Kembali

1038 Words
Juan benar-benar mendengarkan penjelasan dari wanita itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Mendengar wanita menceritakan apa yang terjadi padanya. Membuat Juan banyak bersyukur saat ini. "Lalu, Kenapa Kamu tidak memintanya pada temanmu itu?" Dia sangat prihatin dengan yang terjadi pada wanita itu, di masa sulit seperti ini, dia harus kehilangan pekerjaan. Jadi teringat pada dirinya dulu, bagaimana dia kehilangan pekerjaan karena seorang rekan kerja. Memang sekeras itu dunia kerja. "Aku sudah menganggap dia sahabatku." Jika sudah begini, akan sangat sulit membuat keputusan untuk melukai orang, sekalipun sudah berbuat jahat. "Tidak bisa seperti itu dong. Dia harus tanggung jawab atas perbuatannya." Kini, Juan terlihat panas. Dia sangat tidak terima dengan keputusan Riri yang memilih bungkam. Padahal, ini sudah masuk ke dalam kejahatan. Sahabat perempuan itu, sudah mencuri uangnya. "Dia masih bekerja, tidak memiliki uang sebanyak itu untuk menggantinya." Sebagai teman seperjuangan, Riri tahu betul. Bagaimana kondisi perekonomian rekan kerjanya. Namun, alasan itu tidak dapat diterima begitu saja oleh Juan. "Biar saja dia mencicilnya, atau apapun itu, yang terpenting. Uang Kamu kembali." Meskipun terdahulu, dia bahkan tidak melakukan pembelaan apapun, saat dituduh oleh atasan. "Tidak perlu, Aku sudah mencoba mengikhlaskannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, sehingga dia sampai hati melakukan semua itu." "Kamu harus tanya." "Aku sudah enggan mau ada urusan lagi dengannya, kejadian ini cukup membuatku sadar. Orang itu tidak baik, dan tidak seharusnya Aku bertemu lagi." Glek Juan tidak sampai kepikiran ke situ, ternyata Riri memang beda. Dia bisa menyikapi banyak hal dari sudut pandang yang berbeda. Meskipun wanita itu tadi siang menangis sesegukan, sekarang dia sudah kembali seperti tidak ada beban. Dengan begini, Juan melihat wanita itu begitu dewasa. "Artinya, Kamu tidak bisa memaafkan orang itu, sampai tidak mau bertemu lagi." "Aku memaafkannya, tapi tidak ada kesempatan selanjutnya." "Bukankah itu lebih kejam?" "Lebih kejam mana dengan merampas hak orang lain?" Lelaki itu diam dan merenung. Sepertinya dia salah jika berargumen pada seseorang yang sedang kesakitan. "Lalu, setelah ini. Apa yang akan Kamu lakukan?" "Apalagi, ya cari kerja. Sebagai tulang punggung keluarga. Aku harus bisa menghadapi segalanya. Hal seperti ini, tidak lebih pahit dari nasibku." "Kamu tulang punggung keluarga?" "Iya, kenapa kaget sekali?" "Bukan kaget, hanya saja..., Aku salut." "Menyedihkan ya?" "Enggak. Aku beneran salut kok. Perempuan mandiri seperti Kamu pasti kelak akan mendapatkan kebahagiaan." "Iya, Aku juga percaya dengan janji Allah. Seperti saat ini, setelah hujan turun. Maka terbitlah pelangi yang sangat cantik." Juan tidak bisa berbuat banyak, jika Riri memang tidak mau meminta temannya mengganti uangnya. Awalnya, dia akan membantu wanita itu. Jika memang butuh orang untuk menemaninya. Namun, sepertinya Riri sudah tidak mau lagi mengungkit hal tersebut. Mereka berdua sama-sama melihat ke arah yang sama. Memperhatikan dengan seksama. Berpetualang dengan pikiran masing-masing, dan banyak mengucapkan syukur serta doa. Karena tidak ada yang terjadi di dunia ini selain atas izin yang Maha Pencipta. "Meskipun, cepat sekali berlalu." Sedihnya, dia masih betah memperhatikan pelangi yang indah itu. "Tidak masalah, semua ada masanya. Seperti saat ini, tadi hujan sekarang reda dan waktunya pulang. Mau diantar?" "Tidak perlu, Aku bisa pulang sendiri." "Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Kamu jangan sungkan, anggap saja ini sebagai awal pertemanan kita." "Pertemanan?" Riri bukan tidak mau berteman dengan Juan, tapi ini aneh. Mereka baru bertemu dan langsung memutuskan berteman. Apa tidak terlalu cepat, bagi seorang yang baru saja kehilangan arti teman? "Kamu tidak menganggap, semua teman di dunia ini sama bukan? Atau...," "Tidak. Tapi, Kamu terlalu jauh jika harus mengantarku pulang." "Sepertinya, bensinku cukup. Atau jika memang sejauh itu. Mari isi bensin dulu." Riri tersenyum, lelaki itu tidak mengerti maksudnya. Dia pun tidak berniat menjelaskannya. "Baiklah." Riri berdiri dan ikut naik motor dengan Juan. "Apa tidak masalah, jika nanti ditilang?" Ya, dia tidak memakai helm. Karena Juan memang tidak membawa helm cadangan, sebab. Lelaki itu jarang, bahkan tidak pernah membonceng orang lain terlebih seorang wanita. Jika temannya ada yang ikut pulang bersama, mereka sudah mempersiapkan helm sendiri. "Uangmu kan banyak, tidak masalah bukan jika harus membayar denda?" Jika sekalipun mereka ditilang, Juan tidak akan membebaninya, karena dia yang dengan sadar mengajak. "Kamu tidak berniat mencoba menguras uang di hari pertama kita berteman bukan?" Terlihat akrab, dan saling melemparkan candaan. "Ya, tidak salahnya usaha." Seharusnya, Riko dan Kevin melihat ini. Mereka harus tahu, jika temannya sudah kembali. Kali ini, lelaki itu terlihat sangat menyebalkan. Namun, bukan marah. Riri justru tertawa. Dia percaya, Juan bukan orang yang seperti itu. Lagi pula, tujuan Juan mengantarkan perempuan itu pulang, dia tidak mau jika Riri mengalami hal buruk, ditambah. Perempuan itu sedang membawa banyak uang. Setidaknya, jika dia mengantarkan sampai minimal depan rumah wanita itu. Dia merasa lega. Meskipun, dia sendiri tidak tahu. Kenapa harus melakukan semua itu. "Wah, Kamu ternyata cukup hapal jalan ya, biasa mengantar wanita sepertinya." "Iya begitulah. Mungkin, sudah bakat." "Ya terserah lah, mau mampir?" Mereka sudah sampai di depan rumah Riri. Juan terkejut, tapi sebisa mungkin dia tetap memasang wajah yang santai. "Mungkin lain kali, Aku belum siap. Jika orangtuamu menanyakan bagaimana hubungan kita." "Haha, percaya diri sekali. Lagi pula, memangnya cuma Kamu laki-laki yang mengantarku pulang." "Ya tidak. Bisa saja ojek online." "Oh ya ampun, sepertinya bisa darah tinggi. Jika terus berbicara denganmu." "Ya sudah, cepat masuk. Aku pun akan pergi." "Terima kasih, hati-hati di jalan." "Iya, bye Riri. Sampai bertemu lagi." "Iya," jawab wanita itu terlihat malu-malu. Kemudian berjalan ke rumahnya, sementara Juan. Dia menyalakan mesin motornya lalu pergi dari sana. Seulas senyum terbit dari bibir tipisnya. Entahlah, apa yang sedang terjadi. Namun, dia sudah lama tidak merasakan ini. Hidupnya seperti kembali. Dia sudah lama tidak bercanda, dan banyak berbicara. Namun, Riri bisa membuatnya sangat cerewet. Sembari memikirkan apa yang terjadi pada dirinya sendiri, dia kembali ke kostan. Cuaca sudah mulai gelap. Suara anak-anak bershalawat sudah mulai terdengar dari masjid satu dan yang lainnya. Juan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, dia sudah memperhitungkan. 15 menit dari sekarang, dia sudah sampai ke tempat kostan. Karena ternyata rumah Riri tidak sejauh yang dikatakan wanita itu. Dia tidak ingat, bahwa mereka belum bertukar nomor telepon. Juan hanya satu dari sekian banyak lelaki yang merasakan patah hati karena cinta. Namun, kembali lagi. Semuanya mengekspresikan patah hatinya dengan cara yang berbeda-beda. Jangan pernah menyalahkan seseorang karena dia tidak bisa semudah itu untuk bangkit dari rasa sakitnya. Semuanya punya caranya masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD