Terpikirkan

1041 Words
Malam hari adalah waktu terbaik untuk meratapi kesedihan, karena sepi membuat suasana semakin mendukung, ditambah musik galau yang memperparah perasaan hati yang sedang merana. Riri sedang berdiam diri di luar rumah. Dia mencoba untuk tetap tenang dan tidak menunjukan banyak ekpresi di rumahnya Karena takut kedua orangtuanya akan menyadari bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Adiknya saja masih marah besar padanya, ketika berpapasan sebisa mungkin pria itu selalu mengalihkan pandangannya tanpa mau bertatapan dengan kakaknya, mungkin masih kecewa, karena sejujurnya dia sudah banyak berharap atas hubungan kakaknya dengan lelaki itu. Meskipun tadi terlihat baik-baik saja, ternyata tidak bisa, adiknya masih dilanda rasa kecewa, mungkin ucapan sebelumnya hanya sebuah semangat saja. Juan sudah berhasil membuat hati keluarga ini menerimanya dengan tulus, jika saja Riri tidak membuat ulah, mungkin mereka masih bisa bersama sekarang. Bercanda dan pria itu tidak akan meninggalkannya seperti sekarang Mereka seperti orang yang tidak kenal, bahkan Juan masih membencinya. Perkataan kasar yang dilontarkan untuknya bahkan tidak membuat Riri marah, dia merasa pantas hanya sedikit merasa sedih saja. Beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar, dia mencoba untuk menghentikan pikirannya yang terus mengingat pacar bohongannya, lebih tepatnya lelaki yang dianggap pacar, padahal mereka sama sekali belum jadian. Seorang lelaki memperhatikannya dari jendela, dia masih marah besar terhadap kakaknya yang bertindak semaunya saja, membohongi keluarga adalah kesalahan terbesar. Baginya, tidak ada pembenaran atas tindakan tersebut. Meskipun begitu, perasaannya tetap kasian pada wanita yang selama ini bekerja keras untuknya dan keluarga. Dia merasa sudah memperparah keadaan dengan memarahinya. Padahal, jika dipikirkan kembali mungkin kakaknya terbawa suasana akibat perilaku yang diberikan oleh pria yang selama ini baik kepada keluarga ini. Kembali lagi, pada konsep jatuh cinta dan perasaan yang dia mengerti bahwa, tidak mungkin wanita jatuh cinta jika pria tidak berbuat apapun yang menggetarkan hatinya. Setelah dipikir bahkan Juan terlalu banyak memberikan kebaikan sehingga membuat Riri berani melakukan itu. Wanita mana yang tidak salah paham jika setiap hari elalu diperlakukan seperti ratu oleh lelaki yang mengaku sebagai teman baik. Siapapun pasti akan luluh, dan menganggap bahwa mereka bukan hanya teman biasa. Jika sudah begini, dia bingung untuk menentukan pilihan. Di satu sisi merasa kasian pada Juan, dan juga merasakan kekecewaan semisalnya dia yang ada di posisi lelaki itu, tapi di sisi lain di merasa kasian pada kakaknya yang menjalani kisah percintaan tidak beruntung. Bahkan sebelum dimulai udah berakhir. "Sedang apa di situ?" Tanya seseorang yang membuatnya terkejut. "Tidak," jawabnya santai lalu menutup jendela dan berusaha untuk kabur, tapi tangannya tahan. "Ada yang bisa dijelaskan?" "Tidak ada, Aku hanya mengecek apakah di luar masih hujan atau tidak, ternyata sudah reda, perutku lapar ingin membeli nasi goreng." Begitulah alasan yang tepat menurut dia untuk membuat orang tuanya percaya. Padahal kenyataannya orang tuanya mengintip interaksi kedua anak tersebut, mereka curiga bahwa Riri mengucapkan sesuatu untuk adiknya yang membuat lelaki itu merubah sikapnya ketika mereka berada di dalam rumah. Namun, lelaki itu tidak mau berbicara. Dia memilih untuk menghindari pertanyaan karena takut tidak bisa menahannya untuk mengatakan yang sebenarnya pada orangtuanya. Riri mengusap air matanya kasar, dalam keadaan seperti ini dia bahkan masih merasa bahwa Juan sebenarnya masih memiliki hati, buktinya lelaki itu mau mengantarkan pulang, meskipun mungkin terpaksa. Jadi, dia percaya jauh dilubuk hatinya pasti masih ada tersimpan sedikit perasaan baik untuknya. Meskipun sadar, jika berharap hanya akan memperparah suasana hatinya, sementara Juan sudah memiliki wanita lain yang jauh segala-galanya dibandingkan dengan dirinya yang hanya akan menjadi beban saja. Pantas saja, bila lelaki itu lebih memilih wanita yang kala itu tidak sengaja dia temukan di pusat pembelanjaan. "Masuk Ri, sudah malam. Tidak baik perempuan berada di luar sampai larut malam seperti ini." Tidak terasa ternyata waktu udah berlalu begitu cepat, dia berpikir ini masih pukul 9, ternyata sudah pukul 10 malam. "Iya, sebentar lagi." Dia segera menghentikan suara musik yang ada di handphonenya, lalu mengusap air matanya yang masih tertinggal di pipi. Kemudian bergegas bangun dan pindah ke kamar tanpa mengatakan apapun pada orantuanya yang sedang mencoba mencari kesempatan untuk menanyakan pada anaknya, mungkinkah anaknya sedang bermasalah dengan calon kekasihnya. Awalnya, beliau mengira mungkin hanya masalah biasa, tapi setelah dipikir-pikir ada yang berbeda. Perlakuan Juan yang sangat berubah, menjelaskan bahwa hubungan mereka bukan hanya sekedar marahan biasa saja, dan hal ini membuatnya menjadi waspada. Selain khawatir anaknya terluka, beliau juga takut pria itu mundur menjadi menantunya, di saat dia sudah merasa percaya bahwa Juan adalah orang yang paling tepat untuk anaknya. Riri sudah janji tidak akan menangis di kamar, tapi tatapan orangtuanya membuat dia kesulitan untuk menahan perasaan sedih, dia kembali merasa bersalah karena sudah berbohong. Tanpa memberikan penjelasan, dia hanya bisa menghindar dan berharap jika orangtuanya mengerti, sehingga tidak akan mempertanyakan apapun yang berhubungan dengan Juan. Karena tadi adalah terkahir kalinya wanita itu diantarkan pulang. Jika tahu setelah kejadian ini suasana hatinya berubah menjadi lebih gelisah, pasti dengan mantap dia akan menolak ajakan tersebut, meskipun hujan badai, bahkan Juan adalah pilihan terakhir untuk dia bisa pulang, Riri memilih jalan kaki. Sementara Juan, sepanjang pulang dari rumah wanita itu, dia merasa gelisah, memikirkan kembali bagaimana temannya menghadapi keluarga yang sudah berharap padanya, tetapi harus menerima kenyataan bahwa semua adalah sebuah kebohongan. Di sini, bukan hanya Riri yang bersalah, dia mengakui hal itu, tapi jika dirinya sengaja menjelaskan tidak akan merubah keadaan semakin membaik, hubungan mereka juga tidak akan sama seperti dulu lagi, jadi semuanya terasa percuma. Hanya dengan melihat rumah itu, dia jadi rindu suasana hangat di dalam sana yang tidak pernah dirinya dapatkan di manapun. Sekarang dia seperti lelaki tidak tahu diri, dan merasa paling tersakiti hingga mengorbankan banyak orang. "Lo kenapa selimutan begitu?" tanya teman kostnya yang tidak mengetuk pintu, tapi langsung masuk ke dalam kamar. "Minimal ketuk dulu, jangan langsung buka." "Biasanya juga santai, kenapa? Lo lagi sakit?" "Enggak," jawabnya singkat, karena masih kesal dengan tingkah temannya. "Terus kenapa suaranya jadi aneh begitu?" "Kalau keliatannya sakit, kenapa harus tanya?" tanyanya menyolot. "Karena gak semua sakit itu berupa luka, dan demam. Bisa aja karena hati Lo yang sedang merana." Bukannya bersimpatik, lelaki itu malah meledeknya. Sungguh teman yang baik, beruntung Juan tidak marah. Dia membiarkan lelaki itu melakukan hal sesukanya, dia memilih untuk tidur. Sesekali hidungnya terasa mampet, dan badannya mulai hangat, meskipun begitu tidak berniat untuk minum obat, dia sengaja membiarkan demam karena kehujanan ini berlanjut agar badannya teralihkan dari rasa sakit yang lain
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD