healing

1057 Words
Riri berjalan sebentar, lalu dia menaiki sebuah transfortasi umum. Cukup sepi, dan dia menikmatinya. Sebab, dulu mana pernah bisa seperti ini. Hidupnya disibukkan dengan bekerja. Hari libur, dia pakai untuk berkumpul bersama keluarga atau tidur seharian. Esoknya, sudah kembali bekerja dan terus seperti itu. Dia bahkan tidak menyadari, beberapa lokasi di daerah yang dilewati, ternyata sudah banyak yang beralih fungsi, karena biasanya dia tidak sempat untuk memperhatikan hal sedetail itu. Pagi, terburu-buru oleh jam kerja dan saat pulang, sudah gelap dan berdesakan. Sangat monoton sekali memang hidupnya. Dia tidak memiliki banyak teman seperti orang lain. Dulu, Ketika sekolah menengah atas dia sedikit tertutup. Merasa kurang percaya diri, dan sudah banyak masalah yang mulai berdatangan dari keluarga. Mungkin, ini memang waktu yang tepat. Istirahat sejenak, dan menikmati dunia dengan segala perubahannya. Dia turun dari bus tersebut. Sengaja berhenti di pemberhentian terakhir, karena di sana ada sebuah mall yang mungkin sudah buka, dan dia bisa singgahi. Dia berjalan, menyebrang ke arah pintu masuk mall tersebut. Perlahan, dia mengamati satu-satu barang yang ada di mall itu, sembari kakinya terus melangkah, tujuannya ya eskalator. Karena dia masih ingin berkeliling, dan belum ada niatan berhenti di salah satu toko manapun. Karena belum weekend, tempat ini tidak terlalu ramai pengunjung, tapi tidak sepi juga. Karena beberapa orang pengunjung berlalu lalang, bahkan ada beberapa yang memakai seragam kerja. Riri tetap berfikir positif mungkin sedang ada urusan, pikirnya. Dia mencoba berpikir keras, kira-kira apa yang sedang dirinya butuhkan. Dia menyerah, setelah satu kali putaran di lantai dua, tapi belum juga kepikiran untuk membeli sesuatu. Karena sudah menjadi kebiasaan, Riri akan membeli barang sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan. Perutnya mulai terasa keroncongan, dia pergi ke lantai tiga untuk membeli makan. Karena setahunya, biasanya tempat makanan berada di paling atas, atau paling bawah. Karena di bawah tadi tidak menemukan, kemungkinan besar ada di lantai atas. Sementara Juan, dia sedang dipusingkan oleh pekerjaan. Tadi, dia hampir saja terkena masalah, karena salah menjelaskan sesuatu kepada nasabah. Sehingga, membuat perselisihan. Dia tidak tahu, kenapa pikirannya menjadi kacau begini. Padahal, semalam tidak mimpi buruk, pagi harinya juga dia sangat semangat. "Lain kali, coba baca-baca buku panduannya. Kadang, kebijakan suka berubah-ubah." Anggaplah, hari ini dia sedang mengalami hal yang tidak beruntung. Meskipun, dia sudah berupaya semaksimal mungkin, agar tidak mengecewakan pihak manapun. "Baik Pak." Juan mengakui kesalahannya. "Tumben banget, Mas Juan." Komentar Laura, kebetulan dia mendengar semua itu. Setelah atasan mereka pergi, barulah wanita itu bicara. "Apa?" "Gagal fokus, biasanya gak pernah begini. Lagi ada masalah? Cerita aja, jangan dipendam sendiri. Nanti jerawatan," ujarnya sembari tersenyum mengajak bercanda. "Anggap aja lagi apes." Tidak mau ambil pusing, Juan mengakhiri pembicaraan tersebut. Membuat Laura harus banyak menghirup nafas dalam-dalam. Usahanya selalu berakhir dengan angka 0. "Hari ini kan setengah hari, Mas Juan Laura boleh gak minta tolong." Laura tidak akan semudah itu menyerah. "Apa?" "Adik Laura ulang tahun, terus udah pesen kue. Anterin ambil kuenya mau gak?" "Jauh?" "Enggak kok, tenang aja." "Paketkan saja gak bisa?" "Bukan gak bisa, kuenya tuh mudah rusak. Laura gak bisa percaya." "Ya sudah," ujarnya ambigu. "Ya sudah gimana, mau apa enggak?" "Iya," "Iya gimana? Iya mau apa gimana, yang bener loh Mas jawabnya." Juan melirik ke arah Laura, kemudian dia berbicara dengan nada penuh kesabaran. "Iya, mau." Ada yang meleleh tapi bukan es krim. Laura sebisa mungkin tidak salah tingkah. Jarang sekali, bisa mengajak Juan pergi. Lelaki itu, benar-benar berbeda hari ini. Beberapa teman kantor yang lain, hanya bisa tersenyum. Mereka sudah tahu, jika Laura sangat berusaha keras. Meskipun sudah dinasehati. Wanita itu tetap pada pendiriannya, dia bertekad meluluhkan gunungan es di hati Juan. Satu nampan berisi makanan dan minuman, sudah berada di tangan Riri. Dia sengaja mengambilnya sendiri, karena ingin mencari tempat yang nyaman, dan juga empuk. Sedikit lebih jauh dari tempat makan yang dia beli. Setelah menemukannya, dia langsung duduk dan bersandar sebentar, cukup nyaman. Ditambah dengan view-nya yang bagus, karena langsung dengan pemandangan sekitar. Dia suka pemandangan seperti ini. Hidupnya, sudah berasa seperti jutawan yang tidak perlu takut, jika sekarang makan enak, uangnya akan habis. Waktu pulang kantor sudah tiba, Juan menunggu Laura di parkiran. Dia rasa, tidak ada salahnya untuk mengantar wanita itu. Anggap saja, sedang berusaha meluapkan kepenatan. Hari ini, niatnya memang tidak langsung pulang ke kostan. Dia merasa butuh sesuatu yang bisa membuat moodnya menjadi baik, contohnya seperti kemarin. Bertemu dengan orang baru, tidak menakutkan yang dia pikir. "Mas Juan, maaf ya nunggunya lama. Tadi, ada berkas yang belum ke print ternyata." "Gak masalah, ayo berangkat!" Ajaknya, sembari memberikan helm pada wanita itu. "Makasih." "Belum sampai," ujarnya menimpali ucapan tersebut, entah maksudnya apa. Bagi Laura, itu terdengar seperti lelucon. Dia bahkan tersenyum, pipinya juga merona. Meskipun terlalu dini untuk mengambil kesimpulan, yang jelas. Dia sedang merasakan apa itu definisi bahagia. Meskipun, di perjalan. Mereka tidak saling bicara. Karena saat Laura berceloteh. Juan hanya menimpali seadanya. "Maaf Laura, tidak kedengaran. Nanti bicaranya pas sudah sampai saja. Terlalu bahaya." Hati wanita mana yang tidak tersentuh. Laura yang sudah suka sejak lama, merasa mulai mengenal lebih dalam sosok yang sedang memboncengnya. Meskipun hal ini lumrah. Karena mengobrol di jalan saat berkendara memang bahaya. "katanya dekat." Hanya komentar itu yang keluar dari mulut Juan. Setelah mereka sampai dan masuk ke dalam satu mall yang di mana parkir motor terasa sangat menyulitkan. "Hehe. Maksudnya dekat ke rumah Aku." "Hmm, ya sudah. Kutunggu di sini aja ya." "Jangan. Mending ikut masuk aja. Aku udah kabarin yang punya. Katanya bentar lagi jadi kuenya. Aku cuma mau tambahin tulisan aja." "Masih lama berarti?" "Lumayan, gimana kalau tunggu di lantai atas aja. Cari kopi atau cemilan gitu. Makannya di rumahku aja. Kebetulan banyak makanan, mamaku masak banyak." "Ya sudah." Juan tidak mau berdebat. Dia tahu, Laura bukan orang yang mudah mengalah. Meskipun sedikit terpaksa, dia tetap jalan dan memasuki gedung tersebut. "Saya tunggu di lantai tiga ya, kabarin saja kalau sudah jadi." "Siap." Mereka berpisah di dalam lift. Saat Laura keluar lebih dulu. Sementara itu, Juan keluar di lantai tiga. Dia berjalan. Mencari cemilan yang ingin dia coba. Pergi ke mall begini, bukanlah kebiasaannya. Jarang sekali, dia melakukan hal seperti ini. Saat sedang asik memilih-milih kemana sekiranya dia akan pergi, matanya tertuju pada satu wanita yang sepertinya dia kenal. Rasa ingin jajan seketika hilang, dia berjalan dengan pasti ke arah orang itu. Begitu sampai di depan wanita tersebut, Juan kebingungan sendiri. Apalagi, dia sedang ditatap tajam, oleh mata yang sok tegar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD