Bab 3 – Obat Tidur

1088 Words
Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Intan datang ke rumah mantan suaminya dengan sebuah koper besar yang berisi perlengkapan untuk anaknya. Faiz yang melihat ibunya kesusahan langsung mengambil koper tersebut.   “Nak, kamu pakai baju seperti ini?” tanya Intan melihat anaknya yang memakai celana robek-robek dengan kaos putih biasa. Penampulannya lebih pantas untuk main ketimbang ke Pesantren.   “Memang kenapa, Ma?” tanya Faiz yang pura-pura tidak mengerti mengenai apa yang salah dalam dirinya.   Faiz hanya ingin menarik perhatian ibunya. Semalaman Faiz sudah mencari informasi tentang pesantren di internet. Di mana semua orang memang harus memakai pakaian yang sopan di sana. Semua orang bahkan memakai baju koko dan sarung.   “Papamu tidak berkomentar apapun soal penampilanmu?” tanya Intan menghela nafas.   Faiz menggelengkan kepalanya.   “Ayo, ikut mama kita ke kamarmu mama akan carikan baju yang pantas untukmu.” Kata Intan.   Faiz mengangguk. Kini dia meletakkan kopernya di dekat pintu, lalu mengekori ibunya yang sudah sangat hafal rumahnya karena sudah bertahun-tahun tinggal di sana.   Di kamar Faiz, Intanpun langsung mencarikan pakaian yang cocok untuk anaknya. Lalu, intah menyerahkan celana bahan dan sebuah baju koko. Faizpun menerimanya dna langsung masuk ke dalam kamar mandi. Lalu Intan keluar dari kamar anaknya. Dia memilih untuk menunggu di bawah.   Faiz mematut dirinya sebentar di kaca setelah selesai berpakaian. Penampilannya benar-benar tidak seperti dirinya.   Lalu Faiz pun langsung keluar dari kamar lalu Faiz dan keluarganya pun langsung sarapan bersama. Ini kali pertama Faiz merasakan makan satu meja dengan kedua orang tuanya.   Setelah selesai sarapan, mereka pun masuk ke dalam sebuah mobil Toyota Alphard milik Ayah Faiz, kali ini yang mengendarai mobil adalah supir pribadi Ayah Faiz.   Ntah mengapa di perjalanan, Faiz merasakan mengantuk luar biasa, padahal setiap bepergian jauh, dirinya tidak pernah merasakan kantuk seidkitpun. Lalu, dia pun tertidur di tempatnya.   Sembilan jam pun berlalu dan Faiz masih tertidur di tempatnya. Surya sesekali mengintip anaknya, Intan sesekali merasa tidak tega, namun dirinya sudah bersepakat dengan mantan suaminya untuk mengikuti alur yang dibuat oleh suaminya tersebut.   Tak  lama kemudian, mobil mulai memasuki arena sebuah pesantren yang bergapura besar. Lalu mobil pun langsung memasuki area parkir.   “Nak, bangun!” panggil Intan kepada anaknya dengan sangat lembut.   Faizpun mengerjapkan matanya dan seketika menguap. Rasa kantuk masih datang melandanya namun dia memilih untuk mengucek matanya agar bangun.   “Apa kita udah sampai, Ma?” tanya Faiz.   Intan mengangguk.   Faiz menguap lagi lalu mengedarkan pandangan keluar mobil. Dia tidak mengenal tempat itu. Tentu saja, Faiz tidak pernah pergi ke satu pondokpun sebelumnya.   Mereka pun turun dari pondok. Lalu mereka semua pun langsung berjalan menuju rumah Sang Kyai pemilik pondok karena hendak memasrahkan Faiz.   Faiz melirik ke kanan dan ke kiri. Seketika dirinya menyadari ada yang salah dari semua orang. Faiz melihat beberapa santri putra yang tengah beraktivitas menyapu dan sesekali mengobrol dengan menggunakan Bahasa Jawa.   Namun, Faiz tidak mau berkomentar, dia sudah membaca artikel di internet yang menyebutkan bahwa di pesantren dia akan bertemu dengan orang-orang di luar daerah jadi dia merasa dia masih berada di pondok pesantren yang ada di lingkungan Jakarta.   “Mari, Tuan …” kata supir tersebut dengan sangat sopan.   Surya hanya mengangguk.   “Assalamualaikum.” Salam supir keluarga yang bernama Endang tersebut, Surya, dan Intan.   Faiz hanya diam saja. Mendengar anaknya yang hanya diam saja membuat Surya langsung menyikut anaknya dan mengancamnya lewat tatapan mata agar anaknya mau memberikan salam.   “Assalamualaikum.” Salam Faiz menurut.   “Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” kata seorang santri putra yang menjadi abdi ndalem di rumah Sang Kyai.   “Pak Kyainya ada?” tanya Endang.   “Ada, Pak. Silakan duduk dulu. Biar saya panggilkan.” Kata santri putra tersebut.   Lalu rombongan Faiz pun menurut dan duduk. Rumah Sang Kyai tidak begitu besar, hanya terlihat sederhana, namun sangat rapih dan juga menentramkan. Di dalam ruangan meski tidak ada kipas angin ataupun AC, udaranya cukup sejuk.   “Kita di mana, Pa?” tanya Faiz.   “Di pesantren.” Jawab Surya.   “Iya, di daerah Jakarta mana?” tanya Faiz yang merasa penasaran.   “Kita tidak lagi di Jakarta.” Kata Surya sambil tersenyum penuh arti.   Faiz mulai menerka-nerka apa maksud dari ayahnya, namuan seketika dia berpikir kalau dirinya tengah berada di sekitaran Jakarta.   “Oh, jadi kita di Bekasi, Tangerang, Depok atau di mana, Pa?” tanya Faiz.   “Sayangnya kita tidak sedang di Jabodetabek.” Kata Surya.   Faiz yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ayahnya langsung terkejut setengah mati. Dia mulia berpikir kalau ayahnya berbohong. Mereka tentu tidak mungkin berada di suatu tempat yang jauh.   Namun, sialnya otak Faiz memutarkan percakapan beberapa santri di parkiran yang berbicara dengan menggunakan Bahasa Jawa.   Jangan jangan … -batin Faiz langsung menerka-nerka di mana dia sekarnag. Dia benar-benar harus mengetahui di mana dirinya berada.   “Pa, jangan bercanda.” Kata Faiz yang mulai gelisah dengan jawaban ayahnya dan sikap ayahnya yang terlihat begitu santai.   “Kita berada di pedalaman Jawa. Kamu tidak akan bisa pulang dari ini sendiri.” Kata Surya dengan penuh kemenangan.   “Pa, tidak bisa. Kenapa papa memasukkan Faiz di sini? Faiz kan maunya ke pesantren.” Kata Faiz.   “Ini juga pesantren, Faiz.” Kata Surya.   “Ya, tapi yang ada di Jabodetabek, Pa. Bukan di pesantren terpencil seperti ini.” Kata Faiz.   “Itu tidak ada dalam perjanjian kita.” Kata Surya.   “Papa licik.” Kata Faiz yang mulai mengetahui kalau dirinya di jebak oleh ayahnya sendiri.   Faiz kini tahu mengapa ayahnya bisa begitu mudah menyetujui persyaratan yang diajukannya. Dia melupakan satu fakta bahwa ayahnya tidak akan membuatnya mudah. Ayahnya tentu akan mencar cara agar Faiz bisa tidak betah dan pulang begitu saja.   “Ini nggak fair!” kata Faiz.   “Salah sendiri kamu tidak bangun tadi.” Kata Surya.   Faiz benar-benar kesal saat ini. Senyuman ayahnta terlihat sangat licik. Dia jadi teringat sesuatu. Tidau pulasnya sepertinya bukan karena sebab, tidur pulasnya karena sepertinya dia tengah memakan obat tidur dengan dosis tinggi.   “Papa mencampurkan obat tidur dalam makanan Faiz?” tanya Faiz penuh selidik.   “Ntahlah.” Kata Surya.   Faiz seketika langsung meradang dan berdiri dirinya tidak mau berada di pondok pesantren tersebut. Dia tidak bisa tinggal di tempat seperti ini yang jauh dari mana-mana. Dia tidak bisa. Kalaupun dia masuk, dia juga yakin tidak akan bertahan lama. Padahal dia sudah mencari diinternet pondok pesantren yang ada di Jakarta dan membaca cerita-cerita santri di sana yang rupanya masih bisa bebas dengan beberapa trik tertentu. Jadi, Faiz bisa mengakalinya, terlebih teman-temannya juga pasti anak yang tidak benar juga seperti dirinya.   Kalau di pesantren ini, dia merasa tidak akan memiliki teman. Semua snatrinya terlihat benar-benar alim. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD