"Mau apa kalian datang kesini?" Pertanyaan yang dingin sekali. Aku mundur ke belakang. Jujur saja, sejak dulu aku takut pada Papa nya Anggun. Keluargaku dan keluarga Anggun memang tidak pernah akur. Lebih sering ribut. Devan justru maju. Entahlah, dia sepertinya menunjukkan sesuatu pada Papa Anggun. "Kami mau membahas masalah Anggun, Pak." Jantungku berdetak kencang, takut tidak ditanggapi. Ah, ini menyebalkan, bertemu dengan Papa Anggun adalah salah satu hal yang aku hindari. Tidak ada jawaban, tetapi pintu rumah langsung dibuka lebar. Itu tandanya, Papa Anggun membolehkan. "Bapaknya seram, ya, Ma." Cinta berbisik denganku, saat kami mulai masuk ke ruang tamu. Namun, saat sampai di ruangan besar ini, aku sedikit terkejut, ketika melihat Mas Seno yang duduk di salah satu s

