Masih pagi sekali, lelaki itu sudah datang ke kantor. Berdiri di depan dispenser. Memegangi satu cangkir berisi kopi yang sedang diisi air panas.
Aromanya semerbak di ruangan. Beberapa karyawan yang berdatangan dan menyapa, menyinggung hal ini.
"Kopi biasa ini kan? Kok wangi banget sih."
"Iya, yang biasa."
"Mas Juan, mari sarapan. Hari ini, Aku masak lebih banyak nih."
"Masak apa?"
Seperti biasanya, mereka akan berkumpul di ruang pantry kantor terlebih dahulu, sebelum benar-benar bekerja.
"Telur dadar, apalagi kebiasaan dia selain masak telur." Ledek salah satu karyawan yang lain, dan ikut nimbrung.
"Dih, sok tahu aja. Ini namanya omelette, norak banget sih."
"Bedanya apa? Orang sama-sama dikocok telurnya, terus dimasak." temannya tidak mau kalah.
"Enak kok."
Juan menengahi perdebatan tersebut, dia memakan masakan milik Laura. Tidak bohong, rasanya memang enak. Meskipun ya sama saja, rasa telur.
"Disebut enak aja, langsung salah tingkah."
Teman kantornya yang lain memang sungguh menyebalkan, beruntung Laura terbiasa.
"Kalian kenapa sih, ribut melulu. Masih pagi tahu."
"Iya, sebaiknya makan saja. Laura makasih ya, Saya sudah sarapan tadi. Semuanya, ke depan duluan ya."
Juan memang selalu memisahkan diri, dia hanya akan ikut berbicara sebentar lalu pergi. Mereka sudah biasa melihatnya seperti ini. Namun, hari ini terasa beda. Wajah lelaki itu terlihat lebih segar, rambutnya pun tertata dengan rapi. Tidak seperti biasanya.
"Kayak ada yang aneh ya," ujar salah satu dari mereka.
"Apa?" Tanya Laura, dia penasaran. Karena merasakan apa yang dikatakan temannya itu.
"Juan, sepertinya dia..."
"Apa?"
"Enggak. Takutnya, nanti jadi gosip."
"k*****t! Menjauh aja Lo sana. Meresahkan banget!"
Laura marah, dia sudah serius mendengarkan, malah diberi harapan palsu ternyata.
Sementara itu, Juan yang sedang menyalakan komputer, sedikit kepikiran dengan Riri. Dia menyesal, karena lupa meminta nomor telepon wanita itu. Meskipun dia juga belum tahu, kenapa harus memilikinya.
Sementara itu, di tempat lain. Riri baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak itu, menjadi pengangguran di Minggu pertama, membuatnya sedikit merasa terbebas dari segala beban sebelumnya yang pernah dirasakan. Seperti desakan atasan yang menyebalkan.
Meskipun begitu, dia juga rindu dengan hari-hari yang produktif. Berangkat pukul 6 pagi, pulang pukul 6 sore dan sering kali, dia nyaris kesiangan, karena terlalu lelah di hari sebelumnya. Kadang juga jadwalnya menyesuaikan dengan jam kerja.
"Kak, baru bangun?" Tanya adiknya yang sudah rapi.
"Keliatannya?"
"Galak bener, tadi subuh ketinggalan."
"Lagi gak salat."
"Oh. Ya udah. Aku pamit, mau berangkat sekolah dulu."
"Jam berapa emang ini?"
"Setengah delapan."
"Hah? Galaksiii!!!"
"Kaburrrrrr."
Anak lelaki yang masih memakai seragam itu, langsung berlari ke luar rumah. Tanpa bersalaman terlebih dahulu, karena dia tahu. Kakaknya pasti akan marah besar.
"Ibu..., Kenapa Galaksi dibiarkan kesiangan?" Tanyanya, berjalan menghampiri sang ibu yang sedang mencuci piring.
"Dia hari ini cuma mau kelas meeting aja. Soalnya kan baru selesai ujian."
Riri menganggukan kepala, dia lupa adiknya tidak ada kelas hari ini. Diapun berniat membantu pekerjaan tersebut. Namun, ibunya melarang.
"Mandi dulu, anak perawan gak boleh males."
"Agak siangan Bu. Lagi pula, hari ini gak ada niatan mau pergi kemana-mana."
"Kenapa? Kamu gak bosen di rumah terus. Lagipula, kan Kamu ada uang. Sesekali, jalan-jalan ke mall, atau ke mana gitu. Sekarang, sudah waktunya Kamu menikmati hidup."
Riri tidak mengatakan yang sebenarnya, dia belum berani bilang kepada orang tua. Bahwa dia baru saja ditipu oleh temannya, dan mereka juga tahu siapa orang tersebut. Kerap kali, memang sering mampir ke rumah. Kembali memikirkan hal itu, dia langsung merasakan mood yang buruk.
"Riri masih betah di rumah Bu."
"Kenapa sih Nak? Kamu kan sudah dewasa. Sudah saatnya bebas berekspresi. Ibu tidak pernah loh ya mengekang Kamu."
"Riri tahu Bu," ujarnya sembari bergerak sedikit menjauh, dia mengambil satu kotak minuman di kulkas. Lalu duduk di kursi tempat biasa mereka makan.
"Terus?"
"Ya gak apa-apa. Cuma masih pengen di rumah aja. Mungkin mulai Minggu depan keluarnya."
"Ya sudah. Mau pergi ke mana nanti?"
"Belum tahu, nanti cari lokernya dulu di internet."
"Ya ampun Nak. Kamu kenapa sih, gak ngerti-ngerti. Maksudnya tuh, Kamu pergi jalan-jalan gitu loh, atau kumpul sama teman lama. Jalin silaturahmi."
Riri bukan tidak paham, dia belum siap.
"Sayang uangnya Bu, lebih baik untuk biaya sekolah, dan berobat ayah, ibu."
"Kami merepotkan sekali ya Nak, maafin ibu."
Mendengar ucapan sang anak, ibunya menjadi berpikir ulang, kenapa anaknya masih sendiri di usianya yang sudah bisa dikatakan matang.
"Enggak, bukan seperti itu Bu."
Riri langsung berdiri dan menghampiri ibunya.
"Aku belum siap berkenalan dengan lelaki manapun Bu, bukan karena kalian. Tapi, Aku ingin menikah bukan hanya karena umur, ataupun keadaan kita. Riri ingin menikah dengan orang yang tepat diwaktu yang sudah ditentukan Allah."
"Tapi, kita harus tetap usaha. Kamu jangan nyerah gitu saja. Kamu masih muda, dan cantik. Ibu yakin, banyak pria yang bisa mencintai kamu Nak."
Menjadi tulang punggung keluarga selepas pendidikan. Membuat Riri mengenyampingkan urusan percintaan. Dia tidak menyangka, di umurnya yang sekarang, dirinya masih sendiri. Karena dulu dia selalu berpikir bahwa jika pria akan mendekat ketika dia mandiri dan memiliki uang.
Namun, tidak semua hal bisa berjalan dengan baik. Karena yang saat itu dia pikirkan hal yang enak-enak saja. Sementara hal buruknya dia tidak pernah memikirkannya. Seperti saat ini, dia tidak menyangka akan mengalami pensiun diri. Semua di luar dari kendalinya. Bisa dibilang, Riri sedang mengalami masa yang sangat sulit saat ini, tapi dia enggan untuk terlihat menyedihkan di hadapan orang tua.
"Ibu paham, tapi tolong jangan lama-lama. Maksudnya, Ibu ingin melihatmu bahagia Nak, cukup kami yang membuatmu bekerja keras."
"Ibu bicara apa sih, Riri tidak pernah merasa keberatan."
"Syukur kalau begitu, Ibu tidak pernah berhenti mendoakan Nak."
"Makasih Ibu, kalau begitu Riri izin pergi ya. Kemarin ada yang pengen banget di beli, tapi gak keburu."
"Nak gitu dong, ya sudah. Pergi sana, jangan lupa dandan yang cantik."
"Gak mau cantik-cantik, takut jadi bahan rebutan."
"Bisa saja Kamu."
Riri langsung meninggalkan ruangan itu, dia tidak mau berlama-lama terjebak dalam situasi menyedihkan. Keluarganya memang seperti ini, tapi dia tidak pernah suka meratapi nasib.
Sebisa mungkin, bangkit dan bangkit. Mencarikan solusi, mencairkan suasana. Mencoba agar kondisi keluarga tidak terpuruk, meskipun memang berat, dan dia masih harus berpura-pura tegar. Tidak banyak yang tahu, Riri si wanita tangguh ini, menyimpan banyak luka yang mendalam.
Meskipun keluarga, bukan hanya tanggung jawabnya. Namun, dia sepenuhnya menanggung beban keluarga sendirian. Menjadi anak perempuan yang harus berdiri tegak, karena anak pertama dan harus menggantikan peran orang tuanya setelah mereka menua dan sakit. Adik-adiknya yang kala itu masih kecil, membuatnya berpikir keras, agar kehidupan mereka tidak boleh sampai memprihatinkan.
Meskipun belum memiliki tujuan untuk pergi ke mana. Dia tetap keluar dari rumah dengan pakaian santainya