Hiburan

1135 Words
Riri sudah pulang. Kini dia sedikit lega. Meskipun rasanya sangat sakit. Namun, ini lebih baik. Dibandingkan harus menutupi kebohongan dengan kebohongan lagi. Dia sudah lelah bermain peran, dan berusaha menutupi semua yang terjadi. Meskipun dia yang menyutradarai sendiri. Namun, dia yang terjebak pada arahannya. Juan terlihat sangat kecewa. Saat pulang pun, lelaki itu sudah tidak berbicara apapun lagi padanya. Terlihat sekali Bahwa Juan masih marah besar padanya. Mungkin kecil kemungkinan untuk bisa mendapatkan maaf darinya. "Kenapa Kak?" Tanya Galaksi pada kakaknya yang terlihat lesu sepulang pergi bersama Juan. Padahal ketika Juan tidak ada Riri sangat lesu sekali, harusnya ketika bertemu wanita itu bahagia bukan malah sebaliknya. "Nggak. Capek doang." Riri beralasan. Dia sebenarnya sedang pusing. Namun, malas di dalam kamar. Dia butuh keramaian sepertinya. Karena berada dalam kamar hanya membuatnya semakin memikirkan yang bukan-bukan dan menyalahkan dirinya sendiri. Ketakutan kehilangan Juan semakin terasa nyata. "Jangan-jangan putus," ujar Galaksi berniat untuk meledek kakaknya. "Harapan lo!" Kesal Riri. Sembari melemparkan bantal sofa ke arah adiknya yang sedang tersenyum sangat evil. "Becanda aja kali. Gitu aja cepat marah. Padahal kalau nggak ngerasa harusnya biasa aja." "Gimana bisa biasa aja sih. Orang Lo nya aja bikin emosi." Kini, suara Riri naik satu oktaf. Membuat adiknya sedikit merasa bersalah. Sepertinya sang kakak memang benar tidak mood. Tidak sampai di situ, kini mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Sepertinya masalah yang dihadapi mulai serius. "Kenapa ribut-ribut?" Tanya Mamahnya. "Tuh Mah. Kakak lagi galau. Sensitif banget marah-marah. Padahal, gak diapa-apain. Hanya bercanda doang." "Bercanda Lo gak lucu," sewotnya kesal. "Terus, gimana bercanda yang lucu?" Tantang sang adik. "Gak tahu. Terserah Lo aja." "Kenapa sih Kak. Bener kata Adik. Kamu sensitif sekali. Harusnya kan bahagia. Juan sudah pulang. Tadi pas berangkat bahagia banget, kenapa pulangnya malah sedih begini." "Juan terus. Gak ada hubungannya sama dia. Aku tuh lagi hari pertama. Biasa, masa gak ngerti sih!" Riri kesal, dan juga sedih secara bersamaan. Dia bingung dan juga kesakitan. Kenapa mereka tidak ada yang paham akan kondisi seperti ini. Riri hanya ingin dimengerti, tanpa perlu menjelaskan pada semuanya. Meskipun ini Lucu. Namun, sepertinya hal tersebut banyak dirasakan oleh wanita. Mereka kesulitan untuk bercerita, karena takut membuat orang memiliki beban pikiran tapi ingin dimengerti. "Ya sudah, lebih baik istirahat saja." "Enggak mau." "Oh iya, boleh tanya sesuatu gak?" "Apa?" "Tadi, tanya Juan. Mengenai kelanjutan hubungan kalian. Kenapa dia kayaknya gak ngerti sama apa yang diucapkan Bapak ya?" tanya pria paruh baya itu. "Gak ngerti gimana Pah?" tanya sang istri pada suaminya. "Gimana ya jelasinnya. Papah juga gak tahu pasti, yang jelas. Dia tuh bingung. Tapi, mungkin karena belum siap bilang sudah ditanya duluan." "Aduh, Papah gimana sih," ujar sang istri sangat menyayangkan. "Namanya juga keceplosan. Saking senengnya dia mau jadi bagian dari keluarga ini." "Iya juga sih, Mamah juga mau tanya sama dia tadinya. Karena keburu ngajak Riri pergi, gak jadi deh. Pulangnya, malah gak ke sini dulu. Kalian beneran gak berantem kan?" Riri berada di situ, dia semakin bingung sekarang. Harus menjawab apa pertanyaan mereka semua. Tanpa dia sadari, adiknya sudah memperhatikan sejak tadi. "Dia belum siap. Jangan ditanya-tanya dulu. Aku malu nantinya sama Juan." "Iya maaf, lain kali enggak." Riri merasa bersalah, ternyata kebohongan memang tidak akan ada yang baik. Pada akhirnya malah menyengsarakan semuanya. "Iya, maafin ya Nak. Tadi terlalu bahagia, sampai lupa. Bahwa kalian belum siap." "Tidak apa-apa. Kalau begitu, Riri masuk ke kamar dulu ya." Wanita itu bangun, setelah mendengar kata iya dari semuanya. Dia malu, sudah berbohong pada keluarganya dan hanya membuat harapan palsu yang menyakiti hati mereka semua dan juga dirinya sendiri. "Mah, tadi bakso buat kakak belum dikasih ya?" tanya Galaksi. "Apa Dek, jangan mulai deh. Kakak Kamu kasian lagi sedih gitu. Masa baksonya Kamu makan juga sih." "Iya, mending beli sendiri. Uangnya ada di kantong kulkas." "Hey, itu uang Mamah, simpanan. Kembalian dari beli gula." "Hehe, kirain harta bersama." "Enak saja." "Ya ampun, siapa juga yang mau makan bakso lagi, orang mau kasih kakak. Itu kan makanan kesukaannya. Siapa tahu, setelah makan itu. Dia jadi kembali bahagia." "Nah bener juga Kamu." "Ya sudah. Adik susul kakak dulu." Galaksi pergi ke dapur. Mengambil semangkuk bakso lengkap tanpa saos tapi pakai sambal. Sesuai dengan kesukaannya. Kemudian dibawa ke kamar sang kakak. Tok Tok Tok Karena tidak ada sahutan dia pun membuka pintu tersebut. "Kenapa main nyelonong aja sih!" Bentak Riri pada sang adik. Dia sedang menangis, makanya tidak berani untuk membuka pintu ataupun menyahut. Dia pikir orang yang mengetuk itu mengerti dan mengiranya dia tidur. Ternyata malah masuk tanpa permisi. "Maaf, dikira pingsan. Lo habis nangis ya? Kok matanya merah?" Tanya Angkasa mencurigai gerak-gerik kakaknya yang tidak seperti biasa. "Enggak. Gue habis tidur." "Gak mungkin Lo udah tidur, baru juga masuk." "Terserah. Udah deh, sono. Gue ngantuk." Riri beralasan. Dia meminta adiknya keluar. Dia juga langsung masuk ke dalam selimut. "Bangun. Ini bakso kesukaan Lo. Beruntung, Gue mau bawain. Kurang baik apa coba?" Adiknya tetap tidak mau keluar. Dia malah semakin penasaran dengan tingkah laku kakaknya yang mencurigakan. Angkasa menutup pintu, lalu menarik selimut sang kakak. "Ngaku Lo." "Apa sih, ikut campur urusan orang dewasa aja." "Gue gak akan ikut campur, kalau Lo mau makan bakso ini sampe abis." "Maksa banget. Gue udah kenyang." "Sekenyang-kenyangnya Lo. Kalau urusannya bakso, mana mau. Kecuali, emang Lo kenapa-kenapa Kak." "Ok fine, Gue makan." Riri bangun, dan dia langsung mengambil bakso tersebut dari tangan adiknya. Tanpa perasaan, Dia memakan bakso tersebut. Tak lama, terasa panas. Tenggorokannya pun seret. Rasa pedas menjalar sampai ke kuping. "Galaksi, Lo mau buat gue keracunan ya. Ini pedes banget!" Teriak Riri tidak terima. Dia pun mengeluarkan air matanya. Padahal, aslinya. Air mata itu keluar karena dia bersedih atas apa yang sudah terjadi. Bukan karena rasa pedas pada bakso. Galaksi juga paham. Dia sangat tahu karakter kakaknya yang doyan pedas. Tidak mungkin cabai membuatnya menangis, kecuali kena mata. "Cengeng. Cowok masih banyak di luaran sana. Kakakku jangan nangis hanya karena lelaki." "Enggak. Siapa yang nangis gara-gara Juan." "Oh Juan, ngaku juga akhirnya." "Hah? Enggak bukan gitu maksudnya." "Wajar kok. Awal-awal hubungan emang begitu. Kata orang sampai kapanpun pasangan harus bisa beradaptasi, karena manusia akan terus berubah-ubah sifatnya dan tingkah lakunya. Tidak perduli, meskipun itu pada pasangannya sendiri." Air mata Riri semakin deras. Dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh sang adik. "Mengharapkan manusia hanya akan buat Lo sakit hati." "Gue salah ya, kalau selama ini berpikir Gue istimewa." "Gak salah, tapi bukan dia orangnya yang menganggap Lo istimewa." "Lo kok dewasa banget sih," ujar Riri sembari menangis. Tapi, dia juga tetap memakan bakso tersebut. "Lo nya aja yang masih anggap gue anak kecil terus." "Hah, enggak kok. Tapi, Lo kan adik buat gue. Jadi, tetap aja kecil hehe." "Ngaco. Udah, habisin aja tuh baksonya." "Eh, kok lama-lama asin ya? Apa belum diaduk." "Air mata Lo nya kali yang asin." Galaksi keluar dari kamar. Dia tidak perduli teriakan geli dari sang kakak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD