Segala khawatir yang dipikirkan oleh Riri selalu bisa dipatahkan oleh Juan. Lelaki itu sangat konsisten menemani hidupnya. Menjaganya, dan selalu mampu membantu segala hal yang dibutuhkan wanita itu.
Mereka seperti sepasang sejoli yang tidak akan pernah berpisah, oleh ruang dan waktu. Juan merasa separuh hidupnya terisi oleh Riri. Bahkan, tidak bisa jika sehari saja tidak bertemu dengan wanita itu hatinya terasa hampa. Ada yang kurang, dan dia akan sengaja datang. Meskipun sudah malam. Banyak sekali alasannya, seperti sengaja membelikan nasi goreng, atau sate ayam kesukaan Riri.
Wanita mana yang hatinya bisa kuat, jika mendapatkan perhatian yang sangat luar biasa begini. Bahkan, lelaki itu rela kehujanan jika Riri membutuhkannya dia akan dan pasti datang. Sayangnya, hubungan mereka hanya sebatas teman. Sampai detik ini, Riri tidak pernah mendapatkan pengakuan cinta Juan. Bahkan, lelaki itu sangat tidak terbaca.
"Jadi gimana, Kalian serius atau enggak hubungannya? Ingat Ri, kamu sudah waktunya untuk menikah. Jangan melewatkan waktu yang begitu panjang tanpa hubungan yang jelas. Bapak tidak masalah dengan Juan, tapi jika Kamu memang tidak ada hubungan serius dengannya. Carilah laki-laki yang mau serius denganmu. Bapak yakin, Juan gak akan marah. Dia sangat pengertian dan dewasa. Kita sudah seperti keluarga."
Beberapakali kali, Riri bisa mangkir dari sidang seperti ini. Namun hari ini berbeda, bapaknya tidak mau menunda lagi. Dia meminta Riri untuk segera memberitahukan apakah mereka ada hubungan atau tidak.
Jujur saja, dia bingung sekarang. Mereka seperti orang pacaran, tapi tanpa status. Karena pertemanan mana yang seperti dirinya dan Juan. Dia juga takut, jika terlalu jujur. Nanti dirinya dijauhi oleh lelaki itu. Apalagi, jika dia punya pacar. Pasti Juan akan menjauh. Dia belum ikhlas.
"Aku dan Juan serius kok Pak."
Meskipun dengan bibir yang bergetar, dia mengatakan dengan sangat yakin, supaya bapaknya dan juga anggota keluarga yang lain tidak curiga. Meskipun ini hanya alasan agar dia tidak mendapatkan banyak pertanyaan lagi.
"Kamu beneran Nak. Alhamdulillah, kami seneng banget dengernya. Harapan kita akhirnya terkabul. Kalian tuh cocok banget. Gak sabar, punya mantu kayak Juan. Dia sudah bilang belum sama Kamu? Kapan mau ngelamar." Kini, ibunya ikut berusaha.
"Iya, Aku juga setuju. Dia baik, dan juga tanggung jawab. Sepertinya jika bersama dia. Kakak bakal bahagia."
Lututnya kini lemas, awalnya dia hanya ingin supaya keluarganya tidak terlalu khawatir. Namun seperti senjata makan tuan. Dia sepertinya salah ambil langkah. Melihat mereka sangat antusias membuatnya meringis.
"Doakan yang terbaik saja. Riri dan Juan kan juga baru beberapa bulan dekat. Masih terlalu jauh untuk mengenal sifat masing-masing. Jadi, kami masih butuh waktu lebih lama lagi. Semoga kalian sabar menunggu. Aku dan dia beneran gak buru-buru sekarang ini. Kami lebih hati-hati."
"Iya Nak. Gak masalah, yang terpenting Kami sekarang jadi tidak terlalu khawatir memikirkan calon pendamping hidupnya. Serius, kita sangat suka sekali dengan Juan."
"Iya, doain aja."
"Kalau menurut Bapak. Jika kalian memang sudah merasa cocok. Harusnya, tidak perlu ditunda-tunda lagi. Masalah pendekatan lainnya bisa setelah menikah. Hal yang terpenting kalian sudah saling cocok dan serius."
"Nanti Aku bicarakan lagi dengan Juan ya Pak. Dia siap belum untuk menikah."
Riri benar-benar bingung sekarang, melihat keluarganya berharap banyak. Membuatnya semakin merasa bersalah.
"Jika dilihat sepertinya yakin, kalau sama dia Kamu pasti bahagia," ujarnya dengan penuh rasa bangga.
"Jangan terlalu berharap. Semua sudah ada yang mengatur. Manusia hanya bisa berencana."
"Kok Kamu jadi ragu gitu sih. Kurang apa coba Juan Ri, ganteng dan juga penyayang, baik banget royal. Penuh perhatian sama kamu dan keluarga kita. Di mana lagi, kira-kira bisa dapetin sosok kayak dia?"
Riri setuju, masalahnya Juan tidak mencintainya. Karena tidak ingin membuat orang rumah ini curiga. Dia hanya diam saja.
"Iya."
Sementara itu, di tempat lain yaitu kosan Juan. Riko sedang duduk nyaman memegang stik PS. Dia malam ini berniat untuk bergadang bersama sahabatnya.
"Kenapa Lo? Lagi galau?" tanya Juan pada Riko. Dia melihat ada yang tidak beres dari sahabatnya itu.
"Enggak."
"Jangan sungkan, cerita aja. Biasanya juga bawel banget."
"Gue kesel sama diri sendiri. Susah banget dapetin perempuan. Padahal, kurang apa coba? Ganteng dari lahir, kantong juga oke lah, kalau makan di warteg sampai kembung juga oke. Tapi, kenapa gak ada yang suka sama Gue."
"Lo gak sendirian bro." Juan mencoba menghibur sahabatnya itu. Mungkin, Riko sedang khawatir dengan masa depannya. Karena teman-teman yang lain di umur segitu sudah menikah.
Dulu, Juan juga merasakan hal yang sama. Namun, sekarang dia sudah biasa saja. Tidak ada lagi rasa khawatir berlebihan.
"Lo mah enak. Gak punya pacar juga ada yang merhatiin lah gue?" tanya Riko malah adu nasib.
"Apa sih, Gue juga masih belum kepikiran buat cari pendamping hidup. Jalanin aja yang ada."
Riko tertarik dengan ucapan Juan. Dia marah stik psnya, dan mengambil satu potong gorengan.
"Maksudnya, Lo gak serius sama cewek yang namanya siapa tuh. Aduh, gue lupa."
"Siapa? Laura?" Juan ikut membantu Riko dalam mengingat memorinya.
"Bukan. Perempuan yang waktu itu Lo bilang mandiri itu."
"Oh Riri."
"Nah iya, Riri. Lo gak serius sama dia?"
Riko belum pernah melihat dengan jelas. Bagaimana karakter Riri. Namun, bisa dilihat dari yang diceritakan Juan. Sepertinya wanita itu baik. Dia juga senang, banyak perubahan ke arah lebih baik dari Juan setelah mengenal Riri.
"Kita temenan. Lo jangan mikir kejauhan."
"Bukan jauh lagi. Otak Gue udah traveling ke luar negeri. Enak banget bilang temenan. Hati anak orang Lo mainin begitu. Perempuan butuh kepastian kali Juan."
"Kita temenan serius."
"Parah banget Lo. Gue yakin pasti cewek itu bakal kecewa berat. Gini deh, pikir sendiri. Lo udah buat baper, pastinya bakal ada rasa yang tumbuh. Dia pasti mikirnya Lo suka. Seenggaknya, mungkin dia cinta duluan. Jatuh sama segala perhatian Lo."
"Enggak mungkin. Orang kami kayak kucing sama tikus. Gak pernah akur. Lebih ke arah musuhan malah," ujarnya sembari tersenyum tipis.
"Lo pernah ada di posisi ini Juan. Masak gak paham juga sih."
Riko benar-benar greget. Dia kesal sendiri dengan apa yang diucapkan sahabatnya. Harusnya pengalaman sebelumnya, bisa dipastikan membuatnya lebih peka.
"Apa pertemanan antara lelaki dan perempuan selalu berakhir kayak gini?"
"Dia sendiri, Lo juga sendiri. Apalagi penghalangnya? Kalau emang gak suka kenapa ngasih harapan. Gak usah naif segala bilang kasian, atau temanan. Kalau emang bener gitu kenyataannya Lo jahat banget. Sorry, kali ini gue di pihak Riri."
"Belum tentu Riri suka Gue."
"Terserah. Lo emang paling lelet soal beginian. Nanti nyesel baru tahu rasa. Emang kurang apa dia? Sampe susah banget buat Lo cintai?"
Pertanyaan itu membuat Juan diam. Dia juga memikirkan hal yang sama sebelumnya. Kenapa sulit sekali.
"Dia bukan tipe Gue."
Riko sadar, jika dibandingkan Lara. Memang wanita itu beda. Namun, semua tidak boleh disamakan. Mereka hidup dengan jalan yang berbeda. Riri si wanita pekerja keras. Sementara Lara selalu dilindungi oleh orang-orang yang disayangi. Jelas mereka berbeda.
"Ya udah. Kalau Lo gak mau. Biar buat Gue aja. Nama kita juga udah cocok. Riri dan Riko. Pasti keren pas di surah undangan."
"Langkah dulu Gue!"
Sentak Juan spontan, hal itu membuat Riko tersenyum evil. Semakin Juan melarang, justru membuat lelaki itu merasa tertantang.