Tidak ada yang bisa menghentikan Bapak. Aku mengusap dahi, berusaha mencari kata-kata yang tepat, agar Bapak membatalkan niatnya. "Sekarang, Seno tinggal di—" Aku buru-buru menginjak kaki Devan. Dia baru saja ingin memberitahukan sesuatu pada Bapak. "Aduh—" Devan memegangi kakinya, meringis pelan. Dalah siapa dia malah mau membua api membesar. Bukannya menenangkan Bapak, dia malah menyuruh Bapak membuat peperangan. "Tidak masalah, Van. Sebutkan aja, jangan peduliin Mbakmu." Lihatlah, Bapak lebih membela Devan. Aku menyenderkan punggung ke sandaran kursi. Berharap Devan tidak memberitahukan apa pun pada Bapak. "Kayaknya, sih, tinggal di rumah Mamanya atau kalau tidak boleh, dia ada di rumah istri kedua, Pak." Lancar sekali Devan berbicara. Bapak menjentikkan jemari, langsung

