Bersama

1070 Words
"Gak usah, Kamu pasti cape pulang kerja. Aku juga dulu gitu, kalau pulang kerja tuh bawaannya pengen langsung pulang dan rebahan." "Itu kan karena Kamu lemah saja." "Heh, bicara apa Kamu!" Riri tidak dapat membendung kekesalannya, karena diledek sebagai orang yang lemah. "Ayo, jangan kelamaan di halte, Kamu itu aneh banget. Suka sekali diam di halte. Tidak akan ada pangeran datang menemui. Jadi, sebaiknya sekarang pergi dari sini." "Aku sedang menunggu Bus." "Setelah Bus lewat beberapa kali, Aku tidak yakin Kamu berkata jujur." "Lepas, Aku gak mau pulang." Dia merengek seperti anak kecil yang sedang asik bermain dan diminta pulang oleh orang tuanya. "Memangnya, Kamu sudah ada tujuan. Mau pergi ke mana?" Tanyanya sekaligus penasaran. "Ke mana aja." Riri memang belum mempunyai tempat untuk dituju "Labil." "Kenapa senang banget sih ngeledek?" Ketusnya sembari cemberut. Dia sadar betul, tingkahnya sangat lepas pada Juan. Namun, dia tidak bisa mengontrolnya. Bukannya takut dan merasa bersalah, Juan malah tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut. Semakin membuat lawan bicara cemberut. "Pulang aja Kamu, aku lagi gak mau diganggu." "Aku punya tempat yang enak buat nyantai, mau gak ke sana?" "Kamu gak sesat kan?" "Aku pegawai bank." "Ih, serius. Kamu gak lagi ngerjain Aku kan. Ngajak pergi, tahunya menculik. Bener deh, Aku udah gak punya uang, yang kemarin itu sebentar lagi juga mau habis." "Kalau Kamu begini, malah aku jadi pengen masukin ke karung." "Jangan!" "Ya sudah, makanya ayo." Sedikit terpaksa, Riri tetap ikut dengan Juan. Di perjalanan, mereka saling diam. Salah satu kebiasaan Juan juga, lelaki itu tidak suka jika diganggu saat berkonsentrasi mengendarai. Setelah sampai ke tempat tujuan. Riri malah takjub dengan keadaan sekitar. Beberapa rumah kecil di antara pepohonan. Sangat membuatnya merasa gembira. Ternyata, selama ini dia yang tidak ada untuk alam, bukan alam yang sudah berubah untuknya. "Naik? Berani?" Tanyanya sembari menatap wajah wanita itu. "Siapa takut." Merasa tertantang, Riri yang sebenarnya selalu Tremor saat di ketinggian, berusaha tetap santai. Mereka berdua memesan minuman terlebih dahulu, karena memang sudah kenyang. "Kamu tahu tempat ini dari mana?" "Internet." "Sudah sering?" "Kamu pengen aku bilang, Kamu adalah orang pertama yang diajak ke sini kan?" "Enggak." Riri langsung menyangkalnya, dia hanya berbasa-basi, tidak ada harapan seperti itu dalam pikirannya. "Kamu adalah orang pertama yang aku ajak ke sini." Riri tidak bisa menahan dirinya untuk tidak salah tingkah, wajahnya pun memerah, dia merasa senang dan malu dalam waktu yang bersamaan. Bersama dengan Juan, banyak rasa yang sebelumnya tidak dia rasakan. "Makasih," jawab Riri. Dia tidak mau berkepanjangan. Membahas hal-hal yang membuatnya berdebar. "Kamu juga lagi ada masalah kerjaan emang?" "Enggak, hanya penat aja." "Gak main sama teman-teman?" "Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing." Riri ingin sekali bertanya tentang wanita itu pada Juan, tapi dia tidak mau menyinggung perasaan lelaki itu. "Di usia seperti ini, kita harus gimana sih sebenernya?" "Kamu bertanya pada orang yang salah. Aku itu produk gagal Ri," jawab Juan dengan santai. Dia merasa hidupnya tidak sehebat orang lain kebanyakan. Dia banyak tidak beruntungnya, dalam keluarga, pekerjaan, percintaan. Kehidupan dewasanya juga tidak jelas. Banyak temannya yang lain sudah sangat sukses dan mapan. Bukan hanya sekedar iri biasa. Juan lebih ke arah pasrah, dia tidak tahu kenapa hidupnya begini. Hanya dengan cara seperti itu, dia masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Dia merasa hanya perlu menerima keadaan, meskipun sesulit apapun. Karena hidup bukan untuk diratapi. "Maksudnya?" tanya Riri penasaran, dia tidak mengerti, apa maksud Juan dengan produk gagal. karena yang dia lihat, hidup lelaki itu cukup baik. Pekerjaannya juga menjamin, terlihat masih muda dan gagah. "Ada yang lebih penting dari pada hanya sekedar uang. Misalnya, mental." "Kamu kenapa?" Riri seketika seperti seorang teman yang sangat perhatian kepada sahabatnya. Dia sangat berharap Juan bisa berbagi padanya. Tidak perduli, itu hal baik atau buruk sekalipun. "Aku rasa, tujuan kita ke sini bukan untuk membahas tentang aku kan?" Juan segera mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau wanita itu larut dalam ceritanya yang sangat panjang, dan menyedihkan. Dia tidak butuh empati yang akan membuatnya dipandang sebagai orang yang perlu dikasihani. "Oh, maaf. Kalau Kamu memang belum siap cerita tidak apa-apa, lagi pula. Kita kan belum saling kenal." Sedikit tersinggung, niat baiknya tidak diterima dengan baik. "Jangan marah. Nanti juga Kamu tahu dengan sendirinya. Gimana tempat ini? Apa kamu menyukainya?" "Sangat. Ini indah banget. Apalagi, saat sore seperti ini." "Matahari masuk ke dalam celah-celah kayu. Aku rasa ini akan menjadi tempat terfavorit." "Kamu juga baru ke sini." "Iya, sama sepertimu. Pulang kerja, langsung ke kostan. Tidak ada banyak waktu untuk mengobrol dengan orang." "Berarti, kamu introver?" Juan terdiam sejenak, terakhir dia petakilan. Sebelum Lara meninggalkannya. Dia jadi seperti sekarang ini. "Tidak tahu, dunia seakan tidak menarik lagi, setelah aku kehilangan banyak kesempatan bahagia." "Kamu sepertinya punya beban yang lebih banyak dariku." "Sok tahu!" Ledek Juan, kini dia sudah menatap Riri. Dia segera menepis bayangan-bayangan masa lalu yang datang menghampirinya. Suasana hati akan sangat berubah, jika dia sengaja mengingat hal yang membuat moodnya hancur berantakan. Dia juga sudah berjanji, untuk menjalani hidup dengan baik. Dia mungkin tidak memiliki keluarga, tapi dia masih berpotensi untuk membentuk keluarga. Dan salah satu cara terbaiknya adalah dengan segera menyadari bahwa banyak orang yang masih perduli, dan menginginkannya. Selama ini, dia terlalu fokus pada sesuatu yang tidak penting. Padahal hal tersebut dapat membuatnya semakin terpuruk. "Kayaknya, aku salah nilai Kamu deh," ujarnya sembari memberikan wajah misterius. "Apa?" Juan penasaran. "Kamu nyebelin banget." "Kok bisa?" tanyanya dengan wajah yang menyebalkan. "Nah kan, nyebelin." "Hey! Bahkan Aku tidak berbuat apa-apa. Kenapa berpikir seperti itu?" "Habisnya, Kamu terlalu baik padaku." "Terlalu baik gimana? Anggap saja, kita ini sekarang teman." "Iya lah, kalau langsung anggap kita suami istri, nanti Aku dikira halusinasi." "Haha." Juan tertawa dengan renyah, sesekali Riri memang sering bercanda. Membuat obrolan mereka tidak terkesan membosankan. "Kamu ada rencana liburan gak?" "Kemana?" "Kan Aku yang tanya, kenapa malah seakan Aku yang mau liburan." "Sensi banget sih, lagi datang bulan Bang?" "Lagian, Kamu kalau bicara yang jelas dong. Seneng banget bikin salah paham." "Kamu aja mudah baper." "Kok Aku sih?" "Iya lah, siapa lagi?" "Kamu lah, yang gak jelas." "Obrolan kita berfaedah banget sih," sindir Riri. Dia merasa seperti anak remaja yang belum mengerti apapun, jadi tidak punya banyak bahan pembicaraan. "Terus, Kamu mau obrolan yang kayak gimana? Mau bahas hukum? Pajak? Atau saham?" "Cowok emang sulit dimengerti." Juan hanya bisa melongo, menatap Riri dengan tidak percaya. Bagaimana perempuan itu bisa dengan mudahnya berbicara seperti itu padanya. Padahal, wanita itu yang sedari tadi tidak nyambung. Juan tersenyum, ternyata begini rasanya punya teman perempuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD