32. Tiga Puluh Dua

1284 Words

Kedua tangan Aran bertaut satu sama lain, saling mencengkram. Dia terdiam di depan pintu kamar Nigi, meninggalkan calon dokter itu yang tertidur karena terlalu banyak menangis. Entah pikirannya yang terlalu penuh dengan berbagai hal hingga membuatnya tidak beranjak, atau justru sebaliknya, otaknya terlalu kosong bahkan hanya untuk pergi dari sana. "Aran?" Noel yang kembali setelah berdiskusi dengan Papi di ruang pribadi orang tuanya mendapati Aran yang sedikit pun tidak merespons keberadaannya. Semenit berlalu dan Aran hanya diam, Noel kira Aran memang benar-benar tidak menyadari keberadaannya. Mungkin benaknya terlalu sibuk hingga mengabaikan keadaan sekitar, Noel tahu itu bisa saja terjadi, maka dari itu mulutnya sudah kembali terbuka untuk menyadarkan lamunan panjang gadis di sampingn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD