Tidak Beruntung

1520 Words
Juan berjalan keluar dari cafe. Dia sangat emosi tapi tidak bisa melampiaskannya. Karena yang dikatakan Riko memang benar. Dia mengakui, terlalu lemah jika berurusan dengan cinta. Padahal, sepantasnya manusia tidak boleh terlalu mencintai manusia lain, lebih dari kecintaannya pada Sang Pencipta. Juan terus berjalan, mencoba menikmati udara malam ini, berdiri di samping lampu jalan dan setelah lampu itu berubah menjadi merah, barulah dia menyebrang. Masih belum tahu, ke mana arah perginya. Karena dia sendiri sebenarnya tidak mempunyai tujuan, keluar dari cafe tidak masuk rencana malam ini. Mungkin, jika kakinya kelelahan, maka dia akan berhenti di tempat itu. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya merasakan kakinya tidak kuat lagi berjalan. Dia berhenti di sebuah taman yang cukup ramai. Banyak orang yang sengaja datang untuk sekedar membeli nasi goreng atau makanan ringan lainnya. Dia memilih untum duduk di kursi yang biasa ditempati oleh sepasang kekasih. Karena tidak ada kursi mandiri, akhirnya dia duduk di situ. Sembari menikmati pemandangan sekitarnya. Mereka semua sepertinya tampak bahagia, setidaknya tidak ada yang datang sendirian seperti dirinya. Suara perutnya berbunyi, dua merasakan lapar, mungkin karena kelelahan berjalan cukup jauh. Sehingga menghabiskan banyak tenaga. Dia memesan satu porsi nasi goreng. Setelah dimasak, langsung mengambilnya dan kembali duduk di tempat semula. Baru saja hendak menyuapkan satu sendok nasi goreng tersebut, dia langsung merasa sangat kenyang. Tanpa disadari sebelumnya, tenyata di tempat ini ada wanita yang selama ini membuatnya menjadi seperti ini. Dia menurunkan sendok itu kembali ke piring. Matanya dia pejamkan sebentar. Mencoba mengatur nafas sebaik mungkin, sebisa mungkin mencoba meyakinkan dirinya. Bahwa itu sudah berlalu, dan dia sudah harus biasa saja. Semisalnya, dirinya tidak datang ke taman ini pun. Tetap saja masih bertemu dimana pun itu, tidak ada yang perlu disesali. Di sana, terlihat sekali. Bahwa Lara sangat menikmati hidupnya, wanita itu sudah jauh lebih baik. Mungkin keduanya sudah sama-sama belajar dari kesalahan. Juan mengalihkan pandangannya. Dia kembali memegang sendok dan mulai menyantap nasi goreng itu, dia seperti sedang melampiaskan sesuatu, terlihat dari caranya makan. Penuh dengan semangat, nasi goreng itu habis dalam waktu tidak lebih dari lima menit, dia pun bingung, sepertinya memang porsinya yang terlalu sedikit, atau dia yang terlalu kelaparan, setelah menerima kenyataan. Juan segera pergi dari tempat itu, dia berharap tidak akan datang ke tempat itu lagi. Dia benci malam ini. Dia merasa tidak memiliki siapapun saat ini. Jatuh cinta sangat membuatnya lemah. Saat ini. Dirinya merasa teman-temannya pun tidak bisa mengerti dirinya. Padahal, rasa sakit seseorang tidak bisa disamakan dengan luka yang pernah orang lain dapatkan juga. Mungkin lukanya sama, tapi rasanya pasti akan berbeda-beda. Putus cinta memang bisa dialami siapapun. Namun, tidak semua bisa dengan cepat menangani hatinya yang terlanjur sakit itu. Juan akui dia memang tidak sekuat orang lain. Dia tidak masalah, sekalipun disebut sebagai laki-laki yang menyedihkan. Malam ini, dia putuskan untuk langsung pulang ke kostan, karena besok masih harus bekerja. Dia masih belum mau diliburkan untuk selamanya karena sengaja bolos kerja. Esok harinya, seperti biasa. Dia datang ke kantor dengan pakaian formal. Dasi garis-garis, kemeja biru laut bagian bawahnya dimasukan ke dalam celana, tidak lupa dia pakai ikat pinggang, agar terlihat rapi. Beginilah, kira-kira penampilannya setiap hari. "Sudah datang Mas, sarapan belum?" tanya seseorang sembari tersenyum. Wanita itu, seperti tidak ada lelahnya mencari perhatian, padahal jelas-jelas Juan tidak pernah perduli padanya. entah apa yang sedang diharapkan, beberapa temannya juga sudah mencoba mencarikan pengganti Juan, tapi wanita itu tetap berharap. "Hmm." seadanya, ya begitulah. Tidak ada yang bisa diharapkan dari seorang Juan. "Masih pagi sudah lelah banget mukanya. Ceria dong, senyum gitu loh. Ketawa apalagi, boleh banget." Masih terus mengoceh, beruntung belum ada nasabah yang datang. "Mas Juan Mah, kalau udah mau akhir bulan gini mukanya emang selalu kusut, mungkin lagi mikirin cicilan," ledek satpam yang sedang berjaga di depan mesin antrian. Juan hanya tersenyum, menanggapi ucapan tersebut, meskipun tidak benar adanya. Setidaknya, dia harus menghargai seseorang yang sedang membuat lelucon itu. "Tuh kan, giliran sama Aku jutek banget, giliran sama Pak Zami, mau senyum. Gak adil." "Kamu sedang demam ya Laura, kenapa rewel sekali?" Pertanyaan itu sukses membuat satu ruangan itu tertawa. Satpam tadi, petugas kebersihan dan rekan kerja yang lain juga ikut tertawa. Juan memang paling bisa membuat orang lain geleng-geleng kepala sembari tertawa. Terkadang, secara tidak sadar celotehannya justru sangat lucu. "Mas mah parah!" Amuknya, membuat Juan sedikit menyunggingkan senyuman. Dan mulai menyalakan komputer, sebab kurang dari lima menit, kantor akan segera buka. "Selamat pagi, perkenalkan saya Juan, ada yang bisa dibantu?" Seperti itulah kira-kira sapaan dari seorang Juan untuk nasabah yang datang ke mejanya. Dia akan menyapa dengan ramah, dan tidak lupa tersenyum. "Pagi, Saya ingin mengambil uang." "Baiklah. Dengan ibu Riri ya?" Atasannya memberikan pesan, bahwa akan kedatangan seorang nasabah yang akan mengambil uang dalam jumlah besar. "Betul." "Baiklah. Kalau begitu segera kami proses ya," ujarnya. Kemudian dia mulai menjalankan pekerjaannya sesuai dengan prosedur. Sesekali, Juan melirik ke arah perempuan itu, aneh sekali. Karena baru kali ini, dia melihat ada orang yang mengambil uang tapi wajahnya tidak menunjukan kebahagiaan sama sekali, bahkan cenderung seperti orang yang sedih. Padahal, nominalnya cukup besar. Dia merasa pernah melihat wajah itu, tapi entah di mana dan kapan. Dia benar-benar lupa. Sesuai keinginan nasabah, beliau mengambil semua uang yang ada di rekeningnya. Setelah uang sudah disiapkan, perempuan itu mengambil uangnya dan pergi keluar dari bank tersebut. Juan masih kepikiran. Namun, dia langsung mengalihkannya ke hal lain. Contohnya seperti saat ini, karena sudah ada nasabah lainnya. Dia segera melayani dengan sepenuh hati. Sampai waktu istirahat tiba. Juan yang biasanya berdiam diri di kantor, hari ini dia memutuskan untuk keluar. Tidak biasanya? Ya memang. Ini semua terjadi karena perempuan itu. Dia masih memikirkan wajahnya yang sendu. Kali ini, dia merasakan iba kepada orang. Jiwa sosialnya tiba-tiba saja muncul. Setelah lama tidak pernah perduli pada siapapun. Karena terlalu acuh dan sibuk dengan hatinya sendiri. "Mau kemana Mas Juan?" Tanya Laura. "Ngopi." "Perasaan di pantry masih banyak kopi," ujarnya masih berusaha mencari tahu. "Udara segar," ujarnya sembari mengendurkan dasi yang terasa mencekik. Laura tersenyum, kemudian dia mempersilahkan Juan untuk pergi, sayup-sayup dia mendengar suara teman-temannya yang lain, meledek wanita itu karena terlalu berharap padanya. Sekali lagi, Juan tidak perduli. Dia tetap berjalan dan keluar dari kantor. Mencari tempat ngopi yang sekitaran bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih tenang. Sekitar beberapa menit mencari lokasi terdekat, akhirnya dia menemukan cafe yang dia ingin datangi. Memesan minuman, dan duduk di lantai paling atas. Bukan untuk merokok, dia hanya ingin menyegarkan kepenatan, dan sakit kepala yang tiba-tiba muncul. Meskipun ini sudah siang, dia belum ada niatan untuk makan, beberapa kali menyesap kopinya. Matanya dia edarkan ke sekeliling, cukup sepi. Hanya ada sepasang kekasih, dan satu wanita yang sedang duduk di kursi sendirian. Menatap ke arah jendela, sepertinya sangat menikmati pemandangan kota. Dengan pakaian yang masih sama, perempuan itu adalah wanita yang tadi datang ke kantornya. Juan ingin menyapa, tapi dia tidak punya alasan yang kuat. Lelaki itu hanya bisa memperhatikannya dari tempat duduk saat ini. Beberapakali, gerakan tangan mengusap wajah, meskipun memunggunginya, dia yakin betul, bahwa wanita itu mengusap air matanya karena menangis. Juan tidak membiarkan matanya berkedip terlalu lama. Dia masih betah memperhatikan Riri, setidaknya nama itu yang diketahui. Bahu Riri bergetar, nafasnya seperti tidak beraturan. Tangisan yang awalnya tidak bersuara, perlahan mulai terdengar. Sepasang kekasih yang sedang asik bercengkrama itu tiba-tiba saja berdiri dan terburu-buru pergi dari lantai tiga ini. Mungkin, karena mendengar suara tangisan Riri, yang sedikit membuat orang merinding. Juan memberanikan diri untuk mendekat ke arah perempuan itu, setidaknya ini waktu yang tepat untuk berbasa-basi. Sesungguhnya dia bukanlah orang yang penasaran dengan masalah orang lain, tapi untuk wanita itu sepertinya masuk dalam daftar kecuali. Dengan gagahnya Juan berjalan ke arah Riri, dalam lubuk hati yang paling dalam, dia hanya ingin mencoba untuk berbaik hati, setidaknya menghibur wanita itu. Sesampainya di dekat Riri, Juan malah membuat onar. "Huaaa!" Sepertinya, wanita itu lupa sudah menggunakan maskara dan eyeliner yang mudah luntur. Riri tak kalah kaget, mendengar suara teriakan seorang lelaki yang berada tepat di hadapannya. Matanya membulat sempurna, menatap sengit lelaki yang sudah membuatnya hampir jantungan. Dengan suasana hati yang sedang tidak baik-baik saja. Riri sedang tidak ingin diganggu. Dia bahkan lupa, bahwa lelaki yang ada di hadapannya adalah seorang pegawai bank, yang melayaninya untuk penarikan uang tadi pagi. Juan yang awalnya kaget, dia langsung menetralkan ekpresinya. "Maaf Mbak, Saya tidak berniat membuat terkejut," ujarnya penuh dengan hati-hati. Juan merasa bersalah. Karena sudah membuat wanita itu terlihat terkejut, padahal dia sendiri sedang menormalkan detak jantungnya yang cukup kencang saat ini. Dia juga sedang menahan tawa, karena wanita itu belum menyadari wajahnya sendiri. "Ada apa?" tanya Riri dengan ekspresi dibuat ketus mungkin. Dia sekarang, menjadi lebih waspada, jika teman yang sudah dia percaya saja bisa mengkhianatinya, apalagi orang baru. Juan benar-benar tidak bisa menahan ekpresinya lagi, melihat wanita itu terlihat ketus, malah jadi lucu menurutnya. Dia tersenyum lebar, lalu mengambilkan tisu untuk perempuan itu. "Kamu sepertinya butuh ini. Air matamu hitam." Setelah memberikan tisu itu, Juan kembali duduk ke tempat semula. Dia yakin, bahwa wanita itu adalah wanita yang kuat. Terlihat dari sorot mata tajamnya. Dia perempuan yang beda, pikir Juan. Juan hanya ingin memastikan jika wanita itu baik-baik saja, dan ternyata memang benar. Riri wanita yang berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD