Riri tidak tahu lagi, bagaimana caranya menutupi mata bengkak. Selain mangkir dari acara sarapan pagi ini. Dia beralasan sedang tidak mau diganggu. Badannya meriang, tapi bukannya dibiarkan sendirian. Mereka malah datang secara bersamaan. Kini, sedang menatapnya.
"Kenapa sih kalian. Aku baik-baik saja."
Riri mengucapkan hal itu dengan berat hati, dia sebenarnya sangat pilu. Namun, tidak mau menunjukan di depan mereka semua bahwa dirinya sedang lemah.
"Bohong!" Teriak Galaksi tidak tahu tempat. Dia tidak suka melihat kakaknya seperti itu.
"Ngarang!"
"Iya, Lo sengaja kan, biar dijenguk Bang Juan. Caper!"
Riri hanya menatap tidak percaya. Dia saja berani jamin, lelaki itu tidak akan mau datang meskipun dia sakit parah. Rasa bencinya akan menutupi rasa perhatiannya. Namun, yang paling heran ternyata adiknya masih berbaik hati untuk tidak membuat hal yang mencurigakan.
"Terserah!"
Riri pura-pura marah, dia masuk ke dalam selimut.
"Jangan begini Nak, ayo bangun. Jika memang ada masalah, selesaikan. Begini tidak akan menyelesaikan masalah. Kamu akan pusing sendiri nantinya. Jangan menghindar."
"Siapa juga yang menghindar, orang gak enak badan pengen istirahat."
"Berarti Kamu lagi sakit."
"Siapa juga yang sakit. Orang cuma butuh sendiri aja."
"Lagi galau berarti."
"Enggak galau."
"Ya udah, terserah."
Galaksi lelah sendiri menghadap tingkah kakaknya yang aneh. Padahal, dia berniat baik untuk membantu Riri keluar dari kegalauannya.
Galaksi keluar dari kamar. Dia jadi kesal, karena Riri sangat sulit diajak bicara. Padahal, jika wanita itu diam saja, malah membuat orang di rumah kebingungan dan semakin khawatir.
"Kita keluar saja."
Ibunya pun menyerah, dia akan memberikan waktu kepada anak sulungnya, sampai mau bicara dengan sendirinya.
"Dasar batu," ujar Galaksi, kemudian lelaki itu duduk dan main handphonenya.
"Sudah. Biarkan saja, jangan dulu diganggu."
"Mau sampai kapan coba. Gak biasanya Kakak begini."
"Namanya juga orang hidup. Pasti ada aja masalahnya. Tapi Riri kan sudah dewasa. Kamu tidak perlu terlalu khawatir."
"Iya Mah. Kalau gitu, Aku pergi dulu ya."
"Ke mana?"
"Ke rumah temen. Kebetulan ada acara."
"Bener? Temen apa temen. Jangan bilang. Pacar Kamu lagi, aduh jangan dulu ya Angkasa. Mamah belum mau punya mantu dari kamu."
"Siapa juga yang punya pacar Mah."
"Terus, kenapa sering banget keluar?"
"Ada acara Mah."
"Sudah Mah, namanya juga anak muda. Papah juga dulu begitu. Lelaki harus banyak bergaul. Tapi ingat, harus ke hal yang positif. Jangan sampai terjerumus. Kamu masih muda, arus di luaran sana mengalir dengan deras. Jika tidak kuat membuat rem. Maka akan hanyut."
"Iya Pah, Aku akan selalu ingat. Tidak boleh bergaul dengan yang tidak baik."
"Nah, itu baru anak Papah. Uang jajan minta Mamah saja."
"Siap!"
"Bisa-bisanya. Kalian ini ada saja kelakuannya. Drama ujung-ujungnya minta jajan."
"Sayang Mamah!" Teriak mereka berdua tidak tahu malu, membuat wanita paruh baya itu tersipu malu. Meski sudah berumur, suaminya selalu memperlakukan dengan baik. Cara mereka menjaga keluarga, patut diacungi jempol.
"Lebay!"
Namun, tentu saja, gengsi selalu menjadi faktor utama. Meskipun mati-matian gombal, tetap saja tidak akan mempan.
"Padahal seneng tuh Pah."
"Iya, perempuan kan gengsian."
"Bener, kalau gitu bye semuanya. Galaksi pergi dulu."
"Anakmu tingkahnya lucu-lucu ya Mah."
"Anakku doang, anakmu juga itu. Mereka bikin sakit kepala. Gak ada lucu-lucunya."
"Kamu saja yang terlalu sensitif."
"Bilang apa?"
"Enggak, Mamah cantik."
"Hoek."
Riri melihat dari kejauhan. Dia lihat semua interaksi itu dari pintu kamarnya. Awalnya, karena tidak enak pada yang lain, dia memutuskan untuk menyusul, tapi karena percakapan mereka terdengar seru, dia berhenti sampai pintu.
Harusnya, setelah melihat ini. Dia tidak perlu khawatir, kehilangan Juan tidak akan merubah apapun. Dia masih tetap hidup dengan baik dan bahagia. Karena adanya keluarga yang senantiasa melindungi dengan sepenuh hati, bukan orang luar yang hanya ingin ikut campur saja.
Juan berdiri di samping kantor yang sudah tutup. Hari ini dia pulang terlambat dibandingkan teman-temannya yang lain karena ada pekerjaan yang belum selesai. Saat semua pekerjaan sudah selesai, dia malah terjebak hujan. Saat mencari jas hujan, ternyata dia baru ingat dipinjam oleh Riko. Karena tidak mau kehujanan dia memilih untuk berdiri di samping kantor.
Banyak sekali yang dia pikirkan, terutama masalahnya bersama Riri. Memang terlihat sangat kejam, dia langsung menyalakan wanita itu tanpa mau mendengarkan penjelasan dan mencerna penjelasan itu dengan sangat baik.
Juan sangat menyayangkan sikap ceroboh wanita itu, padahal dia masih sangat ingin berteman. Dia juga sudah terlanjur nyaman bersama keluarga Riri. Mereka menerimanya dengan baik dan sangat menyenangkan berada di dalam keluarga yang terbuka pemikirannya.
Namun, tidak ada hubungan pertemanan, persaudaraan yang semudah yang dibayangkan. Pasti ada saja hal yang akan membuat mereka harus menjaga tali silaturahmi ini. Sementara, pada ujian pertama saja dia sudah gagal.
Sekarang, sudah hampir satu Minggu. Dia tidak lagi ke rumah itu. Menjadi lelaki pengecut adalah jalan pintasnya. Dia bukan tidak ke sana. Hanya sampai jalan rumah itu saja, melihat kondisi dari kejauhan. Kemudian pergi lagi, hal itu sudah dia lakukan berkali-kali.
Kehadiran Riri sangat berpengaruh banyak terhadap hidupnya, dan ketika dirinya tidak baik-baik saja bersama wanita itu. Maka yang terjadi adalah sebuah kekacauan seperti sebelumnya.
Jangan pikir, Juan mudah melewati harinya, karena dia meninggalkan Riri. Itu sama sekali tidak benar. Dia bahkan beberapa kali salah melakukan pekerjaannya. Makannya pun jadi tidak teratur lagi, itu semua memang cukup lebay untuk ukuran orang dewasa. Namun, Juan berbeda. Dia yang mempunyai trauma dalam kehilangan. Terlalu takut, hal itu kembali terulang. Meskipun, sekarang dia yang menghilang.
Dia berpikir mungkin Riri juga tidak akan mau menerimanya lagi. Sikapnya sudah keterlaluan. Sehingga, wanita itu perlahan akan meninggalkannya. Sama seperti Lara. Kesalahpahaman yang terjadi. Membuat wanita itu memilih kembali dengan suaminya.
"Arghh!"
Dia memukul kepalanya sendiri, tentu dengan tangan kosong. Dia hanya ingin mencoba menyadarkan diri. Ternyata, bukan sadar malah sakit saja kepalanya.
Suara hujan deras, mampu menyamarkan teriakannya. Emosinya tidak terlihat oleh kebanyakan orang yang lewat. Dia tanpa sepengetahuan yang lain. Sedang menangis saat ini.
Dia adalah manusia yang aneh. Merasa terlalu mudah mendapatkan Riri. Sehingga egonya tidak membiarkan jatuh cinta pada wanita itu. Dia tidak suka, dengan Riri yang terlalu pasrah dengan keadaan. Bahkan melakukan hal memalukan, wanita itu sanggup.
Dia tidak mau, memberi harapan. Dia hanya ingin berjalan sebagai teman. Namun wanita itu menginginkan hal yang lebih. Kata-k********r yang keluar dari mulut kotornya, terasa sangat menyakitkan bila diingat. Kini, dia merasa tidak pantas bersama dengan wanita itu.
Karena perasaannya sudah tidak karuan. Dia memutuskan untuk menerobos hujan. Tidak perduli dengan perut kosong yang akan masuk angin nantinya. Baginya, sendiri dalam kondisi seperti ini hanya akan membuatnya semakin terluka parah.
Namun, sebuah payung menghentikan air hujan itu turun. Dia melihat arah di mana seseorang berdiri sembari memegang payung tersebut, jarak mereka juga tidak jauh dan terlalu dekat.