Suara jam dinding antik berdentang sebanyak tujuh kali, memecah keheningan opresif yang menyelimuti penthouse mewah di lantai tertinggi gedung Dirgantara. Di depan cermin berbingkai emas, Maya Adhisti menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung yang terasa seperti genderang perang.
Ia mengenakan gaun malam berbahan sutra berwarna *navy* tua, pilihan Bima yang katanya "mencerminkan keseriusan dan keanggunan seorang istri CEO." Pakaian itu mahal, indah, tetapi terasa seperti jerat emas yang melilit tubuhnya. Setiap lipatan kainnya mengingatkannya bahwa ia adalah properti sewa, sedang bersiap untuk sebuah sandiwara terbesar dalam hidupnya.
Arlan muncul dari balik pintu kamarnya, sosoknya langsung mendominasi ruangan. Jas hitam yang dikenakannya tampak dipahat sempurna di bahunya yang lebar, memancarkan aura kekuasaan yang dingin dan tak terjangkau. Matanya yang tajam menyapu penampilan Maya, berhenti sejenak pada garis leher gaun itu.
"Kau siap?" suara Arlan rendah, nyaris tanpa emosi, seperti menanyakan apakah ia siap untuk rapat dewan, bukan jamuan makan malam keluarga.
"Siap. Apa yang harus kulakukan, Tuan Dirgantara?" tanya Maya, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional dan datar, meniru kedinginan Arlan.
Arlan melangkah mendekat. Jarak satu meter terasa sangat sempit di antara mereka. Aroma maskulin yang kompleks, perpaduan kayu cendana dan *mint* yang dingin, menusuk indra penciuman Maya, membuat pertahanan emosinya sedikit goyah.
"Panggil aku Arlan. Dan jangan berpikir berlebihan. Kakek adalah pengamat yang tajam. Ia tidak akan peduli dengan detail gaunmu atau menu makanan. Ia hanya akan mencari retakan kecil pada fatamorgana yang kita ciptakan."
Arlan memajukan wajahnya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Maya. Suara beratnya berbisik, menciptakan getaran asing di tengkuk Maya. "Tugasmu malam ini: jadilah istri yang meyakinkan. Tunjukkan padanya, betapa gilanya kau mencintaiku hingga rela meninggalkan semua yang kau miliki untukku."
Maya menelan ludah. Itu adalah hal yang paling mustahil di dunia. "Aku tidak yakin aku bisa menampilkan kegilaan itu."
"Kau bisa," Arlan mundur, mengaitkan tangannya di pergelangan tangan Maya. Kontak itu mengejutkan, bukan dingin, melainkan konduktor listrik yang mengirimkan sensasi hangat hingga ke ujung jari Maya. "Lakukan, demi adikmu. Dan demi kita berdua tidak kehilangan segalanya."
***
Perjalanan menuju Dirgantara Mansion terasa bagai melintasi gerbang kegelapan. Mobil Arlan, sebuah Bentley hitam yang mengkilap, meluncur mulus memasuki kompleks yang dijaga ketat. Ketika mereka berhenti di depan mansion, Maya terperangah. Bangunan itu adalah perwujudan kekayaan generasi: pilar-pilar bergaya Yunani kuno, taman yang tertata sempurna yang disorot lampu temaram, dan keheningan yang seakan menyerap semua suara di sekitarnya.
Ini bukan rumah, pikir Maya. Ini adalah benteng kekuasaan.
Saat pintu mobil dibukakan oleh Bima, Arlan secara naluriah mengulurkan tangan. Maya ragu sejenak, namun profesionalisme Arlan menuntut ia menerima uluran itu. Jari-jari Arlan panjang dan kuat, menggenggam tangannya dengan tekanan yang pas—cukup tegas untuk menunjukkan kepemilikan, tetapi cukup lembut agar tidak menyakitkan.
Mereka melangkah bersamaan.
Di ruang tamu utama, yang langit-langitnya dihiasi lampu kristal raksasa yang menumpahkan cahaya kuning lembut, duduklah Kakek Dirgantara.
Maya sudah membayangkan sosok tua yang ramah, mungkin sedikit pikun. Kenyataan jauh berbeda. Kakek Dirgantara adalah sosok yang otoriter. Ia duduk di sofa beludru, mengenakan setelan jas abu-abu mahal, memegang tongkat perak yang berukir rumit. Hal yang paling menakutkan adalah matanya—abu-abu, tajam, dan sama dinginnya dengan mata Arlan, tetapi diperkuat oleh pengalaman hidup selama delapan puluh tahun. Matanya meneliti Maya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Selamat malam, Kakek," sapa Arlan, suaranya lebih hormat dari biasanya.
"Selamat malam, Arlan. Akhirnya kau membawa istrimu ke rumah ini," ujar Kakek Dirgantara. Suaranya serak, tetapi jelas, membawa bobot otoritas yang tak terbantahkan. Ia tidak menoleh ke Arlan, fokusnya sepenuhnya pada Maya. "Jadi, ini gadis yang membuatmu gila, Maya Adhisti?"
Pertanyaan itu disajikan sebagai pernyataan sarkastik, bukan sanjungan.
Maya merasakan Arlan menekan punggung tangannya, memberinya sinyal. Ia memaksa senyum tulus yang telah ia latih di depan cermin.
"Selamat malam, Kakek. Senang akhirnya bisa bertemu Anda," balas Maya, suaranya lembut, berusaha memasukkan kehangatan yang tidak ia rasakan.
"Duduklah," perintah Kakek, menunjuk dua kursi di seberangnya. "Aku ingin tahu, Arlan. Bagaimana kalian bertemu? Setahu Kakek, kau tidak pernah tertarik pada desainer interior."
Tensi meningkat seketika. Itu adalah pertanyaan jebakan. Kontrak mereka tidak pernah mencakup cerita latar yang detail.
Arlan menyandarkan punggungnya, tampak santai—sebuah kebohongan yang sangat baik. Sebelum Arlan sempat menjawab, Kakek melanjutkan, "Kau menikahi seorang gadis dalam waktu tiga minggu setelah perkenalan. Itu bukan gayamu. Jangan bohong padaku, Arlan."
Arlan tersenyum miring. Itu bukan senyum CEO dingin, melainkan senyum kekasih yang dimabuk asmara—senyum yang membuat Maya harus mengerahkan semua kekuatannya untuk tidak mundur.
Arlan kemudian melakukan hal yang sangat tidak terduga. Ia menggeser duduknya, dan sebelum Maya sempat bereaksi, tangan kanannya melingkari pinggang Maya, menariknya mendekat hingga bahu mereka bersentuhan erat.
Sentuhan itu membakar.
"Kakek tahu aku selalu melakukan apa yang tidak terduga, bukan?" jawab Arlan, pandangannya tertuju pada Kakek, tetapi tekanan jarinya di pinggang Maya terasa sangat nyata. "Aku tidak pernah berpikir aku akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi Maya..."
Arlan berhenti bicara, tatapannya beralih ke Maya. Mata Arlan, yang biasanya sedingin baja, kini tampak menggelap, memancarkan intensitas yang nyaris nyata. Ia mengangkat tangan kirinya, membelai pipi Maya dengan ibu jarinya, lalu mencondongkan tubuh.
Ia mencium kening Maya.
Bukan ciuman cepat, bukan pula ciuman basa-basi. Itu adalah ciuman yang lambat, penuh penekanan, dan terasa hangat.
Jantung Maya serasa berhenti, lalu mulai berpacu liar. *Ini akting, ini hanya akting,* ia mengingatkan dirinya sendiri. Namun, kehangatan bibir Arlan di kulitnya, posisi tubuh mereka yang begitu intim di depan sosok seotoriter Kakek, semuanya terasa sangat nyata. Ia bisa merasakan aroma kolonya dan kekakuan rahangnya.
Ketika Arlan menjauhkan bibirnya, ia menatap mata Maya. Ada kilatan yang sulit diartikan di sana—entah gairah palsu untuk sandiwara ini, atau sesuatu yang lain.
"Ketika aku bertemu matanya, Kakek," lanjut Arlan, suaranya kini sedikit serak, "rencana jangka pendek dan jangka panjang perusahaan terasa tidak penting. Hanya ada dia. Dia adalah anomali yang paling indah yang pernah kulihat."
Kakek Dirgantara tidak menunjukkan reaksi. Ia hanya menyipitkan matanya. "Romantis sekali. Tapi aku butuh bukti nyata, Arlan. Bukan hanya kata-kata. Buktikan padaku bahwa wanita ini tidak hanya datang untuk mengambil warisan keluarga kita."
Maya merasa harga dirinya tergores oleh tuduhan yang terang-terangan itu.
"Tentu saja aku tidak datang untuk itu, Kakek," sela Maya dengan tegas. Ia melepaskan diri dari Arlan sedikit, duduk tegak. "Saya tidak tahu menahu mengenai syarat warisan apa pun. Saya hanya mencintai cucu Anda, dan saya menerimanya sebagaimana adanya, jauh sebelum saya tahu betapa kayanya dia."
Ia harus berbohong dengan keyakinan penuh. Ini bukan hanya demi Arlan, tapi demi harga dirinya sendiri.
Arlan menatap Maya dengan tatapan terkejut singkat, seolah tidak menduga Maya akan merespons secepat dan setegas itu. Ia kemudian tersenyum bangga—senyum yang terasa begitu tulus sehingga Maya sendiri mulai meragukan apakah Arlan benar-benar sedang berakting.
"Dengar itu, Kakek?" tanya Arlan. Ia kembali merangkul pinggang Maya, kali ini genggamannya lebih erat dan protektif, seolah mengklaimnya. "Dia adalah satu-satunya wanita yang pernah mengatakan 'ya' padaku tanpa menanyakan seberapa besar saldo rekeningku."
Makan malam disajikan tak lama kemudian. Hidangan mewah berjejer di meja mahoni panjang, namun suasana mencekam membuat Maya nyaris tak bisa merasakan makanannya. Kakek terus mengajukan pertanyaan, mulai dari bagaimana Arlan memberinya kejutan, hingga detail-detail kecil mengenai masa lalu Maya.
"Maya, kau desainer interior, ya? Bukankah itu pekerjaan yang sangat menyita waktu?" tanya Kakek sambil memotong daging *tenderloin*nya.
"Ya, Kakek. Tetapi setelah menikah dengan Arlan, saya memutuskan untuk mengambil jeda. Prioritas saya sekarang adalah keluarga," jawab Maya, mengutip salah satu poin dalam kontrak yang mengharuskannya mengurangi aktivitas publiknya.
Arlan segera membenarkan. "Dia terlalu keras bekerja. Aku memaksanya beristirahat. Aku ingin dia fokus pada kita." Sambil berkata demikian, Arlan meraih tangan Maya yang terletak di atas meja, mengangkatnya, dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
Sentuhan itu, ciuman di kening tadi, dan genggaman protektif di pinggangnya, semua terasa seperti serangkaian sengatan listrik. Maya berusaha keras untuk tidak menunjukkan reaksi, tetapi panas yang menjalari tangannya membuat napasnya tertahan.
*Apa yang sedang kulakukan?* monolog Maya. *Aku seharusnya merasa jijik oleh kepura-puraan ini. Tapi mengapa... mengapa aku merasa jantungku berdegup karena sentuhannya? Mengapa setiap sentuhan Arlan terasa seperti pengakuan, bukan sekadar akting?*
"Kau terlihat sangat bahagia, Nak," kata Kakek, nada bicaranya mulai melunak, sedikit rasa puas terlihat di matanya. "Aku senang. Arlan butuh seseorang yang bisa melunakkan es di dalam dirinya."
Jamuan makan malam hampir selesai. Maya menghela napas lega. Mereka berhasil. Mereka berhasil meyakinkan Kakek.
Saat hidangan penutup berupa *crème brûlée* disajikan, suasana mulai terasa lebih ringan. Maya membiarkan dirinya rileks sedikit, menggeser punggungnya dari sandaran kursi.
Tiba-tiba, suara deru pintu terbuka menarik perhatian semua orang.
Seorang wanita melangkah masuk ke ruang makan. Ia mengenakan gaun merah menyala yang mewah, dengan rambut hitam yang ditata sempurna dan riasan mata yang berani. Posturnya tinggi, elegan, dan penuh percaya diri. Namun, di balik senyum tipisnya, ada aura kebencian yang langsung terarah ke Maya.
Mata Arlan menajam, rahangnya mengeras seketika. Genggamannya pada pinggang Maya kembali menguat.
"Siska?" Kakek Dirgantara tampak terkejut.
Siska—mantan kekasih Arlan, si antagonis utama yang namanya sempat Bima bisikkan. Ia datang.
"Selamat malam, Kakek. Maaf mengganggu. Aku kebetulan sedang berada di lingkungan ini, dan kurasa aku harus mampir untuk melihat 'pengantin baru' Arlan," kata Siska, suaranya merdu, namun dipenuhi nada sindiran.
Siska berjalan mendekat, melewati meja. Aroma parfumnya yang berat menyeruak ke udara.
"Arlan, kenapa kau tidak memperkenalkan kami?" Siska berhenti di samping Arlan, pandangannya mengunci Maya dengan permusuhan yang tak terselubung.
"Siska, ini istriku, Maya. Maya, ini Siska, teman lama," Arlan memperkenalkan, nadanya dingin dan kaku.
"Teman lama? Arlan, kau selalu meremehkan apa yang kita miliki," Siska terkekeh pahit. Ia mengabaikan Maya, menatap Arlan. "Kau benar-benar menikahi gadis ini? Dia... sangat biasa. Aku pikir seleramu lebih tinggi, *Darling*."
Maya merasa darahnya mendidih. Ia ingin membalas, tetapi ia tahu, ia harus mempertahankan citra istri yang anggun dan tidak terpengaruh. Ia hanya tersenyum sopan.
Siska kemudian mengangkat gelas kristal yang dipegangnya, berisi anggur merah yang pekat. Ia pura-pura bersulang ke arah Maya.
"Semoga pernikahan kontrakmu ini bertahan lama, Sayang," bisik Siska, suaranya sangat pelan, hanya untuk didengar oleh Maya. Ia menegaskan kata 'kontrak'.
"Siska," Arlan memperingatkan, suaranya mengandung ancaman yang jelas.
Namun, peringatan itu terlambat.
Dengan gerakan yang terasa lambat dan disengaja, Siska menyenggol siku Maya, membuat gelas anggur merah yang ia pegang terlepas dan tumpah.
Anggur merah pekat itu mengalir deras, membasahi kain sutra *navy* di d**a dan perut Maya, meninggalkan noda hitam keunguan yang menyebar dengan cepat dan mencolok.
Ruangan seketika hening.
"Astaga! Maafkan aku! Aku sangat ceroboh," Siska berseru, namun matanya memancarkan kemenangan yang kejam. "Gaunmu pasti rusak. Sayang sekali, Maya. Kau baru saja mendapatkannya, bukan?"
Maya menatap noda yang menghiasi dadanya. Rasa malu menjalar dengan cepat, memanaskan wajahnya. Semua mata tertuju padanya—Kakek Dirgantara, para pelayan yang terdiam kaku, dan tatapan tajam Arlan.
Tiba-tiba, lengan Arlan mengencang di pinggang Maya. Ia berdiri, menarik Maya bersamanya, secara efektif menyembunyikan sebagian besar noda di balik tubuhnya yang besar. Wajahnya gelap.
"Kau tidak ceroboh, Siska," suara Arlan sangat rendah dan berbahaya. "Kau menjijikkan. Keluar dari rumah ini sekarang juga."
Siska terkejut oleh amarah yang begitu eksplisit. "Arlan, aku hanya—"
"Aku bilang, keluar. Sebelum aku pastikan kau tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di properti Dirgantara," potong Arlan.
Arlan tidak menunggu jawaban Kakek atau Siska. Ia menoleh ke arah Maya, yang wajahnya masih memerah karena penghinaan.
"Kita pulang," kata Arlan. Ia tidak meminta, melainkan memerintah.
Maya hanya bisa mengangguk. Ia merasakan mata Kakek Dirgantara mengawasi setiap gerakan mereka, mencoba menafsirkan drama yang baru saja terjadi. Dalam kekacauan ini, Maya menyadari satu hal: meskipun Arlan marah pada Siska, Arlan tidak pernah melepaskan genggamannya darinya.
Arlan memimpin Maya keluar dari ruang makan, menjauh dari tatapan menilai Kakek, menjauh dari kemenangan Siska. Saat mereka menuruni tangga utama, tangan Arlan bergeser, dari pinggang ke punggung Maya, mendorongnya maju dengan perlindungan yang dingin.
"Aku minta maaf," bisik Arlan begitu mereka mencapai ambang pintu, jauh dari pendengaran orang lain.
"Untuk apa? Untuk Siska yang membenciku, atau untuk gaun mahalku yang sekarang bau anggur?" tanya Maya, suaranya bergetar menahan air mata yang bukan karena gaunnya, tetapi karena rasa direndahkan di depan keluarga suaminya.
Arlan berhenti di depan mobil yang menunggu. Ia menoleh, dan tatapannya kali ini bukan lagi tatapan CEO, melainkan tatapan seorang pria yang terganggu.
"Untuk keduanya," jawab Arlan. Ia menghela napas berat, matanya terfokus pada noda anggur di gaun Maya. "Aku harus memastikan dia tidak akan pernah melakukan itu lagi."
Tanpa diduga, Arlan kembali mencondongkan tubuhnya, kali ini jauh lebih dekat daripada yang ia lakukan di depan Kakek. Ia mencium kening Maya sekali lagi—namun ciuman ini bukan bagian dari sandiwara. Ini adalah sentuhan penghiburan yang singkat dan serius.
"Ini belum selesai," Arlan berbisik, membiarkan ancaman itu tergantung di udara sebelum ia membuka pintu mobil dan mendesaknya masuk. "Tapi setidaknya, Kakek sudah yakin. Kau melakukan pekerjaan yang luar biasa malam ini."
Pintu mobil dibanting tertutup. Maya duduk sendiri di kursi belakang yang gelap, napasnya memburu. Perasaan malu karena insiden itu bercampur dengan gemuruh yang aneh akibat sentuhan Arlan. Ia melihat bayangan gelapnya di kaca mobil.
Kontrak ini terasa semakin tidak jelas. Jika ini hanya bisnis, mengapa Arlan harus melangkah sejauh ini untuk melindunginya? Dan mengapa, di tengah kehinaan yang ditimbulkan Siska, kehangatan sentuhan Arlan terasa begitu menenangkan, seolah-olah dia benar-benar adalah pelindungnya?
Maya menyentuh keningnya, tempat bibir Arlan baru saja mendarat. Sentuhan itu tidak hilang. Ia menyadari, di malam penuh drama ini, yang paling berbahaya bukanlah tatapan tajam Kakek atau kebencian Siska, melainkan Arlan sendiri—pria yang mampu membuat batas antara kenyataan dan sandiwara menjadi buram dalam satu sentuhan.