Mereka semua berangkat ke tempat kelulusan Galaksi. Lelaki itu jadi kebanggaan keluarga ini. Karena mendapat nilai di atas rata-rata. Memang dari dulu Riri selalu bilang pada adiknya. Agar lelaki itu mendapatkan nilai terbaik di sekolah. Membuat bangga keluarga adalah kewajiban. Dia tidak menuntut banyak hal. Uang jajan selalu Riri berikan, yang terpenting. Adiknya harus jadi anak baik. Sewaktu lelaki itu bilang ingin bekerja. Riri melarangnya, meskipun laki-laki. Tetap saja, wanita itu belum ikhlas.
Sebagai hadiah, Juan sudah menyiapkan satu goodie bag berisikan hoodie kekinian. Kesukaan para remaja laki-laki yang sengaja dia pesan di official store. Dia sudah banyak bertanya pada Riri ukuran baju Angkasa dan juga warna kesukaan lelaki itu. Namun, Riri baru mengetahuinya hari ini. Dia tidak langsung mengatakan akan membelikan Hoodie kala itu. Karena sudah tahu jawabannya pasti tidak akan diperbolehkan.
"Makasih, Bang."
"Sama-sama. Sekali lagi selamat yaa. Semoga ilmunya berkah."
"Aamiin."
"Waduh, baik sekali sih Juan."
"Bukan hal besar. Juan ikhlas."
Angkasa menerimanya dengan baik, dia tidak menolak. Karena menghargai niat baik Juan. Dia juga senang-senang saja ada yang memberinya hadiah. Berbeda dengan Riri. Wanita itu merasa tersindir. Dia saja yang kakak aslinya belum kepikiran memberi hadiah apa. Tapi, Juan malah sudah memberikan duluan.
"Kamu kok gak bilang?" Tanyanya sembari bisik-bisik takut kedengeran yang lain. Dia juga menarik Juan agar mereka sedikit menjauh.
"Kenapa harus bilang? Ini kan buat Galaksi."
"Kan aku kakaknya."
"Hubungannya apa?" Tanya Juan menanyakan kepada Riri.
"Kakak adik." Jawabnya dengan polos.
"Ya terus, kenapa harus marah? Kan aku yang beli. Bukan Kamu." Juan masih tidak terima, Riri melarangnya.
"Dia kan adikku. Harusnya, Kamu bilang aku dulu kalau mau ngasih hadiah. Gak suka banget, kalau apa-apa selalu aja pengen menang sendiri."
"Galaksi sudah kuanggap seperti adik sendiri. Jadi, gak ada urusan lagi sama Kamu. Harus bilang atau enggak. Tolong lah Jangan dibesar-besarkan. Kita gak mungkin kan ribut di acara begini."
"Terserah."
Riri marah, dia meninggalkan Juan sendirian. Sementara adiknya yang sedang melihat itu menghampiri Juan.
"Kenapa Bang?" tanyanya meminta penjelasan kepada lelaki itu yang terlihat kebingungan.
"Marah dia. Gara-gara aku ngasih Kamu hadiah."
"Kenapa?" tanyanya ikut bingung.
"Enggak tahu, mungkin dia gak suka. Sudah, jangan dibahas. Kamu fokus aja sama acara."
"Iya Bang. Kalau ada apa-apa kabarin aja. Mungkin lagi hari pertama," ujar Galaksi yang sudah hafal dengan kelakuan kakaknya.
"Siap. Sudah sana"
Dia mengangguk lalu dia pergi. Sementara Juan mencari keberadaan Riri. Di setiap sudut di datangi tidak ada wanita itu, kemudian dia sadar dengan kemungkinan besar yang mungkin akan didatangi oleh wanita tersebut. Dia percaya taman adalah jalan keluar yang paling tepat. Wanita itu sangat senang menyendiri, kemungkinan terbesarnya ada di sana.
Benar saja, sesampainya dia di sana. Wanita yang memakai baju pasangan dengannya yaitu sedang duduk sendirian dengan tatapan kosong entah apa yang dia pikirkan. Padahal seharusnya hari ini wanita itu merasa senang akan kelulusan adiknya.
"Ada yang bisa dibantu Mbak?" Tanya Juan sengaja membuat lelucon supaya wanita itu tersenyum. Namun yang terjadi Riri tetap diam saja tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Juan di hadapannya. Lelaki itu sedang dalam posisi jongkok dengan wajah menengadah ke arah Riri.
Dia sengaja memasang ekspresi seperti anak kucing yang minta dikasihani, agar wanita itu luluh dan mau berbicara dengannya.
"Kenapa sih setiap Aku sedih kamu selalu ada?" Diluar dugaan, wanita itu malah menanyakan pertanyaan yang sangat konyol untuk dijawab. Dia saja tidak tahu kenapa, yang pasti dia tidak senang melihat wanita itu sendirian. Seperti orang yang tidak punya teman. Padahal jelas-jelas ada dia yang selalu akan berdiri paling depan berjalan di samping wanita itu dan siap mendorong wanita itu untuk lebih maju.
"Karena kita sehati." Bukan menjawab dengan benar, lelaki itu malah menggombal pada Riri. Berharap akan ada seulas senyum dari wanita itu untuknya. Karena hanya senyum diri yang akan menenangkan keadaan. Ini tidak berlebihan bagi Juan, karena dia akan merasa bahagia ketika wanita itu tersenyum.
"Kamu pikir kopi." Lelucon giliran wanita itu yang membuat lelucon.
"Hah?" Tanya Juan dengan ekspresi kaget dan kebingungan.
"Sudahlah, Kamu gak akan paham. Aku minta maaf ya sudah marah-marah tadi sama kamu."
Luar biasa, sepertinya bujukan dia kali ini berhasil. Buktinya, wanita itu mau berbicara panjang tanpa dia berusaha lebih keras lagi.
"Nggak apa-apa Aku udah biasa." Juan menjawab dengan tenang dan juga sabar. Dia memang tidak pernah masalah sekalipun wanita itu marah-marah.
"Maksud Kamu aku sering marahin Kamu gitu?" Tanya Riri dengan ekpresi sedih.
Juan panik sepertinya dia salah bicara. Padahal maksudnya bukan seperti itu. Namun yang ditangkap oleh wanita tersebut berbeda dengan apa yang dia sampaikan.
"Enggak. Kan aku bilang gak apa-apa. Aku sudah kebal kena marah. Kamu tahu sendiri. Kerjaan ku gimana. Kalau salah-salah input data. Bukan cuma kena marah. Tapi kena mental juga." Dia merangkai kata sebisa mungkin agar alasannya masuk akal.
"Haha. Curhat dong."
Aneh sekali, di saat dia membuat lelucon Riri sama sekali tidak menggubrisnya, tapi ketika dia tidak sedang bercanda wanita itu malah tertawa bahagia.
"Ledekin aja nggak apa-apa kok gratis buat Kamu."
Lagi, lelaki itu berusaha menggombal banyak hal yang di ketahui bukan orang yang mudah terkena gombalan seperti itu.
"Hoekk."
Dengan ekspresi menahan mual, dan pura-pura muntah. Riri sengaja melakukan itu. Dalam waktu beberapa menit, Juan mampu membuatnya melupakan masalah yang sebenarnya sedang dia hadapi saat ini.
"Jadi, kenapa? Cerita aja biar lega. Jangan suka mendem sendirian."
Awalnya dia masih ragu, tapi saat melihat Juan merubah posisinya kini ada di samping Riri, dan menatapnya penuh yakin. Akhirnya dia buka suara.
"Aku takut Juan." Dan pada akhirnya, dia memilih untuk jujur. Memang tidak ada jalan keluar lagi. Lagipula tidak ada masalah jika dia mengatakan yang sejujurnya pada lelaki itu. Juan bukan orang lain baginya.
"Kenapa?" Tanyanya penuh dengan kelembutan. Jika ini bukan dalam posisi sedang pusing memikirkan sesuatu mungkin dia benar-benar akan baper dengan perlakuan Juan padanya.
"Galaksi sekarang lulus SMA. Aku bukan gak bahagia, apalagi dia siswa berprestasi. Masalahnya, Kamu tahu kan? Aku gak akan membiarkannya sepertiku. Dia harus sukses. Masalahnya, dia butuh biaya untuk kuliah. Sementara sekarang saja aku masih nganggur. Gimana caranya bisa menguliahkan dia?"
Juan bahkan tidak terpikirkan ke arah sana. Dia memang tidak cukup tanggap dengan masalah seperti ini. Tatapan merasa bersalah pun keluar dari mata itu. Dia memang masih minim pengalaman. Berbeda dengan Riri yang memang sudah tanggap. Wanita tangguh itu sudah berjalan jauh di depannya. Dia yakin sekarang. Riri selain hebat, juga cerdas. Siapapun yang akan menjadi pasangan hidup wanita itu pasti sangat beruntung. Meskipun, sifatnya sedikit menyebalkan. Namun, secara keseluruhan nilainya untuk seorang Riri itu A.
"Nanti Aku bantu, jangan khawatir. Kamu harus inget, dia tetap adikku. Meski, bukan kandung."