Jadian

1112 Words
Laura berjalan ke luar kedai tersebut, di jarak yang cukup jelas. Dia bisa melihat Juan yang sedang berdiri menatap ke arah jalan. Lelaki itu seperti sudah gusar. Beberapa kali mengusap rambutnya. "Mas, maaf menunggu lama," ujarnya sembari berjalan mendekat. "Sudah selesai? Enggak apa-apa kok." Juan tidak marah. Dia tersenyum, agar Laura tidak curiga. Bahwa dia sengaja keluar lebih dulu. "Sudah. Ayo kembali ke kantor." ajak wanita itu, tanpa menanyakan apapun lagi, karena dia sudah mengetahuinya. "Iya." Lelaki itu berjalan bersama wanita tersebut. Tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. sudah cukup jelas, jika Juan sudah sangat niat untuk menjauh. "Riri baik ya, dia juga lucu. Keren banget, ternyata dia tukang parkir pesawat. Aku saja yang ingin jadi pramugari tidak berani. Karena takut ketinggian." "Enggak ada hubungannya. Dia kan gak naik pesawat." "Tetep aja. Tanggung jawabnya berat Mas. Coba kalau dia salah kasih arahan? Berapa ratus orang yang ada di dalam pesawat tersebut? Pasti berat jadi dia. Makanya sekarang sudah selesai bekerja di sana." "Dia berhenti, karena ada pengurangan karyawan." Juan memberitahukan tentang Riri dengan sepengetahuan yang dimiliki. "Kalian sudah dekat banget ya?" Pertanyaan itu tiba-tiba terdengar sangat menusuk untuknya. Karena memang seharusnya mungkin mereka sedekat yang dipikirkan oleh Laura. "Biasa saja, Kami pernah cerita tentang hidup masing-masing. Selayaknya seorang teman yang berbagi pengalaman." Juan tidak jujur, dia tidak tahu bagaimana harus jujur. Karena memang mereka kini sudah tidak sedekat dulu dan tidak tahu, akankah bisa seperti dulu. "Terus, Kamu tahu tidak sekarang. Riri sedang kenapa?" "Sedang makan mungkin, tadi makannya belum habis." "Bukan gitu maksudnya. Kamu tahu gak kenapa Riri tiba-tiba nangis tadi? Dia bahkan gak lihat Aku pas pamitan tadi. Aku sengaja gak maksa, takutnya dia malu." Laura awalnya tidak berniat mencari tahu, tapi melihat gelagat Juan yang mencurigakan membuatnya menyinggung mengenai Riri. "Aku gak tahu." Juan tadi sempat mengintip ketika dia meninggalkan Riri, wanita itu langsung menenggelamkan wajahnya di atas meja. Sudah menjadi hal biasa baginya melihat wanita itu menangis di tempat umum. Namun bedanya, kali ini dia menangis karena dirinya. "Lain kali, sebagai seorang teman. Kita boleh kok ikut campur. Kasian, sepertinya beban hidup membuatnya sangat tertekan." Juan berhenti berjalan, dia menatap Laura. Mendengar wanita itu bicara. Membuatnya takjub dengan pemikiran yang dewasa. Manik mata mereka bertemu. "Aku yakin, dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." "Dia butuh Kamu." "Enggak. Aku tidak bisa membantunya. Kali ini, biarkan dia menyelesaikan apa yang sudah ditanamnya." "Apapun yang terbaik. Jangan meninggalkan dia dalam keadaan terpuruk. Jika Kamu tidak mau menyesal di kemudian hari." Juan mulai merasa sayang dengan Laura. Dia merasa ada hal lain yang menjadikan wanita itu unik. Seharusnya, dia tidak perlu mengatakan hal itu. Karena sama saja membuatnya kembali dekat dengan Riri. Artinya, mereka mungkin akan jadi jauh. Namun, Laura tidak bisa seperti itu. "Kenapa wanita selalu bisa membuat para pria harus memilih?" Laura tersenyum, kemudian dia berjalan. Melanjutkan langkahnya menuju kantor yang hanya berjarak 100 meter lagi. Beruntung, suhu tidak sepanas tadi. Dia jadi bisa menikmati berjalan di bawah sinar matahari. "Aku gak punya jawaban Mas. Kami memang keras hatinya. Namun, tidak mungkin membiarkan orang lain menderita." "Bukan kah. Ini jauh lebih baik, agar kita bisa bersama. Katanya Kamu mau serius. Ini aku sedang mencobanya. Jangan membuatku ragu." "Bukan gitu, Kamu harus selesaikan dulu masa lalu. Kehidupan di masa yang akan datang, jika masih ada yang belum selesai. Akan menjadi Boomerang." Meskipun tidak mengerti dengan hubungan yang sedang dilalui oleh Juan, tapi dia merasa itu bukan hanya sekedar teman biasa. "Apa harus seperti itu? Bukankah masa lalu dan masa depan tidak bisa dipisahkan. Kenapa harus diselesaikan?" "Memangnya Kamu bisa menjamin. Kelak, tidak ada hati yang tertinggal. Jangan sampai menyesal. Jika masih mencintainya, kejarlah!" "Jika bisa, kenapa banyak orang yang tidak bisa bersatu dengan orang yang dicintainya?" Laura bungkam. Dia yang tidak pernah mempunyai masalah dengan masa lalu, mana mengerti sulitnya melupakan dan merelakan orang yang dicintai. "Aku dan Riri tidak seperti yang Kamu bayangkan. Aku tidak perlu menjelaskan bagaimana kita padamu bukan? Kami hanya dua orang yang merasakan pahitnya kehidupan. Dipertemukan oleh takdir, dan dipisahkan oleh kesalahan. Jadi, tidak ada yang harus tanggung jawab." "Cie, yang jalan berdua." Sorak teman-teman kantor menggema di ruangan tersebut. Mereka tidak sempat menyelesaikan perdebatan itu. Sementara Laura merasa beruntung, karena dia tidak perlu menjawab ucapan Juan. Sejujurnya, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Pengalaman memang tidak bisa dibohongi. "Enggak, Kami hanya makan di ruko depan sana." "Pajak jadian bisa sekali nih kayaknya." Juan tersenyum, dia tahu mereka pasti akan sangat bersorak melihat kedekatannya dengan Laura. Karena ini seperti mimpi yang memang mereka idam-idamkan. "Pizza 1 meter siap otw." "Hah? Mas! Jangan ih, itu malah buat mereka mikir kita beneran." "Minuman soda 10. Sudah ya, kita kerja lagi." Juan malah tersenyum, lalu dia segera duduk di kursi kerjanya. Ini adalah salah satu cara agar teman-temannya tidak banyak bertanya dan mencecar karena ingin tahu lebih banyak tentangnya dan Laura. Sementara wanita itu hanya bisa menahan senyum, dia gengsi untuk tersenyum lebar. Dia merasa ini seperti pelangi setelah hujan. Lama mencintai sendirian, dan sekarang disayangi balik. Rasanya sangat luar biasa bahagia. Jika sekalipun ini mimpi, dia memilih untuk tidak pernah bangun. "Ucapan mereka tidak perlu dimasukan ke hati. Kita tidak perlu alasan untuk berbuat baik." Bukan Juan namanya, jika dia bisa membuat orang melambung tinggi, lalu menjatuhkannya ke dasar yang paling dalam. Beruntung, Laura adalah wanita yang kuat. "Iya Mas. Aku kerja dulu ya." "Iya, semangat!" "Mas juga semangat!" Mereka saling tersenyum. Lalu, duduk di kursi masing-masing. Sementara Riri masih di tempat makan. Dia sangat malas untuk pulang, karena nanti di sana dia akan ditanya-tanya. Lebih baik diam sebentar di sini, sembari menghabiskan sisa-sisa kesedihan yang keluar sebagai air mata. Banyak pasang mata yang curi-curi pandang ke arahnya. Meskipun dia sudah sangat cuek. Tapi, tetap saja. Lama kelamaan jadi risih juga. Dia iseng, menatap balik mereka dengan tatapan penuh intimidasi. Mereka langsung menunduk, dan melanjutkan aktivitasnya. Merasa tidak nyaman, Riri bangun dan pergi ke kasir. Dia ingin membayar makanan yang dipesannya tadi. "Jadi, semuanya berapa Mbak?" "Meja nomor 11 ya Bu, sudah di bayar sama Mas tadi." "Mas siapa?" "Tadi, yang sempat duduk di situ juga." Riri mengepalkan tangannya, dia tidak terima dibayarkan seperti ini. Setelah menyakitinya, lelaki itu malah berbuat baik. Membuatnya sulit dilupakan. "Oke, makasih Mbak." "Tunggu Bu, tadi juga dipesankan untuk dibawa pulang." Ada dua kantong makanan yang isinya mungkin 5 menu. Dia langsung paham, untuk siapa menu ini diberikan. "Ya sudah. Terima kasih Mbak." Riri mengambil makanan yang sudah di pesan. Kemudian dia bawa pergi ke tempat sebelumnya dia datangi. Ada hal yang harus diselesaikan. Dia merasa ada sedikit harapan, melihat Juan masih sangat perduli pada kedua orangtuanya. Sembari tersenyum lebar, dia berjalan di bawah matahari yang mulai terik lagi. Padahal, tadi sudah mulai redup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD