“Ya, Bun?” Wajah Aran muncul di depan pintu kamarnya, awalnya sih biasa, tapi saat Aran melihat ada anggota keluarganya yang lain raut wajah gadis itu berubah heran. Pintu kamarnya yang semula dibuka hanya sedikit kini terbuka lebih lebar, bahkan hingga membuat sosok lain yang ada di dalam kamar itu terlihat. Bunda dan Ayah yang bertemu tatap dengan dengan Noel—yang berdiri canggung di sana tersenyum kaku, canggung, aneh. Pria itu bahkan tidak berkata-kata saking canggungnya, tidak terlihat seperti Noel yang biasanya sama sekali. Entah karena faktor apa, tapi nyatanya memang baik Noel maupun Ayah dan Bunda juga bersikap sama-sama anehnya. “Kenapa sih? Ada apa? Kenapa pada ngumpul di sini?” Bunda seolah disadarkan oleh pertanyaan Aran, juga senggolan di tubuhnya oleh sang suami. “A-ah, y

