"Kami pamit dulu, ya, Ma." Aku menyalimi mama mertua. Bi Asih tadi bilang ada tamu laki-laki. Entah siapa yang bertamu malam-malam begini. Ibu sudah selesai berbicara dengan mertuaku. Kami akhirnya pulang ke rumah. "Kok bisa, ya, Mama baik, anaknya kayak gitu." Sejak tadi, Ibu mendumal. Aku mengusap dahi, terus menatap ke depan. Padahal, tadi Mama mertua bilang akan bertanggung jawab untuk membiayai pendidikan Cinta sampai dia bekerja. Sebenarnya, harta warisan itu memang akan jatuh ke tangan Cinta, tapi mertuaku tidak bilang pada Ibu dan Bapak. Pasti ada alasannya. Mobil berhenti tepat di depan rumah. Aku mengernyit ketika tidak ada mobil atau motor di depan rumah. Siapa yang bertamu? "Eh, tamunya udah pulang tadi, Bu. Misterius banget, Bibi jadi takut sendiri." "Serius, Bi?

