantap, tanpa jeda, tanpa emosi. Sebaliknya, jawaban Maya—setuju, bersedia, ya—keluar sebagai bisikan yang serak dan hampir tak terdengar. Di mata hukum, mereka sekarang adalah suami istri. “Selamat, Tuan dan Nyonya Dirgantara,” ucap sang petugas, wajahnya akhirnya menunjukkan seulas senyum profesional yang dingin. Arlan hanya mengangguk tipis, gestur yang menunjukkan bahwa ia sudah ingin segera meninggalkan tempat itu. Ia tidak menawarkan uluran tangan, tidak ada sentuhan, tidak ada pertukaran pandangan—persis seperti yang ia janjikan dalam kontrak yang baru saja ditandatangani Maya tanpa dibaca. Maya berdiri, lututnya terasa lemas. Ia resmi menjadi Nyonya Dirgantara. Nama itu terasa seperti jubah logam yang berat dan dingin, membelenggu setiap gerakannya. Saat mereka berbalik menuju pintu keluar, meninggalkan notaris yang sibuk membereskan berkas-berkas rahasia mereka, Arlan tiba-tiba berhenti. Ia membiarkan Bima, tangan kanannya yang sudah menunggu di luar, menutup pintu ruangan. Suasana seketika menjadi hening, hanya ada mereka berdua, dipagari oleh marmer mahal dan janji-janji palsu. Arlan berbalik perlahan, matanya yang kelam seperti malam tanpa bintang kini terpaku sepenuhnya pada Maya. Tatapan itu menelanjangi dan menilai, membuat Maya merasa telanjang dan terekspos. “Kau terlihat bingung, Istriku,” ucapnya, kata ‘istriku’ diucapkan dengan intonasi yang begitu rendah dan berat hingga terdengar seperti ejekan. Maya berusaha melangkah mundur, instingnya memerintahkan untuk menjauh dari pria yang kini secara hukum adalah miliknya, tetapi juga asing. “Semua sudah selesai,” jawab Maya, suaranya sedikit bergetar. “Saya akan menepati janji. Jangan khawatir, saya tidak akan melanggar aturan kontrak.” Sudut bibir Arlan terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang bukan senyum ramah, melainkan seringai predator yang baru saja berhasil menangkap mangsanya. Tiba-tiba, ia bergerak. Cepat. Tangan Arlan terulur, jemari panjang dan kuat itu mencengkeram dagu Maya dengan tekanan yang tidak menyakitkan, namun cukup untuk menghentikan seluruh pergerakannya. Maya terperanjat, napasnya tertahan di tenggorokan. Jarak di antara mereka sirna dalam sekejap. Ia bisa merasakan aroma *cologne* Arlan yang mahal, maskulin, dan dingin—seperti hutan pinus saat musim salju. “Kontrak,” bisik Arlan, suaranya sedekat hembusan napas yang menyapu bibir atas Maya. “Kau tergesa-gesa menandatanganinya, kan?” Maya tidak bisa menjawab. Matanya yang membulat hanya mampu menatap mata Arlan yang kini memancarkan api kepemilikan yang mengejutkan. “Ada satu bagian yang tersembunyi, Maya,” lanjut Arlan, ibu jarinya perlahan membelai lembut bibir bawah Maya. Sentuhan ringan itu mengirimkan gelombang kejutan listrik yang mematikan ke seluruh tubuh Maya, melenyapkan semua kepanikan sebelumnya, menggantinya dengan kebingungan dan sensasi yang menakutkan. “Di mata hukum, kau adalah alat untuk tujuanku. Di mata kontrak itu, kau adalah Nyonya Dirgantara yang akan menghuni rumahku, menghadiri acaraku, dan bersikap seolah kau mencintaiku,” Arlan menjelaskan, kata-katanya penuh tekanan. Ia mendekatkan wajahnya, begitu dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Maya bisa melihat bayangan dirinya yang kecil dan ketakutan di pupil mata hitam Arlan. “Tetapi,” Arlan berhenti sejenak, jeda itu terasa seperti siksaan. “Mulai malam ini, di balik pintu tertutup, semua aturan kontrak itu gugur. Kau telah menandatangani persetujuan, Maya. Dan di dunia Dirgantara, persetujuan berarti kepemilikan total.” Jemari Arlan semakin menekan dagu Maya, memaksa wanita itu menengadah. “Dengar baik-baik. Aku mungkin tidak akan meminta hatimu, karena aku tidak tertarik pada benda rapuh itu,” bisiknya, suaranya berubah serak dan mendalam, “Tetapi, mulai malam ini, tubuh dan jiwamu adalah milikku. Kau adalah bagian dari Dirgantara. Dan kau akan melakukan apa pun yang diperintahkan suamimu.” Maya hanya bisa bernapas melalui mulut, otaknya macet total, semua pertahanan emosionalnya runtuh karena intensitas yang tak terduga ini. Pria dingin ini, yang seharusnya hanya menjadi mitra bisnis, kini menuntut penguasaan yang melampaui batas kewarasan. Arlan akhirnya melepaskan cengkeramannya, dan Maya terhuyung mundur sedikit, menstabilkan diri dengan mencengkeram tepi bingkai pintu. Ia menatap Arlan dengan campuran teror dan kekaguman yang berbahaya. “Saya mengerti,” Maya berhasil mengucapkan, suaranya nyaris tak terdengar. *Tentu saja, ia tidak mengerti.* Ia baru saja menyadari bahwa ia telah menjual dirinya kepada iblis yang jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. Arlan tersenyum puas, senyum yang mencapai matanya dan entah mengapa, terlihat menawan dan mengancam pada saat bersamaan. “Bagus. Bima sudah menunggu. Sekarang, kita kembali ke rumah.” *** 'Rumah'. Kata itu terdengar ironis. Maya dibawa keluar dari Dirgantara Tower, bukan melalui lift umum, melainkan melalui lift pribadi yang membawa mereka langsung ke ruang *basement* eksklusif. Di sana, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap sudah menunggu. Perjalanan singkat namun terasa abadi menuju penthouse Arlan di jantung kota. Maya duduk di kursi belakang, menyenderkan kepala ke kaca jendela yang terasa dingin, memperhatikan lampu-lampu kota yang bergerak cepat. Arlan duduk diam di sebelahnya. Keheningan mereka bukanlah keheningan yang nyaman, melainkan keheningan yang dipenuhi ribuan kata yang tak terucapkan, janji-janji yang telah diinjak-injak, dan ancaman yang baru saja disuarakan. Mobil berhenti. Mereka berada di depan sebuah kompleks bangunan apartemen super mewah yang menjulang tinggi, menantang langit. Ini adalah Apex Tower, tempat tinggal para elit kota. Lift pribadi Arlan membawa mereka naik dengan kecepatan yang memusingkan. Saat pintu lift terbuka, Maya terkesiap. Ia tidak pernah membayangkan kemewahan seperti ini—sebuah ruang yang luas, lantai marmer dipoles hingga memantulkan lampu kristal, dan dinding kaca setinggi langit-langit yang menawarkan panorama kota yang memabukkan di bawah kaki mereka. Itu adalah pemandangan yang tak tertandingi, namun rasa terperangkap yang Maya rasakan begitu kuat sehingga keindahan itu menjadi hampa. “Ini adalah penthouse,” suara Arlan bergema di ruang yang terlalu besar itu. “Kamar dan semua fasilitas yang kau butuhkan sudah disiapkan di sayap kanan. Kau akan tinggal di sini selama kontrak itu berjalan.” Maya mengangguk, pandangannya menyapu ruang tamu yang seperti museum seni. “Aku hanya punya satu aturan mendasar di rumah ini, Maya.” Langkah Arlan berhenti di tengah ruangan. Ia berbalik, menatap Maya yang masih berdiri kaku di pintu masuk. “Di ujung lorong, di sayap kiri, ada kamar yang terkunci. Itu adalah kamar pribadiku. Dilarang keras masuk. Dilarang bertanya. Dilarang mendekat,” Arlan menekankan setiap kata, suaranya rendah dan serius, menghilangkan sisa-sisa godaan yang sempat ia tunjukkan di kantor sipil tadi. “Itu adalah satu-satunya wilayah yang bukan milikmu di rumah ini. Langgar aturan itu, dan aku tidak peduli apa yang terjadi pada Riko. Kontrakmu akan hangus, dan kau akan kembali ke tempat sampah di mana aku menemukanmu.” Ancaman itu jelas dan brutal. Maya merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya, jauh lebih dingin daripada udara AC di ruangan itu. Kamar terkunci di ujung lorong itu—satu-satunya hal yang tidak ia miliki—adalah teka-teki pertama dalam pernikahan kontrak ini. Dan ia tahu, di balik pintu itu, tersimpan rahasia yang jauh lebih kelam dan berbahaya daripada yang ia hadapi sejauh ini. “Saya mengerti. Saya tidak akan pernah mendekati kamar itu,” janji Maya, rasa ingin tahu alaminya sebagai desainer interior langsung mati digantikan rasa takut yang nyata. Arlan membuang pandangannya, berjalan menuju bar kabinet mewah. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. “Istirahatlah. Besok pagi, kita akan mulai hidup kita sebagai suami istri yang bahagia, di depan kamera, di depan Kakek Dirgantara, dan di depan dunia.” Maya ditinggalkan sendirian di tengah kemewahan yang sunyi itu. Ia baru saja menandatangani janjinya, menjual tubuhnya, dan kini, ia berdiri di ambang pintu sebuah rahasia yang ia dilarang untuk diungkap. Malam telah turun, dan Maya Adhisti resmi menjadi Nyonya Arlan Dirgantara. Sebuah kontrak yang mungkin akan merenggut lebih dari sekadar harga diri. Sebuah kontrak yang akan mengunci jiwanya di balik pintu penthouse mewah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD