Paham

1073 Words
Juan tidak melanjutkan makannya, dia hanya menemani Laura untuk makan bersama Riri. Meskipun sebenarnya, dia sangat ingin pergi dari sini. Namun, Laura memaksa untuk memintanya menunggu, setidaknya sampai makanan dia habis. Tidak hanya itu dia juga ingin tahu hal lain yang terlihat janggal baginya. Riri yang tenang, justru membuatnya gelisah. wanita itu sama sekali tidak menunjukan kekecewaan seperti saat terakhir mereka bertemu. "Sebentar ya Juan. Riri. Aku ke belakang dulu." Pamit Laura, dia mau membenarkan riasannya sebelum balik ke kantor. Karena itu merupakan hal yang harus dilakukan. "Oh iya, mau diantar?" tanya Riri. Setelah adegan tadi, dia jadi canggung berdua dengan Juan saja. Apalagi, setelahnya Juan tidak berbicara apapun dan hanya menatapnya tajam saja ke arahnya. "Enggak usah. Aku tahu kok tempatnya, lagipula cuma sebentar aja." Riri mengangguk, kemudian Laura pergi ke toilet. Selepas perginya Laura. Riri diam saja, dia mencoba menyelesaikan makanan yang dipesannya. Menganggap bahwa tidak ada Juan di hadapannya. Sementara lelaki itu terus menatapnya. Meskipun risih, dia tidak mau bicara. "Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" tanya Juan. Dia tidak tahu harus bertanya apa lagi, karena dari sekian banyak pertanyaan, yang terbayang adalah wajah orangtua Riri. Entah bagaimana respon mereka, ketika sadar bahwa dirinya sudah lama tidak ke sana. Selain mencari mereka juga pasti sudah curiga ada yang tidak beres. "Menurutmu?" Bukan menjawab, Riri malah balik bertanya. Dia yakin, lelaki itu juga tahu. Bahwa orang tuanya pasti menanyakan keberadaan lelaki tersebut. "Bilang maaf sama mereka. Aku gak bisa ke sana." Juan tidak bisa menjanjikan apapun, meski hanya untuk datang. "Masalah Kamu itu sama aku. Kenapa orangtuaku juga yang kena imbas? Memangnya tidak bisa memaafkan? Aku harus gimana, supaya bisa termaafkan." Sesak. Riri mengatakannya dengan nafas yang tersendat-sendat. Tidak menyangka, efeknya akan sebesar ini. Padahal dia sudah menyiapkan mental seandainya bertemu dengan Juan. Namun, ternyata tidak semudah yang dia kira. "Masalah kita itu bawa-bawa keluarga. Sekarang bagaimana? Apa mereka sudah bertanya, kemana calon menantunya pergi? Kenapa tidak datang-datang ke rumah." Riri diam, karena memang itu kenyatannya. Dia harus selalu mencari alasan yang tepat. Bagaimana menyakinkan orang tua tidak semudah itu. "Sudah terasa bukan? Itu baru permulaan Ri. Bagaimana jika mereka sudah tidak percaya lagi dengan alasanmu. Mereka akan berpikir Aku bukan orang baik. Dan di waktu itu juga, Aku akan kehilangan muka di hadapan mereka. Semua karena ulah Kamu." Riri merasa seperti sedang di marahi, dia benar-benar ketakutan. Sampai-sampai menitikan air mata, mendengar suara Juan yang meninggi. "Harusnya yang bertanya itu aku. Bagaimana caranya aku bisa meyakinkan mereka tanpa menyakiti pihak manapun. Terutama Kamu, gimana caranya mereka bisa percaya lagi sama Kamu, seandainya tahu yang sebenarnya. Sudah biarkan seperti ini saja. Aku yang mengalah untuk menutupi semuanya. Jika menyelematkan memang harus dengan cara mengorbankan salah satu di antara kita. Biarkan saja itu aku." Wajah Riri sudah memerah. Dia sangat menyesali kelakuan cerobohnya. Sehingga dia merusak hubungan yang sangat baik. "Kembalilah, biar aku yang mengatakan. Bahwa aku yang salah, dan membuat kebohongan besar." Riri mengatakannya, dengan sisa tenaganya. Sebelum air mata deras. Juan begitu dewasa menyikapinya. Tidak seperti dirinya yang masih kekanak-kanakan. Dan hanya mementingkan diri sendiri. "Terus, gimana kalau Bapak kenapa-kenapa? Belum lagi ibu yang nantinya akan kepikiran. Kamu harus berpikir jauh. Kita bukan sedang bermain-main. Aku bukan tidak menginginkanmu. Jika memang jatuh cinta itu mudah. Sudah sejak beberapa bulan lalu aku membawamu ke pelaminan." "Maafin Aku." "Sebelum kita punya jalan keluar. Jangan ganggu aku dulu. Sepertinya masih sangat sulit untukku menerima keadaan ini. Biarkan kita mencari jawaban sendiri-sendiri. Jangan pernah mengharapkan lelaki sepertiku. Itu hanya Akan membuatmu sakit hati." Meskipun perkataan lelaki itu sangat menusuk, tapi yang diucapkan Juan memang benar adanya. "Aku gak mau. Aku pengen kita seperti dulu lagi. Kita lupakan saja ini. Biar nanti aku yang menjelaskan. Mereka pasti akan menerimanya." "Itu bukan solusi." Juan bangun dari kursinya, jujur saja dia tidak kuat melihat Riri menangis, ingin sekali merangkul dan mengusap air matanya. Namun, dengan segenap jiwa dan raga dia tahan agar tidak melakukan itu semua. "Bilang pada Laura. Aku tunggu di luar." Tegasnya, lalu dia berjalan meninggalkan Riri sendirian yang sedang menangis. Biarlah, kali ini dia menjadi egois. Karena pada dasarnya, mereka memang harus belajar dari kesalahan. Tangan Riri ingin sekali mencekal Juan. Namun, dia sadar tenaganya tidak akan cukup untuk menahan lelaki itu pergi. Sementara, Laura yang sudah selesai dari kamar mandi sejak tadi, melihat adegan tersebut dia hanya bisa bertanya-tanya. Karena dia tidak berani mendekat. Apalagi, melihat Riri menangis. Dia membenarkan pemikiran, bahwa mereka berdua sedang dalam masalah. Sikap Juan juga berubah akhir-akhir ini. Belum lagi, dia juga sering kali murung dan tidak konsen. Apalagi, beberapa hari yang lalu. Ketika lelaki itu berada di samping kantor. Dia bisa merasakan, bahwa Juan sedang di posisi kehancuran secara perasaan. Karena dia sendiri sering merasakannya. Namun, Laura sangat pintar menutupi dengan sikapnya yang ceria. Seolah, hidupnya selalu bahagia. Padahal, semua hanya fatamorgana saja. Ada beberapa waktu, di mana dia juga merasakan sakit hati seperti yang lain. Apalagi, dengan hidupnya yang tidak mau maju. Dia masih mengharapkan Juan yang ternyata diharapkan oleh banyak orang. Meskipun tidak tahu, apa yang mereka bicarakan. Namun, dia bisa melihat bagaimana cara Riri mencoba meyakinkan lelaki itu. Sama sepertinya yang mencoba berjuang. Bukan perkara apa tidak ada lelaki lain, tapi jika orang itu bukan Juan. Dia belum bisa menerimanya. Hatinya sudah lebih dulu berlabuh pada pria yang selalu menemukannya dalam keadaan bersedih. Meskipun saat ini keadaan berbalik. Lelaki itulah yang membuatnya sedih. Memang hidup akan selalu berputar, dan tidak selalu berpihak kepadanya. Riri menenggelamkan wajahnya ke meja, dia menekuk kedua tangannya, supaya tidak ada yang melihatnya menangis. Meskipun sudah berjanji, tidak akan pernah menangis di tempat ramai, apalagi sampai terlihat orang. Namun, hal itu tidak bisa ditepati. Lelaki yang sudah dikecewakan itu, kini sudah tidak lagi perduli padanya. Dia sudah kehilangan hal berharga dalam hidupnya. Lagi, dan lagi. "Ri, kenapa? Juan nya mana?" Laura berpura-pura tidak tahu, dia mendekat ke arah Riri. "Ditunggu di luar. Susul aja sana," ujarnya dengan suara yang parau khas orang yang sedang menangis, tapi dia tidak mau melihat ke arah wanita itu. Riri tidak menegakkan wajahnya, meskipun begitu. Laura cukup paham untuk tidak memaksakan kehendak pada wanita itu. "Ya sudah, Aku susul Juan dulu ya. Sampai bertemu lagi." Laura langsung pergi, dia bukan tidak simpati, tapi memberikan waktu untuk Riri. Dia hanya bisa berdoa, semoga masalah di antar mereka berdua segera terselesaikan. Selepas Laura pergi pun, dia masih betah dengan posisi seperti itu. Banyak pasang mata yang memperhatikan. Namun, dia cuek saja. Karena tidak tahu, bahwa orang-orang melihatnya aneh..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD