Situasi

1044 Words
Kini, Juan kebingungan. Dia enggan meninggalkan Riri, tapi dia juga tidak enak hati pada Laura. Sebab, dia sudah lebih dulu janji. Sebagai lelaki, dia sebisa mungkin menepati janjinya. Dia tidak mengerti, tapi yang dirasakannya saat ini adalah seperti ada yang menahannya untuk pergi. Padahal, Riri juga diam saja. "Riri, maaf ya. Sepertinya Aku harus mengantar Laura Pulang." Mereka sudah saling dikenalkan olehnya. Setelahnya, Laura meminta untuk segera pulang, karena sudah ditunggu orang rumah. Atau mungkin karena tidak nyaman. Sedari tadi, Riri berubah menjadi dingin. Setidaknya, sebelum Laura datang. Wanita itu banyak bicara. Namun, sekarang lebih banyak diam. "Iya, enggak apa-apa. Kita juga kan gak sengaja ketemu." Juan mengangguk mantap, dia lalu pergi bersama Laura. "Duluan ya," ujar Laura. Dia merasakan ada yang aneh dari perempuan itu. Dia tidak merasakan ada aura jahat, tapi tatapan terluka itu. Sama sepertinya, sebelum mengetahui bahwa wanita yang bernama Riri tersebut adalah teman Juan. Sebagai wanita, dia memiliki perasaan yang jauh lebih peka. Saat mereka di parkiran. Dia memanfaatkan moment, untuk bertanya pada Juan. "Mas, itu temen lama Kamu?" Dia tahu, tidak seharusnya bertanya seperti itu. Dia bukan siapa-siapa, selain teman kerja. Namun, dia tetap ingin tahu. Meski nantinya akan dianggap kepo, itu lebih baik. Dia tidak suka berada di hubungan orang lain. "Bukan, itu teman baru. Dia Nasabah kita." "Nasabah? Kok Aku gak pernah lihat ya?" "Mungkin Kamu lupa. Belum lama ini, dia ke kantor. Dan lucunya lagi, banyak kejadian aneh menurutku. Dia ngambil uang banyak, tapi ekpresinya sedih. Terus, gak sengaja ketemu dia lagi nangis. Terakhir, ketemu dia lagi kebingungan. Kayaknya takdir pengen Aku tahu tentang dia." Ini adalah kalimat terpanjang, yang Laura dengar dari Juan, tentang perempuan yang ada di hidupnya. Pertanyaan Laura simpel, kenapa Juan harus perhatian? Hubungannya apa? Apa Juan memiliki rasa lebih? Apa dia kalah, dengan orang baru yang masuk dalam kehidupan lelaki itu? Padahal, Laura jauh lebih lama, perhatian dia sudah kerahkan semaksimal mungkin. Bangun pagi, sengaja membuat sarapan untuk diberikan pada Juan, ketika lelaki itu sakit, dia pasti akan berada paling depan untuk merawatnya. Ketika kesulitan dalam bekerja, dia juga selalu support. Tapi kenapa? Malah wanita itu yang dipikirkan olehnya. Dia bisa melihat, ada mata yang berbinar, ketika Juan bercerita, dan itu seperti satu pukulan telak untuknya. "Laura, kenapa diam?" Tanyanya sembari mengusap rambut bagian pinggir. "Eh, eum itu. Ayo pulang." Laura sudah kehilangan semangatnya untuk hari ini, padahal dia sengaja mengajak Juan ke rumah. Supaya, bisa dia kenalkan kepada keluarga. Setidaknya, jika dia tidak mampu meyakinkan. Setelah melihat keluarganya yang begitu terbuka. Siapa tahu, dia bisa mempertimbangkan. Namun, sepertinya akan jadi gagal. "Ayo!" Setelah memakaikan helm pada wanita itu. Dia mengajak untuk segera pergi. Sepertinya, Laura khawatir akan terlambat sampai ke rumah. Itulah, yang ada dipikiran lelaki tersebut. Memang tidak peka, dan selalu seperti itu. Sepanjang perjalanan, Laura diam. Dia kembali berpikir, untuk mengenalkan Juan pada keluarga. Memang, dia bukan pacarnya. Namun, dia berharap ada harapan baru setelah pertemuan ini. Dia memang egois, tapi semua orang punya caranya sendiri untuk menggapai kebahagiannya. Berbeda dengan mereka. Riri kini sudah berada di bagian tempat hiburan di mall tersebut. Dia berbaur bersama anak-anak. Dia sedang bermain game basket yang dimasukan ke dalam ring. Tidak perduli, banyak pasang mata melihatnya. Dia ingin melepas penat. Niat awalnya pergi, memang ingin refreshing. Bukan, malah makin mumet. Sepertinya, bertemu dengan Juan bukan pilihan yang tepat. Sudah menanyakan tentang pernikahan, malah mengenalkan perempuan lain. Ditambah, mereka satu tempat kerja, pasti kemungkinan ke jenjang yang lebih serius sangat terbuka lebar. Dia juga tidak tahu, perasaan apa yang sedang dialaminya saat ini, dia tidak cinta. Namun, dia sakit ketika melihat lelaki itu bersama wanita lain. Ada rasa tidak rela, ketika Juan memilih meninggalkannya untuk mengantar wanita itu pulang. Hal tersebut mampu membuatnya sangat tersentak, jelas lelaki itu pasti memilih wanita tersebut, karena dari segi manapun dia kalah jauh. Keadaan ini bagaikan dia dipaksa mundur oleh keadaan. Wanita bernama Laura itu sangat feminim, cantik, badannya proposional, pakaiannya berkelas, belum lagi sangat terlihat anggun dan keibuan, sangat jauh jika dibandingkan dengan dirinya yang sangat cuek. Jika tahu begini, seharusnya dia tidak boleh membuka celah, saat Juan memasuki kehidupannya. Ini sangat tidak masuk akal. Belum lama kenal, sudah sayang. "Aduh!" Teriaknya tidak tau malu, kala menempelkan kartu untuk kembali bermain ternyata saldonya sudah habis. Padahal, dia masih ingin bermain. Setelah itu, Riri langsung pergi, dan membiarkan kupon berhadiah itu menjadi rebutan banyak anak kecil. Dia tidak butuh itu. Langkah kakinya tidak tentu arah. Sekarang, dia juga belum tahu harus kemana. Karena masih terlalu siang untuk kembali ke rumah. Dia butuh hiburan, butuh seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Mungkin juga, dia butuh pelukan seseorang. Rasanya akan nyaman sekali, jika ada yang melindungi. Namun, semua hanya halusinasi. Dia malah diam di halte, memperhatikan kendaraan berlalu lalang. Setidaknya, halte lebih baik dibandingkan jembatan. Banyak orang memilih jalan pintas dalam menghadapi masalah hidup, dia sendiri belum pernah kepikiran untuk menyerah dengan cara seperti itu. Dia percaya, hidup adalah pilihan. Dan masih banyak pilihan yang jauh lebih baik, dibandingkan harus menggunakan cara yang tidak masuk akal. Meskipun, hari ini dia masih bisa tenang. Kebutuhannya beberapa bulan ke depan akan tercukupi, karena masih ada uang pensiun. Namun, entahlah. Jika sampai beberapa bulan kedepan dia tak kunjung mendapatkan pekerjaan juga. Juan dan Laura sampai di rumah wanita itu. "Makasih ya Mas. Ayo masuk dulu!" Perintah Laura, dia tetap nekat mengajak lelaki itu. Meskipun dia sadar, di dalam sana ada tantenya yang rempong. "Mungkin lain kali ya Laura," ujarnya menolak ajakan tersebut. "Kenapa Mas? Mamah masak banyak loh." "Aku sudah makan tadi. Nanti, lain kali pasti bertamu." "Gitu terus jawabannya, kalau diajak ke rumah." "Hehe, nanti jadwalkan aja. Kita makan-makan di rumahmu. Biar seru, ajak yang lain juga." "Ya sudah, hati-hati di jalan ya." Laura mengalah, dia juga tidak mau memaksakan Juan, jika lelaki itu memang tidak berkenan bertemu keluarganya. Sudah diantarkan pulang saja, lebih dari cukup. Selepas Juan pergi, dua orang wanita paruh baya mendekat ke arahnya. "Itu pacar kamu Laura?" Benar saja, tantenya yang rempong berjalan menghampiri. "Bukan, cuma temen," jawabannya dengan santai. "Bohong, pasti pacarnya. Pantes, kalau dijodohin gak mau. Mentang-mentang pacarnya ganteng." wajahnya langsung pucat Ternyata memang lebih baik Juan tidak masuk ke dalam rumah. Lelaki itu selamat dari rentetan pertanyaan yang menjebak. Dia takut, esok harinya mereka akan canggung ketika di kantor, dan semakin menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD