**Sarkofagus Keindahan**
Maya berdiri di tengah ruang tamu utama Penthouse Dirgantara, sebuah kubah kaca yang membingkai Jakarta dalam kemewahan yang mencekik. Lantai marmer putih yang memantulkan cahaya tampak begitu dingin, seolah tidak pernah tersentuh langkah manusia biasa. Tirani keindahan ini terasa lebih menyesakkan daripada flat sempitnya dulu. Di sana, dia harus berjuang; di sini, dia harus berpura-pura.
Udara penthouse itu berbau campuran kebersihan tajam dan aroma maskulin yang samar—parfum mahal dan kertas kerja—bau kekuasaan yang steril. Di atas kepalanya, sebuah lampu kristal raksasa yang tampak seperti bintang yang dibekukan, menggantung dalam keheningan absolut. Tidak ada debu, tidak ada foto keluarga, tidak ada jejak kehidupan yang spontan. Tempat ini terasa seperti galeri seni yang sangat mahal, bukan rumah.
Maya meremas tali tas selempangnya, satu-satunya barang miliknya yang tampak kontras dengan interior mahal itu.
*Ingat, Maya. Ini hanya panggung. Ini demi Riko.* Bisikan itu, mantra yang selalu ia ulang, adalah jangkar terakhirnya di tengah badai emosi yang kompleks. Ia telah menandatangani kontrak itu, menjual enam bulan kehidupannya demi kesehatan adiknya. Utang rumah sakit lunas. Sekarang, dimulailah babak sandiwara yang paling sulit.
Beberapa saat kemudian, pintu geser kaca buram di ujung ruangan bergeser tanpa suara, dan Arlan Dirgantara muncul. Ia tidak mengenakan setelan formal, hanya kaus V-neck abu-abu gelap yang membentuk otot lengannya dengan jelas, namun aura otoritasnya tidak berkurang sedikit pun. Ia membawa kunci mobil dan tablet, selalu siap, selalu terstruktur.
“Selamat datang, Nyonya Dirgantara,” sapanya datar, intonasinya lebih mirip pengumuman bisnis daripada sapaan suami. Mata abu-abunya menyapu Maya sekilas, menilai, kemudian segera beralih.
“Terima kasih, Tuan Arlan,” balas Maya, berusaha agar suaranya terdengar netral.
Arlan meletakkan tabletnya di atas meja konsol perak. “Bima sudah mengurus kepindahan barang-barangmu. Kamarmu sudah disiapkan. Sekarang, mari kita lihat tempat tinggalmu selama enam bulan ke depan. Ini adalah tur yang efisien, dan ada beberapa aturan yang harus kau pahami.”
Arlan memimpin, dan Maya mengikutinya seperti bayangan yang terikat. Tur itu terasa seperti mengamati museum. Mereka melewati dapur *gourmet* yang mengkilap—jelas tidak pernah digunakan—ruang makan formal dengan kursi-kursi berlapis beludru yang mungkin hanya berfungsi sebagai pajangan, dan perpustakaan luas dengan rak-rak penuh buku bersampul kulit yang tertata sempurna secara vertikal.
Setiap ruangan menjerit kemewahan, tetapi tidak ada yang menjerit ‘kenyamanan’.
"Ini sayap pribadi," jelas Arlan, melangkah ke lorong yang memisahkannya dari area publik. Lorong itu lebih kecil, lebih privat, tetapi tetap hening. "Kau menempati Suite Timur, yang bersebelahan langsung dengan ruangan ini. Itu ruang kerjamu. Meskipun kontrak kita fiktif, kita tetap harus tampil meyakinkan saat dibutuhkan. Dokumen dan jadwal harianmu akan diakses melalui terminal di meja itu."
Mereka sampai di sebuah kamar tidur utama yang besarnya hampir menyamai seluruh flat Maya sebelumnya. Jendela besar menghadap sisi utara kota yang bermandikan cahaya senja keemasan. Ranjang ukuran *king* dengan seprai sutra abu-abu gelap mendominasi ruangan.
"Kamar tidur ini adalah milikmu," kata Arlan, tanpa ekspresi. "Aku akan tetap menggunakan kamar utamaku di ujung lorong seberang."
Maya mengangguk. Dia memang tidak mengharapkan yang lain. Tidur dalam satu ranjang dengan pria sedingin Arlan—seorang pria yang tidak ia kenal, yang baru saja ia 'nikahi' di atas kertas—adalah hal terakhir yang ia inginkan.
“Apakah ada hal lain yang perlu saya ketahui mengenai kamar saya?” tanya Maya.
“Hanya satu,” jawab Arlan. “Jendela-jendela ini adalah kaca anti peluru dan kedap suara. Kau bisa mengunci dirimu di sini, dan dunia luar tidak akan mengganggumu. Demikian pula, kau tidak boleh mengganggu privasi di sayap ini.”
Arlan berbalik dan melanjutkan tur. Maya merasakan ketegangan yang meningkat di tengkuknya. Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tersembunyi, di balik efisiensi Arlan.
**Pintu Hitam Pekat**
Mereka berjalan menyusuri sayap pribadi yang sangat panjang, memotong area *gym* mini yang tampak jarang terjamah, hingga tiba di tikungan lorong yang terisolasi. Pencahayaan di area ini terasa lebih redup, lebih berat.
Di ujung lorong itu, terdapat sebuah pintu.
Pintu itu sangat kontras dengan palet warna abu-abu muda, krem, dan putih yang mendominasi seluruh penthouse. Pintu itu berwarna hitam pekat, matte, tanpa pegangan yang menonjol—hanya sebuah *keypad* numerik yang berkilauan. Pintu itu tampak berat, seperti portal menuju dimensi yang berbeda, atau lebih tepatnya, seperti pintu brankas.
Arlan berhenti tepat di depan pintu hitam itu. Udara di sekitarnya terasa beberapa derajat lebih dingin, memicu bulu kuduk Maya berdiri. Arlan menatap pintu itu lama, seolah-olah pintu itu adalah musuh yang harus ia taklukkan setiap hari.
"Ini adalah inti dari Bab Tiga dalam kontrak kita," kata Arlan, suaranya turun satu oktaf menjadi bisikan berat yang hanya terdengar oleh Maya.
"Kamar apa ini, Tuan Arlan?" tanya Maya, berusaha menahan diri untuk tidak mendekat.
Arlan mengalihkan tatapannya dari pintu ke mata Maya. Dalam cahaya remang-remang lorong itu, tatapannya tampak lebih tajam dan mengancam.
"Ini adalah kamarku, Maya. Kamar tidur utama yang sebenarnya. Tempat aku tinggal. Tempat aku bekerja. Tempat aku menyimpan semua hal yang bersifat pribadi, rahasia, atau berbahaya. Dan ini adalah aturan utama yang tidak boleh kau langgar selama kau tinggal di sini, bahkan setelah kontrak ini berakhir."
Arlan mencondongkan tubuh sedikit, memaksanya untuk menatap mata Maya. Sensasi kedekatan itu, aroma *cologne* mahal yang menusuk, dan intensitas tatapannya membuat Maya menahan napas.
"Dengarkan baik-baik. Kau boleh masuk ke ruangan mana pun di penthouse ini, kau boleh membuka lemari mana pun, kau boleh menggunakan fasilitas apa pun. Tetapi, pintu ini," Arlan menunjuk pintu hitam pekat itu dengan dagunya, "Kau dilarang mendekatinya. Dilarang menyentuhnya. Dilarang mendengarkan apa pun di baliknya. Dan yang paling penting, kau dilarang keras mencoba masuk ke sini. Pintu ini adalah garis pembatas kita, Maya."
Maya menelan ludah yang terasa berat. Larangan itu terlalu ekstrem untuk sebuah kamar tidur biasa.
"Apa yang ada di balik pintu itu, Tuan Arlan? Jika ini hanya kamar tidur biasa, mengapa—"
"Ini bukan kamar tidur biasa," potong Arlan tajam, suaranya sekarang mengandung lapisan baja yang tidak bisa dibantah. "Ini adalah ruang pribadiku yang mutlak. Dan kau tidak punya hak untuk mempertanyakan isinya, sama seperti aku tidak mempertanyakan seberapa besar kau mencintai adikmu. Aku memintamu untuk percaya pada satu hal: Jika kau melanggar aturan ini, kontrak kita batal, dan aku akan memastikan kau, keluargamu, dan adikmu, menanggung semua konsekuensinya tanpa ampun."
Ancaman itu dingin, nyata, dan langsung menuju ke kompas moral Maya: Riko. Ketakutan itu menjalar ke seluruh tubuhnya, merenggut semua sisa keberaniannya.
"Saya mengerti, Tuan Arlan," kata Maya, menunduk. "Saya tidak akan melanggar aturan ini. Itu jaminan saya."
"Bagus," Arlan menegakkan tubuh, ketegangan tiba-tiba meninggalkan bahunya. Ia kembali menjadi CEO yang efisien. "Ingat, Maya. Kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal di antara kita, dan kau baru saja meminjamnya."
Setelah itu, Arlan menjelaskan sistem keamanan, pintu darurat, dan bagaimana menghubungi Bima. Semua instruksi disampaikan dengan presisi militer. Saat Arlan selesai, matahari sudah benar-benar terbenam, meninggalkan kota dalam lautan cahaya neon.
"Aku ada rapat malam. Bima sudah menyiapkan makan malam di dapur. Tidur nyenyak, Maya."
Arlan pergi secepat ia datang, meninggalkan Maya sendirian di lorong yang kini diselimuti bayangan, dengan pintu hitam itu menyerap semua cahaya yang tersisa.
**Solilokui di Tengah Keheningan**
Setelah Arlan pergi, Maya kembali ke Suite Timur. Ia mandi air hangat, membiarkan uap mengikis sedikit demi sedikit rasa dingin yang ditinggalkan Arlan. Ketika ia keluar, mengenakan piyama katun sederhana yang terasa begitu asing di tengah kemewahan sutra dan beludru, rasa lapar melandanya.
Ia pergi ke dapur. Di sana, sudah tersaji hidangan penutup yang indah, tetapi suasana hati Maya terlalu berat untuk menikmati *Foie Gras* yang mahal.
Ia memilih untuk duduk di balkon pribadinya. Angin dingin meniup ke atas dari ketinggian ratusan meter. Di bawahnya, Jakarta tampak seperti karpet permadani yang ditaburi intan.
*Rahasia apa yang disimpan di balik pintu itu?*
Pertanyaan itu berputar di benaknya tanpa henti. Arlan Dirgantara adalah pria yang bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Kekuatan finansialnya tak terbatas. Mengapa harus ada larangan yang begitu absolut dan mengancam untuk sebuah kamar? Apakah ada barang curian? Dokumen berbahaya?
Maya menggelengkan kepala. Itu tidak penting. Yang penting adalah Riko.
*Aku tidak boleh penasaran. Rasa penasaran membunuh kucing, dan dalam kasus ini, rasa penasaran akan membunuh kesempatan Riko untuk sembuh.*
Namun, tinggal di penthouse itu seperti tinggal di sarang singa yang sedang tidur. Keheningan terasa menipu. Keheningan di sini adalah keheningan yang menyembunyikan badai, bukan kedamaian.
Waktu merayap lambat. Jarum jam berdentang pelan, begitu kontras dengan keriuhan jalanan yang teredam di bawah. Pukul sebelas malam. Tengah malam. Maya mencoba membaca, tetapi setiap kata terasa hampa. Ia mencoba tidur, tetapi otaknya menolak beristirahat.
Akhirnya, dorongan yang tidak bisa ia kendalikan menyeretnya keluar dari tempat tidur. Itu bukan keinginan untuk melanggar aturan, melainkan kebutuhan mendasar untuk memahami lingkungan barunya.
**Panggilan Sunyi**
Maya menyusuri koridor. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya yang telanjang. Ia tidak menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya rembulan yang masuk melalui jendela tinggi.
Ia tidak bermaksud untuk pergi ke sana, tetapi kakinya membawanya ke sayap terlarang itu. Lorong terasa lebih gelap, dan pintu hitam pekat itu tampak lebih besar dalam kegelapan. Sebuah monolit misteri.
Maya berhenti beberapa meter dari pintu. Jantungnya berdebar kencang, memukul tulang rusuknya dengan irama liar. Dia sudah melanggar janji untuk ‘tidak mendekat’, hanya dengan berdiri di sini.
"Kembali, Maya," ia berbisik pada dirinya sendiri. "Kembali sekarang."
Saat ia hendak berbalik, ia membeku.
Keheningan yang selama ini absolut, tiba-tiba terpecah.
Sebuah suara.
Suara itu sangat lembut, sangat teredam, tetapi jelas berasal dari balik pintu hitam pekat itu. Itu bukan suara teriakan, bukan pula suara percakapan.
Awalnya, Maya mengira itu adalah suara gesekan perabotan, tetapi suara itu memiliki ritme. Itu adalah musik.
Bukan musik pop, atau rock. Itu adalah musik klasik. Biola.
Melodi itu terdengar indah, tetapi intensitasnya begitu menusuk. Biola itu memainkan nada-nada yang melankolis dan menyayat hati, sebuah alunan kesedihan yang mendalam. Itu bukan lagu yang biasa. Itu terasa seperti ratapan jiwa yang panjang.
Maya melangkah maju satu langkah lagi, naluri penasaran seorang desainer yang harus mengungkap lapisan tersembunyi sebuah objek, kini menguasai dirinya.
Suara biola itu berhenti tiba-tiba.
Keheningan kembali menyergap, bahkan lebih tebal dari sebelumnya, menyisakan Maya dalam ketegangan yang menyesakkan.
Kemudian, suara lain menyusul. Lebih samar, lebih tercekik, seolah-olah seseorang berusaha keras menahan isak tangis.
*Tangisan?*
Maya menempelkan telinganya ke dinding di sebelah pintu. Musik biola itu dimulai lagi, kali ini lebih lambat, lebih menyakitkan, dan di sela-sela melodi itu, ia bisa menangkap suara napas yang terisak.
Itu adalah tangisan seseorang yang menderita, tetapi berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suara. Tangisan itu terasa feminin, rapuh.
Lutut Maya lemas. Siapa yang menangis di kamar Arlan? Jika itu Arlan, mengapa ia menyembunyikannya? Jika itu orang lain—seorang wanita—apa hubungannya dengan CEO yang sedingin es itu?
Jari-jari Maya terangkat, hampir menyentuh permukaan dingin pintu hitam itu, didorong oleh dorongan tak tertahankan untuk mengetuk, untuk memastikan, untuk membantu.
Tiba-tiba, suara biola itu terputus, kali ini diikuti oleh suara yang jauh lebih mengancam: dentuman keras, seperti barang pecah belah yang dilempar ke dinding, diikuti oleh keheningan total.
Maya tersentak mundur, jantungnya berdebar kencang. Ini bukan sekadar ruang kerja. Ini adalah kotak pandora.
Maya berlari kembali ke Suite Timur, tidak berani melihat ke belakang. Saat ia berbaring di ranjang mewahnya, diselimuti sutra mahal, ia menyadari satu hal: Rahasia di balik pintu hitam pekat itu jauh lebih gelap dan jauh lebih personal daripada yang pernah ia bayangkan.
Dan ia baru saja melanggar aturan pertama dari Bab Tiga—ia sudah mendengarkan. Arlan Dirgantara telah menikahinya bukan untuk kontrak bisnis semata, tetapi untuk menyembunyikan sesuatu yang rapuh dan berbahaya. Dan Maya, tanpa sadar, kini berada di tengah labirin rahasia itu. Dia hanya bisa berharap, sandi yang diucapkan Arlan tadi malam tidak akan benar-benar menjadi malapetaka bagi Riko. Namun, suara tangisan itu kini terpatri kuat, menenggelamkan semua alasan logis yang ia miliki. Rasa ingin tahu, meskipun berbahaya, telah menggenggamnya erat.