"Betapa susahnya tatkala engkau mencintai seseorang yang engkau sendiri tahu ia tidak akan pernah jadi milikmu"
Dua pekan sudah Aisyah libur, tetapi libur tersebut tidak mengubah kebiasaan Aisyah yang bangun di dini hari kemudian membantu Ibunya menyiapkan sarapan pagi setelah beribadah. Di meja makan Ibu dan Ayah Aisyah tidak henti-hentinya saling menatap satu sama lain, mereka berbicara lewat pandangan mata, benar-benar aneh.
Setelah sarapan selesai, Aisyah bergegas mencuci piring sambil bersholawat, suaranya begitu merdu dan jernih. Dia memang memiliki suara yang merdu warisan dari Ibunya.
"Aisyah, duduk disini dulu sayang. Ayah dan Ibu mau bicara." Ucap Ibunya Ketika Aisyah menuju kamarnya di lantai atas. Aisyah mengernyit, entah hal penting apa yang akan di bicarakan kedua orang tuanya sampai-sampai raut wajah mereka terlihat begitu serius.
Aisyah mendudukkan dirinya di tengah-tengah kedua orang tuanya. "Ada apa Ibu, Ayah?" Tanyanya menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.
"Boleh ibu bertanya?" Ucap Ibunya lembut.
"Iya Ibu, tentu saja boleh" Aisyah tersenyum
"Apa pandangan Aisyah tentang Nikah muda?" Tanya Ibu Aisyah hati-hati.
Aisyah tersenyum, meski dalam hati gugup dengan pertanyaan orang tuanya yang tiba-tiba "Menurut Aisyah, Menikah muda itu salah satu jalan untuk terhindar dari zina, mengendalikan nafsu kan begitu berat sehingga mereka yang memutuskan untuk menikah memilih jalan untuk tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Apalagi kita sebagai perempuan adalah fitnah terbesar bagi kaum adam." Aisyah tersenyum mengingat betapa kagumnya dia kepada Kak Alvin sepupunya yang memilih menikah muda, dan sekarang telah memiliki Yusuf yang lucu, ah ingin rasanya dia mencubit Yusuf sekarang juga.
"Bagaimana jika Allah menakdirkan kamu untuk menikah muda, apakah kamu bersedia?"
"Maksud Ayah?" Aisyah bertanya, mencari tahu apa maksud dari Ayah dan ibunya menanyakan kesediaannya untuk menikah muda.
Ayah dan Ibunya saling berpandangan "Begini sayang, Kak Adnan ingin melamar kamu. Dia sudah menemui Ayah dan Ibu, dia meminta restu kepada kami berdua." Ucap Ibu Aisyah lembut.
"Ayah dan Ibu setuju?" Tanya Aisyah matanya berkaca-kaca, umurnya baru menginjak sembilan belas tahun, dia masih ingin menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
"Kami berdua setuju jika Aisyah setuju, Adnan adalah lelaki yang baik terutama agamanya bagus, sukit mendapatkan lelaki seperti dia. Jika sudah di depan mata, mengapa harus ditolak tetapi kembali lagi, semua ada di tangan Aisyah. Ibu dan ayah tidak memaksa." Ucap Ayah Aisyah.
"Tapi, ibu berharap kamu mau menerima lamaran dari Adnan, dia adalah lelaki yang baik, yang insyaa Allah bisa membimbing kamu ke-SurgaNya." Ucap Ibu Aisyah
"Pertimbangkan lah baik-baik sayang, namun ingat lah perbedaan umur tidak menjadi penghalang untuk menikah, Aisyah Radiallahu dan Rasulullah pun berbeda umurnya" ucap Ayahnya tahu betul dengan apa yang di pikirkan oleh anak semata wayangnya.
***
"Dua hari lagi kamu sudah harus ke Jakarta, Mami dan Papi sudah menyiapkan guru untuk les kamu, kamu harus masuk Fakultas kedokteran UI, kalau nggak bisa dapat UI kamu akan dikirim Papa ke Amrika, jadi belajar lah dengan giat."
"Mi, bisa nggak sekali ini tolong jangan paksa aku lagi, tolong jangan dikte aku lagi, aku bukan anak kecil" ucap Fadlan "Let me stay here Mi" lanjutnya putus asa, ucapannya sejak tadi tidak di indahkan oleh Ibunya.
"Nggak Fadlan, sekali Mami bilang tidak tetap tidak, kamu akan ikut Mami dan Papi ke-Jakarta. Tidak ada bantahan, jadi lah anak penurut untuk kali ini saja" Renita, Ibu Fadlan kemudian keluar dari kamar anaknya membanting pintu dengan keras.
"Memangnya kapan sih Mi aku membangkang, bukannya dari kecil aku selalu menurut? Selalu menjadi kanvas yang bebas mami dan papi warnai sesukanya?"
"Ngomong apa sih kamu ini?" Teriak maminya.
"Nggak. Aku ngomong pun mami juga nggak akan pernah mengerti."
"Berhenti manja Fadlan, sekarang mending kamu buka buku kamu, belajar dengan giat" Renita, Ibu Fadlan kemudian keluar dari kamar anaknya membanting pintu dengan keras.
"Kenapa? Kenapa Tuhan?" ucapnya lemah, Fadlan ketua osis yang tegas menjelma menjadi seorang remaja yang begitu lemah dan putus asa.
Dari kecil dia selalu seperti ini, hidup terkekang, apa-apa bukan dia yang memilih melainkan pilihan orang tuanya, bukankah ini tidak adil? Di luar sana banyak anak-anak yang bebas memilih menjadi apa dan menjalani kehidupannya sebagaimana mestinya.
Sedari kecil Fadlan tidak bisa memilih apa yang menjadi kemauannya, dia tidak suka Matematika tetapi dia di paksa untuk menguasai semua hal yang berhubungan dengan itu.
Dia tidak menyukai musik namun dia harus menguasai beberapa alat musik, dan terakhir ini, dia tidak ingin menjadi dokter, dia ingin menjadi apa yang diinginkannya, seorang penulis yang akan abadi dengan karyanya.
Pernahkah orang tuanya bertanya dia ingin apa? Tidak pernah atau bertanya tentang pilihannya , tidak pernah sekalipun jika pun pernah Fadlan sudah lupa.
"Aisyah, aku akan kembali. Entah kau menungguku atau tidak aku akan tetap kembali, kembali menemuimu. Meskipun kelak kau tidak akan menjadi milikku sekalipun." Ucap Fadlan dalam.
***
Pukul sembilan malam, Aisyah berjalan mengelilingi Taman komplek Rumahnya sendirian. Dia perlu menenangkan dirinya. Ayah dan Ibunya sudah tidur, entah lah dia begitu bingung dengan semua ini. Fadlan menyatakan Cinta sedangkan Adnan akan melamarnya. Dua lelaki sekaligus hadir di dalam hidupnya, padahal dia masih bingung akan apa arti cinta sebenarnya.
"Aisyah" merasa namanya di panggil Aisyah menoleh kebelakang.
"Ka...Kak Adnan?" Aisyah terkejut dan sontak mundur beberapa langkah, tidak sepantasnya malam-malam seperti ini dia berduaan dengan seseorang yang tidak halal baginya. Akan menjadi fitnah, bahkan biarpun masih ada beberapa orang yang berlalu lalang di taman ini.
"Kamu pasti bingung" Adnan tersenyum, Adnan mundur beberapa langkah, Adnan tahu Aisyah merasa tidak nyaman. "Boleh kita bicara?" Tanya Adnan, Aisyah mengangguk kikuk, dia menggigit bibirnya tanda gugup.
"Kamu ingat pertama kali kita bertemu?" Jeda beberapa detik.
"Tiga tahun yang lalu, kita bertemu di Riau " jawab Aisyah
Mereka bertemu di Tenda pengungsian di Sumatera. Adnan adalah dokter yang diutus untuk membantu korban kebakaran hutan 2015 lalu di Sumatera, Bencana itu membakar 2,61 juta hektar hutan dan lahan menyebabkan kabut asap di Sumatra terutama daerah Riau dan Palembang. Kabut asap ini menjadi bencana besar karena sangat berefek buruk pada kesehatan.
Kabut asap pekat yang mengakibatkan 24 orang meninggal serta 600 ribu jiwa menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sedangkan Aisyah adalah salah satu murid yang di utus untuk membantu disana, Aisyah adalah salah satu Anggota PMR terbaik di sekolahnya meskipun saat itu dia masih duduk di kelas sepuluh SMA.
"Sejak itu pula aku menyukaimu" jeda dua detik "Kamu orang yang tulus" sambungnya.
"Kamu ingat Raka?" Aisyah mengangguk, mengingat anak kecil yang kedua orang tuanya meninggal karena mengalami infeksi saluran pernapasan yang parah. Kebahagiaan masa kecilnya seolah terenggut namun Aisyah selalu menghiburnya dengan tulus setiap hari, saat dia sedang lelah sekali pun dia tetap menghibur Raka.
"Jangan menangis Raka, Ayah dan Ibu kamu sudah ada di tempat yang Indah bersama Allah" Adnan tertawa "Kamu mengatakan itu pada Raka, sejak itu aku berharap akan bertemu lagi dengan kamu." Ucap Adnan
"Ada kebahagiaan tersendiri saat aku tahu kamu dari Makassar, terlebih saat aku mengenal Ayahmu. Saat itu aku bertekad untuk melamarmu dan aku pikir saat ini adalah waktu yang tepat. Aisyah, meski kamu mungkin belum mencintaiku sekarang, namun aku berharap Allah akan segera menumbuhkan rasa itu setelah kamu menerima lamaranku nanti." Adnan tersenyum sedangkan Aisyah seolah membeku di tempatnya. Angin malam yang menerpa pipinya seolah menambah kekakuan mulutnya untuk menjawab perkataan Adnan.
"Jika jawaban aku tidak, bagaimana?" Ucap Aisyah pada akhirnya, dilema akan pilihan yang harus diambilnya.
Adnan lagi dan lagi tersenyum, sangat cocok untuk iklan pasta gigi "Betapa indahnya jika engkau menemui hati yang tidak pernah menuntut apa apa darimu kecuali sebatas keinginan untuk melihatmu dalam keadaan baik." Jawab Adnan "Jika kamu tidak menerimanya, aku pasti akan sangat sedih. Tetapi jika kamu akan tetap baik-baik saja maka aku akan bahagia." Sambungnya.
"Kalau begitu, datanglah besok, kakak akan mendapatkan jawabannya besok di rumahku" jawab Aisyah yang jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
Adnan mengangguk "Aku antar pulang, jalan lah duluan, aku akan jaga jarak." Ucap Adnan
"Tidak perlu kak" tolak Aisyah halus.
"Aku memaksa, melihatmu berjalan sendirian di jalanan yang sepi membuatku khawatir, berjalan lah. "
Demi Allah, Aisyah benar-benar tidak bisa menetralkan perasaannya saat ini, jantungnya sudah mau copot, dia bahkan sudah berkeringat dingin, rasanya dia tidak bisa berjalan. Ah, dia butuh penopang, apakah ini mimpi? Ini pasti mimpi, namun ketika dia mencubit pipinya dia tersadar ini bukan mimpi.
Aisyah berjalan dengan Adnan di belakangnya, kecanggungan mengisi jarak di antara mereka. Pikiran satu sama lain akan hal kedepannya seolah memenuhi isi kepala mereka.
Tapi, kembali lagi. Jodoh hanya Allah yang tahu.
Note: besok pk2mb hari ketiga, harus bangun subuh dan segera siap-siap, bahkan tadi aku telat pulangnya sore. Kecapekan banget tapi alhamdulillah dapat ide untuk nulis ini jadi tancap gas. Alhamdulillah, bersyukurlah Indah jangan ngeluh Banyak orang yang mau dengan sukarela mengisi posisimu sekarang, banyak orang yang tidak berhenti berjuang untuk masuk PTN jadi tidak boleh ngeluh, enjoy ur life. Masa mau ngeluh dengan nikmat Allah yang tiada henti-hentinya datang.
Jangan ngeluh teman-teman, saat kita susah masih banyak orang yang lebih susah, liat ke bawah jangan ke atas. Oke? Oke kan
Banyak typo? Maklumin yah wkwkw