Riri tidak merasa lelah, meskipun berdiri lama di tempat itu. Dia menunggu seseorang pulang kerja. Namun, karena belum waktunya, dia masih harus bersabar. Waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Kurang lebih 30 menit lagi orang itu akan keluar dari kantor.
Namun, sebelum orang yang ditunggunya keluar. Dia lebih dulu bertemu dengan Laura. Wanita itu sudah bersiap untuk pulang kerja.
Dia tersenyum ramah.
"Riri? Sedang apa di sini?" tanyanya pada wanita itu. Dia kaget ada Riri di depan kantor.
"Hai Laura. Maaf ya, tadi aku gak sopan sama Kamu."
Riri sedikit merasa bersalah karena sudah berprilaku tidak sopan.
"Gak sopan apa sih? Sudah jangan dipikirkan. Kamu pasti lagi banyak pikiran ya?"
"Heem."
"Ke sini, cari Juan ya? Dia sedang membereskan berkas dulu."
"Enggak, sekalian lewat aja."
Bohong, Laura bisa melihat tentengan di tangan Riri.
"Ayo Laura. Kamu udah gak ada yang ketinggalan kan?"
Posisinya Juan belum melihat Riri. Dia langsung keluar dari pintu dan membelakangi wanita itu.
"Enggak kok. Itu ada Riri. Kamu minggir dulu."
"Hah?" Juan mengubah posisinya, dia melihat ke arah yang ditunjuk oleh Laura.
Ternyata benar, ada Riri yang sedang membawa bingkisan makanan yang dia ketahui itu dari tempat makan yang tadi siang.
"Ada apa?" tanya Juan dingin. Dia bahkan enggan melihat mata Riri.
"Tidak. Aku ke sini mau ketemu sama Laura. Kalau gitu, Aku pulang dulu ya Ra."
"Iya, RI. Hati-hati di jalan. Atau mau dibonceng Juan aja. Aku gampang, bisa naik taksi atau minta jemput."
"Aku biasa naik bus kok. Bye!"
Riri langsung pergi, tanpa pamit pada Juan. Seandainya tadi dia lebih dulu bertemu dengan lelaki itu mungkin tidak akan canggung seperti ini.
"Dia kayaknya mau ketemu Kamu, kenapa dingin banget sih?"
"Aku? Buat apa. Enggak tuh, biasa aja."
"Ya udah. Mending kita pulang."
Laura melihat ekspresi wajah Juan yang sudah tidak bersahabat. Padahal, tadi di dalam kantor biasa saja. Dari pada dia membuat Juan tambah kesal, lebih baik langsung pulang saja.
Sementara Riri, dia benar-benar pulang naik bus. Entah kenapa hari ini dia merasa sangat bodoh. Pergi ke tempat kerja Juan, dan berharap bisa bicara dengan lelaki itu. Padahal, sebelumnya dia sudah mengirimi pesan. Bahwa dia menunggu di luar tempat kerjanya. Sayangnya, lelaki itu belum membaca pesan tersebut. Dia memakluminya mungkin sibuk. Namun, setelah melihat ekspresi wajahnya. Kini, dia mengerti. Juan memang tidak ingin bertemu dengannya.
Dia hanya mampu melihat makanan yang sudah dingin itu. Awalnya, dia ingin mengembalikan. Namun, karena ada Laura. Tidak enak jika wanita itu mengetahuinya. Dia memilih langsung kabur saja.
"Percuma nunggu, kalau kejadiannya malah begini. Buang-buang tenaga aja." Gerutunya, tidak sadar orang di sebelah memperhatikan.
"Kenapa Mbak?" tanya seseorang yang ada di sampingnya. Pemuda dengan wajah yang masih menggemaskan. Sepertinya seumuran dengan sang adik.
"Enggak." Dia langsung berubah ke mode judes.
"Lagi patah hati ya?"
"Heh anak kecil, tau apa sih."
"Kalau marah, berarti bener."
"Dasar bocil."
"Saya maklum kok, pasti habis diputusin. Matanya juga sembab tuh. Emang putus cinta itu menyedihkan sekali ya, seperti makan juga gak enak. Mau ngapain juga berasa serba salah."
"Bisa diem gak?" Tanyanya galak.
"Enggak."
"Arghh!"
"Stop! Saya mau turun."
Riri memilih turun sebelum sampai ke tujuan. Dia benar-benar sakit kepala mendengar ocehan pemuda itu.
Banyak orang di bus itu langsung melihat ke arahnya. Karena suara teriakan tersebut. Namun, karena rasa kesal. Dia tetap cuek saja.
Dia berjalan di trotoar, sembari menikmati senja di sore ini. Perjalanan pulang ke rumahnya masih setengah lagi. Dia tetap santai saja, karena tidak akan ada yang mencarinya.
Sudah 10 menit berjalan, kaki sudah mulai merasa pegal, tapi dia masih senang berjalan kaki. Sampai tidak sadar, bahwa telapak nya lecet.
Tidd
Suara klakson mengagetkannya. Dia melihat ke sisi jalan motor ternyata pemuda itu pria yang membuatnya kesal hari ini.
"Pulang."
Sangat bossy dan penuh dengan tekanan. Seperti orang yang enggan untuk mengajak pulang.
"Aku bisa pulang sendiri."
Riri menjawab dengan tidak kalah, ketus. Dia juga langsung berjalan meninggalkan Juan yang berada di sisi jalan.
Tak lama, tangannya dicekal oleh seseorang.
"Ayo, pulang."
"Lepas! Gak usah ganggu, bukannya Kamu bilang gak mau diganggu ya?"
"Aku gak akan minta maaf karena jelas-jelas kamu yang salah. Namun, jika kamu kenapa-kenapa setelah pulang dari kantorku. Itu akan jadi masalah."
"Mau Kamu apa sih? Tadi aku minta maaf Kamu diam aja. Sekarang sok perduli. Sudah lah, Kamu kan ada Laura."
Jujur saja, Riri itu cemburu pada Laura. Wanita itu bisa dengan bebas bertemu dengan Juan. Bisa menghabiskan waktu bersama. Padahal, dulu Juan bilang tidak suka pada wanita itu. Namun, setelah tidak bersamanya mereka langsung dekat.
"Jangan bawa Laura dalam masalah kita. Dia gak tahu apa-apa."
Suara Juan semakin dingin, dia tidak suka mendengar nama Laura menjadi alasan untuk Riri.
"Iya maaf."
Riri menundukkan kepala. Dia malu, karena lelaki itu lebih memihak kepada Laura. Padahal, maksud dia juga tidak untuk menyudutkan perempuan itu.
Kini, Juan yang merasa tidak enak hati. Padahal, dia sudah berhasil tidak perduli ketika Riri menangis, dan juga menunggunya di depan kantor. Wanita itu berusaha sangat keras. Namun, dia memang belum siap. Jika harus berdekatan bersama wanita itu lagi. Karena masalahnya belum selesai.
"Sekarang, lebih baik Kamu pulang aja. Aku masih ingin jalan-jalan sendirian. Sama satu lagi, ini lebih baik Kamu kasih ke orang yang membutuhkan. Orangtuaku bukan tanggung jawab Kamu."
Juan memasang wajah tanpa ekspresi. Dia benci sekali melihat wanita itu sombong. Tapi dia tahu kenapa Riri bisa sangat kesal padanya. Namun dalam kondisi seperti ini, Juan sangat berharap Riri tidak kekanak-kanakan. Padahal, memberikan makanan bukan hal yang sulit dilakukan.
"Jika kamu tidak mau bilang itu dariku, bilang saja kamu yang beli. Masalah selesai."
"Enggak. Berikan saja pada teman-temanmu."
Riri memberikan bingkisan itu lagi, awalnya dia mau berterima kasih, tapi karena kejadian tadi sirna sudah keinginan tersebut.
Wanita itu langsung berlari sekencang mungkin, menjauh agar tidak terkejar oleh Juan yang sedang berdiri mematung. Melihat wanita itu pergi menjauhinya.
Tak lama, dia pun tersadar, lalu menghela nafas panjang. Tanpa memaksakan kehendak. Juan pun membawa makanan tersebut, dan dia memutuskan untuk pulang ke kostan saja. Sepertinya Riri menang butuh waktu sendiri untuk menyesuaikan diri.
Dengan kecepatan sedang dia mengendarai motor. Sembari terus memikirkan kira-kira ke mana wanita itu pergi. Sepertinya, tidak langsung pulang. Niat awalnya Juan memberikan makanan agar Riri cepat pulang ke rumah. Dia khawatir, jika mengetahui perempuan itu bepergian sendirian. Meski sudah dewasa, tetap saja. Dia belum sepenuhnya percaya. Karena dari apa yang dia ketahui. Jika perempuan itu tidak banyak tahu mengenai daerah sini.
Dia khawatir Riri nanti kesasar.