4. Pengakuan Fadlan

1390 Words
Jam tiga dini hari Adnan terbangun dari tidurnya. Astaga dia lagi-lagi ketiduran di Rumah Sakit. Sudah dua hari ini dia tidur di Rumah sakit dan tidak pulang ke rumah karena padatnya jadwal operasi yang harus dia kerjakan. Adnan segera bergegas menuju mushalah dengan kemeja berwarna putih yang masih melekat di tubuhnya, para suster dan dokter wanita yang sedang dinas malam, mencuri pandang melihat Adnan yang tetap tampan meski baru bangun tidur. Mereka seperti melihat pemandangan yang menyejukkan di dini hari, kantuk mereka hilang seketika, lelahnya dinas malam seolah hilang seketika. Pesona Adnan memang tidak ada habis-habisnya Sesampainya di mushalah lelaki itu bergegas berwudhu dan melaksanakan sholat tahajjud dan mulai bermunajat kepada Allah. Karena shalat tahajjud ibarat panah yang tepat sasaran. "Ya Allah, bukankah Cinta bukan berarti kita selalu berada di sisi orang yang kita cintai. Tapi cinta itu adalah tatkala kita berada dalam hati orang yang kita cintai." Ucap Adnan dalam do'anya. "Ya Allah, hamba mohon ampunanmu, karena telah menempatkan Aisyah di dalam hatiku sebelum waktunya, aku mencintainya." "Tetapi Ya Allah cintaku kepada-Mu jauh lebih besar dari cintaku kepadanya" Tetesan air mata jatuh dari pipi Adnan, dia takut, takut jika saja cintanya kepada Aisyah lebih besar daripada cintanya kepada Sang Maha pemilik cinta. Bukankah salah satu penyebab seseorang meninggalkan Allah adalah cinta? Cinta kepada Hamba yang melebihi rasa cinta kepada Tuhannya. "Ya Allah aku mencintai hamba-Mu, tetapi jika cinta ini membuat hamba jauh kepadamu maka hilangkanlah cinta ini. Jika Engkau ridho, walaupun penantian ini begitu lama, tolong ridhoi hamba untuk segera menghalalkannya agar rasa cinta ini hadir tanpa adanya zina." *** Kesibukannya di kelas tiga akan segera berakhir. Rasanya Aisyah juga ikut sedih mengingat dia akan berpisah dengan sahabat-sahabatnya di Sekolah menengah ini. Seragam putih abu-abunya akan menjadi kenangan selama dia bersekolah. "Syah, boleh minta tolong nggak?" entah hal apa yang membuat Salsa Widiayu Lestari meminta tolong kepada Aisyah yang merupakan salah satu musuhnya, perempuan yang paling dia benci karena membuat Fadlan tidak memperhatikannya sama sekali. Aisyah menggigit bibirnya, pasalnya bukannya su'udzon tetapi dia masih ingat persis bagaimana perempuan serta geng dihadapannya ini menaruh minyak di depan pintu kelasnya yang mengakibatkan Aisyah jatuh. "Minta tolong apa?" Tanya Aisyah ragu-ragu. "Kamu kan anak PMR, Uli anak IPA 3, pinsan dan nggak ada orang di UKS, aku takut terjadi apa-apa." Aisyah mengangguk dan mengikuti Salsa dan anggota gengnya ke UKS. "Dia di sana" tunjuk Salsa ke ranjang uks yang tertutup tirai. Dengan langkah ragu-ragu Aisyah berjalan ke sana. Betapa kagetnya dia melihat Tio yang sedang bertelanjang d**a. "Aaaarrrgggh" Aisyah berteriak dan segera berlari tetapi pintu UKS terkunci, perempuan itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan, Tio, lelaki itu malah menghampiri Aisyah. "Kok perempuan paling sholehah di sini doyan ngintip sih? Duh, harusnya bilang dong kalau kamu tertarik sama aku. Kita kan bisa booking kamar hotel" Ucap Tio sarkas membuat Aisyah menggeleng. "Aa...ku nggak tahu kalau ada kamu" ucap Aisyah dengan keringat yang membasahi keningnya, air mata sudah jatuh di pipinya. "Kalau gitu biar impas, boleh dong aku buka hijab kamu? Nggak adil kan kalau cuma kamu doang yang menang banyak." Sontak Aisyah berteriak, meskipun sangat kecil kemungkinan orang mendengar teriakannya. UKS berada di gedung yang berbeda dengan ruang kelas, jaraknya pun cukup jauh. "Tolooongg, jangan gitu Tio" teriak Aisyah, baru saja Tio ingin menarik hijab Aisyah, bogem mentah sudah mendarat di pipinya. Fadlan menutupi Aisyah. Untung saja Fadlan selalu membawa kunci cadangan yang digabung dengan kunci ruangan osis, uks, dan ruang olahraga. "Gue nggak nyangka kalau lo serendah ini. Gue jamin setelah ini lo bakalan dikeluarin dari sini dan jangan harap ada sekolah yang mau menerima lo. Lo tahu kan pengaruh bokap dan nyokap gue di sini?" Ancaman itu membuat Tio beringsut mundur. Meskipun dia adalah lelaki nakal yang tidak takut apapun tetapi jika berhadapan dengan Fadlan maka dia akan mundur tanpa diminta. Ayah dari Fadlan adalah bos ayahnya, jika kedapatan mengganggu anak bosnya maka habislah dia ditangan ayahnya sendiri. "Maafin gue Fad, maaf, gue nggak bermaksud ngelakuin itu, ini gara-gara Salsa, dia yang minta gue kerjain Aisyah" "Banci lo, kenapa minta maafnya sama gue? minta maaf sama Aisyah!" Bentak Fadlan sementara Aisyah menangis sesenggukan. Bahkan, sekalipun ayah dan ibunya tidak pernah melakukannya seperti ini. "Ayo Syah, aku antar ke kelas" ucap Fadlan, belum sempat perempuan itu berdiri, dia ambruk begitu saja, Aisyah pinsan. Semenjak hari itu Fadlan selalu berada di dekat Aisyah. Tio, Salsa dan gengnya pun dikeluarkan dari sekolah. Siapa yang berani menentang anak tunggal dari orang berpengaruh di Sekolah, tidak hanya di sekolah tetapi di kota Makassar ini. Apatah lagi lelaki itu adalah murid teladan yang menyumbang piala paling banyak di lemari penghargaan sekolah. Meskipun ada rasa trauma karena insiden itu tetapi sebisa mungkin Aisyah mencoba melupakannya. Dia menumpahkan kekesalannya pada Alqur'an dan buku karena menyesali takdir pun tidak ada gunanya sama sekali. Meskipun dia tidak pernah lagi menginjak UKS, dia sangat menghindari tempat itu karena ingatan buruk mengenai Tio yang ingin membuka hijabnya terjadi di tempat itu. *** Hari ini adalah hari kelulusan Aisyah, tidak henti-hentinya ucapan selamat di dapatkannya, Ibu dan Ayahnya memeluknya bangga. "Selamat sayang" ucap Ibunya memberi selamat kepada Aisyah yang berhasil mendapatkan Peringkat satu Umum dan Beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas yang diinginkannya. "Makasih Ibu" ucap Aisyah tersenyum lebar. "Selamat anak hebatnya ayah" ucap Ayah Aisyah memeluk anak perempuannya. "Makasih Ayah" sepertinya senyum Aisyah hari ini menbuat orang di dekatnya ikut tersenyum bahagia. "Assalamualaikum tante, om" ucap Megan tersenyum manis. "Wa'alaikumussalam Megan" ucap kedua orang tua Aisyah. Hari ini Aisyah begitu anggun mengenakan Dress longgar berwarna peach dan khimar berwarna senada yang sangat cocok dengan kulit putih bersihnya "Megan pinjam Aisyah dulu yah om, tante, soalnya kami mau ambil gambar bareng teman sekelas. Berhubung ini hari terakhir kita ngumpul kayak gini" ucap Megan dengan nada sedih yang di buat-buat, Ayah dan Ibu Aisyah tertawa melihat tingkah teman dari anaknya. "Aku izin kesana dulu yah Ayah, ibu" ucap Aisyah yang mendapat anggukan dari kedua orang tuanya Ketika sesi pengambilan gambar selesai, Fadlan menghampiri Aisyah "Aisyah, aku ke Radit dulu yah. Mau liat foto-foto tadi." Ucap Megan beralasan, padahal dia ingin agar Fadlan leluasa mengungkapkan isi hatinya kepada Aisyah. "Selamat Aisyah, kamu hebat" ucap Fadlan memberikan buket bunga mawar berwarna merah, bunga kesukaan Aisyah. "Terima kasih Fadlan, Allah lah yang lebih hebat tanpa bantuan Allah, aku hanya lah butiran debu yang tidak ada artinya." Aisyah menerima bunga yang di berikan oleh Fadlan. Aisyah awalnya ingin menolak tetapi karena terlalu seringnya Aisyah menolak pemberian Fadlan, dia merasa tidak enak. Kali ini biarlah dia menerima. Menerima pemberian dari Fadlan untuk terakhir kalinya. "Kamu rencana lanjut di mana Syah? Tetap di Makassar atau ambil luar kota?" "Aku belum kepikiran, kalau kamu?" Tanya Aisyah. "Ayah dan Ibu maunya aku di UI biar ikut sama mereka." Ucap Fadlan, nada kecewa terdengar dari suaranya. "Kok kamu kayak sedih gitu Fad?" Ucap Aisyah ketika melihat raut wajah Fadlan yang muram. Iya, aku sedih karena mungkin kita nggak bakal ketemu lagi batin Fadlan "Ayah dan Ibu kamu pasti sayang sama kamu, makanya mereka nggak mau kamu jauh dari mereka. Memang sih, kamu pasti nggak mau kan bergantung sama mereka lagi, coba bicarakan baik-baik dulu." Fadlan menghela napasnya kenapa Aisyah setidak peka itu, dia bukan sedih karena itu. "Makasih atas sarannya Syah" Fadlan tersenyum menutupi kesedihannya. "Sama-sama Fadlan" jawabnya. "Aisyah, aku mau minta satu hal sama kamu, boleh tidak?" Fadlan bertanya. "Kalau aku bisa dan itu tidak memberatkanku, kenapa tidak?" Aisyah tersenyum menampilkan deretan gigi putih bersihnya. "Aisyah, sebenarnya aku suka sama kamu dan aku mau kamu bersedia menunggu aku lima tahun lagi, setelah aku mendapatkan pekerjaan aku akan menghadap kedua orang tua kamu." Aisyah bukan main kagetnya, Benarkah apa yang didengarnya barusan, benarkah bahwa Fadlan menyukainya? "Jangan bercanda Fadlan, ini tidak lucu" ucap Aisyah datar. Dia masih tidak percaya dengan ucapan Fadlan barusan. "Aku nggak bercanda Syah, aku sudah lama menyukai kamu. Aku harap kamu mau menunggu aku." Ucap Fadlan dengan tatapan memohon. "Maaf Fadlan, aku nggak bisa bilang kalau aku akan menunggu kamu. Bisa jadi aku akan mengingkarinya, entah karena sudah ada lelaki lain yang akan menjadi Imamku atau ajal lebih dahulu menjemput. Tapi ingatlah Fadlan, jika Allah mentakdirkan kita bersama, kita akan bersama. Namun bila Allah berkehendak lain, terima lah dengan ikhlas." Aisyah kemudian berlalu meninggalkan Fadlan. Adapun dengan typo yang bertebaran atau kata-kata yang tidak sesuai dengan EYD mohon di maafkan dan saya bahagia sekali kalau pembaca bersediah mengomentari. Salam hangat, WISN
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD