Marahnya Wanita

1075 Words
Di tempat kerja Juan. Lelaki itu kini sedang duduk santai. Tangannya mengetik sesuatu di layar handphonenya. Seperti sedang membalas pesan seseorang, bahkan tidak menyadari bahwa seseorang tengah memperhatikannya sedari tadi. "Mas Juan. Nanti ikut ke rumah yah." Permintaan seseorang yang beberapa bulan ini cukup dia jauhi. Tidak secara langsung, tapi sepertinya wanita itu menyadari. Bahwa ada yang beda dari perlakuan Juan yang biasanya. "Ada apa Laura?" tanya Juan sebelum mengiyakan ucapan wanita itu. Dia baru saja memiliki janji bertemu dengan Riri. Niatnya, malam ini mau pergi mengantar Riri beli baju untuk hari kelulusan adiknya. "Aku ngadain acara makan-makan di rumah. Anggap aja rasa syukur. Karena tambah umur." Juan baru ingat sekarang, tadi pagi Laura mendapatkan kado spesial dari teman-temannya. Berupa kejutan seperti biasa. Namun, Juan telat. Dia datang kesiangan hari ini. "Aduh, maaf Laura. Aku sudah ada janji." "Gak bisa ya Mas? Sebentar aja." Kali ini, Laura terlihat memelas. Wanita itu sudah hampir menyerah untuk mendapatkan perhatian dari seorang rekan kerjanya ini. "Maaf yaa." Juan kini tidak enak hati, dia tidak tega menolak. Namun enggan untuk mengiyakan. Karena jika dia sampai gagal mengantar Riri pergi. Urusannya lebih panjang dan bahaya. Tidak bisa ditunda-tunda lagi. Acara adiknya juga besok. "Ya sudah, enggak apa-apa Mas." Laura tampak sedih. Dia mungkin kecewa, setiap ajakannya pada Juan, pasti selalu ditolak oleh pria itu. Bukan tanpa alasan sebenarnya, Juan menjauhi Laura. Dia ingin wanita itu terbebas dari perasaannya. Mencintainya hanya akan membuat sakit. Juan saja tidak mencintai dirinya, bagaimana dia bisa mencintai orang lain. Begitulah kira-kira pandangan kenapa Juan memilih bertahan dengan kesendirian. Ditambah, hidupnya setelah kedatangan Riri menjadi lebih berwarna. Dia jadi tahu, apa itu kesal menunggu kabar, membujuk perempuan marah, menerima sebuah perhatian kecil, dan masih banyak lagi. Bahkan, dia sangat nyaman dengan itu. Tidak masalah, jika terus menjomblo asalkan Riri tidak pergi. Dia sangat yakin, bahwa Laura bisa mendapatkan seseorang yang lebih pantas. Setidaknya orang itu harus mencintainya. Tidak seperti Juan yang hanya bisa memberikan harapan saja. "Iya, Maaf ya sekali lagi." Telapak tangannya dia satukan, sebagai tanda permohonan maaf. Laura hanya mengangguk, kemudian tersenyum tipis. Sebelum akhirnya berpamitan untuk pergi. Masih 5 jam kedepan, tapi dia harus dihadapkan dengan posisi canggung seperti ini. Sesekali dia melirik ke arah wanita itu, tapi Laura hanya menunduk saja. Juan benar-benar merasa bersalah, di hari spesialnya. Wanita itu malah mendapatkan kekecewaan darinya. Meskipun bukan tanggung jawab Juan sebenarnya. Namun, sebagai manusia dia juga memiliki rasa empati. "Lo parah banget si Mas. Kalau gue jadi Lo gak akan sia-siakan berlian kayak dia." "Berisik." "Ih serius, nanti kayak di film loh, Lo bakal nyesel terus sadar ternyata cinta sama Laura. Tapi, di saat itu juga wanita itu udah gak cinta lagi sama Lo. Aduh, pasti nanti bakal galau berat. Perempuan itu gak akan balik dua kali. Mereka akan berusaha sampai hatinya tertutup. Seperti yang dilakukan Laura." "Kapan kira-kira dia akan berhenti?" "Saat Lo patahkan hatinya berulang-ulang, saat dia udah lelah makan harapan, dan terakhir yaitu dia sadar. Kalau Lo emang bukan yang terbaik. Nanti, semisalnya Lo nyesel. Gue pastiin. Laura gak bakal mau liat Lo, bahkan cuma menatap doang dia pasti ogah. Percaya sama Gue." Juan diam sejenak. Dia memikirkan ucapan temannya, dia tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang dikatakan. Karena pada kenyataannya wanita meskipun kecewa, dia tetap memilih kembali jika hatinya masih ada untuk lelaki tersebut. Contoh nyatanya adalah Lara. Kurang sakit apa wanita itu, hidup ini juga berat bersama suaminya. Namun kenapa, diet ya udah mau untuk berpaling. Padahal jelas-jelas kebahagiaan ada di depan matanya. Juan berjanji bersedia untuk membahagiakan wanita itu. Memang pada dasarnya hati tidak bisa dipaksakan. Sekeras apapun usaha yang dilakukan, jika hatinya bukan untuk orang tersebut maka tidak akan pernah bersatu. Kecuali memang mereka ditakdirkan untuk bersama. "Malah bengong, Mas Juan! "Ah iya. Sorry!" Terkadang dalam waktu istirahatnya, dia masih sempat untuk memikirkan Lara. Hatinya belum sepenuhnya sembuh. Dia masih dalam masa pemulihan, tapi tidak separah dulu. Tanpa sepengetahuan siapa pun, bahkan Riko dan juga Kevin. Dia masih diam-diam memperhatikan Lara dari kejauhan. Rasa rindunya terhadap wanita itu hanya bisa terobati ketika sudah melihatnya baik-baik saja. Namun, dia sengaja membuat seolah-olah. Mereka berpikir bahwa dirinya sudah sepenuhnya move on. Karena hanya dengan itu, mereka tidak lagi membicarakan Lara di depannya. Menasehatinya tentang wanita itu yang bukan miliknya. Juga masih banyak hal yang membuat Juan muak. Anggap saja dia munafik, tapi hatinya yang menentukan diri sendiri bukan orang lain. Tidak peduli bagaimana mereka menilainya, lagipula Juan hanya melihat Lara dari kejauhan. Hanya menatapnya dalam kerinduan, berharap ada keadilan untuknya. Jika dia memang tidak bisa mendapatkan wanita itu, setidaknya nanti akan ada wanita seperti Lara untuknya. Baru-baru ini, dia melihat wanita itu sangat bahagia. Bayi yang menjadi saksi kandasnya hubungan dia dengan Lara sudah tumbuh menjadi manusia yang menggemaskan.. Lara memang tidak perlu diragukan lagi, dia adalah ibu rumah tangga sejati. Dia memang tenang melihatnya bahagia, meskipun hatinya seperti tertusuk oleh ribuan jarum. Karena kebahagiaan wanita itu bukan karenanya. Juan masih menjadi lelaki menyedihkan di tahun ini. Meskipun tidak separah dulu. Namun untuk ukuran laki-laki yang katanya kebanyakan buaya darat. Dia memang payah, melupakan satu wanita saja sudah hampir menyerah. "Hati-hati kesambet Mas." "Hmm." Mereka kembali bekerja, dari ujung sudut mata Laura melihat interaksi Juan. Dia hanya berpura-pura tidak dengan apa yang mereka katakan. Meskipun bisik-bisik. Namun masih bisa kedengeran dengan jelas. Dia kembali salah paham. Mungkinkah Juan sebenarnya ada niatan untuk bersama dengannya. Mungkin sedang menunggu waktu yang tepat. Dia kesal dengan dirinya sendiri yang masih saja berharap meskipun beberapa kali tertolak. Dia tidak bisa mendeskripsikan apa yang dirasakan. Banyak pria yang mendekatinya tapi yang ada dipikirannya malah Juan. Padahal, lelaki dari berbagai kalangan menghampirinya. Banyak yang wajahnya ganteng melebihi Juan. Mereka juga jelas-jelas mencintainya. Namun, cinta memang sulit untuk dipaksakan. "Laura, itu ada nasabah. Kamu kenapa bengong?" Juan menghampirinya, sembari membisikan kata itu. Ternyata lelaki tersebut memperhatikannya. "Ah iya. Maaf ya, atas ketidaknyamanannya." "Kamu sakit?" Juan yang masih merasa bersalah, karena sudah menolak Laura. Kini malah perhatian pada wanita itu. Dia tidak tahu saja, perlakuan seperti ini justru berbahaya untuk orang yang sedang jatuh cinta. "Enggak!" Sentak Laura. Dia lepas kendali, saat jantungnya berdebar kencang. Akibat tangan Juan yang ada di dahinya. Dia pun kaget dengan apa yang dilakukan. "Maaf." "Enggak apa-apa. Aku yang lancang, maaf." Lelaki itu berbalik arah, kemudian pergi ke tempatnya lagi. Awalnya dia kasihan, takut wanita itu dikomplain oleh nasabah. Namun, mendapat respon kurang baik. Mungkin, Laura marah padanya karena menolak ajakan ke rumah wanita itu. Juan memakluminya. Dia memang pantas dibenci.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD