Mandi Pertama

1906 Words
Langit Jakarta telah menelan sisa-sisa cahaya senja, meninggalkannya dalam pelukan malam yang dingin. Di lantai paling atas Penthouse Dirgantara, keheningan terasa begitu tebal, hanya dipecahkan oleh suara sirkulasi udara yang tenang dan dengungan lampu kristal Baccarat di ruang tengah. Maya berdiri di tengah kamar tidur utama, sebuah ruangan yang ukurannya menyaingi seluruh apartemennya dahulu. Dinding yang dilapisi panel kayu gelap, tempat tidur berkiblat ke arah cakrawala kota yang bertabur permata listrik, dan di mana pun mata memandang, terdapat bukti kekayaan yang nyaris ofensif. Namun, bagi Maya, kemewahan itu terasa seperti sangkar berlapis emas. Ia masih mengenakan kemeja yang sama saat meneken kontrak laknat itu—kemeja katun tipis yang kini terasa lembap oleh keringat dingin. Kontrak itu, yang menjeratnya dalam jaring Arlan Dirgantara, seakan membakar di bawah kulitnya. Ia berjalan menuju kamar mandi. Pintu geser otomatis terbuka tanpa suara, menampakkan kuil marmer monokromatik. Sebuah bak mandi cekung raksasa terpatri di tengah ruangan, dikelilingi cermin setinggi langit-langit yang merefleksikan bayangannya yang ringkih. Maya menghela napas panjang. Kepalanya berdengung oleh pasal-pasal kontrak, janji yang ia ucapkan, dan tatapan mata Arlan yang sedingin jurang. Ia perlu mencuci semua ini. Mencuci debu jalanan, mencuci aroma kecemasan, dan—jika mungkin—mencuci ingatan tentang tatapan pria itu. Saat ia membuka lemari penyimpanan, menyadari satu hal yang fundamental: Ia tidak membawa apa-apa. Tidak ada tas. Tidak ada sikat gigi. Tidak ada pakaian ganti selain yang melekat di tubuhnya. Ia telah datang sebagai tawanan yang terburu-buru, hanya membawa dirinya sendiri dan beban utang Riko yang tak tertahankan. "Sempurna," gumamnya, getir. Bahkan untuk kebutuhan mendasar seperti mandi, ia harus bergantung pada pria yang baru saja membeli kehidupannya. Di atas meja rias, tergeletak satu set produk mandi mewah yang tidak ia kenali mereknya—kemasan gelap dan minimalis, mengeluarkan aroma maskulin yang tipis, campuran cendana dan laut yang membuat sarafnya langsung waspada. Aroma Arlan. Maya menepis keraguan. Ini hanya sabun. Ini hanya air. Ia menyalakan keran pancuran. Air yang keluar segera mencapai suhu sempurna, menyemburkan uap tebal yang langsung mengisi ruang, mengubah kamar mandi mewah itu menjadi kabut yang menenangkan. Ini adalah saat pertama sejak tiba di neraka berhias permata ini, ia merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Ia melepaskan pakaiannya, membiarkan kemeja dan celana bahan itu jatuh ke lantai marmer yang hangat. Ia melangkah ke balik panel kaca tebal, memejamkan mata saat bulir-bulir air panas menghantam kulitnya. Di bawah guyuran air, Maya membiarkan pikirannya bebas. Ia membayangkan Riko, wajah adiknya yang pucat namun penuh harapan. *Demi Riko. Hanya enam bulan.* Mantra itu menjadi perisai bagi jiwanya. Kontrak itu hanyalah kertas; itu bukan hati. Arlan bisa memiliki tubuhnya di mata publik, tetapi hatinya, harga dirinya, harus tetap menjadi miliknya. Ia mengambil sebotol sampo beraroma kuat yang memabukkan. Semakin ia menggosok kulitnya, semakin ia merasa ketegangan meninggalkan bahunya. Kabut uap telah menyelimuti seluruh ruangan, menciptakan lapisan privasi yang maya, membuat dunia di luar kaca itu terasa tidak nyata. Kontemplasi sunyi itu berlangsung beberapa menit. Air panas yang membuai, kesendirian yang langka, nyaris membuatnya lupa di mana ia berada. Ia baru saja mengulurkan tangan untuk mematikan keran, ketika ia mendengar suara. Bukan suara air. Bukan suara AC. Melainkan suara langkah kaki yang berat, langkah kaki yang hanya bisa dilakukan oleh satu orang di penthouse ini. *Degup.* Jantung Maya langsung memukul rusuknya dengan intensitas yang menyakitkan. Ia mendengar pintu kamar mandi dibuka dengan sedikit hentakan. Udara dingin tiba-tiba menyeruak masuk, melawan kehangatan uap. "Maya!" Suara itu datar, keras, dan penuh otoritas yang tak terbantahkan. Suara Arlan. Maya membeku di tempat, tangannya yang penuh busa jatuh ke sisi tubuhnya. Ia hanya bisa melihat siluet Arlan yang samar melalui kaca buram. Pria itu berdiri di ambang batas, postur tubuhnya yang besar mengancam, tampak seperti patung obsidian yang diukir dari kemarahan. "Tutup pintunya! Saya sedang mandi!" serunya, suaranya sedikit bergetar karena terkejut dan rasa terhina. "Tutup?" Arlan mengulanginya dengan nada tajam, seolah kata itu tidak masuk akal. Ia mengambil satu langkah mendekat, bayangannya membesar. "Saya kira kau sudah tahu, Nyonya Dirgantara. Seluruh properti ini adalah wilayah saya. Dan berdasarkan laporan dari Bima, kau menghilang dari pandangan sejak dua puluh menit yang lalu." "Menghilang? Saya di sini! Saya mandi!" "Saya tidak peduli kau sedang mandi atau sedang menenggelamkan diri," suara Arlan sedikit melembut, tapi nada memerintahnya tidak hilang. "Kontrak itu jelas. Kau tidak diizinkan meninggalkan properti ini tanpa persetujuan eksplisit dari saya, apalagi mencoba melarikan diri." "Melarikan diri?" Maya merasa panas, bukan hanya karena air. "Saya baru saja menandatangani hidup saya! Ke mana saya bisa lari? Apakah Anda mengira saya akan menggunakan uap air ini sebagai jubah tembus pandang dan melompati gedung?" Arlan tidak menjawab. Ia hanya terus menatap siluet Maya yang tampak bergerak-gerak di balik kaca. Kaca itu cukup buram untuk menutupi detail, tetapi tidak cukup untuk menyembunyikan lekuk tubuh yang bergetar. Keheningan yang mematikan itu pecah ketika Arlan, dengan gerakan mendadak yang membuat Maya terlonjak kaget, membuka paksa pintu kaca *shower* itu. Uap air yang terperangkap segera menyerbu keluar, tetapi itu tidak cukup cepat untuk menutupi pemandangan yang kini terpampang di depan mata Arlan. Maya Adhisti berdiri di sana, hanya diselubungi oleh selapis tipis busa dan kehangatan air. Rambutnya basah kuyup, menempel di leher dan bahunya yang jenjang. Matanya membulat, memancarkan perpaduan antara kemarahan dan ketakutan yang murni. Tubuhnya yang ramping, yang biasanya tertutup pakaian formal sederhana, kini telanjang dan rentan. Refleksif, Maya menarik handuk kecil yang terlipat di rak dekatnya dan mencengkeramnya di depan d**a. Handuk itu tipis, dan karena tangannya basah, kain itu langsung basah pula, menempel erat dan sama sekali tidak membantu menyembunyikan apa pun. Arlan membeku. Ia datang dengan niat murni untuk mengontrol situasi, untuk memastikan propertinya (yang kini termasuk Maya) masih berada di tempatnya. Namun, pemandangan itu menghantamnya seperti gelombang kejut yang dingin, memadamkan api amarah dan menggantinya dengan pusaran hasrat yang terlarang. Wajah Arlan, yang selalu tampak seperti topeng marmer yang sempurna, menunjukkan keretakan. Matanya, biasanya sedingin es Kutub Utara, kini memancarkan api gelap yang tak terduga. Ia mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung, memperlihatkan lengan yang berotot dan tegang. Kerah kemejanya sedikit terbuka, seolah ia baru saja merenggut napas. Keintiman yang tiba-tiba ini begitu dahsyat. Jarak kurang dari satu meter di antara mereka terasa seperti jurang yang dipenuhi listrik. "Kenapa Anda menatap saya seperti itu?" bisik Maya, suaranya nyaris tak terdengar, gemetar. Rasa malu telah digantikan oleh teror naluriah. Ia merasa seperti mangsa di depan predator yang lapar. Arlan tidak bergerak. Ia hanya berdiri, membiarkan uap membelai garis rahangnya yang tajam, napasnya sedikit memberat. "Tadi... Bima mengatakan kau pergi ke kamar mandi dengan tergesa-gesa dan mengunci pintu," Arlan berujar, suaranya serak dan jauh lebih rendah dari biasanya. Ia terdengar seperti sedang bergumul dengan dirinya sendiri. "Aku mengira kau panik dan mencoba mencari cara untuk kabur, mungkin menghubungi pengacara lain." Maya menelan ludah. Ia tahu alasan Arlan lebih dalam dari sekadar kekhawatiran kabur. Arlan adalah pria yang terbiasa mengontrol segalanya. Ketidakhadirannya yang tak terduga dalam waktu dua puluh menit saja sudah cukup untuk memicu alarm bahaya. "Saya tidak punya uang untuk pengacara lain. Saya tidak punya siapa-siapa," jawab Maya, mencoba mengendalikan nada suaranya agar terdengar lebih kuat. "Saya di sini untuk Riko. Saya tidak akan lari dari kesepakatan ini. Tapi ini adalah pelanggaran privasi. Kontrak kita... tidak mencakup bagian ini." Satu kalimat terakhir itu seolah-olah berfungsi sebagai penanda batas yang nyata. Wajah Arlan menegang kembali, topeng dinginnya perlahan ditarik lagi. Api di matanya meredup, digantikan oleh kekosongan yang terkontrol, tetapi tidak sebelum Maya melihat intensitas mengerikan dari gairah yang ia sembunyikan. "Privasi," Arlan mendesis, seolah kata itu terasa asing di lidahnya. "Tentu. Tapi ingat, Maya. Di rumah ini, privasimu hanya sejauh izin dariku. Apalagi jika itu menyangkut kamar di ujung lorong." Arlan kembali menyebut kamar terlarang itu. Maya mendongak, matanya yang basah menantang. "Apa hubungannya kamar mandi dengan kamar itu?" "Semuanya," jawab Arlan tajam. "Semua yang berhubungan denganmu sekarang terikat pada aturan di tempat ini. Dan aturan nomor satu adalah: Kau tidak akan lari. Aku memastikan itu." Arlan mengalihkan pandangannya dari Maya, seolah melihatnya terlalu lama akan meruntuhkan benteng terakhir kontrol dirinya. Ia menoleh ke pintu, dan Maya bisa merasakan pergolakan hebat di dalam dirinya. Pria ini mencoba menahan sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar amarah. Ia mundur satu langkah dari pintu *shower*. "Kau tidak membawa apa-apa, kan?" tanyanya, suaranya kembali ke nada bisnisnya yang dingin. Maya mengangguk kaku, masih memegang handuk yang basah kuyup. "Tunggu di sini. Jangan bergerak," perintahnya, sama sekali tidak ada kelembutan, hanya perintah. Tanpa menunggu balasan, Arlan berbalik dan melangkah keluar dari kamar mandi. Maya hanya mendengar dua hal: langkah kaki berat Arlan yang cepat meninggalkan suite, dan kemudian, suara dentuman keras yang menggetarkan kaca cermin. Arlan membanting pintu kamar utama, memastikan bahwa ia telah menciptakan jarak fisik yang cukup jauh darinya. Maya merosot ke dinding keramik yang dingin, bahunya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena sisa-sisa adrenalin yang tersisa. Ia menyentuh pipinya, yang terasa panas terbakar. Kejadian itu berlangsung kurang dari satu menit, tetapi keintiman yang ia rasakan dalam momen singkat itu jauh lebih telanjang daripada ketelanjangannya yang sebenarnya. Arlan Dirgantara, CEO dingin yang tak tersentuh, telah menunjukkan kerentanan dalam bentuk hasrat yang nyaris tak terkendali. "Bodoh," desisnya pada dirinya sendiri. Kontrak ini adalah bisnis. Namun, jika ini adalah cara Arlan mengurus bisnisnya, enam bulan akan terasa seperti enam abad. Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih memacu gila-gilaan. Ia mematikan air pancuran dan melilitkan handuk mandi besar yang mewah di sekeliling tubuhnya. Handuk itu tebal dan lembut, beraroma tajam—aroma cendana yang sama. Ia menyadari bahwa handuk ini pasti milik Arlan. Ia menciumnya lagi. Aroma yang mengancam sekaligus memabukkan itu kini melekat di kulitnya. Beberapa menit kemudian, pintu kamar dibuka dengan hati-hati. Bukan Arlan, melainkan Bima, asisten pribadinya yang tinggi dan tegap, yang masuk. Bima terlihat sedikit canggung. Ia membawa satu set piyama sutra abu-abu muda, beberapa produk perawatan kulit, dan sikat gigi baru. "Maafkan ketidaknyamanan, Nyonya," ujar Bima pelan. "Tuan Arlan meminta saya untuk mengantarkan ini. Dia juga meminta saya menyampaikan, jika Anda merasa terancam dengan kehadiran beliau, itu hanyalah kesalahpahaman. Beliau tidak bermaksud melanggar pasal apa pun dalam kontrak." *Kesalahpahaman?* Maya hampir tertawa. Itu bukan kesalahpahaman, itu adalah nyaris terjadinya bencana. "Di mana Tuan Arlan?" tanya Maya, mengambil barang-barang itu dari tangan Bima. Sutra itu terasa dingin dan mahal. "Beliau sedang dalam perjalanan ke ruang kerjanya. Beliau mengatakan tidak akan kembali sampai tengah malam. Beliau menyarankan agar Anda makan malam, dan—" Bima berhenti sejenak, mengamati ekspresi Maya yang kelelahan. "Beliau meminta Anda tidak menguji batas kesabarannya lagi, atau batas aturan rumah ini." Maya mengangguk pahit. Perkataan itu adalah cara Arlan untuk mengatakan, *Aku nyaris kehilangan kendali, jangan lakukan itu lagi.* Setelah Bima pergi, Maya berdiri di depan cermin besar. Uap air perlahan menghilang. Ia melihat refleksi dirinya: mata yang sedikit bengkak, kulit yang memerah karena panas, dan di lehernya, ia bisa melihat bekas air yang mengalir. Ia mengenakan handuk beraroma Arlan, di kamar Arlan, dan dalam waktu singkat, ia telah melihat sisi Arlan yang seharusnya tidak ia lihat. Maya tahu, terlepas dari pasal-pasal kontrak yang dingin, perbatasan antara bisnis dan gairah di rumah ini sangat tipis, dan Arlan, sang pemilik segalanya, adalah pria yang paling dekat dengan kehancuran batas itu. Malam itu, dengan mengenakan piyama sutra milik Arlan yang kebesaran, Maya berbaring di tempat tidur jutaan dolar. Ia tidak tidur. Ia hanya menatap pintu yang dibanting oleh suaminya beberapa waktu lalu, dan menyadari bahwa harga yang ia bayar untuk nyawa Riko jauh lebih mahal daripada utang rumah sakit yang tertera di kertas. Itu adalah harga hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD