"Terima kasih ya, hati-hati di jalan."
Riri sungguh berterima kasih pada Juan, karena lelaki itu benar-benar mengajaknya refreshing. Sekarang, dia jauh lebih cerah, meskipun sebenarnya sangat lelah.
"Iya, Nanti akan kabari jika sudah sampai."
Ini salah satu hal yang membuat Riri merasa hangat, perlakuan lelaki itu sangat menggemaskan. Bagaimana Juan memperlakukannya dengan baik, lelaki itu tidak melihat Riri sebagai orang baru dalam hidupnya.
Perhatian Juan bahkan melebihi dari perlakuan seorang kekasih dengan pacarnya. Riri merasa beruntung, meskipun dia juga tetap menjaga agar hatinya tidak tergoyahkan. Dia harus sadar, bahwa lelaki itu bukan miliknya. Terkadang perasaan nyaman seseorang bisa menjadi rasa sakit terhebat untuk dirinya sendiri.
Mungkin, karena pada dasarnya Juan adalah orang baik. Dia juga dengan mudah diterima orang lain, seperti keluarganya yang langsung suka dengan sosok lelaki itu. Padahal, keluarganya bukan orang yang mudah menerima orang baru. Namun, lelaki itu memiliki aura yang baik sekali. Sehingga tidak ada yang mampu menolak pesonanya.
"Iya, hati-hati di jalan."
"Langsung masuk, salam sama keluarga. Kamu juga mandi air hangat, takut sakit tadi kan kehujanan. Salah siapa, suruh pakai jaket aku malah gak mau."
"Aku mah kuat."
"Hmm."
Juan pun pergi, lalu Riri masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di kostan. Dia ternyata sudah ditunggu oleh kedua temannya. Sahabat yang sampai saat ini selalu ada untuknya. Meskipun, mereka sering sekali berdebat, tetap saja. Juan, Riko dan Kevin akan kembali akur. Mereka sudah seperti saudara sendiri. Saling menjaga, menasehati satu dengan yang lainnya.
"Kalian nunggu dari tadi?" tanya Juan berbasa-basi. Dia jadi merasa bersalah, sudah membuat dua orang temannya itu menunggu. Meskipun bukan sepenuhnya salah Juan, karena mereka tidak ada yang mengabari.
"Lama banget, kayak proses Lo move on."
"Riko...," ucap Kevin, menegur lelaki yang suka ceplas-ceplos itu.
"Bisa aja. Ya udah, tunggu dulu. Gue ganti baju dulu sebentar basah nih."
"Habis dari mana emang?"
"Biasa, anak muda. Ngedate."
Juan dengan santainya mengatakan itu, lalu kabur dari hadapan mereka, karena takut diteror banyak pertanyaan. Sementara Kevin menatap Riko penuh tanya, begitupun sebaliknya.
"Lo kenapa gak cerita?" tuduh Kevin pada temannya.
"Sumpah, gak tahu gue juga Bang." Riko yang tak kalah kaget, dia bahkan masih melongo tidak percaya.
"Oh gitu, sekarang main rahasia-rahasia. Jadi udah gak menganggap gue temen lagi, mentang-mentang udah nikah, gak bisa ikut kumpul terus, dilupain gitu aja."
"Weh, Bang enggak sumpah. Ah si Juan nih, woy!"
Riko serba salah, dia benar-benar tidak tahu, jika Juan memiliki pacar. Karena setelah pertengkaran mereka waktu itu, jarang sekali mereka bertemu, sekalipun berpapasan hanya saling sapa saja dan sibuk dengan urusan masing-masing setelahnya.
"Gue sih bersyukur, kalau emang bener dia udah move on. Beban banget rasanya, kalau lihat temen galau. Mau bantu kenalin ke temen juga percuma. Kalau hatinya sudah ke satu orang."
"Gue, gak pernah tuh lo comblangin Bang. Padahal, yang lebih ngenes kan Gue."
"Cewek juga males duluan liat Lo." Kevin tidak sungguh-sungguh mengatakannya.
"Jahatnya..., Kenapa gak percaya sih? Tampang gue kan anak baik-baik."
"Perempuan itu, hatinya perasa. Jadi, kalau Lo deketin dia dan dia jauh terus. Artinya, emang Lo terasanya orang jahat. Haha."
"Beda ya, kalau yang udah nikah mah. Sombong bener!"
"Makanya, jangan pakai jajan rokok terus duitnya, tabung buat modal nikah."
"Percuma, udah kumpul juga kalau calonya gak ada, mau nikah sama apa coba?"
"Sapi tetangga nganggur noh!"
"Bang!"
"Apa si Riko, teriak-teriak mulu, ini kostan bukan hutan."
"Cepet banget Lo mandinya, jangan-jangan gak mandi lagi," tuduhnya pada sahabat karibnya itu. Mereka tidak akan mungkin ambil hati dengan candaan-candaan yang seperti ini.
"Masalah? Gue tetep ganteng meskipun gak mandi."
Juan pura-pura tidak terima sudah dibilang belum mandi.
"Baunya bikin pengen pindah lintas negara."
Juan tidak menggubris, dia menyapa sahabatnya yang berkunjung itu.
"Bang, sehat Bang?"
"Alhamdulillah, Lo gimana? Gue lihat jauh lebih baik ya?"
"Seperti yang Lo lihat. Gue bahagia kok. Sorry masalah kemarin, mungkin karena lagi emosi berat."
"Namanya juga masalah cinta," ujar Riko menyeletuk, karena merasa tidak dianggap keberadaannya.
"Diem!"
Teriak mereka berdua kompak, membuat Riko membulatkan matanya tidak percaya. Bisa-bisanya mereka melakukan itu padanya.
"Kalian dzolim," ujarnya dengan ekspresi yang sangat konyol. Seperti anak ayam kehilangan induknya.
"Kita gak ngajakin Lo ngomong."
"Terus ngapain gue di sini? Jadi asbak?" Tanya dengan sewot.
"Boleh," jawab mereka berbarengan lagi, tapi kali ini dengan nada yang lebih santai.
"Dah lah, cosplay jadi lilin aja gue."
Mereka berdua senyum, melihat Riko cemberut.
"Jadi, gimana?" tanya kevin pada Juan. Setelah mereka ngobrol banyak hal tentang dunia kerja, perkembangan ini dan itu. Makanan pun tinggal setengah lagi.
"Apanya?" Juan malah balik bertanya.
"Punya pacar baru?"
Meskipun Kevin tahu, ini beresiko besar. Dia tetap bertanya. Karena memang dia ingin mendengar langsung dari mulut sang sahabat.
"Enggak. Lagi membiasakan diri aja. Bener kata kalian. Hidup harus berjalan. Lara emang bukan untuk gue, sudah saatnya bangkit. Setelah ini, akan banyak hal yang harus dilakukan. Kejadian kemarin, sudah jadi pelajaran. Jujur aja, gak semudah itu. Tapi, harus usahakan."
"Salut banget sama pemikiran Lo yang sekarang. Semua butuh waktu, dan akan selalu support. Jangan takut, pokoknya kita akan selalu ada buat bantuin Lo. Jangan sungkan bilang apapun. Kita udah kayak keluarga. Harus saling tolong menolong."
"Iya Bang, makasih udah perhatian. Gue ingin segera lepas dari perasaan yang membelenggu ini. Tapi, prosesnya masih panjang. Bukan gak mau pacaran, tapi kalau harus melibatkan orang lain, dalam keadaan masih mencintai Lara. Gue takut, melukai banyak orang setelahnya. Tidak ada yang harus dikorbankan dalam percintaan, apalagi harus berkorban. Cukup Gue yang ngerasain hal ini, jangan sampai ada lagi setelahnya."
"Kata anak kantor. Laura...,"
"Dia udah Gue anggap adik sendiri."
"Jangan gitu Juan, wanita butuh kepastian, Lo bikin dia baper kali sebelumnya."
"Enggak, dia yang selalu cari perhatian."
"Lo udah jelasin ke dia?"
"Permasalah percintaan gue bukan untuk konsumsi publik, biar aja jika memang mereka mengira gue yang salah."
"Lo gak akan tahu akhirnya gimana, kalau gak nyoba. Gini deh, Lo sekarang punya banyak waktu. Banyak kesempatan untuk memilih. Menurut gue, Laura orang baik, dia juga jelas pendidikannya, perhatian dan yang pasti sayang sama Lo."
"Gak semudah itu."
"Lo harus coba."
"Laura bukan bahan coba-coba."
"Kasih waktu dia buat buktiin sama Lo."
"Enggak janji."
"Atau ada wanita, selain Laura yang deket sama Kamu?"
"Kami sebatas teman. Dia baik, dan inspiratif. Tapi, rasanya sulit buat jatuh cinta."
"Kenapa?"
"Perasaan gak bisa dipaksakan."
"Tapi, menurut Gue. Lo udah banyak berubah. Mungkin, semenjak kenal cewek itu. Kerasa gak sih, Lo suka senyum sendiri kalau lagi pegang handphone? Berangkat kerja juga jadi semangat, pulang kerja masih baik-baik saja. Lo jadi rajin makan juga. Rasanya gue bakal setuju kalau Lo jadian sama dia. Asalkan, dia bukan istri orang aja."
Glek
Malu sekali Juan, mendengar Riko mengatakan itu semua.
"Gue gak perlu ijin dari Lo."