Main Catur

1072 Words
"Alay," komentar Riri, begitu ibunya keluar dari kamar. Tentu, ucapan tersebut ditunjukan kepada lelaki yang sedang membuka bungkusan bubur dengan khusu, tidak lupa meraciknya. Karena semuanya dibuat terpisah. Karena dia belum tahu, bagaimana selera Riri ketika makan bubur. Juan tidak perduli. Karena yang dia pikirkan adalah Riri. Wanita itu tidak boleh sakit, apalagi penyebabnya karena kehujanan bersama dirinya kemarin. Dia merasa bersalah, perempuan itu sampai demam. "Makan!" Perintah Juan. Dia yakin, Riri pasti malas makan, sama seperti dirinya. Jika sedang sakit, paling malas untuk mengisi perut. Karena rasanya pahit, dan berujung mual dan muntah, percuma diisi juga. "Bisa suap sendiri." Wanita itu mengambil sendok, yang sedang dipegang oleh Juan yang bersiap menyuapi satu sendok bubur kepadanya. Riri segera mengambil tindakan, karena merasa ini terlalu berlebihan. "Sakit aja bertingkah." Juan kesal sendiri, dia tidak terima. wanita itu sepertinya meragukan perhatiannya. "Siapa juga yang sakit, orang cuma demam, terus masuk angin, nanti juga sembuh sendiri kalau udah dikerok. Aku udah biasa begini, karena dulu kan sering pulang malam," ujarnya sembari menyendok kan bubur itu ke dalam mulut. Dia tim tidak diaduk, dan gak pakai kuah, tapi berhubung Juan sudah memasukan kuahnya. Dia hanya bisa pasrah. Kasian jika tidak dimakan. "Iya deh, udah biasa. Tapi, kok udah biasa masih aja bisa kena? Daya tahan tubuhnya lemah banget. Padahal yang basah kuyup aku loh." Meskipun pakai jaket, tetap saja dia basah kuyup. Karena memang dia tidak ada penghalang lain, beruntung pakai helm, jadi tidak sakit kepala. "Kecolongan." "Bisa banget jawabnya." Mereka makan dengan tanpa suara. Juan salut, ternyata Riri memang tidak selemah yang dia pikir, satu kotak bubur habis tanpa drama. Wanita itu memang luar biasa. Dalam keadaan sakit dia juga tidak manja. "Kamu keren, makannya habis." Juan tidak sengaja mengatakannya. "Apa yang keren, makanan itu harus dihabiskan. Nanti jadi polusi." "Biasanya kalau sakit kan pahit mulutnya." "Paksain aja. Biar cepet sembuh. Penyakitnya jangan dimanja, nanti betah." "Kalau pas sakit gini. Biasanya kamu suka kerja?" "Iya dong, kalau gak kerja nanti gak dapet duit." Juan bertepuk tangan. Wanita dihadapannya ini memang langka. Dia saja, jika malas. Bilangnya sakit buat ijin ke kantor. Ini malah sebaliknya, wanita itu sangat giat sekali. "Kesehatan itu penting loh." Juan kembali mengingatkan Riri. Wanita itu terlihat tidak perduli pada dirinya sendiri. Juan jadi gemas sendiri melihatnya. Seharunya Riri sadar. Dia bukan robot. "Emang penting, tapi kalau gak punya duit juga malah tambah sakit yang ada. Logikanya gini, kalau sakit gak ada uang mau berobat juga susah kan? nah semisalnya banyak uang kan tinggal berobat." Riri sih anaknya realistis. Memang benar, kadang orang bisa sakit malah karena gak punya uang. "Pikirannya uang melulu," ujar Juan gemas sendiri. Bisa-bisanya Riri sangat mata duitan sekali. Dia apa-apa dihubungkan dengan uang. "Mikirin duit aja pusing. Apalagi mikirin yang lain." "Pusing kenapa? Kamu lagi butuh sesuatu?" Tanya Juan penuh perhatian. "Enggak." Riri langsung menjawab dengan tegas, dia tidak mau dikasihani siapapun. "Berobat yuk." "Enggak mau. Apaan sih Juan, jangan begini Lah. Aku gak suka." "Takut demamnya tambah parah. Kamu udah minum obat?" "Ada di atas laci itu." Juan bangun, dan mengambil obatnya. Tidak lupa, dia juga membukakan bungkusnya. Riri tinggal langsung minum saja. "Padahal bisa sendiri." Entah kenapa, dia sebenarnya merasa senang mendapatkan perlakuan seperti itu, tapi dia tidak mau Juan menyadari. Jadi, ditutupi dengan ekpresi ketus. "Padahal bisa bilang makasih, gak usah gengsi. Aku tahu, Kamu pasti deg-degan?" "Terlalu percaya diri Bro," ujarnya sembari menelan obat tersebut, dengan sigap Juan langsung memberikan air minumnya. "Iya deh, biar cepet." "Kamu gak ada kegiatan memang hari ini?" "Ada." "Apa?" "Jagain orang sakit." Riri membulatkan matanya, bisa-bisanya Juan menggombal dalam keadaan seperti ini. "Aku udah sembuh. Mending pulang, istirahat. Dari kemarin kan belum istirahat." "Kamu khawatir sama aku ya?" "Enggak. Cuma males aja, soalnya aku juga mau istirahat. Kalau ada orang, malah gak bisa tidur." "Ya udah, ku pulang dulu ya," ujar Juan sembari mengusap kepalanya Riri. Bentuk rasa kasih sayangnya pada wanita itu. Dia tidak tahu, perasaan apa yang kini hadir. Namun, dapat dipastikan. Perasaan ini adalah kasih sayang. Dia ingin melindungi Riri, memastikan bahwa perempuan itu bahagia dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Namun, sepertinya wanita itu masih kebingungan dengan perasaannya sendiri atau masih perlu banyak waktu untuk beradaptasi. Juan tidak ada rasa ingin memiliki, tapi dia ingin wanita itu selalu ada di sampingnya. Ini menjadi rumit. Padahal, dari awal dia yang membatasi diri. Tapi, dirinya jugalah yang kebablasan. "Iya. Hati-hati di jalan." Riri bukannya tidak senang, Juan datang dan berniat menemaninya. Dia hanya tidak ingin merepotkan siapapun, sudah terbiasa melakukan apapun sendiri. Tidak suka menggantungkan dirinya pada orang lain. Sejauh ini, Juan si baik hati itu. Selalu saja mampu menyentil egonya, membuatnya nyaman dengan segala perlakuan yang membuat dia sadar betul, itu bukan hal yang baik. Terkadang, dia berpikir keras untuk menjauhi Juan, tapi lelaki itu seperti menarik ulur dirinya. Sampai sejauh ini, dia belum salah paham. Masih menganggap, bahwa Juan menyayanginya seperti seorang teman. Segala bentuk perhatiaan hanya karena melihatnya sebagai seorang teman. Namun, kebaikan lelaki itu kepada orang tua Riri, membuatnya sedikit salah paham. Juan seperti menganggap, bahwa kedua orang tuanya adalah orang tua lelaki itu juga. Dia selalu menanyakan bagaimana ayah Riri, apa yang sedang dibutuhkan oleh keluarga ini. Bahkan tanpa bilang lagi, lelaki itu tak segan membawakan banyak makanan atau obat ringan untuk orang tua. Hati wanita mana yang tidak tersentuh jika begini caranya? Belum lagi, keluarganya menerima dengan baik salah paham ini. Sebisa mungkin, dia menjelaskan. Namun, mereka tidak percaya. Mereka menganggap, Riri malu mengakui Juan. Ini sudah sangat kompleks sebenarnya, dia mencoba untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Meskipun menyakiti hati Juan, dengan tidak menerima itikad baiknya, setidaknya. Kesalahpahaman ini tidak boleh berlanjut terlalu lama. Hari ini, dia begitu sensitif. Mungkin efek dari sakit. "Loh, sebentar banget Juan. Kamu bukannya libur hari Minggu?" tanya ibunya Riri. Begitu melihat Juan berpamitan. "Riri harus banyak istirahat." "Kamu kan bisa main bareng Galaksi." "Mungkin lain waktu." "Sini Nak, mending main catur dulu sama Bapak." "Aduh. Juan gak jago Pak." "Udah sini, nanti diajarkan. Zaman dulu tuh, kalau Bapak mau main ke rumah ibu. Pasti sama bapaknya ibu suruh nemenin main catur dulu. Entah kenapa tapi banyak yang menganggap, sisi seseorang akan terlihat dari cara dia bermain catur. Karena main catur itu butuh kesabaran, ketelitian, kewaspadaan, kalau tidak skak mat!" "Yah, kalah!" Tak terasa, lelaki itu berteriak, karena baru beberapa langkah sudah kalah. Dia memang benar-benar payah. Dia fokus pada ucapan Ayahnya Riri sehingga tidak sadar sudah berada diposisi kalah. Orang tua, memang handal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD