"Kenapa?" tanya Aland menatap Rheiny sebentar dan kembali fokus menatap jalanan. "Apa tidak terlalu cepat?!" tanya Rheiny gelisah. "Tidak!" jawab Aland cepat tanpa menoleh ke samping. "Apa kedua orang tuamu akan menyetujuinya? S–saya ...!" Rheiny terdiam saat Aland menatapnya tajam. "Maksudnya, a–aku ini seorang janda anak satu. A–aku takut mereka menentangnya. Terlebih ka...mu merupakan anak tunggal," ucap Rheiny terbata-bata dan gugup. Dia masih belum terbiasa kalau harus memakai panggilan santai dengan Aland. Salah memanggil sedikit saja, Aland akan langsung menatapnya tajam. Seolah dia sedang berbuat kesalahan besar. "Tidak perlu takut! Mereka berbeda dan pasti akan menyetujuinya!" ujar Aland sambil menggenggam tangan Rheiny. Membuat wanita itu terperanjat oleh perbuatannya

