Sulit untuk Percaya

1534 Words
Riri sampai di rumahnya. Dengan selamat dan tidak lecet satu apapun. Dia diantarkan oleh pangerannya. Perjalanan terasa begitu cepat, padahal dia masih ingin memiliki waktu untuk bersama, karena dia tidak tahu kapan bisa seperti ini lagi. Diam-diam Riri menangis, karena mungkin ini adalah boncengan terakhir lelaki itu padanya. Dia sudah tidak akan bisa lagi memeluk Juan dan berbicara sedekat ini. Jelas-jelas lelaki itu akan menjauhinya. "Mau mampir dulu?" Tanyanya, begitu dia melepas helm dan memberikan pada Juan. "Sampaikan salam kepada orang rumah. Aku harus segera pulang, karena baju sudah basah semua." "Sekali lagi, terima kasih. Maaf merepotkan. Lain kali, jika apapun terjadi padaku kamu tidak perlu ikut pusing. Karena semua bukan tanggung jawab kamu, sekalipun adikku yang meminta." Riri boleh bersedih, tapi dia harus ingat. Bahwa mereka tidak memiliki hubungan. Hal tersebut sudah sepantasnya dikatakan. Karena Juan pun pasti tidak akan keberatan, lelaki itu mempunyai kehidupannya sendiri untuk diurus. "Iya. Sampai jumpa." Tidak seperti kebanyakan orang yang akan berpisah, mereka tidak memakai momen ini sebagai ucapan ucapan terakhir. Tidak ada kata saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan, ataupun memberikan pesan Jujur saja Juan tidak kuasa untuk mengatakan apapun. Dia hanya sedang menguatkan hatinya. Agar tidak kembali ke goyah ketika melihat wanita itu. Tidak ada kata maaf yang terucap dari mulutnya. Meskipun tadi sudah berkata dengan kasar. "Iya, hati-hati di jalan." Pria itu menganggukkan kepala, kemudian menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan pekarangan rumah itu, meskipun tidak seperti biasanya. Jika dia mengantar Riri pulang, pasti harus menunggu sampai wanita itu benar-benar masuk ke dalam rumah. Tanpa disadari oleh keduanya, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari dalam rumah melalui celah jendela. Riri menatap punggung Juan yang sudah mulai tidak terlihat oleh jangkauan matanya. Lelaki itu bersikap seolah sangat mantap untuk meninggalkan semua ini. Iya sudah tidak bisa lagi menahan atau memaksa. Dengan langkah gontai, Dia berjalan masuk kedalam rumah. Kini hanya ada kenangan yang bisa dia ingat tentang lelaki itu. Tiddd Suara klakson mengagetkannya. Dia bahkan sampai meloncat. "Adik durhaka!" Teriaknya sekencang mungkin karena kesal dengan tingkah laku sang adik yang tidak tau momen. Sudah cukup berdekatan dengan Juan membuat jantungnya tidak karuan, sekarang dia jauh lebih lemas karena dikagetkan. "Hehe maaf kak, lagian kenapa jalannya kayak siput begitu sih. Cepetan dikit kan bisa. Jangan lupa bukain pintunya." "Berani nyuruh Lo." "Ya maaf, sekalian. Gitu aja sensi. Nggak kasihan apa lihat adiknya udah basah kuyup kayak gini. Mana yang dijemput ternyata udah pulang sama pacarnya. Tanpa ngabarin sedikitpun, bener-bener enggak tahu diri." Bukan Riri yang marah justru sang adik yang sudah cerewet lebih dulu. Memang wajar sih adiknya marah, tapi dia juga berhak untuk marah karena sudah menunggu sangat lama sehingga memutuskan untuk pulang bersama Juan. "Derita Lo. Lagian ditungguin lama malah gak dateng-dateng. Atau memang sengaja ya nyuruh Juan buat nyamperin gue?" "Kenapa emangnya? Masa pacarnya lagi kesusahan cowoknya nggak mau nyamperin. Laki macam apa seperti itu." "Gue butuh bantuannya sama Lo bukan dia." "Sama aja, biasanya juga apa-apa bareng sama Bang Juan. Giliran udah resmi pacaran malah kayak musuhan, kenapa?" Mereka mengobrol dengan kondisi motor sang adik yang masih menyala. Bahkan masih masih terdengar jelas meskipun sudah mulai melemah. Sejujurnya dia tadi sempat melihat interaksi di antara keduanya. Sangat jauh berbeda tidak seperti ketika mereka masih menyandang status gebetan. Perlakuan manis juan yang sederhana tidak lagi lelaki itu lakukan. Adiknya itu masih cukup ingat, di depannya Juan seringkali mengacak rambut bagian depan sang kakak. Kadang dia saja jadi gemes melihatnya. Tatapannya pun kini sudah berbeda. Bahkan saat tadi dia menelpon, lelaki itu seperti orang yang tidak tertarik dengan apa yang dia katakan. Meskipun begitu, dia tetap berterima kasih karena calon kakak iparnya masih mengantar kakaknya sampai ke rumah dengan selamat. Tidak akan terbayangkan, seandainya salah satu dari mereka telat untuk menjemput di tempat gelap tadi. "Kepo. Ini urusan orang dewasa, lagipula siapa juga yang masih pacaran." adiknya menatap kakaknya dengan horor, dia tidak mengerti maksud dan tujuan wanita itu mengatakan siapa juga yang masih pacaran. "Lo utang banyak penjelasan ke gue." "Kabur!" Dia langsung masuk ke dalam rumah. Dampak membiarkan pintu itu terbuka. Tia senang menjahili adiknya yang pasti sangat kesal saat ini. Karena harus turun dulu dari motor untuk membuka pintu. "Awas Lo ya Kak!" Mereka berdua sudah masuk ke dalam rumah, di sana ayah dan ibunya menunggu penjelasan dari kedua anak tersebut. "Aku mau mandi dulu Mah. Soalnya bajunya basah." "Aku juga, gak enak banget badan pengen mandi." "Kalian hanya punya waktu 15 menit dari sekarang. Setelah itu, segera kemari dan berikan kami penjelasan. Jangan menutup-nutupi dari orang tua. Meskipun kita tidak bisa berbuat banyak, tapi kami harus tahu." "Iya Mah." Merekapun jalan bersama, menuju kamar masing-masing. "Gue dulu yang mandi." "Gue dulu, Lo mandinya lama." "Ya udah, nanti sebelum ketemu Mamah Papah, Ada yang mau Gue omongin dulu." "Iya," jawabnya. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh kakaknya. Namun melihat raut wajah Riri. Sepertinya itu hal yang serius. Riri berpikir mungkin kah orang tuanya melihat bahwa tadi dia pulang diantar oleh Juan. Sehingga mereka ingin tahu sesuatu. Sementara itu, Juan kembali ke kostan. Di perjalanan dia sudah merasakan sangat pusing kepalanya. Karena kehujanan dan tidak memakai jas hujan. Padahal, bisa saja meneduh dulu. Namun, dia tidak mau terlalu lama dengan Riri. Sesampainya di kosan, ternyata masih ada Riko yang belum tidur. Entah sedang menunggu apa. Yang jelas, biasanya jika malam seperti ini. Lelaki itu sudah mengurung di kamarnya. "Kenapa kehujanan? Gimana, Riri udah ketemu?" Hal yang pertama kali ditanyakan pria itu adalah Riri. Dia sempat mengira jika Riko mungkin sedang mengincar wanita itu. "Ketemu. Jangan bahas dia. Gue mau mandi, pengen istirahat." Juan sudah memberikan mode cuek, biasanya dengan begitu sahabat karibnya itu bisa mengerti. Namun kali ini berbeda, Riko malah mengikutinya dari belakang. "Oke." Mereka berdua masuk ke dalam kosan, Riko membuntuti Juan dari belakang. "Kenapa ngikutin sih?" Jujur saja Dia sedang butuh waktu untuk sendirian. Kali ini perasaan sama seperti saat Lara meninggalkannya. Padahal dia sudah tahu rasanya ditinggalkan, tapi sekarang malah dia yang melakukannya. "Kasih tahu gue dong, sedikit aja. Riri orangnya gimana sih?" Tanya Riko dengan penuh minat. Lelaki itu sepertinya tidak main-main dengan ucapannya kalau itu. "Kenapa?" Tanyanya penuh dengan selidik. Nada bicaranya pun sudah mulai berbeda. "Enggak. Pengen tahu aja. Siapa tahu bisa silaturahmi." Bukan Riko namanya jika tidak bisa membuat temannya panas dingin. "Lo pikir, Lo oke?" Tanyanya dengan nada bicara yang dingin dan wajah yang datar. Sangat terlihat sekali bahwa Juan benar-benar tidak suka dengan percakapan ini. Brugh Juan langsung menutup pintu. Dia tidak mau mendengar ucapan Riko. Karena hal itu pasti membuatnya akan emosi. Tidak ada angin tidak ada hujan kenapa lelaki itu sangat peduli. Padahal sebelumnya dia seperti sangat mendukung hubungan dengan Riri. Sesampainya di dalam kamar. Dia mengomel sendiri. Kesal dengan kelakuan sahabatnya. Dia seperti tidak ada simpati padanya. Padahal, jelas-jelas wajah Juan sedang muram. Namun, malah dibuat semakin runyam. Sementara itu, Riri sedang diintimidasi oleh adiknya. Wanita itu itu tidak diberi napas sedikitpun untuk mengelak lagi. "Jelasin yang sebenernya Kak." Sedari tadi adiknya terus saja meminta penjelasan darinya. Dia bukan tidak ingin menjelaskan tapi merasa belum saatnya. Namun dalam kondisi terdesak seperti ini karena lelaki itu mengancam akan berbicara kepada kedua orang tua. Akhirnya dia mengalah, dan mau menjelaskan apa yang terjadi. "Gue dan Juan gak beneran pacaran. Gue terpaksa ngelakuin itu karena mama terus aja bilang ingin menjodohkan. Awalnya dipikir tidak akan separah ini, tapi ternyata salah. Juan marah, dia tidak terima dengan ini semua. Awalnya aku pikir tidak akan sebesar ini masalahnya, tapi jauh lebih dari yang dipikirkan." Lelaki itu terlihat sangat terkejut, juga terpukul. "Lo pantes ditinggalin Kak. Seandainya gue jadi Bang Juan pun, pasti langsung meninggalkan." Dia tidak melihatnya sebagai seorang kakak perempuan yang harus dilindungi, melainkan melihat kasus ini sepenuhnya salah Riri. "Apa salahnya bantuin temen? Kalau nggak suka ya bilang aja. Jangan langsung bubaran begini." "Terus kalau udah kayak gini, mau gimana?" "Jujur aja nggak tahu, bingung. Tapi cuman bilang dia udah nggak mau ketemu lagi sama gue. Tadi adalah terakhir kalinya kita bertemu. Mulai sekarang jangan pernah minta tolong apapun lagi sama dia. Jangan ganggu kehidupannya, anggap aja kita gak pernah kenal sebelumnya." Bukan tanpa alasan Riri berpesan begitu. Karena dia tidak mau lagi, merepotkan Juan. Dia yakin, kelak akan bisa biasa saja. Sebelum kenal Juan juga dia bisa hidup dengan baik, seharunya meskipun mereka tidak bersama lagi, dunia tidak akan hancur. Dia juga percaya bahwa adanya pertemuan untuk sebuah perpisahan. Karena di dunia ini tidak ada yang abadi. Mungkin kebersamaannya dengan lelaki itu hanya cukup sampai disini. Jujur saja tidak mudah untuk menerima semua ini, tapi demi dirinya dan juga keluarga dia harus siap. Kenyataan harus tetap dihadapi, meskipun tidak ada persiapan sedikitpun. Dia hanya menghancurkan harapan keluarga, bukan berarti dia tidak bisa membuat harapan harapan baru yang mungkin lebih baik dari yang satu ini. "Gue masih merasa ini semua mimpi. Rasanya akan sulit mencari pria yang jauh lebih baik darinya. Tapi, harus semangat Kak. Jika kalian memang tidak berjodoh, kita semua bisa apa? Sangat disayangkan adalah kenapa tidak bisa bersilaturahmi." "Dia sudah punya pacar. Biarkan dia hidup bahagia dengan pilihannya. Kita jangan mengganggunya lagi." Lelaki itu tidak menjawabnya. Dia seperti kehilangan seorang yang berharga dalam hidup. Jantungnya masih berdebar tidak karuan, merasa tidak percaya dengan apa yang baru didengar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD