Hukuman di Dalam Mobil

1658 Words
Udara malam kota Jakarta yang padat terasa seperti tirai dingin yang jatuh, menelan sisa-sisa gemerlap pesta amal Dirgantara Group yang baru saja mereka hadiri. Maya menahan napasnya, merasakan kontras tajam antara kehangatan yang ditinggalkan keramaian dan atmosfer sedingin es di dalam sedan Mercedes-Benz S-Class hitam yang melaju mulus. Setiap sentimeter ruang di dalam mobil itu terasa sesak, dipenuhi oleh ketegangan yang begitu pekat hingga bisa dipotong. Arlan duduk di sebelahnya, di kursi belakang, diam. Namun, keheningan pria itu lebih menakutkan daripada badai paling hebat sekalipun. Maya melirik sekilas. Jas Arlan sudah dilepas dan dilempar begitu saja ke kursi di depannya. Kemeja putihnya tampak sedikit kusut di bahu, dan dasi sutra mahalnya sudah dilonggarkan, memperlihatkan garis keras lehernya. Perubahan kecil pada penampilan ini, yang biasanya menandakan relaksasi setelah bekerja, kini justru berfungsi sebagai sinyal bahaya. Matanya yang gelap terpaku pada jendela, membiarkan cahaya jalanan yang berkedip-kedip menari-nari di wajahnya yang tajam. Rahangnya mengatup keras, dan urat samar berdenyut di pelipisnya. Di kursi kemudi, Bima terlihat seperti patung yang fokus, hanya sesekali pandangannya melirik spion tengah, menangkap sekilas ketegangan maut yang terjadi di belakang. *Apa yang salah?* Maya bertanya dalam hati, meremas ujung gaun malam sutra berwarna *navy* miliknya. Selama acara, ia yakin telah menjalankan perannya dengan sempurna. Ia tersenyum pada rekan bisnis Arlan, menjawab pertanyaan tentang karier desainernya dengan anggun, dan menjaga jarak emosional yang ketat dari Arlan di depan umum, persis seperti yang diminta kontrak. Kecuali… kecuali interaksi singkatnya dengan Rendra Pramana, direktur muda dari Pramana Jaya yang menawarkan proyek kerja sama. Suara Arlan memecah keheningan, rendah dan serak, menusuk telinga Maya seperti pecahan es. "Kau terlihat sangat menikmati percakapanmu dengan Rendra, Nyonya Dirgantara." Maya sontak menoleh. "Arlan, itu hanya percakapan bisnis. Dia menawarkan prospek proyek dekorasi untuk gedung kantor barunya, dan sebagai seorang desainer, wajar jika aku—" "Wajar?" Arlan memotongnya dengan nada yang membuat Maya merinding. Ia akhirnya menoleh, dan intensitas tatapannya menyelimuti Maya sepenuhnya. "Kau tahu apa yang tidak wajar, Maya? Kau membiarkan pria lain menatap bibirmu seolah dia sedang menghitung nilai ciuman di sana." Pipi Maya memanas. Tuduhan itu tidak masuk akal, tetapi cara Arlan mengucapkannya membuatnya merasa bersalah. "Itu interpretasimu yang salah. Rendra sangat profesional. Kami hanya mendiskusikan palet warna." "Palet warna, ya?" Arlan menyeringai tipis, senyum yang tidak mencapai matanya, melainkan hanya menekuk sudut bibirnya menjadi bentuk yang dingin dan predator. "Lalu mengapa kau harus tertawa sehangat itu ketika dia menyentuh punggungmu untuk 'memandumu' melewati kerumunan? Jangan coba berbohong padaku. Aku melihat semuanya." Jantung Maya mulai berpacu. Ia baru sadar, saat Arlan jauh, bukan berarti ia tidak mengamati. Pria ini memiliki mata di mana-mana. "Itu adalah kontak sosial yang wajar, Arlan. Kami sedang menjalankan peran. Bukankah kau yang menginginkanku menjadi istri yang meyakinkan? Seorang istri harus berjejaring." Maya mencoba mempertahankan rasionalitasnya, tetapi suaranya bergetar. Arlan tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia melayangkan pandangan tajam ke arah Bima di kursi depan. Bima mengerti tanpa perlu diperintah. Jari Bima menekan sebuah tombol diskret di konsol. Dalam hitungan detik, partisi kaca yang memisahkan kompartemen penumpang dari area pengemudi mulai naik perlahan, bergerak naik seperti tirai tebal yang menutup. Bunyi mendesis pelan dari mekanisme hidrolik terasa memekakkan telinga dalam kesunyian yang tiba-tiba. Setelah kaca itu tertutup rapat, mereka benar-benar terisolasi. Dunia luar lenyap. Suara mesin dan klakson jalanan meredup menjadi dengungan jauh. Mereka sendirian di dalam kotak kulit yang mewah dan gelap ini. Napas Maya tersangkut di tenggorokan. Rasa takut yang murni mulai menjalari nadinya. Isolasi ini bukanlah untuk percakapan rahasia biasa. Ini adalah penutup panggung untuk sebuah drama pribadi yang kasar. Arlan bergerak. Itu bukan gerakan cepat atau tergesa-gesa, melainkan lambat dan disengaja, memberinya waktu untuk merasakan setiap ancaman yang mendekat. Ia meraih dasi sutranya yang longgar dan menariknya lepas, melemparkannya ke samping. Kemudian, ia memajukan tubuhnya, mencondongkan diri ke atas Maya. "Kau melupakan aturan dasar kontrak kita, Maya," bisiknya, suaranya kini begitu rendah hingga Maya harus sedikit berjinjit untuk mendengarnya. "Ini adalah pernikahan bisnis. Kau adalah aset yang kuperlukan untuk menenangkan Kakekku. Tapi aset yang kumiliki. Dan aset yang kumiliki tidak boleh menarik perhatian orang lain." "Aku bukan asetmu, Arlan," bantah Maya, mencoba membelakangi sandaran kursi. "Oh, ya, kau asetku. Nyawa adikmu adalah harga yang kau bayar untuk menjadi milikku selama dua belas bulan ke depan." Arlan menekankan kata-kata itu seperti paku yang dipukul ke dalam papan. "Kau terikat padaku. Secara hukum. Secara finansial. Dan sayangnya bagimu, secara emosional juga harus kau jaga." Tiba-tiba, Arlan mencengkeram dagu Maya, ibu jarinya menekan tulang pipinya dengan kekuatan yang menyakitkan. Maya terpaksa mendongak, matanya bertemu langsung dengan kobaran api di mata Arlan. "Malam ini kau terlalu santai. Kau lupa bahwa setiap tatapan yang kau bagikan dengan pria lain, setiap senyum yang kau berikan, itu adalah pelanggaran terhadap perjanjian tak tertulis kita," desisnya. "Aku benci membagi apa yang menjadi milikku." Maya menggelengkan kepala, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Arlan yang kuat. "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Aku tidak melakukan kesalahan!" "Hukuman," Arlan menyatakan, suaranya berat, penuh otoritas. "Karena kau tidak mengerti batas verbal, mungkin kau harus belajar melalui cara lain." Sebelum Maya sempat bereaksi, Arlan menukik. Itu bukan ciuman, itu adalah pengambilan paksa. Bibirnya mendarat dengan dorongan yang menuntut dan mendominasi. Ada kepahitan amarah dan aroma *cedarwood* yang tajam dari napasnya. Maya tersentak, tangannya secara refleks terangkat untuk mendorong d**a Arlan, tetapi Arlan terlalu kuat. Arlan mengabaikan perlawanannya. Satu tangannya yang bebas bergerak cepat ke belakang kepala Maya, menenggelamkan jari-jarinya ke dalam ikatan rambutnya yang rapi, memastikan ia tidak bisa mundur. Ciuman itu dalam dan liar, sebuah pernyataan kepemilikan. Lidahnya menuntut masuk, menjelajahi setiap sudut bibir Maya dengan keserakahan yang tidak memberi ruang bagi penolakan. Kehangatan dari tubuh Arlan yang dekat, meskipun ditujukan untuk menghukum, membakar setiap pertahanan yang coba dibangun Maya. Otaknya berteriak untuk melawan—ini salah, ini pemaksaan, ini tidak adil!—tetapi tubuhnya bereaksi secara otomatis, sebuah pengkhianatan biologis yang membuat Maya membenci dirinya sendiri. Dia merasakan dirinya tenggelam. Rasa asin air mata yang bercampur dengan rasa *mint* dari napas Arlan. Dia tidak ingin merespons, tetapi kekuatan ciuman itu, intensitas kemarahan yang tersalurkan melalui kontak bibir mereka, meruntuhkan kehendaknya. Kepala Maya pusing. Ia merasakan Arlan menarik bibir bawahnya dengan gigitan kecil yang menyakitkan sekaligus mendebarkan. Kekuatan Arlan tidak hanya fisik; ia menghancurkan kendali diri Maya. Di tengah gejolak itu, Maya merasakan sedikit perubahan. Amarah yang menuntut di awal ciuman mulai bercampur dengan gairah yang lama terpendam. Cengkeraman Arlan melunak, tangannya perlahan pindah dari belakang kepala Maya ke pinggangnya, menarik tubuh Maya lebih dekat, menggesekkan kain gaun mereka, sehingga tidak ada ruang tersisa di antara mereka. Tubuh Maya menempel pada tubuh Arlan yang kencang. Panas menjalar dari kontak mereka, mengatasi dinginnya AC mobil. *Ini seharusnya menjadi hukuman,* batin Maya, tersengal-sengal. *Mengapa rasanya seperti bencana yang kuinginkan?* Arlan melepaskan ciuman itu dengan tarikan tiba-tiba, menyisakan napas yang terengah-engah dan keheningan yang lebih berat daripada sebelumnya. Maya merasakan bibirnya bengkak dan perih, tetapi ada sensasi membara yang menyenangkan di sana. Mata mereka terkunci. Maya melihat refleksi dirinya di mata Arlan: pipi memerah, mata berkaca-kaca, rambut sedikit berantakan. Ia tampak seperti badai yang baru saja menerjangnya. Arlan tidak melepaskannya sepenuhnya. Ia masih memeluk pinggang Maya, menahan dirinya hanya beberapa inci dari wajah Maya. Jari-jari panjangnya membelai garis rahang Maya, gerakan yang kini lembut, tetapi tatapannya tetap keras, memancarkan ancaman yang tak terbantahkan. "Apakah kau mengerti sekarang?" tanya Arlan, suaranya kini rendah, serak, seperti gemuruh di kedalaman. Maya hanya bisa menggeleng pelan, masih berjuang untuk mengambil oksigen. "Mengerti apa?" "Mengerti bahwa kau bukan milikmu sendiri lagi," jawab Arlan, bibirnya hampir menyentuh telinga Maya. Desisnya membuat bulu kuduk Maya berdiri. "Kau adalah perpanjangan dariku. Kau harus mencerminkan statusku, dan statusku berarti kau adalah barang langka yang tidak bisa dipertontonkan atau dirusak oleh pria lain." Ia menarik napas dalam-dalam, menelan sisa-sisa napas Maya yang tertinggal di udara. "Aku melihat tatapan Rendra. Itu adalah tatapan yang tidak bisa kuterima. Tatapan lapar. Tatapan yang berpikir dia bisa memilikimu," Arlan melanjutkan, suaranya dipenuhi arogansi posesif yang mengerikan. "Kau adalah istriku, Maya. Kau membawaku di belakang nama keluargamu. Kau mengenakan cincin ini." Arlan menunjuk cincin kawin di jari Maya. "Kau harus menghormati itu. Aku tidak peduli apakah kau benar-benar mencintaiku atau tidak, selama kau berada di bawah atapku, kau harus bertindak seolah-olah kau hanya memujaku." Maya mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang menggila. "Lalu kau menghukumku dengan ciuman? Itu adalah cara hukuman yang sangat tidak rasional, Arlan." Arlan memundurkan kepalanya sedikit, menatap Maya dengan ekspresi yang sangat intens, hampir menyerupai rasa sakit yang tersembunyi. "Itu bukan ciuman, Maya. Itu adalah pengingat," katanya, suaranya tiba-tiba menjadi lebih gelap, dingin, dan jauh lebih berbahaya. "Pengingat bahwa apa yang menjadi milikku, aku akan jaga, aku akan lindungi, dan aku akan klaim kembali jika ada yang berani mendekat." Ia akhirnya melepaskan pinggang Maya, membiarkan Maya terlepas dari jeratannya dan jatuh kembali ke kursi dengan perasaan hampa. Arlan merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan, menyingkirkan semua sisa gairah dari wajahnya, kembali menjadi CEO Dirgantara yang sempurna dan tak tersentuh. Hanya mata gelapnya yang masih memancarkan badai yang baru saja berlalu. Ia bersandar di kursi, kembali ke posisi awalnya, tetapi kini ada penghalang tak terlihat yang jauh lebih tebal di antara mereka. Jari Arlan menekan tombol di sampingnya, dan partisi kaca mulai turun kembali, memperlihatkan punggung Bima yang kembali fokus pada jalanan. Seolah-olah lima menit neraka penuh gairah itu tidak pernah terjadi. Sebelum keheningan total kembali merayap, Arlan mengucapkan kalimat terakhirnya, suaranya begitu rendah sehingga hanya Maya yang bisa mendengarnya, sebuah ancaman yang dikemas dalam keindahan kata-kata. "Jangan pernah membiarkan pria lain menatapmu seperti itu, Maya." Ia berhenti, membiarkan kata-katanya mengendap. "Atau aku akan menghancurkan mereka—dan kau." Maya hanya bisa menatapnya, bibirnya yang baru saja dicium terasa panas dan dingin secara bersamaan. Ia tahu, peringatan itu nyata. Dan untuk pertama kalinya sejak menandatangani kontrak itu, ia menyadari bahwa bahaya terbesarnya bukan berasal dari utang atau Kakek Dirgantara, melainkan dari pria yang kini secara hukum terikat dengannya ini—pria yang menggunakan gairah sebagai senjata paling mematikan. Pria yang memaksanya menjadi miliknya, bahkan jika hatinya menolak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD