Riri sedang ditatap penuh tekanan saat ini oleh Juan. Dia tidak bisa berkutik sama sekali. Karena kebodohannya, malah menjadi petaka saat ini. Dia bingung, harus bagaimana menjelaskannya. Juan lebih dulu marah, sebelum dia menjelaskan.
Sepertinya jika sudah begini, apapun yang dikatakan olehnya akan menjadi sia-sia. Jujur saja, Riri merasa sangat menyesal. Dengan kecerobohan yang dilakukan olehnya. Dia bukan berniat membohongi hanya ingin supaya orangtua tidak terus menerus mendesaknya untuk mencari lelaki lain. Namun, sebelum dirinya berhasil menjelaskan pada lelaki itu, Juan sudah salah paham lebih dulu.
"Maaf," ujarnya dengan penuh rasa sesal. Dia tidak tahu jika pada akhirnya akan berakhir menjadi sepertinya.
"Memang dengan Kamu minta maaf, semua akan baik-baik saja. Kamu nggak mikirin gimana pendapat orangtua Kamu kalau tahu yang sebenarnya. Jujur aja aku kecewa berat. Kenapa harus bohong sih? Kenapa?"
Juan benar-benar ingin sekali marah besar, tapi mengingat bahwa Riri adalah seorang wanita Dia mencoba menahannya. Akan lain ceritanya semisalnya Riri berbicara jujur terlebih dahulu padanya. Baru kali ini, dia berbicara dengan nada yang dingin dan benar-benar seperti orang yang sedang marah pada umumnya.
"Aku gak tahu harus jawab apa sama mereka."
Akhirnya Riri pasrah. Dia mengatakan yang sebenarnya. Jika tidak dalam kondisi terdesak, dia juga tidak akan mau.
Juan mendengarkan penjelasan wanita itu dengan seksama. Meskipun terdengar masuk akal tapi baginya ini tetap sebuah kesalahan. Wanita itu tidak seharusnya mengaku bahwa mereka berpacaran padahal tidak. Mungkin terlihat sepele tapi yang dipikirkan kedepannya.
Pasti setelah ini orangtua Riri berharap banyak padanya sementara dia aja belum jatuh cinta pada wanita itu, dia juga belum siap untuk menikah. Banyak hal-hal yang menurutnya tidak masuk akal untuk dilakukan kedepannya. Mungkin terlihat egois dia seperti seorang teman yang tidak mau membantu temannya. Padahal apa pun akan dia bantu selain yang satu ini.
"Tidak ada pembenaran dari apa yang kamu lakukan. Mungkin selama ini kamu salah mengartikan kebaikanku. Kita nggak mungkin bersama Ri."
Juan benar-benar frustasi dibuatnya. Dia bahkan tidak bisa mengontrol lagi nada bicaranya.
Tidak banyak yang bisa dia katakan. Otaknya masih butuh waktu mencerna semua yang terjadi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Yang paling buruk adalah perpisahan. Bisa dipastikan setelah ini hubungan mereka tidak akan sebaik dulu. Entah siapa yang akan mengalah di antara keduanya.
"Kamu enggak perlu marah-marah seperti itu, kita bisa bicara kan ini secara baik-baik. Aku pikir kamu akan marah begini. Ternyata selama ini aku yang salah sangka. Dikira kamu akan membantuku ternyata enggak. Aku enggak akan minta kamu buat tanggung jawab kan aku cuman bilang, minjam nama kamu aja. Apa sebegitu susahnya? Oh atau, Kamu emang punya pacar, jadi takut nyakitin orang itu. Kenapa gak bilang? Selama ini itu kita apa sebenernya? Kamu dengan segala perlakuan manis itu cuma palsu kan sebenernya? Kamu yang jahat bukan aku!"
Teriak Riri, dia memang salah, tapi melihat respon Juan yang sangat berlebihan. Membuatnya balik marah.
"Kalau Kamu perlu aku memohon buat dimaafkan. Oke, Aku lakukan."
Riri hampir menjatuhkan tubuhnya di hadapan lelaki itu. Namun, tidak rampung. Karena tangan Juan lebih dulu memeluk Riri. Agar wanita itu tidak terjatuh.
"Gak perlu gini. Kamu melukai harga diriku terus. Kenapa sih? Kita jadi begini. Kamu suka sama aku. Enggak kan? Bilang RI, Kamu gak suka aku kan?"
Riri menangis. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena jika jujur maka selesai sudah lah dia dengan Juan.
Flashback
Juan ceritanya sengaja mendatangi rumah Riri. Tentu tanpa sepengetahuan wanita itu. Dia kemarin ada acara tour bersama rekan kerjanya dan pulang membawa oleh-oleh.
Wanita itu tahunya dia akan datang esok hari, padahal Juan sengaja ingin memberikan kejutan pada Riri. Namun bukan dia yang memberi kejutan ternyata dia yang dikejutkan.
Pagi hari saat ia mendatangi rumah wanita itu, ternyata Riri sedang pergi bersama ibunya berbelanja ke pasar.
Memang seperti ada kejanggalan. Namun dia tidak sadar, seperti sapaan dari adiknya.
"Widih calon penghuni keluarga ini, kemana aja Bang? Perasaan hampir seminggu nggak kelihatan?" Tanya Galaksi padanya. Dia masih berpikir positif.
Mungkin remaja itu sedang bercanda padanya. Dia pun menanggapi dengan santai.
"Iya nih, kemarin ada tour dari kantor jadi enggak bisa ke sini dulu. Kamu gimana kabarnya?"
Juan berbasa-basi, meskipun dia tahu Galaksi baik-baik saja.
"Seperti yang dilihat Bang. Tenang aja, Aman. Kakak yang galau, gara-gara di tinggalin. Tiap hari, diem di kamar terus. Udah kayak ditinggal lama aja, ternyata cuma seminggu. Dasar cinta emang beda."
Pengakuan dari adiknya Riri membuatnya tersenyum. Entah kenapa ada rasa bahagia yang tumbuh begitu saja.
"Malah senyum, udah tunggu aja di situ. Nanti sebentar lagi Kakak juga datang."
"Ya sudah, Bapak ada di mana?"
"Di tempat biasa. Aku pergi dulu ya Bang."
"Mau ke mana?"
"Ada urusan buat kampus."
"Ya sudah. Hati-hati. Ini buat jajan." Juan mengeluarkan 2 lembar uang berwarna biru. Kemudian langsung dia masukan ke dalam kantong saku Galaksi.
"Nggak usah Bang, udah ada kok."
"Udah ambil aja nggak usah bilang kakak."
Pemuda itu mengerti, kenapa Galaksi tidak mau mengambil uangnya. Takut Riri marah.
"Makasih ya Bang."
"Iya sama-sama hati-hati di jalan."
Juan pun masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan papanya Riri. Benar kata adiknya bahwa papanya ada di ruang keluarga.
"Assalamualaikum, Bapak sehat?" Tanya Juan sembari menyalami tangan pria paruh baya itu.
"Waalaikumsalam, duduk Nak. Alhamdulillah sehat, Kamu gimana kabarnya? Liburannya seru gak?"
Juan duduk terlebih dahulu, baru dia menjawab pertanyaan untuknya.
"Seru Pak, kapan-kapan kita semua harusnya ke sana deh."
Dia tidak bohong, memang sepertinya jika satu keluarga yang pergi, akan lebih menyenangkan.
"Wah boleh tuh, nanti ya. Kalau Bapak sudah kuat buat bepergian jauh kita pergi."
Meskipun sehat, bukan berarti kuat. Dia belum bisa sepenuhnya pulih.
"Iya Pak. Tidak perlu terburu-buru. Nanti juga pasti bisa. Bapak sudah makan?"
"Sudah, sebelum mereka pergi ke pasar."
"Oh iya, Riri memangnya galau akhir-akhir ini Pak?"
Dia bertanya pada pria paruh baya itu, untuk nantinya supaya bisa meledek wanita itu.
"Ya gimana lagi, namanya juga ditinggal pacarnya. Masa gak galau."
"Pacarnya? Riri pacaran?" tanya Juan kaget. Dia tidak menyangka, jika temannya itu memiliki pacar, ketika dia pergi.
Juan marah, kenapa dia tidak bilang.
"Tenang Juan, gak perlu malu. Bapak dan Ibu juga sudah merestui kalian kok. Kami senang, dan merasa beruntung. Jika kamu benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini."
"Maksud Bapak?"
"Kamu pacaran sama Riri kan?"
Deg
Kepalanya seketika pening. Baru saja dia ingin mengeluarkan suara.
"Assalamualaikum,"
Riri dan ibunya keburu datang.
Flashback off
"Aku tahu kok, kita gak selevel haha. Kamu pasti malu kan. Kalau semisalnya jadi pacarku, meskipun hanya pura-pura. Kamu pasti gak akan suka. Aku emang gak tahu diri. Harusnya nyadar dari awal. Kita beda segalanya."