Juan lebih baik

1084 Words
Setelah kejadian tersebut, Juan mengantar Riri pulang ke rumahnya. Dia juga tidak lupa untuk meminta nomor telepon. Mereka sering berkomunikasi lewat handphone. Sesekali mengirimi kabar, atau hanya sekedar menanyakan hal yang tidak penting. Anehnya, Juan tidak keberatan dengan keanehan seperti itu. Dia senang, karena seperti memiliki seorang teman yang bisa diajak bicara. Lebih tepatnya merasa memiliki orang yang satu frekuensi dengannya. "Mas Juan, tumben senyum-senyum sendiri." "Enggak, Saya ingat kejadian lucu tadi pagi." "Apa?" tanya perempuan itu penasaran. Juan kebingungan, dia tidak benar-benar mengatakan hal tersebut, tapi ditanggapi serius oleh Laura. Dirinya langsung berpikir cepat, agar mendapatkan jawaban yang sesuai tanpa membuat orang lain curiga atau merasa ingin tahu lebih dalam. "Ada deh. Mungkin gak akan lucu kalau saya yang cerita." "Ada-ada saja. Nanti malam mau ikut?" "Absen dulu kayaknya." "Kebiasaan. Bilang saja mau ke rumah pacar. Malam mingguan," ledek teman kerjanya yang lain. "Bukan gitu, saya mau ke rumah Bapak." "Tapi, setiap kita ajak jalan-jalan pasti gak pernah ikut." "Nanti saya Ikut kok. Lain waktu ya, maaf." "Laura gak ada temannya Mas. Ayolah, biar kita pas." "Lah, bukannya ada yang bawa mobil?" "Anak-anak ngajakin naik motor. Biar seru katanya." Teman kantor Juan, sedang merencanakan untuk pergi ke puncak malam ini. Mereka ingin berlibur di hari weekend. Seperti biasa, Juan banyak alasan. Dia tidak berniat untuk ikut. Karena rencana malam ini akan pergi ke rumah Riri, besok dia akan menjenguk bapaknya. "Dadakan sekali sih," ujar Juan seperti orang yang menimbang-nimbang, dia juga sempat melirik ke arah Laura. Wanita itu menatapnya penuh harap. "Ya sudah, Laura gak ikut aja ya. Kalian pergi saja." perempuan itu pun merasa serba salah sekarang. "Gak bisa gitu dong. Kita kan udah janjian. Ayolah Juan. Masa sama temen sendiri perhitungan." Lelaki itu tidak langsung menjawab. Dia memang sudah sangat lama tidak liburan. Namun, bukan berarti dia pergi bersama Laura. Wanita itu sepertinya banyak salah paham padanya. "Maaf ya, mungkin lain kali." Finalnya, dia akhirnya tetap tidak memilih pergi. Meskipun tidak tega melihat ekspresi kecewa teman-teman kerjanya. Juan tidak bisa berubah pikiran. Mereka semua diam, dan tidak lagi membahasnya. "Laura duluan ya teman-teman, sudah dijemput soalnya." Mereka berbicara di ruang santai di dalam kantor. Biasanya, jika sudah selesai bekerja. sudah kebiasaan, kadang bersantai sebentar. "Hati-hati." "Iya Mas." "Juan, Lo gitu banget sih. Kurang apa coba cewek itu?" Tanya salah satu teman kantornya. Setelah Laura benar-benar meninggalkan kantor. "Justru itu, saya gak merasa pantas untuknya." "Alibi terus. Seenggaknya, kasih kesempatan. Dia udah banyak berjuang loh." "Saya kan gak pernah minta dia berbuat seperti itu. Kenapa harus tanggung jawab?" "Gue kira, akhir-akhir ini Lo udah bisa menerima dia." Benar saja, banyak orang yang salah paham. Padahal, dia tidak dingin pada wanita itu, karena rasa bersalahnya sudah menolak ajakan ke rumah Laura. Mereka memang lebih akrab, tapi dia tidak merasa jatuh cinta. Dia hanya menganggap Laura sebagai seorang teman, bahkan adik. Karena wanita itu memang sedikit manja. "Iya, biasanya kalau dibawain sarapan gak pernah mau. Ini lahap bener makannya." "Soalnya, masakan dia enak." "Iya ya, perasaan akhir-akhir ini Lo beda Mas. Lo gak lagi jatuh cinta kan?" "Enggak!" Juan langsung mengelak. Dia tidak merasa tuduhan itu benar. "Terus, kenapa jadi lebih santai dan friendly?" "Mungkin, karena saya sudah merasa nyaman dengan kalian." "Huekk. Suara buaya merdu banget." "Loh, kok malah dituduh buaya?" "Iya dong. Terus, apa lagi kata-kata yang bagus buat seorang yang seneng memberikan harapan palsu?" "Saya gak pernah berniat untuk membuat orang lain jatuh cinta." "Tapi, kelakuan Lo Mas." "Saya dingin salah, baik juga dikira baperin anak orang. Terus harus gimana?" "Lo serba salah ya. Kita juga bingung, harus dukung siapa. Padahal perasaan gak bisa dipaksakan. Tapi, ngeliat perjuangan Laura. Kayaknya, Gue yakin dia bisa buat Lo bahagia. Dia tulus banget, padahal mau cari cowok yang lebih dari Lo juga bisa." "Iya bener, kenapa kisah percintaan rumit banget, ketika kita suka, dia yang gak suka, ketika dia suka, kita yang gak suka." "Curhat mulu nih bungkus gorengan. Lo mah sadar diri aja, tampang juga pas-pasan, dompet apalagi isinya goceng sama ceban doang. Kalau ada yang suka juga udah syukur banget. Jangan banyak tingkah!" "Haha." Mereka tertawa bersama. Beginilah suasana keakraban di kantor Juan. Bagaimana dia tidak betah bekerja di sini. Meskipun berat, jika orang-orangnya baik. Kerjaan pun terasa lebih ringan. Setidaknya, lebih baik dari tempat kerja sebelumnya. "Ya sudah, mending kita pulang. Sudah mau malam." "Iya, bubar guys. Sampai ketemu di titik kordinasi ya." "Have fun semuanya. Saya pamit ya, jangan lupa oleh-oleh." "Ogah, ikut kaga, minta oleh-oleh." Juan tidak tersinggung, dia hanya tersenyum lalu berjalan keluar. "Lo ngerasa gak sih, si Juan beda ya sekarang?" "Iya, lebih banyak bicara dan banyak senyum juga." "Kasihan Laura. Padahal sama Gue aja. Baik, perhatian, rajin." "Lo bukan Juan, jangan harap diperhatikan Laura. Dia udah cinta banget kayaknya sama Juan." "Apa coba yang diharapkan dari lelaki itu?" "Lah, Gue tanya. Apa yang bisa diharapkan dari Lo?" "Minta dinikahin nih orang ya." Setelah pulang dari kantor, Juan benar-benar ke rumah Riri, dia juga tidak lupa membawa makanan. Senang rasanya jika mengunjungi rumah wanita itu. Dia selalu disambut dengan baik oleh keluarganya. Makanan apapun yang dibawa, selalu diterima dengan baik. Dia merasa seperti berada di tengah-tengah keluarga bahagia. Mereka sedang duduk di ruang tengah, sembari menyantap martabak telur yang dibawakan, mereka menonton acara televisi. "Kenapa gak pulang dulu ke kostan?" Tanya Riri sembari berbisik, mereka duduk bersebelahan. Wanita itu tidak terlalu keras bicara, takut terdengar orang rumahnya. "Kalau sudah ke kostan, malas keluar lagi." Juan mengatakan alasan yang sebenarnya. "Iya, lebih baik. Kan habis lelah kerja enaknya istirahat." "Kamu gak senang ya, saya datang ke sini?" Riri membulatkan matanya, dia kaget Juan malah berpikir sejauh itu. "Bukan gitu, Aku kasihan aja sama kamu. Takutnya lelah kerja," jawab wanita itu seadanya. "Kamu khawatir saya sakit?" "Percaya diri sekali." "Lalu?" "RI, Juan ambilkan minum, itu kan di kulkas ada kopi botolan. Gimana sih, ada tamu malah gak dibawain minum." "Iya Mah." Riri tidak jadi menjawab pertanyaan Juan, dengan wajah cemberut dia bangun dari duduknya. Lalu berjalan ke dapur, sembari menatap tajam lelaki yang sedang merasa bangga, karena dibela keluarganya. Juan tersenyum, Riri selalu saja diminta keluarga, agar bersikap baik padanya. Padahal. Di rumah ini, yang anak Riri bukan dirinya Tanpa mereka sadari, orangtuanya, adiknya juga memperhatikan keduanya, mereka merasa Juan sudah cocok menjadi calon menantu dan kakak ipar di rumah ini. Mereka senang, karena pemuda itu, memiliki attitude yang baik, dan juga bisa membuat Riri tidak mengurung dirinya di dalam kamar. Karena semenjak menganggur, wanita itu selalu diam di kamar, jika pekerjaan rumah telah selesai, wajahnya pun selalu kusut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD