Juan sedang asik berkendara, di perjalanan menuju konstannya. Dia bertemu dengan wanita itu lagi. Masih dengan pakaian yang sama saat pertama mereka bertemu. Mungkin, orang itu belum pulang ke rumahnya. Ragu-ragu, dia memelankan laju kendaraan. Seperti ada magnet yang menariknya untuk mendekati wanita itu. Meskipun dia mencoba sadar, dan berusaha tidak perduli, tapi melihat gerak-gerik wanita itu, dia akhirnya menyerah, dan menghampirinya.
Tinnn
Suara bunyi klakson terdengar nyaring. Suasana jalan yang mulai padat, karena berbarengan dengan jam pulang kerja.
"Maaf Mbak, jalannya jangan terlalu ke tengah. Bahaya."
Anggaplah, dia hanya seorang pengendara motor yang sedang menegur pengguna jalan karena memakai jalanan yang tidak seharusnya. Selain menghalangi, bisa membuat terjadinya kecelakaan.
"Iya, maaf."
Wanita itu, seperti tidak mengenalinya. Dia tetap berjalan, melangkahkan kakinya ke arah halte. Seperti orang yang sedang putus asa.
Juan yang sudah terlanjur penasaran, akhirnya mengikuti ke mana orang itu pergi. Sudah seperti penguntit.
"Ada apa Mas? Kan Saya sudah minta maaf."
Wanita yang dia ketahui bernama Riri itu terlihat sedikit kesal, terdengar dari nada bicaranya dan juga ekpresi wajah yang tidak bersahabat.
"Tidak apa-apa kok, Saya cuma berniat untuk berteduh saja."
Hujan gerimis, membasahi sore yang masih terlihat matahari menyorot bumi. Mereka kenal, hujan ini biasanya akan mendatangkan pelangi yang indah.
Juan membuka helm full wajah. Membuat Riri yang awalnya melirik, kini sudah menengok semua wajahnya.
"Loh kok, Kamu?"
Dia kebingungan, karena dia pikir, ada orang jahat yang mengikutinya. Ternyata manusia yang tadi siang bertemu dengannya. Entahlah, bibir atasnya seketika melengkung. Meskipun dia tahan mati-matian.
"Kenapa?"
"Maaf, Aku kira orang lain, soalnya tidak terlihat karena helm."
Juan sadar sekarang, kenapa dia tidak dikenali. Dia menaruh helmnya di samping. Lalu duduk dekat dengan Riri.
"Habis pulang kerja?"
"Enggak."
"Pulang kuliah?"
"Enggak."
"Oh..," ujarnya mengakhiri sesi tanya jawab. Juan, tidak pandai mencari topik pembahasan, apalagi orang yang ditanya hanya menjawab ala kadarnya saja.
"Aku di PHK."
"Maaf, Saya tidak tahu. Semoga mendapat pekerjaan yang lebih baik ya."
Dia sekarang paham. Dari mana uang puluhan juta itu bisa dimiliki gadis sederhana ini. Dia pikir, karena memang pekerjaannya menghasilkan banyak uang. Ternyata hasil dari PHK. Pantas saja, raut wajahnya juga terlihat murung saat mengambil uang.
"Aamiin. Tapi, sekarang sulit mendapatkan pekerjaan."
"Iya, benar."
Wanita itu tidak menjawab. Dia merasa kehilangan selera berbicara lagi. Padahal, tadi siang. Dia ingin sekali bisa berbicara dengan pria di sebelahnya. Mungkin, dia merasa malu. Tidak memiliki pekerjaan, membuatnya menjadi minder.
Sementara Juan, dia berpikir untuk menghibur wanita itu, karena terlihat kacau. Dia tidak suka melihat wanita bersedih. Meskipun kekurangan kasih sayang, Juan tetap memberikan kasih sayang pada orang yang membutuhkan.
"Kamu mau pulang? Mau Saya antar?"
Pertanyaan itu, membuat Riri yang sedang sibuk mengamati hujan yang mengguyur aspal menoleh ke arah Juan. Sembari alisnya berkerut.
Dia berpikir sejenak.
"Kamu bukan penjahat kan?" tanyanya dengan polos.
"Loh, kenapa?" Tanyanya kaget, berhadapan dengan perempuan yang sangat cepat sekali moodnya berubah-ubah.
"Kamu tahu kan, Aku lagi pegang uang banyak. Makanya sengaja dekati Aku buat curi kesempatan."
Tuduhan yang sangat realistis, tapi Juan malah tertawa kecil mendengarnya. Dia bukan tidak suka uang, tapi merasa sangat lucu saja. Mana mungkin, ada orang dengan terang-terangan melakukan hal seperti mencuri. Jika memang sudah berpikiran seperti itu, aturan wanita itu pergi jauh. Bukan sebaliknya seperti ini, berbicara dengan nada bercanda.
"Memangnya, uangnya belum Kamu simpan di rumah?"
Sebisa mungkin, Juan tidak terlihat mencurigakan. Dia juga tidak berniat jahat. Hanya penasaran saja. Itupun bukan dengan uangnya, melainkan pemiliknya.
"Saya belum pulang dari tadi," ujarnya pelan, sembari menunduk. Terlihat sekali, ada kesedihan yang mendalam.
Kini, justru dia yang dibuat kebingungan. Harus berbicara apa. Karena takut menyinggung perasaan wanita itu. Uang memang bisa membuat seseorang menjadi sangat emosional.
Selang beberapa saat, setelah mengucapkan itu, Riri membekap mulutnya dengan tangan sendiri. Lalu, dia menatap horor ke arah Juan. Dia langsung paham, kenapa wanita itu terlihat panik dan sepertinya akan marah.
"Tenang, Saya tidak tertarik. Uang itu dalam sebulan bisa cepat habis. Jika memang Saya begitu. Harusnya melakukan pada ikan besar."
Tenang. Dia menjawab dengan lugas. Memang kenyataannya seperti itu. Bukan sombong, tapi banyak nasabah yang lebih besar. Uang dalam jumlah ratusan bahkan sampai miliaran bukan hal yang aneh baginya. Meskipun itu semua bukan miliknya. Dia tidak tertarik pada hal yang bukan miliknya.
Riri berpikir, dia lalu membenarkan ucapan tersebut. Dia jadi kembali teringat akan uangnya yang hilang karena ulah temannya itu.
"Lalu, kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kamu, aneh sekali. Saat di cafe tadi siang, dingin sekali sikapnya. Sekarang, tiba-tiba berubah jadi baik. Seperti ada yang tidak beres."
"Kejadian tadi siang. Saya minta maaf. Tidak mudah bagi Saya, membaur pada orang baru."
Baru saja, Juan menjelaskan bahwa dirinya memiliki sifat tertutup. Namun, dia heran sendiri. Untuk apa dia melakukan itu pada orang baru. Apa ini karena desakan teman-temannya, agar segera mencari pengganti Lara. Sehingga, jiwa lelakinya itu muncul begitu saja.
"Aku Riri, Kamu?"
Gadis itu langsung mengulurkan tangannya. Juan benar-benar kaget. Dengan sedikit gemetar, dia pun menyambut uluran tangan tersebut.
"Juan. Salam kenal."
"Hahaha, tanganmu. Kenapa bergetar begitu? Seperti belum pernah berjabat tangan dengan wanita saja."
Riri sedikit terhibur dengan sikap Juan yang terlihat lugu. Meskipun, dia belum sepenuhnya tahu. Siapa dan bagaimana sikap beserta sifatnya. Banyak orang yang mahir bersandiwara.
"Apa sangat terasa?" Tanyanya sembari melepaskan jabatan tangannya.
"Sedikit. Kamu ada trauma?"
"Enggak. Hanya jarang saja berjabat tangan dengan wanita."
"Aih lucunya. Kenapa Kamu jujur sekali?"
Dia bertanya dengan heboh. Membuat Juan sampai mengerutkan dahinya.
"Maaf, jika membuatmu tidak nyaman."
"Enggak. Kamu terlihat seperti pemuda yang belum pernah jatuh cinta. Sangat polos sekali."
"Enggak, bukan seperti itu."
Dia langsung membantahnya. Harga dirinya sebagai seorang pria sejati, akan sangat terancam.
"Lalu?"
"Hmm.., lupakan."
"Baiklah. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kamu bisa belajar jatuh cinta mulai dari sekarang."
"Hey, tidak seperti itu."
"Sudah, jangan sungkan. Aku paham kok."
Juan hanya bisa menatap tidak percaya pada wanita itu.
"Terserah. Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa bersedih?"
Raut wajah yang sedang berbahagia itu seketika menjadi datar.
"Apa sangat terlihat? Meskipun Aku sudah tertawa?"
"Bukan begitu, tadi saat mengambil uang, Kamu terlihat sedih. Lalu, tadi siang Kamu menangis."
"Uangku diambil teman."
"Loh. Kok bisa?"
Tanpa Juan sadari. Hari ini, dia banyak mengeluarkan ekspresi. Hanya karena berbicara dengan wanita yang baru saja dikenalnya hari ini. Mungkin, ini adalah salah satu cara hati bekerja. Tidak perduli orang baru ataupun lama.