Sisi Lain Sang Monster

1924 Words
Napas Maya tersengal, panas yang menggerogoti setiap sendi di tubuhnya terasa seperti siksaan tanpa henti. Kain katun seprai terasa dingin, namun dahinya sendiri memancarkan hawa panas yang membakar. Kepalanya berdenyut, seolah ada palu godam yang memukul-mukul dari dalam tengkorak. Ia bergumam pelan, mencoba mengingat di mana ia berada. Ia ingat lorong panjang dan dingin setelah resepsi pernikahan yang melelahkan. Ia ingat kabur dari kejaran Arlan di tengah hujan deras malam itu, dan ia ingat kesadaran terakhirnya saat ia dibaringkan di ranjang oleh sepasang lengan yang kuat, berbau *vetiver* dan otoritas. Maya membuka mata perlahan. Pandangannya kabur, hanya menangkap langit-langit setinggi sepuluh kaki yang dihiasi ukiran minimalis dan lampu kristal redup. Kamar itu besar, sunyi, dan dingin—seperti jiwa pemiliknya. Tiba-tiba, ada pergerakan di samping ranjang. Sosok Arlan Dirgantara duduk di kursi beludru berwarna gelap, bukannya di balik meja kerjanya yang seharusnya. Ia masih mengenakan kemeja formal berwarna biru gelap, lengan digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang. Wajahnya yang biasanya terpahat sempurna kini tampak tegang, bayangan lelah menggantung di bawah matanya. Di tangannya, ia memegang kain kompres yang baru dicelupkan ke dalam baskom perak kecil yang diletakkan di nakas. Ketika Maya meringis pelan, perhatian Arlan langsung tertuju padanya. Ekspresi beku itu pecah sesaat, digantikan oleh kerutan tipis di antara alisnya yang rapi. Itu bukan ekspresi romantis, tetapi lebih mirip kekesalan seorang dokter bedah yang menghadapi komplikasi tak terduga. "Kau bangun," ucap Arlan, suaranya rendah dan serak, memecah keheningan dini hari yang diselimuti rintik hujan. Nada suaranya datar, tetapi ada urgensi yang terselip di sana. "Suhu tubuhmu sempat mencapai empat puluh derajat. Sekarang tiga puluh delapan koma lima. Jangan banyak bergerak." Maya tidak mampu membalas, tenggorokannya kering dan sakit. Ia hanya menatap pergelangan tangan Arlan yang segera mendekat. Pria itu meletakkan kompres baru di dahi Maya dengan gerakan yang sangat hati-hati—terlalu lembut untuk seseorang yang dijuluki ‘Singa Es’ oleh dunia bisnis. Sentuhan dingin kain itu terasa surgawi melawan bara yang membakar kulitnya. "Aku sudah memberimu obat penurun panas dan antibiotik. Bima mengatur katering untuk mengirim bubur. Kau harus makan," lanjut Arlan, kini beralih memeriksa denyut nadi Maya di pergelangan tangan. Jari-jarinya panjang dan kuat, namun sentuhannya di kulit Maya terasa ringan, seolah takut melukai. Maya memejamkan mata, memproses anomali di depannya. Pria yang membuat kontrak setebal buku, pria yang memperlakukannya tidak lebih dari alat bisnis, kini menjaganya di tengah malam. *Apakah ini bagian dari tugas? Menjaga aset agar tetap utuh?* batin Maya pahit. "Kenapa... kau masih di sini?" Maya akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya, parau dan nyaris berbisik. Arlan menarik tangannya, wajahnya kembali mengeras menjadi topeng ketidakpedulian. Ia berdiri, mengambil baskom perak itu, dan berjalan menuju kamar mandi marmer yang luas. Suara air mengalir sejenak, lalu ia kembali. "Aku punya tanggung jawab," jawabnya singkat, tanpa menatap Maya. Ia sedang membersihkan alat-alat medis mini yang entah sejak kapan sudah tersusun rapi di nakas. "Lagipula, kau membuat kehebohan di hari pernikahan kita, itu menarik perhatian Kakek. Jika kau kolaps sekarang, dia akan mengirimnya kembali ke panti jompo." Penjelasan Arlan berhasil menyentuh sisi logis Maya, tetapi gagal meredakan kehangatan yang mulai menjalar di dadanya—bukan karena demam, tetapi karena rasa dihargai yang asing. "Utang Riko… sudah lunas?" tanya Maya lagi, fokusnya hanya pada satu hal, kompas moralnya. Arlan mengangguk kaku. "Semua tagihan terlampir di meja kerjaku. Kau bisa memeriksanya besok. Sekarang, minum ini." Ia menyodorkan segelas air hangat dan semangkuk kecil bubur polos, yang entah bagaimana masih mengepulkan asap. Maya mencoba mengangkat diri, tetapi kepalanya berputar. Tiba-tiba, lengan Arlan sudah berada di belakang punggungnya, menopangnya dengan kuat. Keintiman fisik ini mengejutkan. Jantung Maya berdebar, bukan karena ketakutan, tetapi karena kedekatan yang tidak terduga. Ia bisa mencium aroma tubuh Arlan, campuran *vetiver* dan sedikit aroma obat yang samar. "Jangan berlebihan. Hanya makan," perintah Arlan, mendekatkan sendok berisi bubur ke bibir Maya. Maya menatap matanya. Di bawah cahaya lampu redup, mata abu-abu Arlan tidak sedingin biasanya; mereka tampak seperti badai yang baru saja mereda, menyisakan kabut dan sedikit kegelisahan. Ia menerima suapan bubur itu. Rasanya hambar, tetapi teksturnya menenangkan kerongkongan yang meradang. Arlan memberinya makan dengan sabar, setiap tiga atau empat suapan diselingi dengan tegukan air hangat. Proses itu terasa sangat lama, namun sekaligus cepat. Ini adalah keintiman tanpa gairah, hanya kemanusiaan yang telanjang di antara dua orang yang terikat oleh kesepakatan dingin. Setelah selesai, Arlan meletakkan mangkuk kosong dan kembali menopang Maya untuk berbaring. Ia memastikan selimut tebal itu melilit tubuhnya dengan pas. "Tidurlah. Jika demammu naik lagi, panggil aku," katanya, lalu ia berjalan menjauh, tidak kembali ke kursi, melainkan berdiri di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan lampu-lampu kota yang berkelip. Maya memperhatikan siluet Arlan yang tinggi dan elegan. Ia berdiri di sana, mengawasi langit, seolah-olah ia sedang menjaga benteng dari serangan tak terlihat. Ia tampak tegar, tak tergoyahkan, tetapi bagi Maya yang otaknya baru saja dilepas dari cengkeraman demam, ia melihat retakan kecil di dinding es pria itu. *Dia tidak seharusnya seperti ini.* *** Waktu berjalan merangkak. Maya tidak tahu pukul berapa tepatnya, tetapi ia bisa mendengar suara adzan subuh yang samar-samar, tertahan oleh ketebalan jendela kedap suara. Ia merasa jauh lebih baik. Keringat dingin membasahi tubuhnya, pertanda demamnya telah turun secara drastis. Ia bergeser sedikit, mencari posisi yang nyaman, dan kemudian matanya terbuka, menangkap pemandangan yang tak terduga. Arlan tidak lagi berdiri di jendela. Ia kembali ke kursi di samping ranjang, tetapi tampaknya ia tidak bermaksud untuk tidur. Ia duduk tegak selama mungkin, tetapi kelelahan akhirnya menguasai sang CEO. Kepalanya terkulai ke samping, menempel di sandaran kursi. Kemejanya yang tadinya rapi kini sedikit kusut. Jaket jas mahalnya, yang sempat ia tanggalkan saat sibuk merawat, kini tergeletak di lantai, tetapi ia masih mengenakan rompi vest-nya. Dia tidur, sama sekali tidak menyadari keberadaan Maya. Maya menahan napas. Ini adalah kali pertama ia melihat Arlan dalam keadaan tidak berdaya. Biasanya, pria ini adalah komandan, selalu mengontrol setiap mikro-ekspresi dan gerakan. Namun, saat tidur, semua lapisan pertahanan itu runtuh. Wajahnya, yang selalu tampak seperti topeng marmer, kini memperlihatkan kelelahan yang mendalam. Garis-garis tegas di sekitar mulutnya melunak. Di bawah cahaya pagi yang mulai menyelinap masuk, Arlan Dirgantara tidak tampak seperti CEO miliarder yang ditakuti; ia tampak seperti pria yang membawa beban dunia di bahunya dan akhirnya menyerah pada kebutuhan fisiologis. Keheningan ruangan itu terasa intim. Maya menyadari bahwa dia berada di satu-satunya titik di mana Arlan mengizinkan dirinya untuk menjadi manusia biasa. Maya teringat perkataan Bima di belakang panggung resepsi: "Tuan Arlan tidak pernah tidur nyenyak." Melihatnya sekarang, Maya bisa percaya. Tidur Arlan tampak dangkal dan tegang, seolah ia siap bangun dan menghadapi bahaya kapan saja. Sebuah dorongan aneh—bukan kasih sayang, tetapi empati murni—mengalir dalam diri Maya. Ia ingin tahu, rahasia apa yang membebani bahu pria ini? Mengapa ia sangat membutuhkan pernikahan kontrak ini? Dan yang terpenting, apa yang ada di balik pintu terlarang di ujung lorong itu? Maya perlahan, dengan gerakan yang nyaris tidak terdengar, mengulurkan tangan. Ia ingin menyentuh rambutnya yang sedikit berantakan. Namun, ia menarik diri. Itu akan melanggar setiap aturan tidak tertulis dari kontrak mereka. Ia memilih untuk memandangnya lebih lama. Dalam keheningan ini, Arlan terasa kurang seperti "monster" dan lebih seperti pria yang sangat kesepian, terkurung di dalam penjara kemewahan yang ia ciptakan sendiri. *** Saat Maya menggeser pandangannya menjauh dari wajah damai Arlan, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di atas karpet Persia tebal, tepat di sebelah kursi Arlan. Itu adalah jas mahalnya, yang terbuat dari wol termahal, tergeletak miring. Dan dari saku jas itu, atau mungkin saku rompi yang ia kenakan, sebuah benda kecil berwarna gelap baru saja terjatuh. Maya memfokuskan pandangannya. Jantungnya mulai berdebar kencang, kali ini bukan karena demam, tetapi karena adrenalin dan rasa penasaran yang mematikan. Benda itu adalah kunci. Bukan kunci biasa. Itu adalah kunci kuno, terbuat dari logam gelap yang telah menghitam karena usia atau pemakaian, dengan ukiran rumit pada bagian pegangannya yang melengkung. Kunci itu berukuran cukup besar, dan anehnya, sangat kontras dengan segala sesuatu yang modern dan futuristik di penthouse Arlan. Kunci itu terasa sangat penting. Otak Maya segera menghubungkannya dengan larangan tunggal yang diberikan Arlan: *Dilarang masuk ke kamar di ujung lorong.* Kamar Terlarang. Rasa dingin menjalar di punggung Maya. Apakah ini peluang? Ataukah ini jebakan? Kelelahan yang mendera Arlan mungkin merupakan satu-satunya celah yang ia dapatkan untuk mendekati misteri terbesar pria ini. Rasa penasaran itu mengalahkan rasa takut dan bahkan ancaman demam yang mungkin kambuh. Sangat perlahan, Maya mulai bergerak. Selimut tebal itu terasa berat seperti timah. Ia harus memastikan tidak ada bunyi gesekan, tidak ada desahan yang akan membangunkan pria yang sedang tidur ringan itu. Ia mengayunkan kaki ke lantai yang dingin, mengambil langkah pertama yang terasa seperti menempuh jarak ratusan mil. Setiap gerakan mengirimkan sengatan nyeri di ototnya yang lemah. Ia berlutut di samping ranjang, merangkak ke arah jas Arlan yang tergeletak. Udara di sekitarnya terasa lebih panas, dihangatkan oleh napas teratur Arlan. Maya mendekati kunci itu. Permukaan logamnya tampak memantulkan cahaya redup pagi hari. Jarak antara tangannya dan kunci itu hanya beberapa inci, tetapi terasa seperti jurang. Akhirnya, jari-jarinya yang gemetar menyentuh kunci yang dingin itu. Ia menariknya pelan, memastikan kunci itu tidak menghasilkan bunyi klik sedikit pun saat terangkat dari karpet yang tebal. Sukses. Kunci itu kini berada dalam genggamannya, terasa berat dan kokoh. Saat ia mencoba berdiri, bahunya tidak sengaja menyentuh pinggiran kursi Arlan. Arlan tersentak. Mata abu-abunya terbuka secepat kilat, ekspresi tidurnya lenyap seketika, digantikan oleh kewaspadaan predator yang terbangun. "Maya?" Suaranya tajam, penuh pertanyaan dan kekhawatiran yang bercampur. Ia mencondongkan tubuh ke depan. "Apa yang kau lakukan di lantai? Kau tidak boleh bangun!" Detak jantung Maya melompat ke tenggorokannya. Kunci itu masih di tangannya. Dalam sepersekian detik, Maya harus memutuskan. Berbohong. "Aku... aku haus," bisik Maya, berusaha meniru kembali suara parau dari tadi malam, meskipun ia tahu suaranya kini terdengar sedikit lebih kuat. Ia menunjuk ke meja nakas. "Aku ingin minum sendiri, tetapi kepalaku pusing." Arlan menghela napas panjang, kekhawatiran di wajahnya mereda, tetapi ketegasan kembali. "Mengapa tidak panggil aku?" Ia berdiri dengan cepat dan efisien, menjulang di atas Maya. Ia meraih pinggang Maya untuk membantunya berdiri. "Kau masih sangat lemah." Maya membiarkan Arlan membantunya. Kehangatan telapak tangannya menembus piyama tipis Maya. Saat itu, dengan Arlan berdiri sangat dekat dan memfokuskan perhatiannya pada membimbing Maya kembali ke tempat tidur, Maya menyelinapkan kunci itu. Ia menyembunyikannya di bawah bantalnya, tepat di lipatan kain, sebelum Arlan sepenuhnya membaringkannya. Arlan mengambil gelas air dan menyodorkannya pada Maya, raut wajahnya kembali menjadi CEO yang mengontrol keadaan. "Tidak ada lagi pergerakan yang tidak perlu. Aku akan meminta Bima memanggil dokter pribadi." Maya mengangguk lemah, menerima air itu. Ia menatap Arlan, yang kini tampak lebih waspada dan sedikit menyesal karena tertidur saat bertugas. "Terima kasih, Arlan," ujar Maya tulus. Arlan hanya mengerutkan dahi, seolah kata-kata terima kasih adalah mata uang asing baginya. "Tidurlah. Aku akan mandi dan bersiap untuk panggilan konferensi." Ia berbalik menuju kamar mandi tanpa melihat ke belakang, menutup pintu dengan bunyi *klik* yang halus. Maya menunggu. Ia membiarkan napasnya stabil kembali, mencengkeram tepi bantalnya. Begitu ia yakin Arlan tidak bisa mendengar, ia menggeser bantal. Kunci gelap itu ada di sana, dingin dan berat, menyimpan sebuah rahasia yang jauh lebih besar daripada utang rumah sakit adiknya. *Pernikahan Kontrak.* Awalnya, itu hanya tentang uang. Sekarang, dengan kunci rahasia di tangannya, Maya tahu kesepakatan itu baru saja berubah menjadi permainan yang jauh lebih berbahaya, dan ia tidak yakin apakah ia siap menghadapi monster di balik pintu itu. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Jantungnya berdebar, bukan karena penyakit, melainkan karena tantangan. Kunci ini adalah kartu asnya, dan ia tidak akan ragu untuk menggunakannya, bahkan jika itu berarti menghancurkan seluruh dinding es yang melindungi Arlan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD