"Dadah, Mama!" teriak Valden sambil berjalan memasuki area perkarangan Sekolah. "Dah!" balas Rheiny sambil melambai. "Hari pertama sekolah Valden sangat bersemangat!" ujar Rheiny sambil tersenyum menatap putranya yang semakin menjauh. Rasa cemas, khawatir, dan gugup menjadi satu. Rheiny tidak pernah berpisah dari Valden. Saat ini baru sebentar saja sudah merasa kehilangan akan sosok anak lelaki yang menggemaskan itu. "Dia akan baik-baik saja," ujar Aland sambil merangkul sang Istri. Dia melihat raut wajah Rheiny yang tampak khawatir pada Valden. "Hem, iyah. Dia anak yang pintar, dia pasti bisa beradaptasi, bukan?!" kata Rheiny sambil melihat ke arah Aland yang ada di sampingnya. "Pasti!" balas Aland percaya diri. Meski Aland belom lama mengenal Valden, tetapi dia tahu kapasitas ana

