Telepati

1061 Words
Esok harinya Juan bangun pagi. Padahal, ini keinginannya. Namun, karena tidak tahu mau ngapain. Akhirnya dia malah bengong saja, entah apa yang dipikirkan. Dia hanya sedang menikmati pagi hari tanpa beban pekerjaan yang menumpuk dan membosankan. Semalam, dia dan para sahabatnya selesai mengobrol jam 12 malam, itu karena istri Kevin sudah menelpon, akhirnya bubar. Jika tidak ada telepon istri, mungkin bisa lebih lama lagi mereka. Niat hati ingin main game sama-sama, jadi gagal. "Bang, beli sarapan ayo." "Ada yang namanya metode ketuk pintu, atau Lo bisa panggil nama gue dulu. Kenapa seneng banget nyelonong sih?" tanyanya dengan nada sewot. Riko memang random, dia bisa menyebut Juan dengan lo dan gue atau bahkan hanya nama. "Lah, salah siapa kaga dikunci. Orang di mana-mana juga kunci pintunya kalau gak mau dimasukin sembarangan." "Orang di mana-mana juga tahu, masuk ruangan itu ketuk pintu dulu. Karena gak sopan kalau main nyelonong." "Enggak juga, misalnya masuk kamar sendiri, emang Lo ketuk pintu?" Juan hanya bisa menghela nafas. Dia sudah malas berdebat. Seandainya ini bukan masih pagi, dan dia sudah sarapan. Bisa dipastikan mereka berantem. Sudah habis rasanya kesabaran menghadapi makhluk menyebalkan ini. "Gue gak beli sarapan." "Iya, gak Lo yang beli, tapi Gue. Masalahnya mau sarapan apa?" "Gue gak mau sarapan." "Juan sarapan itu penting untuk kesehatan tubuh, supaya Lo kuat menghadapi hari yang penuh kejutan ini." "Gak peduli." "Makan, atau mau gue suapi?" "Ogah! Udah sana deh Lo. Ganggu pagi hari yang menyenangkan aja Lo." "Menyenangkan dari mana, bengong aja bangga." "Penting banget dijawab." "Untung temen gue Lo." "Ogah perduli. Keluar Lo!" "Eum, padahal. Gue mau kasih tahu bubur ayam paling enak. Lo pasti belum pernah makan deh. Itu loh, ada di pertigaan empat. Deket gedung putih, beuh mantap." "Jauh, males." "Kita bisa ke taman loh, main suap-suapan." "Geli, ogah." Riko tersenyum geli, dia hanya bercanda, melihat Juan marah malah terlihat lucu. "Kenapa jauh banget sih, kan bisa beli di depan juga atau tunggu yang keliling." "Gue mau cuci mata." "Sama tukang bubur?" "Bukan lah. Di sana kan deket taman. Jadi bisa mantau gebetan." "Punya emang?" "Lo pikir, cuma Lo doang yang punya?" Tanya Riko sewot. "Ya sudah. Ayo jalan." Juan akhirnya mau jalan, karena dia juga tidak tahu mau berbuat apa. "Cepetan! Gue tunggu di bawah. Pakai motor Gue aja." "Bagus, bisa hemat bensin." "Mulutmu!" Brughh Riko keluar dari kamar Juan, lelaki itu sengaja membanting pintu. Agar Juan dimarahi oleh penghuni kost yang lain, karena sudah menimbulkan suara gaduh. Juan tidak berkomentar, dia segera siap-siap. Tidak lupa mengunci pintu supaya tidak ada maling masuk ke dalam kamar. Meskipun kostannya memang aman, tapi harus selalu waspada. "Motor Lo belum dicuci?" "Belum, kemarin kan hujan. Rugi lah, pasti jalanan juga basah." "Bilang aja males." "Kayak motor Lo bersih aja." "Bersih, semalem kan kehujanan." Juan langsung diam, dia ingat sesuatu. Kemarin malam, dia dan Riri kehujanan. Pagi ini, dia belum mendapatkan pesan dari wanita itu. Dia sudah berpikir negatif, tapi sebisa mungkin mencoba tetap tenang. Bisa saja,.wanita itu sedang sibuk. Belum ada waktu untuk sekedar membalas pesan yang menang kurang penting itu. "Malah bengong, woy! Mau beli sarapan gak?" "Mau, ayo." Juan langsung naik ke motor Riko. Merekapun pergi ke tempat tujuan. Di perjalanan, Juan sadar. Ini sama dengan arah ke rumah Riri. Hanya tinggal masuk gang sana. "Sampe juga akhirnya, Lo pasti belum pernah kan makan di sini?" "Heem." "Ya udah, ayo Lo duduk aja. Gue yang pesen." "Jangan, biar Gue aja yang pesen. Lo mending tunggu." Juan berinisiatif untuk memesankan makanan tersebut. "Lo pesen pakai sate?" "Iya, komplit." "Bagus, kalau bisa. Lo bayarin sekalian." "Heem." Tidak lama, tukang bubur itu pun datang membawakan satu mangkok bubur. "Ini, Mas." "Loh kok satu?" Tanya Riko, setelah pedagang bubur itu kembali ke gerobak. "Enggak, bentar lagi juga yang Gue diantar ke sini." "Oh." "Gue boleh pinjem motor gak?" "Nih kuncinya, segala pakai ijin. Pakai aja sih." Riko memang segampang itu, dia royal. Solidaritasnya juga cukup tinggi. Meskipun mereka sering berantem, tetapi mereka tidak ada yang pelit. "Oke, thanks." "Ini Mas, pesanannya." "Oh sudah jadi Pak? Terima kasih ya." "Iya sama-sama." "Nanti bayarnya sekalian sama punya temen Saya ya." Riko masih belum paham. "Eh tunggu, maksudnya gimana ini?" "Gue minta tolong, bayarin dulu ya Ko. Sama ini, pinjem motor. Lo kalau mau balik duluan, gak apa-apa gue mah tinggalin aja." Juan segera pergi sebelum temannya sadar. Dia membawa 5 bungkus bubur ayam. Meninggalkan sahabatnya yang masih bertanya-tanya. "Ini saya kenapa ya Pak." "Kenapa gimana Mas?" "Itu kan motor Saya yang dia pinjem, kenapa jadi saya yang disuruh pulang duluan?" Penjual bubur itu bukannya prihatin, malah terkekeh. "Pak, saya lagi sedih loh ini." "Jangan terlalu dipikirkan, mending bayar aja buburnya." "Ampun!! Juan Lo rese banget!" Riko mengumpat, dia baru sadar sekarang, sedang dimanfaatkan oleh sahabatnya itu. "Ngutang boleh Pak?" "Nyuci piring mau Mas?" Glek Riko benar-benar ketiban sial hari ini, dia menyesal sudah mengajak Juan mencari sarapan. Bagaimana dia bisa pulang naik ojek, kalau uangnya saja habis pakai bayar bubur. Juan sampai di rumah Riri, entah kenapa dia juga tidak mengerti. Pastinya, pertama dia ingin memastikan keadaan wanita itu, dia merasa perlu bertanggung jawab karena sudah membiarkan wanita itu kehujanan. "Nak Juan, masuk Nak." "Iya Bu, sudah sarapan belum? Saya bawa bubur nih." Juan memang selalu ingat dengan keluarganya, hal ini membuat mereka cukup tersentuh. "Ini pasti karena Riri minta bubur ya? Maaf ya ngerepotin. Soalnya dia emang kalau lagi sakit senengnya makan bubur." Penjelasan dari ibu Riri sudah cukup membuatnya paham. Bagaimana kondisi wanita itu sekarang. "Iya Bu. Gak apa-apa. Saya pisahkan ya, ini buat yang di rumah, satunya Juan berikan pada Riri." "Iya, ayo Nak. Riri ada di kamar." "Ri, dikunci gak?" Tanyanya di depan pintu kamar. "Enggak, masuk aja." Ceklek Riri menengok ke arah pintu, dan dia melihat Juan berada tepat di belakang mamahnya. Dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Riri berusaha tidak panik melihat Juan datang. Dia tetap berusaha kalem, meskipun hatinya berdebar. Dari mana lelaki itu tahu, bahwa dirinya sakit. "Kamu tuh ya, kasihan Juan jauh-jauh bawain bubur buat Kamu. Sekarang kan ada aplikasi antar makanan." Ibunya mengomel, tapi Riri tidak terpancing emosi dengan tuduhan tersebut, dia memilih diam daripada memperkeruh suasana. "Ya sudah. Ibu tinggal dulu ya." Pamitnya pada Juan. "Iya Bu, silahkan." Juan mendekat ke arah Riri, dengan mata yang masih fokus pada mata indah wanita itu. Hatinya sedih, melihat wanita sok tegar ini sekarang tergolek lemah di tempat tidur. "Ini panas banget."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD