Wanita itu kini sangat ekspresif, ketika dia tidak suka dengan sesuatu hal ketika bersama Juan. Maka, dia langsung akan bilang. Dia juga sudah tidak malu lalu pada Juan. Mereka benar-benar dekat saat ini. Seperti orang yang sedang mempunyai hubungan spesial.
Tidak ada rahasia di antara mereka kecuali perasaan. Karena terakhir kali mereka membahas soal pacaran keduanya marahan. Juan merasa kesal pada Riri Karena wanita itu ingin memiliki pasangan, sementara wanita itu kesel karena Juan tidak mau mengerti keadaan. Bagaimanapun dia berpikir bahwa dirinya membutuhkan sosok laki-laki yang akan menjaganya terus-menerus. Karena hubungan mereka tidak bisa diharapkan.
Kenapa Riri begitu yakin, karena Juan sendirilah yang mengatakan hal tersebut. Dia sering kali mengungkapkan perasaannya, tapi dia selalu diiringi dengan kata teman di akhir ucapannya.
"Aku tuh sayang banget sama kamu loh, sahabat terbaikku."
Begitulah kira-kira ucapan yang sering diungkapkan oleh Juan. Terkadang membuat Riri bingung sendiri, jika memang lelaki itu menganggapnya hanya sebagai seorang sahabat. Kenapa Juan memperlakukannya lebih dari seorang pacar.
Banyak pengorbanan yang dilakukan oleh lelaki itu padanya, keluarganya. Mungkin bagi Juan itu hal yang biasa, tapi menurutnya ini memiliki efek yang sangat luar biasa. Di mana sudah mulai timbul beberapa pertanyaan dari orang
tua mengenai hal ini.
Riri sepenuhnya sadar, dia setuju tidak ada kata sahabat di antara perempuan dan laki-laki kecuali keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing.
Dan saat ini, dia memikirkan orangtuanya. Mereka akan sangat kecewa, jika pendamping hidup anaknya bukanlah Juan. Sebisa mungkin dia mencoba untuk menjelaskan. Namun tidak ada yang mau menerima alasannya.
"Jika memang Juan bukan pacarmu, segeralah mencari pasangan Nak. Kami ingin melihatmu bahagia."
"Bu..., Aku masih butuh beberapa waktu untuk menyesuaikan diri."
Berhitung dari saat dirinya berhenti bekerja ini sudah masuk bulan ke-5 waktu berjalan begitu cepat, uang yang dimiliki pun semakin menipis. Mereka tidak mengharapkan menantu yang bisa mencukupi kehidupan keluarga ini. Setidaknya ketika Riri sudah ada yang bertanggung jawab. Mereka bisa menjadi lebih tenang.
Galaksi sudah mulai bekerja, tentu tanpa Riri. Hanya orang tuanya lah yang mengetahui hal ini, karena jika dia jujur pasti akan menjadi masalah. Kakaknya tidak akan mengizinkan dia untuk bekerja, sementara dia baru mau memasuki dunia perkuliahan.
"Sampai kapan? Jika Juan tidak bisa diharapkan, kamu bisa cari yang lain. Meskipun kami sangat berharap besar, tapi semua kembali kepada kamu. Rumah tangga bukan untuk satu hari dua hari, pilihlah calon yang benar-benar bisa memberikan arti sebuah keluarga. Tidak perlu hidup mewah, kamu hanya perlu bahagia. Jangan menjadikan uang sebagai tolak ukur dalam menerima pasangan."
"Iya Bu. Riri tidak pernah seperti itu. Namun untuk saat ini, sepertinya memang sendiri adalah jalan yang terbaik. Ibu dan bapak tidak perlu khawatir. Karena jodoh sudah ada yang mengatur, jika memang sudah waktunya Aku berumah tangga. siapa yang akan bisa menghalanginya?"
Jawaban yang sangat realistis.
"Dengan Juan ataupun bukan. Aku akan tetap menikah, tapi tidak untuk saat ini."
Kepalanya sudah sangat pusing, menurutnya menikah bukan cara untuk menyelesaikan masalah ini. Namun pikiran orang tuanya tetap pada pernikahan. Sulit sekali rasanya untuk mengubah pola pikir mereka. Karena biasanya, yang sudah memakai nasi lebih dulu akan menjadi lebih kuat. Sehebat apapun dia membuktikan, di mata orang tua dia tetaplah anak kecil. .
"Iya Nak, Ibu mungkin masih bisa memakluminya. Namun bagaimana dengan ayahmu? Dia sudah kehilangan harapannya, kepercayaannya pun tidak banyak. Ketika dia sudah yakin pada satu lelaki itu, sepertinya Kamu harus berusaha lebih giat."
"Ya Bu. Jika memang aku dan Juan sudah jalannya untuk bersama. Aku akan segera memberitahukan pada ibu."
"Jangan bilang, jika dia juga sedang mencintai seseorang. Ibu yakin itu Kamu orangnya."
Salah paham seperti ini lah yang membuat Riri semakin serba salah, Juan sangat senang membuat orang tuanya berharap. Padahal dari awal dia sudah menegaskan pada lelaki itu. Jika hatinya untuk orang lain, jangan coba-coba mendekatinya dengan cara seperti melihatnya seorang wanita dari sisi laki-laki.
Jika sudah begini, siapa yang harus disalahkan?
"Assalamualaikum!" Teriak seseorang yang mereka berdua sudah hafal betul siapa pemilik suara tersebut. Saat melihat ke arah jam dinding, biasanya di jam-jam seperti inilah Juan akan datang.
"Waalaikumsalam," jawab ibu dengan sangat antusias. Dia bahkan menghampiri pemuda itu, sementara Riri hanya duduk saja menunggu Juan yang menghampirinya.
"Baru juga datang, udah kusut banget muka. Kenapa sih? Ada apa bilang?"
Perhatian kecil ini, seringkali didapatkannya. Bahkan tangan Juan yang menangkup pipi Riri. Adalah bukti seberapa sering Juan membuatnya bergetar hebat. Mungkin terlihat biasa, tapi pada kenyataannya jantung dia berdebar sangat kencang. Ada gejolak gejolak yang tidak bisa dijelaskan.
"Lepas nggak?" Riri mencoba membuat pertahanan. Kali ini dia berusaha untuk tidak luluh dengan kata-kata manis yang diucapkan oleh lelaki itu.
"Enggak. Sebelum bilang kenapa?" Tanya Juan penuh dengan rasa penasaran.
"Pengen kerja." Dia sengaja mengatakan hal itu karena hanya dengan cara itulah bisa membuat lelaki tersebut langsung kesal.
Juan tidak suka jika Riri kepikiran untuk bekerja. Karena setelahnya mereka pasti akan ribut. Padahal Juan sudah menawarkan untuk memberikan beberapa persen dari gajinya bahkan dia siap untuk memberikan setengah persen dari gajinya. Namun semua ditolak mentah-mentah.
Wanita itu tidak suka bergantung kepada orang lain, apalagi dia seorang pria yang mulai dicintai olehnya. Akan sakit sekali rasanya jika sudah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Semua hanya tinggal menunggu waktu saja. Ketika Juan bosan, maka dia akan ditinggalkan. Itulah yang ada dipikiran Riri. Padahal kenyataannya, pria disampingnya sangat menyayangi wanita itu. Bahkan rela berkorban banyak. Namun hanya satu hal kekurangannya yaitu dia belum bisa mencintai Riri.
Salah satu hal yang dibutuhkan, tapi dia tidak bisa memenuhinya. Selama ini dia merasa aman, karena tidak ada tanda-tanda bahwa wanita itu menyukainya. Riri dihadapannya selalu bertingkah menggemaskan. Tidak pernah lemah lembut sedikitpun. Selalu saja marah, kesal, bahkan ketika Juan sakit sekalipun.
Caranya menunjukkan kasih sayang memang berbanding terbalik dengan apa yang juan lakukan. Benar-benar tidak bisa ditebak, bahkan lelaki itu pun tidak bisa menyadarinya.
Entah kesalahpahaman ini akan berakhir sampai kapan, karena salah satu di antara keduanya keduanya belum ada yang bisa berhenti.
Ini bukan soal gengsi, tapi posisi. Mereka sadar posisi masing-masing. Sehingga mampu membuatnya bertahan sampai sejauh ini. Setidaknya, sampai salah satu dari mereka ada yang menyerah, atau rahasia yang terbongkar. Semua seperti bom atom, yang kapan saja bisa meledak.
"Mending Aku pulang aja lah. Baru datang udah diajakin ribut. Kita kan baru bahas ini kemarin. Kamu boleh kerja, tapi jangan yang berat-berat."
Juan tidak suka, ketika Riri mengatakan bahwa wanita itu akan kerja di salah satu pabrik yang terkenal galaknya. Sistem kerjanya pun tidak manusiawi. Padahal banyak pabrik atau lowongan kerja yang lebih bagus.
Dengan tegas, Juan menolak. Namun, Riri marah. Padahal semua untuk kebaikan wanita itu.
"Ya sudah. Pulang aja sana. Siapa juga yang minta ditanya. Kamu aja lebay, orang juga sehat-sehat aja kerja di sana."
"Aku mending kasih semua gaji aku, daripada lihat Kamu nanti sakit gara-gara kerja gitu."
"Terus, kerja apa yang mudah. Gak adaaa."
"Kerja di tempatku mau?"
"Ogah! Pusing harus pinter itung-itungan."