Pekerjaan Riri

1130 Words
Wanita itu terlihat sangat cuek sekali, apalagi ketika Juan masih terus menatapnya dari tempat dia makan. Sampai Laura sadar, dia tidak salah sangka. Memang ada yang diperhatikan oleh lelaki itu. Dia pun perlahan mencari tahu apa yang sedang diperhatikan oleh pria itu. "Aku ada yang salah ya? Kenapa? Ada cabai di gigi?" tanyanya sedikit serius. Dia benar-benar overthingking karena Juan seperti menatapnya terus menerus. Namun, bukan dengan tatapan memuja melainkan seperti menindas. "Tidak ada, maaf membuatmu tidak nyaman. Aku ke belakang sebentar ya." Laura mengerti maksudnya, Juan mau ke toilet kemungkinan besar. Pantas saja, dia terlihat sangat gelisah. Ternyata sedang menahan panggilan alam. Bukan ilfill. Wanita itu malah menahan tawa. Sekarang, dia jadi lebih lega. Sementara Juan, dia memang benar-benar ke toilet, tapi setelahnya keluar dari kedai tersebut, dan mencoba untuk mengirimi Riri pesan. Meskipun ini tidak penting, tapi dia ingin agar wanita itu tidak membuntutinya. Dia tidak sadar, ini adalah tempat umum dan siapa saja berhak untuk datang ke mari. Dia tidak menganggap pertemuan ini sebuah ketidaksengajaan. Karena melihat wajah Riri seperti orang yang sedang mencoba menunjukan bahwa dia lebih hebat darinya. Juan benar-benar tidak suka. Riri sadar, dia pasti akan mendapatkan sebuah panggilan atau pesan singkat dari lelaki itu. Namun, dia sengaja membiarkannya. Ternyata cukup menyenangkan membuat Juan ketar ketir. Padahal sebelumnya mereka pernah bertemu di mall. Sayangnya, untuk kedua kali dia tetap saja kalah. Juan memang sepertinya ditakdirkan bersama dengan wanita itu, bukan dengannya. Enak sekali jadi Juan, setelah kehilangannya, masih memiliki orang lain sebagai backup. Sedangkan dia, seperti kehilangan semuanya. Bahkan orang rumah pun menanyakan ke mana lelaki itu tidak pernah datang. Sudah pesan ke tiga, tapi Riri belum juga membalasnya. Ketika dia melihat ke dalam. Wanita itu ternyata sedang asik makan. Akhirnya, dia memutuskan untuk menelpon saja. Namun, tetap saja, Riri cuek dan malah membalikkan layar handphonenya. Terpaksa, Juan akhirnya mengalah. Dia menelpon Laura dan mengajak wanita itu segera pergi dari sana. Jujur saja, dia tidak merasa nyaman. Selain masih marah, dan kecewa. Juan belum siap berdekatan dengan Riri kembali. Laura yang mendapatkan panggilan tersebut, segera mengangkat telepon. "Halo, iya. Kenapa Mas?" Tanyanya kala sudah mengangkat panggilan tersebut. "Apa? Pulang. Kamu di mana emang?" Laura bangun, dia mencari keberadaan Juan, bukan melihat lelaki itu dia malah melihat Riri yang sedang asik makan, mungkin karena terganggu oleh suaranya. Wanita itu melihat ke arahnya. "Hai..., Mas mending Kamu masuk. Ini ada temanmu yang waktu itu kita ketemu di Mall." Laura langsung menutup teleponnya dan menghampiri Riri yang sedang duduk santai sembari memakan makan siangnya. "Kamu eum Riri kalau gak salah namanya ya?" tanya Laura. Wanita baik itu menyapanya dengan sangat hangat. Membuatnya langsung insecure. Hanya dengan hal sederhana seperti ini. "Iya, silahkan duduk. Kamu lagi makan siang juga?" Tanyanya berbasa-basi. "Iya. Sama Mas Juan juga loh. Dia lagi di luar, kayaknya lagi ada masalah sama pencernaannya." Riri tersenyum saja. Karena dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan itu akibat dari ulahnya. "Kamu sudah selesai makannya?" "Belum, tapi Mas Juan ngajak pulang ke kantor. Tahu gitu, tadi kita makan barengan aja." "Ya sudah, ayo bareng." Tawaran yang sangat bagus. Riri memang pintar jika urusan seperti ini. "Tapi Mas Juan nya pengen pulang ke kantor." "Kalau dia gak mau, biarin aja. Nanti Aku yang anterin kamu ke kantor. Biar deh, dia pulang duluan." "Bener juga." Juan kini dibuat kaget, jantungnya berdebar kencang. Melihat dua wanita itu sedang duduk sembari menikmati makanan. Niat hati ingin membuat mereka tidak bertemu, malah makan bersama. Dengan langkah gontai. Juan tetap menghampiri, dia takut jika ditinggalkan malah akan membuat Riri menanyakan sesuatu atau membocorkan masalah mereka kepada Laura. "Mas Juan, gak jadi pulang? Pasti karena ada Riri." Laura sebenarnya merasa curiga, tapi dia tidak mau terlalu kelihatan. Dia masih ingat betul. Perubahan sikap Juan, setelah bertemu Riri waktu itu. Lelaki itu menjadi tidak nyaman dengannya. "Membuang-buang makanan gak baik." Juan mencari alasan, dia mengambil makananya dan duduk bersama, lalu diletakkannya makanan di atas meja. "Kamu sedang apa?" tanyanya dingin. Laura dibuat penasaran. Karena tingkah mereka berbeda dengan yang terakhir Laura melihatnya. "Makan. Apalagi?" Jawabnya dengan santai. Seakan tidak perduli dengan nada bicara Juan. Dia malah seperti orang yang menantang. "Maksudnya, sedang apa berada di daerah sini?" Tidak menanggapi ketusnya Riri, dia memperbaiki pertanyaannya yang memang kurang jelas. "Ada urusan. Sekalian deh makan. Ternyata dunia sempit, kita jadi bertemu di sini." "Iya, sempit banget ya. Beruntung bisa bertemu lagi, Kamu kerja di daerah sini juga memangnya?" Laura ikut nimbrung. Dia tidak mau jadi obat nyamuk. Meskipun kedua orang itu tampak seperti orang asing. Tapi, ada tatapan berbeda yang dapat dirasakan. "Aku pengangguran." "Aduh maaf. Aku gak bermaksud." "Enggak apa-apa kok, ini juga lagi nyari-nyari." "Kayaknya, di tempat kita ada loker ya Mas?" Tanya Laura, dia merasa mengingat-ingat ketika atasan mengatakan sedang mencari karyawan. Riri merasa telinganya panas, ketika wanita itu terus memanggil Juan dengan sebutan Mas. Seakan mereka sudah sangat dekat dan lebih dari sekedar teman kerja. Padahal, dulu Juan dengan lugasnya mengatakan bahwa tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita ini.. Sayang sekali, jika benar-benar mereka tidak memiliki hubungan, tapi wanita cantik itu mengklaim Juan adalah miliknya. Anehnya, Juan tetap bisa bertahan, sedangkan dia yang bersikap biasa saja ditinggalkan. Riri berpikir menang good looking itu juga lah yang mempengaruhi Juan bertahan lebih lama bersama wanita itu. Jadi, dia tidak malu. Seandainya Laura menempel terus padanya. "Enggak tahu. Kayaknya sudah penuh. Kemarin kan banyak yang ngelamar." "Oh ya, kayaknya masih bisa sih Ri, nanti Aku coba tanya aja." Juan sepertinya tidak menginginkan dia untuk bekerja di tempat yang sama dengannya. "Enggak ada Laura. Aku kan kemarin sudah ketemu sama kandidatnya." "Masa sih, kok Aku gak tahu ya." "Sudah Laura. Aku juga gak pandai itung-itungan. Kerjaan ku yang dulu santai banget soalnya. Gak perlu skil." "Emang kerjaan Kamu yang dulu apa?" Laura kepo, kenapa bisa Juan dekat dengan Riri yang dia ketahui adalah nasabah mereka. Padahal, baru bertemu beberapa bulan lalu. "Tukang parkir." Laura dan Juan langsung diam. Dia menatap bersama ke arah Riri yang sangat santainya bilang seperti itu. Apalagi lelaki itu yang selama ini bersamanya. Namun, tidak pernah tahu. Karena memang tidak pernah mau menceritakannya lagi. Dia suka ingat masa lalunya yang pahit. Juan merasa bingung. Bagaimana bisa tukang parkir memiliki uang sebanyak itu. "Haha, bercanda mulu." Laura mencoba untuk menetralisir ketegangan di antara mereka. "Enggak Aku serius, emang tukang parkir. Bedanya Aku tukang parkir pesawat." Glek Riri memang tidak seharusnya diremehkan. Penjelasannya sudah cukup mewakili bahwa dia bukan lah orang yang lemah. Juan menatap Riri, dia tidak menyangka. Jika selama ini, itulah prosesi wanita tersebut. "Hebat banget!" Laura tidak sanggup menahan keterkejutannya, selain terkejut dia juga terpukau. Merasa beruntung bisa kenal wanita yang pernah memiliki profesi yang sangat langka menurutnya. Karena yang dia ketahui kebanyakan laki-laki yang melakukan hal itu. Meskipun Laura juga belum sepenuhnya percaya, dia merasa Riri memang anak yang senang bercanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD