Hubungan mereka kini menjadi sangat erat. Keduanya sudah tidak malu-malu lagi saat berbicara. Bahkan, kata sayang saja sekarang malah jadi sebuah sebutan bercandaan. Seolah tidak berarti apapun.
"RI!" Panggil Juan, saat mereka sedang asik main ps di ruangan keluarga rumah Riri. Juan memang sekarang sudah menjadikan rumah ini seperti rumah keduanya. Bahkan waktunya lebih banyak berada di sini dibandingkan kosannya.
Dia juga sudah sepenuhnya akrab dengan orang-orang di rumah ini. Dengan adik Riri yang paling tua saja, mereka bahkan sering makan mie ayam di depan gang.
Sepertinya jika Juan melamar jadi menantu di keluarga ini, seharusnya tidak akan ada halangan lagi. Karena semuanya sudah jelas-jelas menerima. Kecuali Riri, entahlah. Wanita itu tidak bisa ditebak. Belum ada tanda-tanda yang menunjukan bahwa dia suka pada Juan dan sebaliknya. Mungkin mereka memang sedang menikmati kebersamaan yang saling melengkapi ini.
"Ri!"
"Iya Sayang, apa?" Tanya Riri kesal, karena lelaki itu terus memanggil namanya, padahal jelas-jelas dia sedang sibuk bermain game.
"Sayang, gorengan jatuh belum lima menit."
"Iya apa? Duh ribet banget."
Stik PS itu dia simpan dulu, lalu mengambil sebungkus makanan ringan dan menatap ke arah Juan. Kebiasaan memang lelaki itu selalu saja kalau ngajak bicara, harus lihat mukanya.
"Apa? Malah diam aja. Tadi, manggil-manggil."
"Habis Lo lelet banget."
"Iya terus, masa harus langsung nengok, nanti kalah."
Riri benar gemas sendiri. Melihat bayi besar sedang ngambek di sampingnya. Akhir-akhir ini dia menyadari bahwa Juan memang manja sebenarnya. Namun, selama ini tertutupi oleh sikapnya yang cuek.
"Main game terus, ngemil mulu. Badannya makin melar tahu rasa."
"Masalah buat Anda?" tanyanya dengan nada yang kesal.
"Ya enggak. Tapi, nanti menurunkannya susah. Kasian bajumu gak ada yang muat."
"Hey! Aku gak gendut banget ya."
Dia mulai tidak suka, jika sudah membahas tentang berat badan. Meskipun permasalahan perempuan tetap sama dan sering dibahas. Namun, tidak membuatnya jadi terbiasa. Dia mendelik ke arah Juan.
"Terus, apa namanya kalau bukan gendut?" Tanyanya meledek gadis yang masih setia dengan keripik kentang rasa ayam panggang. Dia berlari menjauh, sebelum kupingnya dijewer hingga merah.
"Juan! Awas kamu ya." Ancam Riri. Dia sampai kehilangan selera makannya.
"Kenapa lagi sih Bang? Lo ada-ada aja."
"Lagian Kakak kamu lucu banget."
"Enggak. Itu Lo aja yang merasa. Kuping gue sakit, tiap Lo ke sini dia jadi hobi teriak-teriak."
Keluh adiknya Riri yang bernama Galaksi. Dia paling dewasa dan paling dekat juga dengan Juan. Mereka sering mengobrol banyak hal. Meskipun awal-awal, Galaksi belum bisa menerima sosok Juan. Namun, setelah melihat kegigihan lelaki itu dan juga kebaikannya dia akhirnya luluh juga.
Dia senang, kakaknya jadi orang yang ceria, padahal dulunya tidak seceria sekarang. Namun, kabar buruknya. Riri jadi sedikit seperti orang yang bergantung pada lelaki itu. Saat sedang makan, Riri selalu ingat Juan. Jika ada makanan kesukaan lelaki itu di meja makan, selalu menyisakan untuknya. Ketika tidak ada kabar juga kakaknya akan kesal dan uring-uringan.
Dia sudah paham apa itu kisah cinta pertemanan. Tapi sebisa mungkin, dia tidak ikut campur terlalu dalam. Karena sadar bahwa mereka punya pikiran masing-masing yang sudah matang. Dia tidak perlu terlalu ikut campur.
Jika semisalnya Juan melakukan hal yang membuat kakaknya bersedih, atau menyakiti Riri, barulah dia akan turun tangan. Dia akan memastikan sendiri bahwa lelaki itu akan menyesal. Bahkan sangat menyesal. Meskipun dia dan kakaknya terlihat seperti orang tidak akur, aslinya dia adalah adik yang sangat baik. Jasa-jasa Riri untuk keluarga akan selalu dia ingat. Sekarang giliran dia yang menjaganya.
Juan sendiri, merasa sangat nyaman berada di tengah-tengah keluarga bahagia ini. Meskipun mereka tidak hidup mewah, tapi mereka sangat memiliki arti kekeluargaan yang tinggi, saling tolong menolong dan membantu satu sama lain. Setidaknya, di sini dia merasa apa itu arti keluarga.
Saat Juan sakit pun mereka turun tangan untuk membantunya, tidak hanya Riri saja, adiknya pun ikut menjaganya. Ibunya selalu membuatkan makanan yang enak, dia juga ditanya-tanya apa makanan kesukaan dan banyak hal. Benar-benar seperti keluarga sungguhan.
Beruntung sekali, dia bisa mengenal Riri dan wanita itu sama sekali tidak keberatan dengan Juan yang diterima di keluarganya. Dia malah ikut senang, kecuali saat lelaki itu menjahilinya. Itu, menjadi hal yang paling dia benci sekarang.
"Ya maaf. Lagian, dia cepet banget marahnya. Padahal, sama sekali tak menyinggung. Tapi langsung ngambek kayak anak kecil."
"Apa Lo bilang?"
"Ampun Bos!" Teriak Juan sembari menahan kesakitan akibat dijewer kupingnya.
Riri tidak pernah memukulnya, jika tidak cubit ya jewer seperti sekarang ini.
"Ampun ih, udah kenapa sih."
Juan pura-pura marah.
"Heh, yang salah Lo ya, kenapa jadi Lo yang marah juga!"
"Lo? Hmm."
"Huh mulai. Ganggu aja sih!" Galaksi sesekali suka merasa kesal, karena mereka berdua itu meskipun marahan, tapi tetap so sweet. Kadang, jadi sebal sendiri melihatnya.
Dia pun berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
"Yah, kabur dia. Kamu sih, bilang Lo segala."
"Heh dia kabur bukan karena itu. Tapi denger Kamu marah bilang Aku gak boleh bilang Lo."
Mereka labil, terkadang tidak boleh menggunakan sebutan lo dan gue.
"Ya udah. Maafin kan tadi bilang."
"Enggak ada. Enak aja langsung maafin. Setelah Kamu bilang Aku gendut."
"Iya, kan gak masalah. Emang salah kalau gendut? Enggak kan?"
"Tapi, Aku kesel. Nanti jadi males makan." Keluh Riri, memang benar. Jika sudah ada yang menyinggung mengenai berat badan. Dia suka kesal sendiri dan jadi kepikiran.
"Jangan gitu, aku kan cuma bercanda. Sudah, nanti dibelikan keripik kentang yang banyak."
"Bilang aja. Kamu seneng kan liat aku gendut? Biar susah cari pacar."
"Loh, kok nyambung ke pacar segala."
"Iya, kalau gendut susah cari pacar."
"Emang pas Kamu langsing punya pacar?"
"Enggak. Eh Kamu ya! Pokonya aku beneran marah kali ini."
"Marah aja, gak perduli. Emang fakta."
"Biarin. Nanti juga punya pacar. Lihat aja, Kamu bakal kesepian gak punya teman."
"Kata siapa? Kan ada Laura wlek."
Juan yang asik meledek, tidak merasa ada yang salah dengan apa yang dia katakan. Padahal, kenyataannya. Ucapan dia membuat Riri terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya perempuan itu sadar.
"Kamu suka Laura?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Setelah lelaki di sampingnya menyebutkan nama tersebut.
"Enggak." Juan menjawab dengan cepat, sebelum akhirnya mereka akan salah paham.
"Bilang aja, gak apa-apa kok."
Riri mengubah nada bicaranya, dia sedikit kecewa dan juga bingung. Semisalnya Juan benar-benar suka Laura. Maka dialah yang akan sendirian. Ucapannya hendak mencari pacar hanya guyonan saja.
"Enggak ya enggak. Kenapa sih? Kamu aneh deh, tadi kan Kamu yang mau cari pacar. Bilang aja jujur sama aku, lagi naksir siapa?"
"Enggak ada. Sudah lah, jangan dibahas. Males dengernya."
"Tuh kan, mulai aneh."
"Lagian ngeselin."
"Kamu lagi enggak.."
"Enggak!"
Riri membentak Juan, lalu pergi ke kamarnya dengan sedikit berlari. Juan hanya bisa mengambil nafas saja. baginya, perempuan memang sulit untuk dimengerti. hal yang terpenting dilakukan adalah sabar. selebihnya, serahkan pada yang maha kuasa saja.