Menghampiri

1027 Words
Riri sungguh malu, rasa sedihnya berganti dengan rasa malu yang luar biasa. Seperti ingin menghilang dari dunia ini rasanya. Setidaknya, jangan sampai ada di ingatan lelaki itu. Namun dia segera sadar, lalu membasuh wajahnya yang sudah belepotan itu. Dia mengatur nafas, dan kembali ke tempat semula. Mungkin karena tidak terlalu lama di wastafel, lelaki itu belum juga pergi dari tempat ini. Dengan berniat baik, dia menghampiri lelaki yang hanya datang ke tempat ini untuk minum kopi. "Permisi," ujarnya. Sepersekian detik, Juan langsung menghadap ke sumber suara. Dia sangat peka, ada seseorang di hadapannya. "Ada apa?" Bukan bermaksud sok jual mahal, atau terlihat ketus atau dingin. Aslinya, nada bicara Juan sangat biasa saja. Mungkin, suasana hati Riri yang sedang tidak baik, dia merasa suara itu terkesan dingin, dan tidak bersahabat. "Boleh duduk?" "Oh, silahkan." Semakin Juan diam, datar, dan dingin seperti ini. Riri semakin tertarik. Jarang sekali dia menemukan lelaki seperti yang biasa dia khayalan atau mungkin, karena selama ini dia sibuk bekerja. Sehingga tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan lelaki disekitarnya. Kebetulan saja, lelaki itu punya nilai lebih untuknya. "Mas yang kerja di Bank itu kan?" Tanyanya berpura-pura lupa, padahal dia masih ingat betul. Apalagi, potongan rambut Juan yang terlihat sangat rapi, tampan. "Iya." Semakin irit bicara, semakin membuatnya sangat menggemaskan dan penasaran dibuatnya. Namun, Riri tidak langsung memperlihatkan ketertarikannya, dia hanya ingin menyelesaikan salah paham yang terjadi saja. Aslinya, Juan tidak tahu bagaimana caranya dia bersikap. Pertama, dia merasa bersalah. Karena tujuannya menghampiri wanita itu karena ingin mencoba menenangkan, dia kasian. Namun, karena dirinya berteriak, membuat wanita itu malu. Meskipun tidak banyak yang lihat. Itu bukan hal yang dibenarkan. "Terima kasih ya, sudah berniat baik," ujarnya sembari tersipu malu. Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Juan. Membuat lelaki itu semakin serba salah. Asli, dia sudah tidak mau membahasnya. Dia hanya akan mencoba melupakan, agar wanita itu juga tidak malu, dan kembali mengingat kejadian tadi, tapi yang terjadi sebaliknya. "Iya, tidak perlu berlebihan." Mungkin ini yang harus dikatakan mundur teratur. Riri tidak tahu harus bertanya apa, atau membahas topik yang bagaimana. Karena dia kan belum kenal, tidak tahu juga apa yang disukai dan tidak. Mana mungkin kan dia nanya tentang perkembangan perekonomian di negara ini, hanya karena lelaki itu bekerja di bank. "Kalau begitu Saya permisi dulu...," Asli, ini kode terakhir. Riri tidak tahu lagi, kenapa sulit sekali membuat lelaki itu peka. Padahal, dia sengaja berpura-pura berpikir, agar pria di hadapannya mau memberitahukan siapa namanya dengan suka rela. Ternyata trik ini tidak berhasil. "Iya," jawabnya santai. Kemudian meminum kopi yang masih setengah itu. Melirik jam tangan ternyata sebentar lagi dia harus segera masuk kantor. "Duluan ya, soalnya sudah ditunggu." "Heem." Entah bahasa macam apa, yang jelas dia cukup kecewa. Rasa sakitnya seperti tertolak begitu saja. Padahal, mereka baru bertemu hari ini. Riri segera pergi dari cafe tersebut, hari ini begitu sial baginya. Dia juga bukan tipikal wanita yang mudah menyukai pria, tapi untuk lelaki itu. Seperti ada ketertarikan tertentu, tanpa bisa dijelaskan. Juan kembali ke kantor. Dia sedikit memikirkan gadis itu, sebenarnya dia ingin sekali menghibur wanita tersebut, karena terlihat sekali adanya kesedihan di sorot matanya. Secara tidak langsung, seperti orang yang butuh kasih sayang. Sama seperti yang sedang dia alami, tapi tidak baik terlalu ikut campur urusan orang lain. "Mas Juan pulang dari healing, malah seperti orang yang kebingungan," ujar salah satu teman kerjanya, yang berasal dari Sunda. Dia sudah mengetahui artinya, karena sering sekali kata itu disebutkan oleh wanita tersebut. "Enggak kok, Saya lagi kelelahan aja," ujarnya memberikan alasan yang sangat logis. "Makanya, segera cari istri, biar punya tempat berbagi. Tahu sendiri, cerita sama teman gak jamin rahasia aman." "Pengalaman Bu," ledek Juan dengan suara dan wajah yang sama datarnya. Lalu, dia pergi berlalu begitu saja. "Sepertinya, Kamu memang tidak punya kesempatan. Dia terlihat tidak berniat jatuh cinta. Mundur saja, tidak baik memaksakan orang berjalan ke mana depan, jika dia masih betah istirahat." "Ih, apaan sih. Orang perduli doang kok, gak lagi cari perhatian," ujarnya sembari memajukan bibir. Dia kesal, kerap kali orang-orang di sekitar selalu meledeknya. Karena usaha untuk mendapatkan Juan selalu berujung dengan sia-sia. Tanpa lelaki itu sadari, atau mungkin memang tidak pernah perduli. Banyak orang yang perhatian dan juga tertarik padanya. Seandainya dia tidak terlalu fokus terhadap masa lalu yang suram. Mungkin, saat ini dia sudah menikah dengan wanita yang menghargai dan mencintainya dengan utuh. Juan beberapa kali diam, dan memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Bayangan tentang wanita yang tadi menangis, berputar-putar di kepalanya. Wanita itu, sedikit menarik perhatiannya. "Ngelamun terus..., Berat banget beban hidup ya Mas?" Tanya temannya yang lain. "Enggak juga, Saya cuma lagi senang aja. Hari ini kita pulang lebih awal kan?" "Lah, emang laporannya udah?" "Beres." "Curang!" "Makanya, jangan keseringan telepon sama staf ruko sebelah. Gini kan jadinya." "Dih, itu namanya love. Mas Juan mah gak bakal ngerti." "Meragukan eh?" tanyanya sembari menaikan satu alisnya. "Buktinya? Laura yang udah terang-terangan aja. Gak pernah tuh disambut dengan baik. Berasa gak terjadi apapun." "Hey! Kok bawa nama Gue sih. Kita kan temen ya Mas? Jangan didengerin." Laura malu, karena teman kantornya selalu menjelaskan dengan gamblang, tentang perasaannya pada Juan. Namun, respon lelaki itu tetap sama saja. "Laura kan emang baik ke semuanya. Jangan membuat suasana menjadi canggung." Di memang kesal, tapi melihat Juan membelanya. Dia langsung bahagia lagi. Meskipun ingin mengumpat, tetap dia tahan-tahan. "Nah iya, dengerin tuh." "Beruntung ganteng Mas." Teman kantornya itu terlihat sudah putus asa untuk menyakinkan Juan, bahwa Laura itu sungguh-sungguh. Dia merasa tidak akan pernah bisa berhasil membuat Juan percaya bahwa di dunia ini masih ada yang namanya tulus. Mereka semua tidak ada yang tahu, kenapa Juan bisa sedingin itu, tapi menurut pesan Riko. Cinta yang merubah Juan menjadi seperti sekarang. Semuanya hanya bisa memaklumi, dan memberikan yang terbaik. Karena setiap orang mempunyai jalan ceritanya masing-masing. "Ya sudah, Kalau begitu. Saya pulang duluan ya." "Oke, hati-hati di jalan. Jangan lupa, yang di jalan bawa ke hati. Biar gak kaku kayak penggaris." "Bisa saja." "Hey! Saya serius nih." Juan berjalan keluar tanpa memperdulikan teriakan temannya lagi. Dia sudah biasa saja. Ketika teman-temannya meledek hal itu. Baginya, tidak ada yang berhak ikut campur masalah hatinya, karena yang mengerti rasa bahagia dan sakit hati juga hanya dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD