Lampu kristal raksasa di langit-langit *ballroom* The Grand Dynasty memancarkan cahaya keemasan yang memantul pada setiap permukaan marmer, menciptakan siluet yang mewah sekaligus mencekam. Di antara gemerisik sutra dan wangi parfum yang berharga ribuan dolar, Maya Adhisti merasa dirinya hanyalah selembar kertas tipis yang dihempaskan ke tengah badai yang mematikan.
Ia menggenggam lengan Arlan Dirgantara, merasakan kehangatan yang tidak sepadan dengan suhu dingin yang terpancar dari aura pria itu. Arlan berdiri tegak, tak tersentuh, layaknya patung marmer hidup. Ia menyambut sapaan para konglomerat dengan anggukan singkat yang menghapus setiap kemungkinan keakraban.
“Santai, Maya,” bisik Arlan, suaranya rendah dan bergetar samar di telinga Maya, lebih karena resonansi dadanya daripada emosi yang ia tunjukkan. “Tugasmu hanya berdiri di sisiku. Biarkan mereka melihat cincin di jarimu.”
Maya mengangguk kaku. Ia mengenakan gaun malam berwarna safir gelap, pilihan Arlan, yang jatuh meliuk mengikuti lekuk tubuhnya dengan elegan. Namun, di balik kain mewah itu, jantungnya berpacu secepat kuda yang ketakutan. Ia tahu, di balik setiap senyum sopan dan sapaan basa-basi, ada mata-mata yang menilai, menghitung, dan berusaha menemukan celah dalam fasad pernikahan mereka.
“Saya tahu, Tuan Arlan. Tapi tatapan mereka… seperti mereka sedang menguliti saya,” gumam Maya, menatap kerumunan yang ramai dengan kegelisahan. Ia bisa mendengar bisikan tak menyenangkan di antara para wanita sosialita; nada curiga tentang siapa wanita ‘baru’ yang berhasil menjinakkan singa es Dirgantara Group.
Arlan tidak menjawab. Ia hanya mengencangkan sedikit cengkeramannya di pergelangan tangan Maya, seolah mengirimkan sinyal fisik: *Kau aman selama kau di bawah perlindunganku.*
Tepat ketika Maya mulai bernapas sedikit lega, merasa terlindung oleh d******i Arlan, suasana riuh di dekat pintu masuk mendadak menipis. Beberapa kepala menoleh serempak, dan bisikan yang sebelumnya beriak kini berubah menjadi desisan tajam yang membekukan.
Siska.
Ia melangkah masuk, mengenakan gaun merah menyala yang tampak dirancang untuk mencuri seluruh oksigen di ruangan. Rambutnya disanggul tinggi, lehernya dihiasi kalung berlian yang menandingi kilauan lampu gantung. Ia terlihat cantik, berbahaya, dan sepenuhnya sadar akan pengaruhnya.
Mata Siska langsung menemukan Arlan dan Maya. Senyum tipis yang penuh racun terukir di bibirnya.
“Permainan dimulai,” Arlan mendesis pelan, namun tidak sedikit pun bergerak dari tempatnya.
Siska bergerak lincah melewati kerumunan, seperti hiu yang mengendus darah. Ia mendekat, ditemani dua wanita lain yang bertingkah seperti pengawal setianya. Ketika ia berdiri hanya beberapa langkah di depan mereka, udara di sekitar Maya terasa sesak dan dingin.
“Arlan, sayang,” sapa Siska, nadanya manja, seolah mereka baru saja berpisah lima menit yang lalu. Matanya kemudian beralih ke Maya, menyapu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat.
“Oh, lihat ini. Jadi ini rupanya ‘istri’ yang kau pilih, Lan?” Siska tertawa kecil, suara tawanya terlalu keras dan dibuat-buat. Ia meraih gelas sampanye dari seorang pelayan yang kebetulan lewat, lalu dengan sengaja berjalan sedikit terlalu dekat ke arah Maya.
*Plak!*
Gelas itu meleset. Bukan tumpah ke gaun Maya, melainkan terjatuh di lantai marmer, pecah menjadi serpihan berkilauan. Siska berakting terkejut, namun matanya memancarkan kegembiraan yang bengis.
“Astaga, maafkan aku! Aku sedikit ceroboh. Aku hanya terlalu terkejut melihat pilihan seleramu, Arlan,” kata Siska, meninggikan suaranya cukup untuk menarik perhatian semua orang di radius dua puluh meter.
“Aku tidak tahu perusahaanmu sekarang mempekerjakan desainer interior untuk tugas yang lebih… *intim*.”
Wajah Maya terasa panas, seperti disiram air mendidih. Ia berusaha keras menjaga ekspresinya tetap datar. Kata ‘intim’ itu menggantung di udara, menciptakan konotasi yang sangat jelas dan kotor.
“Kau pasti mengerti, kan? Kontrak itu penting. Tuan Arlan selalu tahu cara mendapatkan apa yang ia inginkan dengan harga yang tepat,” Siska melanjutkan, menoleh pada dua temannya yang cekikikan kecil. “Lagi pula, siapa dia? Dia tidak punya latar belakang. Bukan dari kalangan kita. Hanya wanita bayaran yang dibayar untuk menjadi boneka sementara. Sayang sekali, ya, Arlan? Kau selalu suka barang yang bisa kau kembalikan setelah kau bosan.”
Seluruh ruangan seolah berhenti bernapas. Keheningan itu begitu memekakkan telinga sehingga Maya bisa mendengar denyutan darah di pelipisnya sendiri. Rasa malu menusuk ulu hatinya, lebih tajam daripada pecahan kaca di lantai. Ia ingin menghilang. Ingin berteriak bahwa ini semua demi Riko, demi adiknya, bahwa ia tidak serendah itu.
Namun, sebelum rasa sakit itu sempat menenggelamkannya, Arlan bergerak.
Gerakannya lambat, terukur, dan mematikan. Ia melepaskan tangan Maya hanya untuk sesaat, lalu melangkah ke depan, menempatkan dirinya di antara Siska dan istrinya. Matanya, yang biasanya hanya memancarkan kecerdasan tajam, kini berkilat dingin. Itu bukan amarah biasa; itu adalah kemarahan seorang raja yang tak tersentuh.
“Siska,” panggil Arlan. Suaranya rendah, namun memiliki resonansi yang mampu meredam semua bisikan. Seluruh ruangan mendengarkan, menanti hukuman.
“Kau selalu pandai membuat asumsi. Dan sayangnya, kau selalu salah,” lanjut Arlan, pandangannya mengunci mata Siska, membuat wanita itu mundur selangkah tanpa sadar. “Kau menyebut pernikahan ini ‘kontrak’. Ya, kau benar. Semua pernikahan adalah kontrak. Kontrak sosial, kontrak emosional, kontrak finansial. Tapi pernikahan ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh hubungan kita di masa lalu.”
Arlan meraih tangan Maya, yang masih gemetar karena penghinaan Siska. Ia mengangkat tangan itu tinggi-tinggi, memperlihatkan cincin berlian yang berkilau di bawah lampu.
“Pernikahan ini sah. Pernikahan ini abadi. Dan yang terpenting,” Arlan jeda, memastikan setiap orang di *ballroom* mendengarnya. Ia memutar kembali pandangannya pada Siska, wajahnya tak menunjukkan emosi apa pun selain penghinaan mutlak.
“Istriku, Maya Adhisti, adalah satu-satunya wanita yang sah secara hukum, dan secara pribadi, yang berhak menyandang nama Dirgantara. Kau, Siska, hanya tinggal kenangan yang sudah dibuang lama, dan jika kau berani lagi merendahkan istriku, aku akan memastikan bahwa tidak hanya Dirgantara Group, tetapi seluruh koneksi bisnis kakekmu merasakan dampaknya.”
Ancaman itu jelas dan brutal. Arlan tidak mengancam Siska secara personal, melainkan ancaman total terhadap fondasi ekonomi keluarganya. Itu jauh lebih efektif daripada teriakan atau debat.
Wajah Siska memucat, warna merah di gaunnya tampak kontras dengan kepanikan yang tiba-tiba. Ia mencoba membalas, membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Jaga sopan santunmu, Siska,” Arlan menyimpulkan dengan nada finalitas yang menghancurkan. Ia kemudian berbalik, sama sekali mengabaikan Siska yang kini hanya berdiri membeku di tengah pecahan kaca.
Keheningan yang mencekik berganti dengan gemuruh bisikan yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Tapi kali ini, fokus bisikan telah bergeser. Sekarang, bukan lagi tentang siapa Maya, melainkan tentang kekuatan Arlan dan betapa seriusnya ia melindungi wanita itu.
Maya berdiri di sisi Arlan, jantungnya masih berdebar, tetapi kini tercampur dengan sensasi aneh. Sensasi terkejut. Arlan tidak hanya membelanya, ia menghancurkan Siska tanpa ampun. Ia memperlihatkan kekuasaan yang ia miliki demi melindungi kontrak mereka.
*Mengapa?* batin Maya. *Itu hanyalah kontrak. Mengapa ia harus berlebihan seperti itu?*
Arlan menarik Maya menjauh dari area panas, menuju sudut yang relatif sepi, di mana ia meraih dua gelas sampanye dari meja terdekat.
“Minum,” perintahnya singkat, menyerahkan salah satunya pada Maya.
Maya menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Cairan dingin itu membantu mendinginkan tenggorokannya yang terasa kering.
“Terima kasih,” ucap Maya pelan. “Tapi… kau tidak perlu melakukan itu.”
Arlan menatapnya. “Aku melakukan apa yang harus kulakukan. Maya, kau di sini bukan sebagai dirimu sendiri, kau adalah representasi Dirgantara Group. Jika mereka meremehkanmu, mereka meremehkanku. Jangan pernah berpikir bahwa perlindunganku adalah masalah personal. Ini adalah bisnis, Maya. Dan aku tidak mengizinkan siapa pun merusak asetku.”
Kata-kata itu, meskipun terdengar dingin, ironisnya menenangkan Maya. *Aset.* Ya, ia adalah aset. Itu mengingatkannya pada batasan mereka.
Maya menghela napas. “Aku mengerti. Aku hanya… tidak menyangka. Dia terlihat sangat marah.”
“Siska bukan orang bodoh. Dia tahu konsekuensinya. Dia hanya terobsesi,” jawab Arlan, menyesap sampanye.
Tepat saat Arlan selesai berbicara, seorang pria mendekat. Pria itu, yang memiliki senyum ramah dan mata hangat, adalah Dion, seorang desainer interior yang pernah bekerja sama dengan Maya di sebuah proyek kecil beberapa bulan lalu.
“Maya! Wah, aku hampir tidak mengenalimu,” sapa Dion tulus. “Kau terlihat luar biasa malam ini. Aku dengar berita pernikahanmu, selamat! Aku senang melihatmu bahagia.”
Maya tersenyum lega. Senyum ini terasa lebih ringan daripada senyum yang harus ia tunjukkan pada para sosialita tadi.
“Terima kasih, Dion. Kau juga terlihat hebat,” balas Maya. “Kau sedang mengerjakan proyek apa sekarang?”
Mereka mulai terlibat dalam obrolan ringan tentang desain, bahan, dan tren pasar. Maya merasa nyaman berbicara dengan Dion; mereka memiliki minat yang sama. Untuk beberapa saat, ia lupa bahwa ia berada di pesta gala yang penuh intrik, dan ia lupa bahwa ia berdiri di samping suami kontraknya.
Namun, kehangatan itu segera dipadamkan oleh hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti mereka.
Arlan, yang semula hanya berdiri diam memperhatikan percakapan mereka, tiba-tiba memotong dengan suara yang memancarkan es beku.
“Dion,” sapa Arlan, tetapi itu bukan sapaan ramah. Itu adalah peringatan. “Waktunya minum sudah selesai. Aku rasa Maya sudah cukup lelah dan harus beristirahat.”
Dion, seorang pria yang cerdas dan mampu membaca suasana, segera menyadari ketegangan dalam nada bicara Arlan. Ia menoleh ke arah Maya, ekspresi minta maaf terpancar di matanya.
“Tentu saja, Tuan Dirgantara. Maya, senang bertemu denganmu. Kita bicara lagi lain kali,” ujar Dion, sedikit membungkuk sebelum bergegas menjauh.
Maya menoleh ke Arlan, matanya menyipit karena bingung dan sedikit marah. Sikapnya terlalu kasar. Dion hanya bersikap sopan.
“Arlan! Apa-apaan itu? Kau tidak perlu bersikap sekasar itu,” protes Maya, suaranya pelan tetapi tegas.
Arlan meletakkan gelas sampanye dengan suara denting yang tajam. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Maya, auranya yang dominan kini terasa menekan dan mengancam. Maya bisa mencium aroma kayu cendana dan *mint* yang kuat dari parfumnya.
“Kau pikir ini saatnya untuk bersosialisasi dan tebar pesona dengan pria lain, Maya?” desis Arlan, matanya menyala dengan sesuatu yang jauh lebih gelap daripada dingin biasa—sebuah gairah posesif yang terpendam.
“Tebar pesona? Dia hanya rekan kerja. Kami hanya bicara tentang desain, Arlan!” balas Maya, menahan dorongan untuk mundur. Ia tidak mengerti mengapa Arlan tiba-tiba berubah secepat ini.
“Aku tidak peduli apa yang kalian bicarakan,” Arlan memotongnya. “Kau adalah istriku, di mata mereka. Dan jika kau ingin membuat kontrak ini sukses, jangan biarkan ada celah. Jangan biarkan siapa pun berpikir kau tidak bahagia, atau kau mencari perhatian pria lain.”
“Tapi aku tidak—”
“Cukup.”
Tanpa menunggu balasan lagi, Arlan mencengkeram lengan atas Maya dengan kekuatan yang mengejutkan, bukan lagi cengkeraman pelindung yang ia tunjukkan sebelumnya, melainkan tarikan yang kasar dan menyakitkan.
“Kita pulang sekarang. Kau sudah tampil cukup lama malam ini.”
Maya terkesiap. Cengkeraman Arlan terasa seperti borgol panas di kulitnya, dan rasa sakit itu memaksa langkahnya mengikuti langkah Arlan yang panjang dan tergesa-gesa melintasi *ballroom*.
“Lepaskan aku, Arlan! Itu sakit!” Maya berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman itu semakin kuat.
“Diam,” perintah Arlan tanpa menoleh, suaranya terdengar tercekat—entah karena marah atau karena menahan sesuatu yang lebih dalam.
Di mata para tamu, mereka tampak seperti pasangan yang pergi lebih awal, mungkin karena gairah yang tak tertahankan. Namun, Maya tahu yang sebenarnya. Ia sedang ditarik paksa, dipenjara oleh rasa cemburu yang tiba-tiba dan tak beralasan dari pria yang telah menandatangani kontrak dengannya, yang isinya melarang adanya perasaan.
Ketika mereka akhirnya mencapai pintu keluar dan Arlan membanting pintu mobilnya, Maya menarik tangannya dengan napas tersengal. Ada tanda merah di kulitnya.
“Apa masalahmu?” tuntut Maya, menoleh ke Arlan yang kini duduk di kursi pengemudi, rahangnya mengeras.
Arlan menyalakan mesin mobil dengan gerakan tajuk, lalu menoleh padanya. Gelap, terbungkus bayangan lampu jalan yang sesekali melintas, wajahnya tampak kejam.
“Masalahku?” Arlan tertawa getir. “Masalahku adalah kau terlalu mudah didekati, Maya. Kau lupa di mana posisimu. Kau lupa bahwa setiap senyum yang kau berikan kepada pria lain di pesta itu adalah keretakan dalam fasad yang sedang kita bangun.”
“Dion hanya—"
“Dia melihatmu. Dan dia ingin mendekat. Itu tidak akan terjadi,” potong Arlan tajam. “Kau milikku, selama kontrak ini berlaku. Dan selama kau milikku, kau tidak akan memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk melirik atau berpikir mereka bisa mendekatimu. Jangan pernah lupa batasan itu. Jangan pernah lupa siapa suamimu.”
Maya menatap profil Arlan yang keras. Kata-kata itu, "Kau milikku," berdenging di telinganya. Mereka diucapkan dengan nada posesif yang jauh melampaui kebutuhan bisnis atau syarat kontrak. Itu adalah pengakuan yang tidak disadari, sebuah penanda batas yang berbahaya.
Maya merasakan ketakutan bercampur dengan rasa penasaran yang mematikan. Pria ini, yang bersumpah untuk tidak mencintainya, bertingkah seperti ia sangat takut kehilangannya.
“Aku tidak pernah lupa, Tuan Arlan,” bisik Maya, berusaha menstabilkan suaranya. “Aku tidak pernah lupa kalau aku hanyalah aset yang bisa kau kembalikan kapan saja.”
Arlan tidak menjawab. Ia hanya menginjak gas, membiarkan mobil melaju kencang, membawa mereka kembali ke penthouse mewah itu, di mana garis antara kepura-puraan dan kenyataan semakin lama semakin kabur dan mematikan. Malam itu, Maya menyadari, Arlan Dirgantara jauh lebih berbahaya dari yang ia kira. Ia bukan hanya CEO dingin; ia adalah pria dengan rahasia gelap dan tuntutan emosional yang tak tercantum dalam klausul kontrak mana pun.