Bukan hanya Juan, wanita itupun kaget. Ketika matanya tidak sengaja melihat sosok yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa mereka akan bertemu di tempat ini. Di kota yang seluas ini, bahkan mall ini juga tergolong besar. Mungkin ini yang dinamakan pertemuan yang ditakdirkan.
"Kamu lagi di sini juga?"
Pertanyaan basa-basi yang sangat aneh. Padahal, Juan dapat melihat sendiri, wanita itu berdiri di hadapannya.
"Iya, Kamu gak kerja?"
Riri bingung harus menanyakan apa. Dia sebisa mungkin tidak terlihat seperti orang yang canggung.
"Kerja, tapi hanya sebentar. Ini kan Sabtu, jadi aman."
"Oh."
Riri kehabisan kata-kata. Dia memilih kembali duduk. Dia pikir, Juan akan melanjutkan aktivitasnya, lelaki itu malah ikut duduk bersamanya.
"Kamu gak beli makanan?"
"Mau, tapi bingung. Menurutmu, apa makanan yang enak di sini?"
Dia bertanya pada orang yang salah, jelas-jelas Riri saja baru ke tempat ini. Namun, entah ide dari mana. Riri dengan percaya diri mengatakan bahwa.
"Sup dagingnya yang enak."
"Serius? Kebetulan lagi lapar. Di sebelah mana?"
Riri langsung salah tingkah, matanya beberapa kali berkedip dengan cepat. Sepertinya dia salah sudah mengatakan itu, karena dengan mudah lelaki itu percaya. Dia mengingat-ingat lagi, di mana dia tadi melihat restoran yang menjual makanan tersebut.
"Ada di deretan sana." Perempuan itu menunjuk salah satu arah. Kalau tidak salah memang di sana, sembari terus berdoa. Dia mencoba berpikir positif.
"Oh, ya sudah. Aku beli dulu ya, Kamu mau juga? Atau beli minuman?"
"Enggak, makasih. Ini juga sudah cukup."
"Oke, kamu tunggu di sini. Aku beli makanan dulu."
Riri belum sempat berbicara, tapi lelaki itu sudah keburu bangun, membuatnya kebingungan. Tanpa dia sadari, ujung bibirnya terangkat. Dia mengulum senyumnya. Dia seperti seorang wanita yang diminta menunggu oleh kekasihnya.
Entahlah, dirinya sudah lupa rasanya mendapatkan perhatian dari seseorang, terlebih itu dari lelaki.
Tanpa diketahuinya. Juan memegangi bawah lehernya. Ada rasa yang sulit dia deskripsikan. Namun yang pasti, dia merasa senang. Bisa bertemu wanita itu di sini. perasaannya jadi tidak menyesal, sudah dibohongi Laura.
Sembari sibuk dengan perasaannya, dia juga mencari-cari di mana tempat yang menjual Sup daging, karena pusing tidak menemukannya. Bahkan sampai bertanya pada petugas keamanan.
Setelah menemukan, dia langsung memesannya, menunggu sebentar, lalu membawa makanan serta minuman kembali ke tempat Riri duduk.
"Maaf, bosen ya nunggu lama."
Ambigu, entah bagaimana maksudnya. Riri tidak paham, dia hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kamu sering beli makanan ini?" tanya Juan, sebelum dia memakannya.
"Eum, lumayan."
Bohong lagi, dan dia terpaksa mengatakannya. Karena sudah terlanjur malu.
"Pasti enak nih," ujarnya. Lalu, dia berdoa, dan menyendok satu sup itu.
Entah kenapa, ekpresi Juan sangat tidak terbaca. Membuat Riri sangat cemas.
"Enak?" tanyanya hati-hati.
"Banget. Pinter juga Kamu ya. Pasti, Kamu tipe wanita bisa masak juga ya?"
Riri bernafas lega. Dia tidak menyadari, bahwa telinga Juan memerah. Juan memang pandai berbohong, tapi tidak dengan telinga putihnya, ketika merasa malu, atau merasa bersalah. Maka akan memerah seperti memakai alat kosmetik.
"Enggak juga. Mungkin selera kita saja yang sama."
Nah, sekarang Juan paham. Selera makanan Riri ternyata yang berasa asin.
"Sepertinya begitu."
Mungkin, di lain kesempatan. Dia baru bisa bilang kalau dia tidak terlalu suka asin.
"Makananya kenapa didiemin aja? Kamu gak lagi galau kan?"
"Galau. Aku pengen kerja."
Entah kenapa, Riri yang biasanya sok tegar itu, malah dengan mudahnya mengeluarkan keluh kesah pada lelaki yang baru dia kenal.
"Haha. Perempuan biasanya kalau lelah sama aktivitasnya pengennya nikah. Kamu malah pengen kerja."
"Aku butuh uang, bukan butuh lelaki."
"Oh ya? Lalu gimana sama pria yang bisa memberimu uang."
"Ribet. Apalagi, kalau harus menikah. Biaya hidupku sangat banyak. Kalau dia bisa memenuhinya, jika tidak? Apalagi, wanita biasanya suruh berhenti bekerja setelah menikah."
Mendengar penuturan itu, Juan jadi berpikir. Apakah kelak dia juga akan meminta istrinya agar tidak bekerja. Sepertinya, ada rasa tersendiri. Jika dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak masalah, jika harus membiayai keluarga si perempuan. Baginya, membahagiakan wanita itu juga salah satu cara agar pintu rezekinya terbuka.
"Juan!"
Terdengar nyaring suara tepukan tepat di hadapannya.
"Eh, maaf. Aku kurang fokus."
"Lagi banyak kerjaan ya? Ada masalah?"
"Enggak kok. Aku jadi kepikiran. Berarti, Kamu gak mau nikah?"
"Ya mau, tapi lihat kondisi keluarga dulu. Jangan sampai, setelah nikah malah berantakan gara-gara masalah ekonomi."
"Kalau laki-lakinya mau memenuhi kebutuhan keluarga Kamu gimana?"
"Susah Juan. Nyari di mana coba yang kayak gitu? Lelaki zaman sekarang, maaf Aku bukan menilai semuanya. Tapi, kebanyakan mereka mau enaknya aja. Mereka pikir, nikah cuma biayain istri aja. Iya mending, kalau dari keluarga kaya si perempuannya, kalau kayak aku begini. Tulang punggung keluarga, jangan diberi harapan."
"Aku yakin, pasti ada kok lelaki yang bisa menerima Kamu apa adanya, seenggaknya. Dia bisa berusaha buat jadi yang terbaik untuk Kamu."
"Gak muluk-muluk lah Aku mah. Dari pada suruh cari cowok, lebih baik cari kerja."
Riri memang anak yang realistis, dia terlalu banyak memakan asam garam kehidupan. Terkadang, ya kebanyakan pahitnya. Dia terbiasa, dan merasa bahwa hidupnya tidak perlu memikirkan cara agar bahagia. Masih bisa bekerja dan menghasilkan saja sudah sangat bahagia. Dia bukan tidak ingin memiliki suami, tapi siapa yang akan mau dengannya.
"Aku doain, semoga kelak akan ada lelaki beruntung yang akan menerimamu satu paket lengkap."
"Bisa banget. Kenapa gak berdoa untuk diri sendiri aja sih. Kamu gak pengen nikah emang. Kan enak ada yang ngurusin. Lagipula, Kamu gak punya tanggungan kayak Aku."
Juan tersenyum simpul, sepertinya dia salah, membahas tentang pernikahan.
"Sepertinya kita harus segera menghabiskan makanan ini. Takut keburu dingin."
"Bisa banget, giliran nyuruh pinter."
"Haha..."
Uhuk
Juan batuk, karena dia mendengar suara seseorang yang dia kenal memanggil namanya dengan sangat jelas.
"Mas Juan!" Teriak wanita yang sedang sibuk membawa kotak yang bertumpuk dua itu.
Juan segera berdiri, dia membiarkan Riri berpikir sendirian. Lelaki itu, membantu Laura membawakan kotak tersebut.
"Kenapa gak bilang, kalau udah selesai?"
Juan gemas sendiri, lalu dia berjalan bersama Laura ke dekat Riri yang terlihat sudah biasa saja. Setelah aksi terkejutnya tadi.
"Hehe, gak apa-apa. Gak enak, takut ganggu lagi makan."
Laura sebenarnya tak kalah kaget, saat melihat Juan duduk bersama perempuan dengan gaya yang biasa saja. Awalnya dia sudah berpikir mungkin itu pacar sang lelaki. Namun, sepertinya tidak.
"Siapa Mas?" Pertanyaan itu, seperti seorang kekasih yang menuntut penjelasan. Riri benar-benar deg-degan dibuatnya.
Dia sampai berdiri, dan berniat untuk memberikan klarifikasi. Pantas saja, saat ditanya menikah. Juan terlihat merahasiakan. Sepertinya memang sudah ada calon, pikirnya.
Entah kenapa, hatinya tiba-tiba merasa sakit, padahal mereka bukan siapa-siapa