Riri kelelahan berlari. Dia sampai tidak sadar. Bahwa mengambil jalan secara acak. Sehingga dia tidak tahu, Sekarang berada di mana, dan harus ke mana. Mulai panik, tapi tidak mau membuat orang curiga. Meskipun dia kesasar. Namun, jalanan itu masih ada satu sampai 3 orang yang berlalu lalang. Jadi merasa sedikit lebih aman dan tidak perlu tergesa-gesa.
Mencoba mencari jalan keluar dan meminta bantuan dengan mencari kontak adiknya, supaya cepat dijemput. Sejujurnya dia sudah ketakutan. Karena tidak ada mobil yang lewat. Untuk kembali berjalan ke jalan raya pun sudah terlalu jauh. Sementara jika pesan ojek online, dia juga ngeri. Akhirnya menelpon Galaksi.
Panggilan pertama terlewatkan begitu saja, hingga panggilan ke dua juga tetap sama. Wajahnya sudah pucat pasi. Tangan dan giginya mulai gemetaran. Namun dia tidak berhenti untuk menghubungi sang adik. Sampai akhirnya, dijawab juga panggilan tersebut.
"Halo Dek, di mana?" Tanyanya dengan nada bicara yang tinggi. Dia lepas kendali, antara kesal dan juga senang bercampur jadi satu.
Sementara adiknya yang sedang duduk bersama orangtua di ruang keluarga, dia langsung berdiri menjauh. Karena takut terdengar oleh kedua orangtua mereka. Dia mendengar nada bicara yang kurang bersahabat dari sang kakak.
"Di rumah, ada apa?" Tanyanya balik pada Riri. Dia langsung merubah panggilan suara tersebut, ke panggilan Vidio. Tentu, setelah dia masuk ke dalam kamar.
Riri mengangkat panggilan tersebut, dia dia memperlihatkan di mana sekarang dia berada. Sebuah jalanan sepi yang mulai menggelap karena sore sudah mulai berganti menjadi malam. Senja yang sedari tadi menemaninya berlari, sudah tenggelam beberapa saat yang lalu.
Beberapa orang yang tadi masih berlalu lalang, kini sudah mulai benar-benar sepi. Dia berdiam diri di pinggir jalan.
"Itu di mana?" tanya adiknya yang sudah mulai panik. Melihat situasi yang diperlihatkan oleh sang kakak, sepertinya wanita itu benar-benar tersasar.
Semakin khawatir, ketika pertanyaan itu dijawab dengan sebuah gelengan kepala. Mungkin sekarang kakaknya sedang menangis, entahlah.
"Coba share lokasinya. Lagian abis ngapain sih, pergi dari pagi. Udah malam bukannya pulang malah kesasar, ada-ada aja sih kelakuannya. Makanya kalau mau kemana-mana tuh bilang, kalau begini kan jadinya repot."
Adik laki-laki yang berperan ganda. Dia sudah seperti Abang di keluarga ini. Namun dengan Riri dia jauh lebih muda umurnya. Lelaki itu tidak segan untuk memarahi sang kakak, jika sedang berbuat salah.
"Iya bentar, cepetan s**u ke sini. Gue bener-bener takut, di sini enggak ada pencahayaan sama sekali. Mana tadi ada bapak-bapak doang yang lewat, mau nebeng juga takut. Terus-"
"Cepet share lokasinya!"
Teriak Galaksi. Dia kesal sekali pada sang kakak, bukannya segera mengambil tindakan malah mengajaknya ngobrol.
"Gimana caranya? Lupa."
"Jangan ditutup teleponnya. Bukan aplikasi terus klik yang kayak peniti. Klik yang maps. Buruan!"
Dia berbicara sembari memakai jaket dan juga tasnya. Dia mencari kunci motor yang lupa taruh di mana.
"Itu sudah bisa. Coba Lo cek."
"Iya, bentar tunggu. Lagi cari kunci motor dulu."
"Lu sih, segala kunci lupa naro. Kebiasaan banget, cepetan!"
"Bawel, Lo nyusahin."
Dia segera keluar dari kamar. Lalu, dia mencari keberadaan kunci motor tersebut.
"Cara apa Nak?" tanya Ibunya. Dia memperhatikan gerak gerik sang anak yang cukup aneh.
Dia dengan refleks, memasukan handphonenya ke dalam kantong. Karena takut orangtua mereka melihat Riri yang sedang tersasar.
"Woy Angkasa! Kenapa jadi gelap layarnya? Ih takut tahu."
"Kunci motor Mah. Lihat gak?"
"Di atas kulkas, tadi papah lihat kamu taruh di sana."
"Oh, iya. Makasih Pah. Aku pergi dulu ya."
"Mau ke mana?"
"Beli seblak. Bye!"
Teriaknya langsung keluar dari rumah, tidak lupa memakai helm.
Sementara di dalam rumah, bapak dan ibunya kebingungan.
"Dia sejak akan suka pedes?"
"Enggak tahu, bukannya anti banget sama pedes."
"Tapi, seblak juga bisa beli yang gak pedes Pah."
"Oh kirain. Ada-ada saja, seperti orang yang sedang ngidam dia."
"Iya, aneh. Ini juga, Riri kemana ya? Kok belum pulang jam segini." Ibunya sangat khawatir, karena hari sudah mulai malam.
"Ya sudah, coba hubungi dulu. Dia sedang di mana, bilang pulang jangan terlalu larut malam."
Sementara itu, Juan sudah sampai kosan. Awalnya, dia sudah kembali lagi ke tempat itu, untuk mengajak Riri pulang, tapi dia tidak menemukan di mana wanita itu berada. Sementara arah pulangnya berbeda. Juan pikir wanita itu sudah pulang ke rumahnya.
"Widih. Banyak amat makanannya. Ini kan dari restoran mahal."
"Enggak. Itu dapat gratisan dari kantor. Kalau mau ambil aja, bagi-bagi sama yang lain juga."
Rico mengambil bingkisan itu dengan senang hati, lalu dia memanggil teman-temannya yang lain untuk makan bersama.
"Lo baru jadian ya? Makanya traktir kita gini?"
Tanya salah satu di antara mereka. Sembari menikmati makanan yang dibawakan.
"Nggak, itu makanan sisa di kantor. Gue bawa aja, kasihan kalian pasti belum pada makan."
"Apanya yang sisa ini masih baru, tapi apapun alasannya makasih deh. Lu udah menyelamatkan akhir bulan gue dari makan mie instan."
"Alay!" ujar yang lain meledek temannya itu.
"Gue ke kamar dulu, mau bersih-bersih kalian lanjut aja makan. hangatkan dulu aja, biar pas dimakannya enak."
"Siap!" Jawab mereka serentak. Membuat Juan tersenyum tipis, lalu pria itu masuk ke dalam kamarnya.
Baru saja dia menaruh tasnya, dan bersiap untuk membuka baju. Tapi suara dering getaran handphone berbunyi di saku celananya.
Dengan malas malas, dia tetap melihat siapa orang yang menelponnya pukul segini. Perasaan tadi dia sudah mengantarkan Laura sampai depan rumahnya.
Saat dilihat, dia cukup terkejut karena yang menelponnya adalah adik Riri. Dengan perasaan tidak karuan dia pun mengangkat telepon tersebut. Pikirannya langsung tertuju pada Riri, tidak mungkin anak lelaki itu menghubunginya jika tidak ada hal yang genting.
"Halo, iya ada apa?"
Pemuda itu sudah mengumpat beberapa kali, tapi macet tidak juga bisa dihindari. Dia mencoba untuk memakai jalan tikus, tapi sayangnya di pertengahan gang itu ditutup karena ada yang hajatan. Dengan terpaksa dia memutar arah, hingga terjebak macet seperti saat ini. Meskipun mengendarai sepeda motor, tetap saja sangat sulit untuk menyalip. Karena waktu seperti ini memang jam-jam sibuk, disebabkan oleh para pekerja yang baru keluar dari kantor. Ataupun yang hendak berangkat kerja karena menjalankan shift malam.
Awalnya dia enggan untuk meminta bantuan, tapi karena ini sangat darurat. Akhirnya dia mengalah dan menghubungi Juan. Tidak banyak teman sang kakak yang dia ketahui, apalagi yang diajak ke rumah. Terutama laki-laki, itu hanya Juan yang akrab dengannya.
Beruntung hanya dalam satu kali panggilan, lelaki itu langsung mengangkat telepon tersebut. Dan menanyakan untuk apa dia menelpon.
"Jadi gini Bang, Kak Riri sekarang lagi kesasar. Dia gak tahu acaranya pulang, aku mau ke sana. Namun, kejebak macet karena sedang ada perbaikan jalan. Dari tempat situ lebih deket gak ya? Aku kirim nih titiknya."
Dia langsung mengirimkan lokasi, yang dikirim oleh Riri sebelumnya.
Juan yang mendengar itu tidak mampu berbicara banyak, dia langsung mengambil kunci motor dan keluar dari kamar tidak lupa mengunci pintu.
Bahkan sambungan teleponnya dia lupakan. Handphone tersebut langsung dimasukan kembali ke saku celana. Dia paham, jika lelaki itu pasti panik. Dengan inisiatif langsung mematikan sendiri.
"Mau ke mana?" Tanya Riko. Mereka berpapasan ketika Riko ingin mengambil air minum ke dapur.
"Mau cari Riri, dia tersasar."
"Hah? Kok bisa. Ya udah, tunggu gue bantuin."
"Gak perlu, nanti aja kalau memang butuh bantuan, guee telepon."
"Oke, hati-hati di jalan."
Juan mengangguk, lalu dia pergi.
Di perjalanan, Dia menyesal karena sudah membiarkan wanita itu pulang sendirian. Seandainya dia tadi memaksa untuk mengantarkan pulang, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Beruntung jarak dari terakhir kali mereka bertemu tidak jauh kosannya. Selama di perjalanan dia tetap mengawasi kanan dan kiri, siapa tahu wanita itu sudah berhasil keluar dari tempat tersebut.
Sesampainya dia di sana, barulah Juan membuka handphone-nya. Dia menyesuaikan lokasi dari tempatnya berdiri, ternyata cukup jauh juga wanita itu berjalan. Beberapa kali Juan pernah melewati jalanan itu. Dia segera pergi ke tempat Riri berada.
Benar-benar gelap seperti perkiraannya, dia mencoba mencari di mana sekiranya Riri berdiri. Karena di titik itu wanita tersebut tidak ada. Atau bisa saja tidak akurat. Dia mencoba menghubungi, tapi nomor tersebut berada diluar jangkauan.
Beberapa kali, dia mencobanya namun tidak ada hasil. Ketika dia menelpon angkasa pun tidak diangkat. Mungkin sedang di dalam perjalanan.
"Riri!" Teriak Juan. Agar wanita itu bisa mendengarnya.
Riri berada di tempat yang sama. Namun, dia tadi sedang bersembunyi . Karena dipikir ada orang jahat yang berhenti di sekitarnya. Sementara adiknya bilang dia masih lama datangnya. Begitu mendengar suara Juan, wanita itu segera bangun dan berlari ke arah motor yang menyala.
"Juan!" Teriak Riri ketakutan. Dia mencoba tetap berlari meskipun kakinya sudah sangat lemas sekali.
Juan turun dari motor dan menghampiri wanita itu, tanpa mengucapkan banyak hal. Dia langsung memeluk Riri yang hampir jatuh itu. Wanita tersebut bahkan tidak sadar, bahwa kakinya keseleo. Mungkin karena terlalu bahagia, akhirnya ada orang yang menolongnya.
"Makasih kamu udah datang buat nolongin Aku, maaf malah jadi merepotkan."
Wanita itu berbicara, setelah berhasil duduk di atas motor. Dengan menahan kakinya yang sakit karena berjalan cukup jauh.
"Jangan sok jagoan. Kalau emang gak tahu arah pulang, langsung pesan ojek atau taksi online."
Juan tidak masalah, jika harus direpotkan seperti ini, dia justru khawatir. Seandainya mereka kehilangan kontak bagiamana jadinya wanita itu.
"Iya maaf, lain kali gak akan diulangi lagi."
"Kalau lain kali masih begini, gak akan saya tolongin."
Wanita itu kaget, mendengar sebutan Juan yang memanggil dirinya sendiri Saya. Lelaki itu benar-benar marah.
"Kalau lain kali, adikku menghubungi Kamu buat nolongin aku, jangan diangkat."
Bukan berterima kasih, Riri jadi kesal sendiri. Dengan sikap lelaki itu, karena terlalu egois. Dalam kondisi seperti ini, masih bisa-bisanya menyalahkan. Padahal dia tersasar juga karena Juan. Dia menghindar dari lelaki itu.